Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (5)

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING on Desember 18, 2016 by ~padusi~

Hari Kesepuluh – Perjalanan Pulang : Exploring Kota Palu

# Pantai Talise :

Sesuai rencana kami akan menginap 2 malam di kota Palu. Hari ini Ungku yang sudah bergabung sejak di Gorontalo – Manado – Palu kembali ke Jakarta. Kamipun mengantar Ungku ke Bandara Udara Mutiara Sis Al Jufrie. Setelah mengantar Ungku kami bergabung dengan warga kota di pantai Talise.

Foto Evy Nizhamul. Foto Evy Nizhamul.Kami foto foto dan Selfie sejenak di pantai ini yang merupakan salah satu obyek wisata utama di Kecamatan Palu Timur. Pantai Talise ini terkesan kotor dan jorok. Banyak sampah bertebaran di dibibir pantai. Padahal disana ada mesjid terapung.  Udara Kota Palu luar biasa panasnya.  Ini yang menyebabkan kita tidak betah berlama lama dipantai. Kunjungan di pantai ini kami sudah dan setelah itu kami melintasi jembatan Ponulele atau Jembatan Palu IV yang diresmikan oleh SBY bulan Mai 2006.

# Ziarah Datuk Karama – Penyebar Islam di Tanah Kaili :

Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Sekarang kami mencari target utama dalam kunjungan ke kota ini. Dimanakah keberadaan makam Datuk Karama.?? Datuk Karama atau Syekh Abdullah Raqie adalah seorang ulama Minangkabau yang pertama kali menyebarkan agama Islam ke Tanah Kaili atau Bumi TadulakoSulawesi Tengah pada abad ke-17.  Awal kedatangan Syekh Abdullah Raqie atau Datuk Karama di Tanah Kaili bermula di Kampung Lere, Lembah Palu (Sulawesi Tengah) pada masa Raja Kabonena, Ipue Nyidi memerintah di wilayah Palu. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islam-nya ke wilayah-wilayah lainnya di lembah Palu yang dihuni oleh masyarakat Suku Kaili. Wilayah-wilayah tersebut meliputi PaluDonggala, Kulawi, Parigi dan daerah Ampana. (https://id.wikipedia.org/wiki/Datuk_Karama).

Baca lebih lanjut

Iklan

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (4)

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING on Desember 18, 2016 by ~padusi~

Perjalanan pulang  – Manado – Pomalaa

  1.   Hari Ketujuh – Perjalanan Pulang Etape 1  : Manado – Gorontalo

Foto Evy Nizhamul.Hari Kamis, 6 Oktober – hari ke ketujuh  tour D’Celebes, kami meninggalkan kota Manado. Perjalanan pulang etape 1, akan ditempuh k.l 9 jam. Bismilahirrahirrahmaanirrahiim.Kami meninggalkan kota Manado pada pukul 14.00 WIT. Sesaat kemudian kijang berlari kencang dalam perjalanan the long and winding road menyisir Bumi Kawanua menuju kota Gorontalo. Kami akan menginap selama 2 malam di kota Gorontalo dan mengeksplor potensi negeri ini. Saya kurang tahu tentang keunggulan Propinsi ini selain lahirnya tokoh seniman HB Yasin, Yus Badudu serta adanya kerajaan kecil yang tidak ternama.

Kami tiba di Gorontalo pada pukul 23.00 wit dan menginap di Hotel New Melati, Hulonthalangi. Dari penelusuran Traveloka, putera saya membooking hotel sederhana ini. Menariknya, ada 26 ulasan mengenai hotel ini. Umumnya para tamunya merekomendasikan bahwa banyak turis manca Negara menginap disini. Dekat pula dengan kantor Walikota dan lapangan Nani Wartabone – pahlawan Gorontalo. Oow..kami tak menyangka dari hotel ini, kami beroleh info bahwa Gorontalo yang berada di pesisir teluk Tomini adalah sorga para Diver. Bagi penyelam dan penyuka Snorkling dapat menikmati Wisata Hiu Paus. Di pantai Batu Barani, pesisir Teluk Tomini ada penangkaran hiu paus.

Hari Kedelapan – Perjalanan Pulang Etape 2 : Bercanda dengan ikan hiu paus

Baca lebih lanjut

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (3)

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING on November 24, 2016 by ~padusi~

Hari Ketiga – Etape 3 – Marisa – Gorontalo – Manado

  1.  Kota Marisa – Isimu – Gorontalo Utara – Minahasa Selatan
  • screenshot_2016-11-24-21-55-13-11Pada etape ke 3 ini kami akan menempuh perjalanan menuju Manadao k.l 500 km. Saya tidak bisa menduga jam berapa nanti kami tiba di kota Manado, karena ada hal hal yang tak terduga disetiap perjalanan yang kami lalui. Pukul 05.00, kami berkemas dan menaikkan barang barang mobil. Kami harus tiba di Bandara Jalaludin untuk menjemput Ungku disana. Ungku sudah berangkat dari Jakarta pakai Batik Air tadi malam. Sesudah transit di Makassar beberapa jam, kemudian Ungku terbang ke Gorontalo dan mendarat di Bandara Jalaludin pada pukul 06.00 pagi ini Sementara kami dari di kota Marisa akan menjemput Ungku di Bandara Jalaludin. Kami segera check out dari hotel, demi mengejar waktu tanpa sarapan pagi. Kijangpun melaju kencang menuju jalan Trans Sulawesi. Bismillahirrahmaanirrahim. …

Di beberapa titik jalan yang kami lalui, dalam keadaan rusak berat. Terdapat pemangkasan bukit yang membutuhkan pengerjaan yang cukup lama. Dipersimpangan Bandara, akhirnya Ungku bergabung dengan kami setelah menunggu 4 jam.  Saat Ungku bertemu dengan cucu kesayangannya yang biasa kami panggil abang, terasa sesuatu banget bagi Abang,karena bertemu dengan kakeknya yang sangat menyayanginya. Peluk cium diantara keduanya sangat memuaskan dahaga kerinduan seoarang kakek saat itu. Kamipun merasa semakin bersemangat. Sselama ini Ungku yang membawa kami menempuh jalan lintas Sumatera, Jawa hingga Madura. Kini tak disangka Ungku bisa meluangkan waktunya untuk ikut perjalanan dengan thema “ the long and winding road ini. Dalam perjumpaan di pagi hari itu, kami sarapan i di sebuah rumah makan di persimpangan Isimu Raya. Tersedia ayam bakar dengan sambal khas Gorontalo. Bagi saya, ini masakan “selera yang tau rasa”, karena cocok dengan lidah si Padang. Baca lebih lanjut

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (2)

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING on November 24, 2016 by ~padusi~

Hari Kedaua Etape 2 – Kota Poso – Parigi Moutong – Marisa

screenshot_2016-11-24-16-42-25-11Pada etape ke 2 ini, mobil akan meluncur dari Kota Poso menuju kota Marisa melewati kabupaten Parigi Moutong. Tepat pada pukul 06.30 kami meninggalkan Hotel Pandawa. Sebelum meninggalkan kota, kami mencari sarapan pagi lebih dulu. Disebuah jalan di kota itu, kami menemukan sebuah warung makan milik orang Jawa. Di warung itu, tersedia kuliner yang cocok lidah kami yaitu : bubur ayam, nasi kuning dan nasi campur ala Lamongan. Si Mbak yang berasal dari Jawa sudah menggunakan dialek Sulawesi dan tampaknya ia generasi kedua transmigran dari pulau Jawa yang bermukim di Sulteng. Usai sarapan kami meninggalkan kota Poso pada pukul 07.30 menuju Kota Parigi. Baca lebih lanjut

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (1)

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING on November 24, 2016 by ~padusi~

Rencana Perjalanan :

screenshot_2016-11-24-06-21-42-11KETIKA putera saya yang berdomisili di Pomalaa, Kolaka Sultra,  menawarkan ikut touring ke Menado via darat, hati saya galau. Ada rasa kawatir, apakah ia mampu mengendarai mobil sejauh 1.600 km dari tempat tinggalnya itu ? Sebab turut serta dalam perjalanan itu ; isteri, mertuanya dan puteranya berusia 4 th. Menimbang kekawatiran akan lebih terasa ketimbang tidak mengiringinya serta tak tega membiarkan mereka berangkat tanpa keikut sertaan saya. Akhirnya saya menyatakan kesediaan ikut dalam rombongan ini.  Saya berangkat dari Jakarta, kemudian ikut bergabung sehari sebelumnya. Saya mempersiapkan masakan yang tahan lama. Karena saya meragukan tidak ada warung makan disepanjang perjalanan nanti. Sayapun belum biasa menyatukan lidah dengan warung makan di negeri orang andaikan  diperjalanan nanti. Situasi ini pasti berbeda bila kita touring di Pulau Jawa atau Sumatera.

Dengan mempertimbangkan pengisian bbm, ishoma, rest, dll kemungkinan perjalanan nanti melebihi waktu yg diperkirakan Google Map. Jarak Pomalaa – Sultra hingga ke Manado – Sulut, menurut petunjuk Google Map bisa ditempuh selama 1 hari 10 jam atau setara 34 jam tanpa henti. Muskil bagi semua orang menempuh perjalanan seperti itu tanpa beristirahat. Kami merencanakan menempuh perjalanan dalam 3 etape. Selain bertadabur alam, kami ingin melihat pemerataan pembangunan di 5 propinsi yg akan kami lalui. Kami akan menelusuri ragam etnis, budaya, agama, serta situasi jalan raya di Sulawesi kurun waktu terakhir. Setiba ditempat tujuan nanti, kami akan menziarahi makam pahlawan yang berasal dari Minangkabau Tuanku Imam Bonjol di Tomohon, Minahasa. Berlayar ketaman wisata laut Bunaken dan lain lain unggulan destinasi di Sulawesi Utara.

2. Etape 1 – Lintas Pomalaa Kolaka – Poso

 Hari Pertama

a.   Pomalaa – Kolaka – Kolaka Utara :

Baca lebih lanjut

Tjoet Nya’ Dien

Posted in Tak Berkategori on November 9, 2015 by ~padusi~

Sumedang, 6 Nopember 1908

HARI itu.., tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu- satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat. Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, melainkan memilih tempat disalah satu rumah tokoh agama setempat.
Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta penderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 6 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatan yang sangat buruk, perempuan tua itu nyaris tak pernah keluar rumah.
Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.
Sesekali mereka membawakan pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu, yang belakangan karena
pengetahuan ilmu-ilmu agamanya disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila
perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah “The Queen of Aceh Batlle” dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien.  Singa betina dengan rencong ditangan yang terjun langsung ke medan perang. Pahlawan sejati tanpa kompromi yg tidak bisa menerima daerahnya dijajah..   

Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari
Tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintai. Gadis kecil cantik dan cerdas dipanggil Cut Nyak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat di Lampadang tahun 1848.  Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang pendatang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.
Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Di usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.
Suasana perang yang meggelayuti atmosfir Aceh pecah ketika tanggal 1 April 1873  F.N.
Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh, dan Tjoet Nyak tentu ada disana. Diantara tebasan rencong, pekik perang wanita perkasa itu dan dentuman meriam, dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan dibakar tentara Belanda…
“ Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh !!! Lihatlah !! Saksikan dengan matamu masjid kita dibakar !!…  tempat Ibadah kita dibinasakan !!.. Mereka menentang Allah !! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda.. !!  Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari.. setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe Beulanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1870.
Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.
Tetapi bagi Tjoet Nyak, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya, atau para lelaki Aceh…
Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.
Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiran putri bangsawan itu hanya dicurahkan kepada perang mengusir penjajah.  Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari hutan yang satu ke hutan yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kondisinya merosot.
Kondisi pasukanpun tak jauh berbeda.
Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada 16 November 1905 Kaphe Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya. Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak. Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya… , Tjoet tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan dibuang ke Sumedang,
Jawa Barat.
Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini.
Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.
Aceh sudah memiliki Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berkoar tentang persamaan hak yang bernama emansipasi.

Tjoet Nyak, “The Queen of Aceh Batlle”, wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita jamannya.. berakhir sepi di negeri seberang..

Masya Allah…

Mohon izin utk dikutip dari sebuah blog.

Doa dan Mukjizat

Posted in MY FAMILI with tags on Agustus 19, 2015 by ~padusi~

gambarBetapa terkejutnya saya ketika mendengar suara sendu kakak berkata : “Evy… Zainah saat ini sedang dalam keadaan koma…. Ia ditimpa TV….

“Asytagfirullah aldzim..!! berulang- berulang saya ber-isytigfar ketika secara runtut beliau bercerita bahwa kemarin waktu magrib tanggal 10 Desember 2009 – cucu kesayanganya ditimpa sebuah TV ukuran 29 Inc.zainah-di-rumah-sakit

Tahukah Anda bahwa beban TV itu adalah 100 kg. TV itu bukan type plasma seperti TV yang kita kenal sekarang. Andaikan kita seorang diri mengangkat TV itu – maka kira tak mampu mengangkatnya sendirian. Bagaimana mungkin, seorang balita usia kurang dua tahun tidak akan cidera kepalanya. Pasti ia mengalami cidera otak berat. Lebih lanjut kakakku bercerita saat ini sang cucunya itu sedang dalam perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit di kota Medan. Kata dokter kemampuan hidupnya hanya 60 – 40 %.
Asytahfirullah… tubuh saya gemetar mendengarnya.

Secara medis “Zainah mengalami pendarahan pada batang otak serta cidera berat pada otak kanan dan kirinya. Terobsesi atas kesembuhan “ Gugun Gondrong “ di Rumah Sakit – Singapore, kekuarga kami berikhtiar membawa Zainah — ke Singapore. Namun ayah dan bunda Zainah keberatan anaknya di gotong – gotong hingga ke Singapore. Ia mengikuti saran dokter RS yang menangani sang batita. Dokter spesialis neurolog RS – meyakinkan orang tua pasien atas kemampuannya tanpa harus dibawa keluarga negeri. Lagi pula sepanjang pendarahan pada batang otak belum bisa dihentikan, maka besar kemungkinan resiko kegagalan yang akan terjadi dan berakibat maut pada balita ini.

Sebagai keluarga besarnya apa yang bisa kami lakukan ? Dukungan materil seperti Gugun gondrong..??. Sampai berapa banyak kemampuan materi itu jika diperturutkan..?? Diskusi kepanikan terjadi diantara kami bersaudara ; Jakarta – Medan – Singapore – Bali. Rasanya bila ada dukungan moril dan materi dari kantor ayahnya Zainah di “ Hotel JW Marriout – Medan, atau dari Konsulat Amerika termasuk American Woman di Medan karena bundanya warga negara Amerika – belum meyakinkan kami untuk dapat menyelamatkannya, apabila ia dibawa ke Singapore. Demikian pula ketika Siloan Hospital Jakarta – menyatakan kesediaannya untuk melakukan perawatan. Bisa dipindahkan dari Medan ke Jakarta dengan pesawat, dokter, tenaga medis dan ambulance khusus. Pada akhirnya semuanya menyangkut nilai uang, yang tentunya akan diperhitungkan secara rinci oleh pihak Rumah Sakit. Akhirnya keluarga besar kami, memutuskan bahwa tetap merawat Zainah di Kota Medan saja.

Baca lebih lanjut