Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (3)

Posted in Tak Berkategori on November 24, 2016 by ~padusi~

Hari Ketiga – Etape 3 – Marisa – Gorontalo – Manado

  1.  Kota Marisa – Isimu – Gorontalo Utara – Minahasa Selatan
  • screenshot_2016-11-24-21-55-13-11Pada etape ke 3 ini kami akan menempuh perjalanan menuju Manadao k.l 500 km. Saya tidak bisa menduga jam berapa nanti kami tiba di kota Manado, karena ada hal hal yang tak terduga disetiap perjalanan yang kami lalui. Pukul 05.00, kami berkemas dan menaikkan barang barang mobil. Kami harus tiba di Bandara Jalaludin untuk menjemput Ungku disana. Ungku sudah berangkat dari Jakarta pakai Batik Air tadi malam. Sesudah transit di Makassar beberapa jam, kemudian Ungku terbang ke Gorontalo dan mendarat di Bandara Jalaludin pada pukul 06.00 pagi ini Sementara kami dari di kota Marisa akan menjemput Ungku di Bandara Jalaludin. Kami segera check out dari hotel, demi mengejar waktu tanpa sarapan pagi. Kijangpun melaju kencang menuju jalan Trans Sulawesi. Bismillahirrahmaanirrahim. …

Di beberapa titik jalan yang kami lalui, dalam keadaan rusak berat. Terdapat pemangkasan bukit yang membutuhkan pengerjaan yang cukup lama. Dipersimpangan Bandara, akhirnya Ungku bergabung dengan kami setelah menunggu 4 jam.  Saat Ungku bertemu dengan cucu kesayangannya yang biasa kami panggil abang, terasa sesuatu banget bagi Abang,karena bertemu dengan kakeknya yang sangat menyayanginya. Peluk cium diantara keduanya sangat memuaskan dahaga kerinduan seoarang kakek saat itu. Kamipun merasa semakin bersemangat. Sselama ini Ungku yang membawa kami menempuh jalan lintas Sumatera, Jawa hingga Madura. Kini tak disangka Ungku bisa meluangkan waktunya untuk ikut perjalanan dengan thema “ the long and winding road ini. Dalam perjumpaan di pagi hari itu, kami sarapan i di sebuah rumah makan di persimpangan Isimu Raya. Tersedia ayam bakar dengan sambal khas Gorontalo. Bagi saya, ini masakan “selera yang tau rasa”, karena cocok dengan lidah si Padang. Baca lebih lanjut

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (2)

Posted in Tak Berkategori on November 24, 2016 by ~padusi~

Hari Kedaua Etape 2 – Kota Poso – Parigi Moutong – Marisa

screenshot_2016-11-24-16-42-25-11Pada etape ke 2 ini, mobil akan meluncur dari Kota Poso menuju kota Marisa melewati kabupaten Parigi Moutong. Tepat pada pukul 06.30 kami meninggalkan Hotel Pandawa. Sebelum meninggalkan kota, kami mencari sarapan pagi lebih dulu. Disebuah jalan di kota itu, kami menemukan sebuah warung makan milik orang Jawa. Di warung itu, tersedia kuliner yang cocok lidah kami yaitu : bubur ayam, nasi kuning dan nasi campur ala Lamongan. Si Mbak yang berasal dari Jawa sudah menggunakan dialek Sulawesi dan tampaknya ia generasi kedua transmigran dari pulau Jawa yang bermukim di Sulteng. Usai sarapan kami meninggalkan kota Poso pada pukul 07.30 menuju Kota Parigi. Baca lebih lanjut

Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (1)

Posted in Tak Berkategori on November 24, 2016 by ~padusi~

Rencana Perjalanan :

screenshot_2016-11-24-06-21-42-11KETIKA putera saya yang berdomisili di Pomalaa, Kolaka Sultra,  menawarkan ikut touring ke Menado via darat, hati saya galau. Ada rasa kawatir, apakah ia mampu mengendarai mobil sejauh 1.600 km dari tempat tinggalnya itu ? Sebab turut serta dalam perjalanan itu ; isteri, mertuanya dan puteranya berusia 4 th. Menimbang kekawatiran akan lebih terasa ketimbang tidak mengiringinya serta tak tega membiarkan mereka berangkat tanpa keikut sertaan saya. Akhirnya saya menyatakan kesediaan ikut dalam rombongan ini.  Saya berangkat dari Jakarta, kemudian ikut bergabung sehari sebelumnya. Saya mempersiapkan masakan yang tahan lama. Karena saya meragukan tidak ada warung makan disepanjang perjalanan nanti. Sayapun belum biasa menyatukan lidah dengan warung makan di negeri orang andaikan ada diperjalanan nanti. Situasi ini pasti berbeda bila kita touring di Pulau Jawa atau Sumatera.

Dengan mempertimbangkan pengisian bbm, ishoma, rest, dll kemungkinan perjalanan nanti melebihi waktu yg diperkirakan Google Map. Jarak Pomalaa – Sultra hingga ke Manado – Sulut, menurut petunjuk Google Map bisa ditempuh selama 1 hari 10 jam atau setara 34 jam tanpa henti. Muskil bagi semua orang menempuh perjalanan seperti itu tanpa beristirahat. Kami merencanakan menempuh perjalanan dalam 3 etape. Selain bertadabur alam, kami ingin melihat pemerataan pembangunan di 5 propinsi yg akan kami lalui. Kami akan menelusuri ragam etnis, budaya, agama, serta situasi jalan raya di Sulawesi kurun waktu terakhir. Setiba ditempat tujuan nanti, kami akan menziarahi makam pahlawan yang berasal dari Minangkabau Tuanku Imam Bonjol di Tomohon, Minahasa. Berlayar ketaman wisata laut Bunaken dan lain lain unggulan destinasi di Sulawesi Utara.

2. Etape 1 – Lintas Pomalaa Kolaka – Poso

 Hari Pertama

a.   Pomalaa – Kolaka – Kolaka Utara :

PADA HARI JUM’AT, tanggal 30 September 2016, dipenghujung malam pada pukul 03.30,  kijang Innova meluncur meninggalkan Kompleks Antam, Pomalaa untuk menjalani etape 1 Pomalaa Sultra – Poso Sultra. Semalam semua barang bawaan sudah disusun rapi.  2 Kursi tengah dan belakang sudah dilepas. Sehingga cucu saya Fauzi Haziq Amri yang masih tidur bisa dibaringkan diatas  mobil. Kami berucap : Bismillahi majreha wamursaha inna Rabbi laghafurrurrahiim. Nanti saat shalat shubuh tiba, kami melaksanakan diperjalanan saja.

Perjalanan yang indah kami awali saat menyisir pantai Pomalaa – Kolaka. Dikeramangan malam air laut sedang surut. Dari kejauhan terlihat gugusan pulau Padamarang, p. Maniang, p. Buaya, P. Santigi. Inilah keindahan yang selalu kami nikmati saat melintasi jalan poros Pomalaa  – Kolaka ini. Kami sedang di wilayah Bumi Mekongga. Diwilayah ini pernah ada kerajaan Mekongga yang diperintah oleh raja terakhir yang bernama Sangianibandera. Meskipun tidak ada cagar budaya yang menginfokan keberadaan kerajaan ini, namun dari mulut kemulut kita bisa mengenali keberadaan kerajaan ini dimana nama rajanya diabadikan di sebuah bandara di Tanggetada “ Sangianibandera.

Saya bersyukur pada sang Pemilik Alam bahwa kunjungan kami ke lima propinsi nanti  melengkapi kisah yang sudah saya peroleh tentang asal usul masyarakat hukum adat diwilayah Sulawesi seluruhnya. Bahkan melengkapi tafakur alam yang sudah saya jalani, bahwa di Sulawesi ini ada orang Minangkabau yang berjasa mengislam tanah Celebes, seperti 3 orang Datuk di Sulsel, yang bernama Datuk ribandang di Makassar, Datuk Suleman Luwu dan Datuk ri Ditiro di Bulukumba.  Kemudian ketika sebelumnya saya beroleh info tentang asal usul etnis yang menyebar di Kawasan ini, konon katanya etnis disini bermula dari Suku Toala yang bermukim di dipinggiran danau Matano, di Malili. Etnis inilah yang kemudian menyebar keutara disebut suku “ Tomori “, kebarat disebut suku “ Toraja “, ke tenggaran disebut suku “ Tolaki. Wilayah antara barat dan tenggara dsebut suku “ Toluwu “, sedangkan yang menyebar ke wilayah timur disebut suku “ Tobungku “. Info ini saya peroleh langsung dari Alm. Lapabila, ketua adat Mekongga. Saya sempat berkunjung ke Danau Matano tempat suku Toala berasal setahun yang lalu,  sehingga greget perjalanan semakin bertambah. Terima kasih ya Allah atas perjalanan ini.

fb_img_14799439918831Setelah berjalan selama 2 jam, kami tiba di Kecamatan Wolo, pada pukul 05.35. Kami segera melaksanakan shalat shubuh di Mesjid Babussalam. Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan. Jalanan yang semula kelam semakin terang saat matahari mulai menyinari bumi. Kijang melintasi jalan mulus, meskipun ada sedikit kerusakan akibat longsor di wilayah Kolaka menuju Kolaka Utara, dalam kecepatan rata rata  60 – 80 km. Kondisi jalan terkadang lurus dan terkadang kadang berlika liku menyisir tepian teluk Bone. Bahkan ketika memasuki wilayah Tamborasi yang terkenal dengan wisata sungai terpendek didunia, jalan agak menyempit. Jalanan itu berada persis dibibir jurang, diperbukitan di wilayah itu.

Kami mulai memasuki Kabupaten Kolaka Utara (Kolut). Wolo, adalah desa pertama yang kita jumpai dipintu perbatasan. Didesa ini tersembunyi danau biru nan cantik, namun jarang dikunjungi wasatawan local karena keselamatan lokasi kurang terjamin. Beruntung saya dan keluarga setahun sebelumnya, berkesempatan mengunjungi lokasi itu. Danaunya berwarna hijau tosca – warna favorit saya. Bentuk danau menyerupai pemandian para bidadari dari kayangan, mengayalkan ada pangeran yang mencuri baju salah satu bidadari. Itulah keindahan danau yang bisa saya gambarkan kepada anda. img-20150510-wa0026Bila menuju lokasi danau biru ini, kita bisa melewati bibir pantai selain jalan setapak yang sudah ditumbuhi semak belukar. Suara gemericik air terhempas dari dari bebatuan dikaki bukit, kemudian air itu mengalir, berkumpul disebuah kolam besar yang menampakan warna biru kehijau hijauan. Danau Biru julukannya. Layaknya menikmati terapi alam ketika kita singgah disini, kicauan burung dan udara segarpun menemani kedamaian alam yang tersaji. Itu pengalaman kami saat kami berkunjung kesana.

Saya merasakan perjalanan antara Kota Kolaka – Kota Lasusua, seakan berada di lintas tengah Pulau Sumatera. Saya menemui banyak rumah panggung disepanjang jalan. Mirip dengan rumah rumah di wilayah Lampung Utara atau Sumatera Selatan hingga Jambi. Kami berpapasan dengan anak anak sekolah yang berjalan kaki dengan seragam pramuka. Mereka berjalan tanpa beban bahwa perjalanan menuju sekolah berkisar 1 – 4 km. Situasi masyarakat setempat menjalani kehidupan terlihat tenang dan damai. Bisa dipastikan Pemda setempat tidak terlalu pusing dengan kesederhanaan hidup masyarakatnya. Suatu hal yang berbeda bila dibandingkan dengan masyarakat miskin kota yang ada dikota kota pulau Jawa. Masyarakat tepian teluk Bone ini umumnya memperoleh penghasilan dari tanaman cengkeh, kopi, coklat, termasuk hasil laut. Hal ini terlihat dari jemuran hasil kebunnya disepanjang jalan yang kami lalui.

# Kota Lasusua sedang berbenah diri ;

fb_img_14799440282821

fb_img_14799447758621Sedikit saya ceritakan kota terujung dari Propinsi Sutra ini. Kota Lasusua merupakan hasil pemekaran Kabupaten Kolaka. Akses menuju wilayah lain terbatas. Transportasi darat menuju Kendari – Ibu  Kota Propisi ditempuh dalam 7 jam perjalanan. Transportasi udara tidak ada, kecuali harus menempuh 3,5 jam perjalanan ke Bandara Sangianibandera di Tanggetada, Kabupaten Kolaka. Pemprov berusaha berbenah diri. Saya menilai Pemprovnya kreatif. Diantaranya, membangun jalan tol di pinggir pantai sejauh 3 km dengan tariff  Rp 5.000,-. Dinas Perhubungan Penkab Kolut, melakukan pengurugan pada bibir pantai, sehingga kendaraan yang melintasi Kota Lasusua akan menghemat jarak k.l 10 km dalam waktu hanya 10 menit saja dari sebelumnya 45 menit, bila melewati perbukitan.

fb_img_14799447881971Di kota. kecil ini ada Masjid Raya berkubah emas serta bangunan baru lainnya.  Yang lebih mengagumkan ada pula sebuah Mesjid kecil berwarna hijau yang dilengkapi pendingin ruangan /AC.Melewati kota Lasusua, kami tiba di Tolala, kecamatan terakhir dari Kabupaten Kolaka Utara. Perut sudah terasa lapar. Jalan yang berliku membuat perut terasa keroncongan.

fb_img_14799456501361Kami menemukan sebuah tempat bagus dipinggir pantai di  Kecamatan  itu. Aneka menu : rendang, ayam kalio, ayam kecap, dendeng balado, kami hidangkan. Silahkan pilih mana yang disukai. Yang penting semua persedian untuk poros tengah alias perut bisa menucukupi sampai di Manado nanti. Bang Fauzi, penumpang terkecil mulai agak rewel karena saat berangkat diujung malam, ia belum mandi. Jangan kawatir, ia tetap bisa menikmati perjalanan karena mobil sudah ditata sedemikian rupa yang membuat dirinya nyaman. Bisa bermain lego atau tiduran selama dalam perjalanan.

fb_img_14799448024821fb_img_14799448108461Pada poros Tolala – Batuputih – Malili,  kami memasuki wilayah perbukitan. Tak lama kemudian kami tiba di perbatasan Sultra dan Sulsel ditandai sebuah tugu sederhana, penuh dengan coretan.  Ada plank penunjuk jalan.

 

fb_img_1479944822253-11Dekat dengan tugu perbatasan ada pos pemeriksaan Polres Luwu. Sekarang kami sudah berada di Propinsi Sulawesi Selatan – Negeri Tanah Luwu. Mobil masih meluncur di jalan poros, jalanan agak sempit, tanjakan dan belokan tajam. Hutan disepanjang jalan tidak lebat, hingga akhirnya kami tiba dipersimpangan jalan poros Malili – Karebbe dan Malili – Sorowako. Dipertigaan itu ada sebuah sungai yang jernih,  berasal dari Danau Matano yang terletak di kota Sorowako. Danau Matano pernah kami kunjungi setahun sebelumnya. Danau Matano luas – bersih – bening – landai dan dingin sangat asyik bila bermain disana. Dipinggir Danau Matano itulah terdapat Kompleks Perumahan Karyawan PT Valley Indonesia, sebuah perusahaan PMA yang bergerak dibidang pertambangan dan pengolahan bijih nikel.

# Hotel Sikumbang di Beringin Jaya, Tomoni

screenshot_2016-11-24-07-13-55-11Dari jalan Poros Malili – Karebbe, setelah melewati kota Malili k.l 20 km, mobil meluncur di jalan Poros Tomoni – Malili, lalu jalan Poros Wotu Malili. Dipertinggaan poros ini, mobil belok kiri menuju jalan Trans Sulawesi kearah Beringin Jaya, Kecamatan Tomoni. Dari kejauhan saya melihat sebuah bangunan atap bergonjong. “ Ehemm rumah bagonjong kah ? Ternyata bangunan hotel yang bernama Hotel Sikumbang, diwilayah Beringin Jaya, Tomoni, Luwu Timur, Sulsel itu. Saya berucap : “ kini saya percaya kalau di bulan sudah ada Restoran Padang.  Bukankah di wilayah Luwu Timur, Kecamatan Tomoni, di selangkang pulau Sulawesi ini sudah ada Hotel dan Resto Sikumbang.

Di Beringin Jaya, ini saya masih menemui rumah panggung, meskipun tampaknya daerah ini ada kehidupan baru dari sisi pengembangan wilayah. Setelahnya mobil berjalan kearah Mangkutana, yang jarak tempuh 102 km  selama k.l 3 jam.

# Melintasi Hutan Lindung Kayu Langi

fb_img_1479947177504-11Selepas dari Beringin Jaya jalanan langsung menanjak masuk ke wilayah pegunungan dan kawasan hutan Kayu Langi. Nah, disini jalannya sangat sepi, baik itu penduduk maupun dan sepi kendaraan. Ada banyak sekali ditemui papan petunjuk pemberitahuan untuk menjaga hutan lindung dan cagar alam. Menemui desa berikutnya pun sangat jauh, dan trek jalannya adalah perbukitan yang tak habis-habisnya dengan jalan berliku-liku tajam serta naik-turun. Sekali-kali berhenti dari mobil saya membuat rekaman video. Ingin menunjukkan pada teman dan kerabat, bahwa didalam hutan lebat, jalanan yang kami lalui sangat mulus. Pemandangan siang hari yang yang kami temui adalah bukit yang ditumbuhi aneka tanaman hutan. Suasana seperti ini pernah saya jumpai saat melintasi Lintas Tengah Sumatra 30an tahun lalu. Kita berikan acungan jempol kepada Balai Perlindungan Hutan dan Konservasi SDA, Sulsel, yang membabat semak belukar disepanjang hutan itu. Kalau tidak, maka jalanan yang kita lalui terasa sempit dan suasananya sama dengan Hutan Seblat di Bengkulu yang pernah saya lewati 20 tahun lalu. Di trek ini penumpang dan driver harus kuat fisiknya, karena jalan tanjakan dan turunan dengan tikungan tajam seakan tak pernah habis. Kecepatan dan kelincahan sangat ditentukan dengan skill berkendaraan, dan juga performa mobilnya.

fb_img_1479947088263-11Kijang Innova yang kami tumpangi sangat ideal untuk perjalanan jauh, tidak menjadi halangan menembus rute Kabupaten Luwu Timur ini. Rute antara Mangkutana – Pendolo, Poso memang terbilang berat. Melelahkan tetapi karena kijang Innova 2000 cc, jadi terasa nyaman saat ditumpangi. Tidak terasa goncangan malah tambah asyik, ketika Fauzi – cucu saya bisa pula menikmati perjalanan. Melewati rimbun pepohonan hutan dikawasan cagar alam Kayu Langi dan juga cagar alam Faruhumpenai yang katanya ditakuti oleh banyak orang karena masih sepi, dan seram, saat itu kami lalui dengan kondisi tenang tenang saja.

# Air Terjun Saloanuang di desa Kasintuwu, Mangkutana :

fb_img_14799970028441Secara tak terduga ketika melewati wilayah koservasi sumber daya alam ini, kami mendengar deburan air di sebuah jembatan. Dekat jembatan itu tertulis  air terjun Saloanuang. Lokasinya k.l  30 km arah utara Mangkutana di poros jalan Trans Sulawei. Saloanuang termasuk obyek wisata alam Kabupaten Luwu Timur. Letaknya di desa Kasintuwu, Mangkutana. Masya Allah…Tidak sulit menemukan Saloanuang karena tepat disisi kanan jembatan yang kami lintasi. Kami menyempatkan diri untuk refreshing disini.  Derasnya air membersitkan bulir bulir air yang menerpa diri saat saya dan Ulil menyempatkan berfoto di jembatan itu. Wajah terasa segar bila kita bisa membasuh muka dari air yang mengalir.

fb_img_14799469762251Mobil berhenti dekat “ Warung Ojo Lali”, yang menyediakan makanan : bakso, gado gado, minuman teh dan kopi. Nah.. siapapun yang melintasi desa Kasintutwu, ojo lali  singgah disini yo. J . Termasuk kami memanfaatkan buang air kecil WC yang disedikan pemilik warung. Saat itu saya berpikir  sambil berucapa dalam hati : “ hemm….luar biasa keberanian pemilik warung ini. Lokasi itu sangat sunyi. Bahkan menurut data dari Profil kecamatan Mangkutana, desa Kasintuwu hanya berpenduduk 5 orang per km persegi saja…! J. Nah… keluarga pemilik warung itulah penduduk desa Kasintuwu. Mangkutana adalah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah.

Dari profil Kabupaten Luwu Timur, diperoleh info bahwa sebagian besar daerahnya merupakan wilayah hutan. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur, sampai dengan akhir tahun 2010 tercatat luas Hutan Lindung adalah 235.998,34 Ha, luas Hutan Produksi adalah 117.940,98 Ha. Sementara itu luas kawasan konservasi adalah 183.624,08 Ha. Jadi, tak heran ketika kami melewati kawasan hutan ini dengan aman tanpa ada masalah apapun.

# Sekilas tentang Luwu

Berkisah tentang Luwu, saya teringat akan sebuah kerajaan Luwu, yang kini telah terpecah menjadi beberapa kabupaten/kota,  yaitu : Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur. Sebelumnya Kerajaan Luwu membawahi : Tana Toraja (Makale , Rantepao) di Sulsel, Mekongga, Kolaka Sultra, Poso Sulteng. Sejarah kerajaan Luwu ini, dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sarewigading. Pada masa penjajahan Belanda, kerajaan Luwu mulai diperkecil dan dipecah sesuai dengan kepentingan Belanda. Meskipun dipisahkan dalam rangka pemekaran wilayah, empat wilayah Tana Luwu ini tidak dapat dipisahkan dari jejak culturalnya. Wilayah yang sudah terkotak kotak itu tetap saling melengkapi dalam kehidupan berbudaya dan berbangsa. Contohnya Kerajaan Luwu punya satu benda kerajaan yang mempunyai fungsi dan posisi yang sangat penting. Karena seorang raja yang memerintah kerajaan Luwu, akan memiliki Labungawaru yang mencerminkan keberanian, satria, tegas, teguh dan Siri.

# Perbatasan Luwu Timur dan Poso

Jarak tempuh dari Air terjun Salu’anuang di Mangkutana ke tugu perbatasan k.l beberapa km saja. Kami tiba di perbatasan pada pukul 15.02 Dari seorang Bikerz saya dapat info bahwa Kawasan ini merupakan cagar alam Faruhumpenai dengan luas 90.000 HA. Di perbatasan ini ia mendengar suara hewan siamang bersahut-sahutan. Hutannya masih alami dan ini memang harus kita jaga kelestariannya secara bersama.

fb_img_1479946980972120161124_2057371Tugu perbatasan terletak di sebuah tikungan, dan terdapat dua model, mungkin setiap propinsi punya sendiri-sendiri. Yang satu adalah model tiang tinggi (Sulsesl), dan yang kedua (Sulteng) adalah model gerbang. Keduanya tampak sudah usang alias tidak keurus. Di Panorama perbatasan Kabupaten Luwu Timur dengan Kabupaten Poso itu, kita bisa melihat danau Poso dari kejauhan. Disini kami berhenti sambil membidik secara langsung suasana di perbatasan ini, yang terkesan mistik. Agar tidak  dibilang hoax perjalanan kami, saya saya berfoto di tugu perbatasan yang cukup tua dimakan usia ini.  Ketika kami bertanya pada seorang Ibu pemilik warung di Panorama itu, dia mengatakan bahwa kami akan menempuh perjalan k.l 100 km lagi. Berarti sekitar 4 jam perjalanan lagi. Nun jauh disana dari kejauhan terlihat danau Poso. Dekat dimata namun sulit terjangkau. Kenapa ? Karena untuk menempuh danau itu kita harus keluar dari jalan Trans Sulawesi.

Dari perbukitan Faruhumpenai, mobil meluncur turun pelan pelan dijalanan yang agak rusak menuju Pendolo – ibu kota kecamatan Pamona Selatan. Kondisi jalan menuruni kawasan itu, di samping samping kiri kanan adalah tebing-tebing yang tampak jelas bahwa kawasan ini rawan longsor. Ada beberapa batu besar yang masih menutup sebagian jalan. Untung saja, saat kami  melewatinya tidak ada hambatan longsor, yang ada hanya jalan rusak karena lagi ada pekerjaan pelebaran jalan atau bekas -bekas pembersihan longsor yang sekaligus melebarkan jalan. Tak ketinggalan ada juga proyek pembangunan jembatan baru. Oh ya.. melewati trek ini, rumah penduduknya masih asli dan pada umumnya adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu yang sudah tua.

Mengetahui jarak tempuh 100 km lagi, maka kami memutuskan tidak berhenti dijalan lagi, demi mengejar waktu agar tidak malam tiba di kota Poso. Kini perut terasa lapar, setelah hampir 5 jam yang lalu kami sarapan pagi di Tolala, Kolaka Utara. Mengingat terbatasnya waktu, maka para penumpang makan siang di mobil saja.

Pada pukul 15.50, saat matahari sudah condong kebarat kami tiba di Pendolo. Disebuah SPBU, kami melaksanakan shalat jamak qasar Lohor – Asyar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kearah Tentena, Poso. Jalan mulai datar dan lurus serta disisi kanan kiri terdapat hamparan sawah menghijau. Rumah pendudukpun mulai agak rapat. Saat Innova melaju kencang  di jalan lurus, tiba-tiba ada portal yang dijaga satuan aparat TNI. Ulil turun dari mobil sambil membawa secarik surat yang akan ditunjukkan pada petugas, untuk melaporkan perjalanan kami. Dari aparat setempat kami beroleh informasi bahwa k.l 30 km kedepan sedang dilakukan penutupan jalan Trans Sulawesi, yang berlangsung antara jam 14.00 – sd 18.00. Petugas menyarankan agar kami tetap berada di jaur Trans Sulawesi ketimbang melewati pinggiran Danau Poso menuju Tentena, ibu kota kecamatan Pamona Utara. Mobilpun melaju di jalur Trans Sulawesi, kondisi jalannya lebih mulus. Meskipun kami melintasi perbukitan yang lebih tinggi, dimana sedang dilakukan perbaikan jalan secara besar-besaran. Banyak tikungan bukit yang di pangkas dan diperlebar.  Jarak tempuh Pendolo ke Tentena sebenarnya 56 km, namun kemampuan kendaraan melintasi perbukitan yang terjal menjadikan perjalanan kami berlangsung 1,5 jam. Jalan yang membuat system tutup buka, saat kami lalui sudah tidak ditutup lagi. Karena hari sudah jelang waktu magrib. Yang tersisa sinar matahari sebelah barat hanya remang remang belaka. Di wilayah Tentena ini mayoritas penduduknya beragama Kristen. Tidak mengherankan kalau sudah mulai banyak gereja. Mayorita penduduk suku Pamona dan suku Toraja, sedikit pendatang luar yang berasal dari Bali.

Tepat pada pukul 20.00 kami tiba di kota Poso. Setelah menempuh perjalanan sejauh 542 km yang seharusnya ditempuh selama 13 jam, menjadi 16 jam. Poso, kota kecil yang tidak rapat penduduknya namun menjadi terkenal dengan adanya peristiwa kerusuhan beberapa bulan yang lalu.  Disinilah keberadaan kaum heterogen, hidup harus berdampingan karena terdiri dari suku asli Pomona, ditambah suku pendatang : Toraja, Kaili, Jawa dan Bali.

Kami menginap disebuah hotel yang bernama Pendawa. Hotel berupa Paviliun ini sangat cocok buat keluarga. Hotelnya baru dan bersih.  Ayooo semua .. mari kita bersihkan badan. Setelah itu kami cari restoran yang terdekat. Mereka tariff yang tinggi atas pesanan yang kami minta. Hemm… mereka tahu juga rupanya, bahwa kami adalah para pelintas batas di kota ini.Pulang ke Wisma Pandawa, lalu rebahkan diri dan segera tutup mata. Ini cara jitu dalam menjalani perjalanan panjang. Besok pada jam 06.00 kami akan melanjutkan etape 2 menuju kota Marisa.

 

 

 

 

 

 

Tjoet Nya’ Dien

Posted in Tak Berkategori on November 9, 2015 by ~padusi~

Sumedang, 6 Nopember 1908

HARI itu.., tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu- satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat. Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, melainkan memilih tempat disalah satu rumah tokoh agama setempat.
Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta penderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 6 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatan yang sangat buruk, perempuan tua itu nyaris tak pernah keluar rumah.
Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.
Sesekali mereka membawakan pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu, yang belakangan karena
pengetahuan ilmu-ilmu agamanya disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila
perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah “The Queen of Aceh Batlle” dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien.  Singa betina dengan rencong ditangan yang terjun langsung ke medan perang. Pahlawan sejati tanpa kompromi yg tidak bisa menerima daerahnya dijajah..   

Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari
Tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintai. Gadis kecil cantik dan cerdas dipanggil Cut Nyak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat di Lampadang tahun 1848.  Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang pendatang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.
Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Di usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.
Suasana perang yang meggelayuti atmosfir Aceh pecah ketika tanggal 1 April 1873  F.N.
Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh, dan Tjoet Nyak tentu ada disana. Diantara tebasan rencong, pekik perang wanita perkasa itu dan dentuman meriam, dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan dibakar tentara Belanda…
“ Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh !!! Lihatlah !! Saksikan dengan matamu masjid kita dibakar !!…  tempat Ibadah kita dibinasakan !!.. Mereka menentang Allah !! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda.. !!  Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari.. setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe Beulanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1870.
Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.
Tetapi bagi Tjoet Nyak, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya, atau para lelaki Aceh…
Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.
Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiran putri bangsawan itu hanya dicurahkan kepada perang mengusir penjajah.  Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari hutan yang satu ke hutan yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kondisinya merosot.
Kondisi pasukanpun tak jauh berbeda.
Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada 16 November 1905 Kaphe Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya. Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak. Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya… , Tjoet tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan dibuang ke Sumedang,
Jawa Barat.
Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini.
Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.
Aceh sudah memiliki Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berkoar tentang persamaan hak yang bernama emansipasi.

Tjoet Nyak, “The Queen of Aceh Batlle”, wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita jamannya.. berakhir sepi di negeri seberang..

Masya Allah…

Mohon izin utk dikutip dari sebuah blog.

Doa dan Mukjizat

Posted in Tak Berkategori with tags on Agustus 19, 2015 by ~padusi~

gambarBetapa terkejutnya saya ketika mendengar suara sendu kakak berkata : “Evy… Zainah saat ini sedang dalam keadaan koma…. Ia ditimpa TV….

“Asytagfirullah aldzim..!! berulang- berulang saya ber-isytigfar ketika secara runtut beliau bercerita bahwa kemarin waktu magrib tanggal 10 Desember 2009 – cucu kesayanganya ditimpa sebuah TV ukuran 29 Inc.zainah-di-rumah-sakit

Tahukah Anda bahwa beban TV itu adalah 100 kg. TV itu bukan type plasma seperti TV yang kita kenal sekarang. Andaikan kita seorang diri mengangkat TV itu – maka kira tak mampu mengangkatnya sendirian. Bagaimana mungkin, seorang balita usia kurang dua tahun tidak akan cidera kepalanya. Pasti ia mengalami cidera otak berat. Lebih lanjut kakakku bercerita saat ini sang cucunya itu sedang dalam perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit di kota Medan. Kata dokter kemampuan hidupnya hanya 60 – 40 %.
Asytahfirullah… tubuh saya gemetar mendengarnya.

Secara medis “Zainah mengalami pendarahan pada batang otak serta cidera berat pada otak kanan dan kirinya. Terobsesi atas kesembuhan “ Gugun Gondrong “ di Rumah Sakit – Singapore, kekuarga kami berikhtiar membawa Zainah — ke Singapore. Namun ayah dan bunda Zainah keberatan anaknya di gotong – gotong hingga ke Singapore. Ia mengikuti saran dokter RS yang menangani sang batita. Dokter spesialis neurolog RS – meyakinkan orang tua pasien atas kemampuannya tanpa harus dibawa keluarga negeri. Lagi pula sepanjang pendarahan pada batang otak belum bisa dihentikan, maka besar kemungkinan resiko kegagalan yang akan terjadi dan berakibat maut pada balita ini.

Sebagai keluarga besarnya apa yang bisa kami lakukan ? Dukungan materil seperti Gugun gondrong..??. Sampai berapa banyak kemampuan materi itu jika diperturutkan..?? Diskusi kepanikan terjadi diantara kami bersaudara ; Jakarta – Medan – Singapore – Bali. Rasanya bila ada dukungan moril dan materi dari kantor ayahnya Zainah di “ Hotel JW Marriout – Medan, atau dari Konsulat Amerika termasuk American Woman di Medan karena bundanya warga negara Amerika – belum meyakinkan kami untuk dapat menyelamatkannya, apabila ia dibawa ke Singapore. Demikian pula ketika Siloan Hospital Jakarta – menyatakan kesediaannya untuk melakukan perawatan. Bisa dipindahkan dari Medan ke Jakarta dengan pesawat, dokter, tenaga medis dan ambulance khusus. Pada akhirnya semuanya menyangkut nilai uang, yang tentunya akan diperhitungkan secara rinci oleh pihak Rumah Sakit. Akhirnya keluarga besar kami, memutuskan bahwa tetap merawat Zainah di Kota Medan saja.

Baca lebih lanjut

~ Pensiun ~

Posted in Tak Berkategori on Maret 4, 2015 by ~padusi~

oleh : Hifni Hafida

Kuteringat kemasa puluhan tahun silam. Saat diriku tetap berkehendak memilih bekerja di lembaga yang tidak berpihak kepada sarjana non teknis. Aku butuh pekerjaan yang lokasinya tak jauh dari rumah, agar aku bisa menjalani peran gandaku.
Ketika seleksi dan wawancara kujalani, aku ditanya oleh seorang pejabat penyeleksi pegawai.

“ Mbak.. anda sadar konsekwensi jadi abdi Negara dilingkungan riset  ? “.

“ Hemmm..ya pak “, sahutku dengan ringan.
“ Kalian nanti tak lebih dari sekedar akar rumput yang membuat teduh lembaga ini “,  lanjut pejabat itu.

“ Hemmm..ya pak “, sahutku dengan santai.

Masih beruntung diriku, ditengah perjalanan sebagai PNS itu, aku diberi kesempatan pindah jalur menjadi tenaga perbantuan untuk membina SDM di BUMN yang lahir di Instansi riset itu. Sehingga, apa yang diramal oleh seorang Penyeleksi Pegawai masa doeloe itu menepis kenyataan dalam masa pengabdianku.

Merentang waktu ke masa puluhan tahun silam itu, aku menyadari bahwa diriku bukan siapa-siapa dan tak akan menjadi apa apa kalau tidak ada tangan Tuhan yang bekerja dalam masa karir itu. Itulah realita yang kujalani sebagai seorang pegawai negeri sipil selama puluhan tahun.

*** Baca lebih lanjut

Lima kisah inspiratif mualaf sejagat

Posted in Tak Berkategori on September 3, 2013 by ~padusi~

Lima kisah inspiratif mualaf sejagat

(Arrahmah.com) – Mualaf. Mereka mengubah keyakinan dulu menjadi sepenuhnya memeluk Islam dan mengakui keesaan Allah SWT. Di tengah caci maki banyak kalangan terhadap agama dibawa Nabi Muhammad SAW, Islam justru berkembang cukup pesat.  Bahkan beberapa waktu lalu di surat kabar the  Daily Mail, Islam bakal menjadi agama utama di Inggris satu dekade lagi.

Anda beragama Islam diajak mengenal tokoh-tokoh mualaf sangat inspiratif. Mereka datang dari latar belakang berbeda dengan satu tujuan, menjalankan kehidupan sesuai perintah Allah SWT termaktub dalam kitab sucinya Al-Quran.

Dilansir dari pelbagai situs dan surat kabar yakni dailymail.co.uk, the Guardian, dan sebagainya. Berikut lima kisah mualaf paling inspiratif sejagat. Baca lebih lanjut