” Bidikan Konggaha’a di Bumi Mekongga “

Oleh : Evy Nizhamul

Asal Usul Suku  :

Mungki????????n ada yang bertanya bertanya dimanakah Bumi Mekongga itu ? Suatu kawasan masyarakat hukum adat yang disebut  Mekongga.

Dari Ketua Adat setempat yang bernama pak ” Lapabila ” saya mendapat penjelasan bahwa ; dahulu kala asal nenek moyang orang orang Mekongga, berinduk dari “Suku Toala “, yang bermukim di sebuah danau ” Matano “, didaerah Malili. Propinsi Sulawesi Selatan.

Etnis ini kemudian menyebar ke uFoto Evy Nizhamul.tara disebut suku ” Tomori ” ke barat disebut suku ” Toraja “, ke tenggara disebut suku ” Tolaki ” . Wilayah antara barat dan tenggara disebut suku ” Toluwu “. Sedangkan yang menyebar kewilayah timur disebut ” Tobungku “.

Pada Zaman Belanda, Sulawesi Tenggara yang merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat Tolaki, dipecah menjadi 2 wilayah yaitu Kerajaan Konawe ber-ibu kota di Kendari, sedangkan kerajaan Mekongga di Kolaka.

Masa Kerajaan :

Dahulu di Konawe bertahta ” Ratu Wekoila “, suaminya bernama ” Oheo “. Ratu Wekoila punya saudara laki2 bernama Larungpalangi dan berkuasa di Mekongga persisnya di Wundulako sekarang ini. Masa hidup Ratu Wekoila bersamaan dengan pembangunan Candi Borobudur. Kemudian dari 2 Kerajaan ini, terpecah pecah lagi menjadi beberapa kerajaan. Raja Mekongga yang terakhir bernama Sangia Nibandera, yang hidup pada tahun 1697 – 1753. Foto Evy Nizhamul.Mengapa raja Mekongga yang terakhir ini bernama Sangia Nibandera ?

 

Dari sebuah sumber saya beroleh sebuah foto,  dimana masyarakat tengah membentang sebuah bendera yang berwana merah putih. Bendera itu diberi oleh Raja Lawu kepada Raja Mekongga terakhir  itu. Sebab itulah rajanya dikenal dengan nama Sangia Nibandera. Penyerahan bendera dari Kerajaan Luwu kepada raja Mekongga terakhir ini, menunjukkan bahwa Kerajaan Luwu akan melindungi kerajaan Mekongga ini.

Legenda – cerita rakyat :

Lembaga adat budaya Mekongga Pada umumnya masyarakat hukum adat di Indoensia, Setelah mengetahui asal usul nya, maka maka merekapun  mempercayai  sebuah legenda yang diyakini kebenarannya. Legenda yang kita temui di Bumi Mekongga ini , adanya kosa  kata to Mekongga berarti orang yang membunuh burung elang raksasa. Elang raksasa itu disebut Burung Konggaha’a.  Bagaimanakah kisahnya ?.
Meskipun Ketua adat Mekongga pak ” Lapabila” – tinggal di Dawi Dawi sudah menjelaskan asal muasal kerajaan  Mekongga ini, namun saya tetap mencoba mencari info lainnya dari sebuah blog yang memiliki kisah yang sama dengan beliau. Blog ini  memaparkan tentang kisah Burung “Konggaraha” atau biasa disebut Kongga. Konon katanya sudah ada sejak jaman Larungpalangi datang ke tanah Mekongga.

Di awal kedatangan Larungpalangi – burung itu masih kecil seperti elang/rajawali pada umumnya.  Pada saat pemerintahan Sikiri yang kemudian diteruskan oleh Lapotende,  burung tersebut tumbuh dan berubah menjadi burung buas dan sangat ganas.  hal ini disebabkan hutan tempat mencari makan sudah dihuni penduduk. Tidak ada lagi bahan makanan yang  tersedia dihutan . Akibatnya burung kongga memangsa manusia dan hewan ternak warga sekitarnya.  Timbul kecemasan dikalangan masyarakat  pada saat itu.   Sebagai orang yang berkuasa dan wajib melindungi warganya, maka  Lapotende maju untuk membunuh burung tersebut.   Dengan 2 (dua) buah keris yang ada padanya (Keris Ali Pote dan Keris Sawuwepita), Lapotende berusaha membunuh burung tersebut. Usaha Lapotende pun sia-sia. Disaat usahanya terus membunuh burung kongga, Lapotende mendapat bisikan gaib bahwa burung tersebut   bisa dibunuh dengan bambu kuning.   Lapotende melaksanakan bisikan itu, sehingga ia mengambil bambu kuning yang ada didekatnya kemudian ditombakkan keburung kongga tersebut.   Tombak Lapotende yang ditancapkan pada burung Kongga ini, mengakibatkan sang burung kongga jatuh ketanah dan mati didekat sungai.   Burung Kongga berupaya terbang dan mengitari jazirah Sulawesi Tenggara. Darahnya berceceran di tanah dataran rendah dan perbukitan. Bahkan darah burung yang berasal dari tubuh burung kongga mengalir sampai ke sungai dan air sungai tersebut berubah berwarna merah. Sungai tersebut diberi nama Sungai Mekongga.  Begitulah,  menurut legendanya darah yang berceceran itu membuat tanah di wilayah itu menjadi tanah merah. Kemudian sekarang ini dikenal mengandung nikel konsentrat tinggi.

Kebenaran asal usul asal  yang dikisahkan pak Lapabila – ketua adat Mekongga itu, kita anggap sebagai mitos belaka,  yang kebenarannya hanya 2 % saja.

Di wilayah ini, saya melihat paras muka gadis gadis mereka  cantik, putih bersih – halus – bermata sipit – namun rambutnya hitam legam. Semula saya menduga  mereka berasal dari ” Vietnam – hulu atau hilir sungai Mekong ( kalee lho … ya karena aku bukan ahli sejarah).

Adat dan Budaya : 

Dilain cerita tentang istilah   Mekongga dan Tolaki, saya mendapat informasi tentang kultur mereka yang juga memiliki kedekatan dengan penciptanya, melalui ritual adat pada umumnya.  Elit masyarakatnya berasal dari garis keturunan ” Wasasi Wesabenggali atau kerabat Raja dari golongan To’Manuru yang ditugasi untuk melakukan segala ritual adat suku Mekongga, yang disebut Mbusehe atau Mbuakoy. Kelebihan yang dimiliki kalangan ini ialah mereka akan membaca mantra-mantra sebagai prasyarat dalam sebuah prosesi Mosehe Wuta atau Mobeli Wuta. Kelengkapan prosesi adat ritualnya, mereka menyediakan seekor kerbau yang akan dikorbankannya. Properti ritual itu, terdiri dari : kain kaci, daun-daunan seperti daun doule, sirih, towoa dan ulondoro, kapur sirih, serta buah pinang.
Kita bisa mengamati masyarakat tradisonal di Indonesia yang selalu mengandalkan sirih dan pinang dalam setiap prosesi dan ritual adatnya ? Kenapa demikian ? Belum ada yang mampu menerangkan penggunaan sirih pinang ini,

Adat Perkawinan Tolaki :

Foto Evy Nizhamul.Pak Lapabila juga menerangkan pada saya tentang adat perkawinan etnis Tolaki. Dari syarat pelamaran, saya mengetahui bahwa masyarakat Mekongga juga punya strata tertentu. Ini ditunjukkan  dengan properti pelamarannya yang dibawa oleh pihak pelamar. Lingkaran rotan ini digunakan saat melamar gadis, yang besar kecilnya tergantung dari derajad yang dilamar. Bagi orang yang tinggi derajatnya, maka lingkar benda properti ini  selebar bahu atas. Bila selingkar pinggang, maka derajat orang yang akan dilamar berasal dari keluarga menengah. Nah., Jika anda melihat selingkar lutut  dilamar, berarti ia hanya rakyat biasa atau kebanyakan. Apakah tata cara pelamaran ini masih diberberlaku dalam masyarakat, maka perlu informasi lebih lanjut dari pihak tokoh adatnya. 

Peradaban etnis Tolaki : 

Berkembangnya sebuah peradaban, apabila terdapat aturan dan pedoman hidup yang dijalankan secara konsisten oleh masyarakat itu. Dari peradaban itu akan melahirkan karya,  cipta dan rasa suatu etnis. Sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Gambar berikut ini adalah sisa peninggalan masa lalu, yang membuktikan bahwa diwilayah ini memang ada sebuah kerajaan. Ada keris raja yang pernah berkuasa diwilayah itu, situs dan tapak keberadaan serta perlengkapan lainnya.

Foto Evy Nizhamul.

Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.

Foto Evy Nizhamul.

gambar benda – benda ini saya ambil dari Museum Arifin Munaser, tentang bukti bukti peninggalan kerajaan Mekongga. Bukti  peninggalan kerajaan Mekongga itu, diantaranya koleksi keris raja raja Mekongga dan beberapa peninggalan kerajaan lainnya. Ada benda yang terbuat dari kaca bulat . Saya belum menemukan makna dari bola dunia ini yang terbuat dari kaca ini. Pada pameran HUT Kota Kolaka tahun 2011, dipamerkanpula  gumpalan rambut, (namun tidak sempat difoto). Entah apa maksudnya.

Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Pada kumpulan benda bersejarah, terdapat simbol masuknya Islam ke wilayah ini, yaitu adanya Al Quran Mini seperti yang terlihat pada gambar.

Ketika saya berkesempatan mengunjungi Museum Arifin Munaser itu, sebenarnya benda benda yang dipajang dia sangat sederhana dan diletakkan dalam bangun yang bersahaja pula. Saya tidak tahu apakah benda benda yang ada di musium itu, koleksi pribadi atau bukan.

Karya seni :

Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Foto Evy Nizhamul.Gambar pertama adalah Sarung asli (toloa Pekadua) Raja Mekongga Pertama. Sedangkan gambar disebelah nya adalah tenun adat orang Mekongga yang dirancang oleh putera Bugis yang merantau ke wilayah Kolaka. Saya menilai pemilik rumah tenun ini bagaikan ” memilik ilmu didalam badan” . Dia mempersembahkannya bagi masyarakat Mekongga / Tolaki. Betapa tidak.  Tenun adat Mekongga itu diperkenalkannya dengan nama ” Mantik Sangia”. Dia orang Bugis yang merantau ke Kolaka, dan mengkarya ciptakan untuk bumi tempat ia berpijak, yaitu Mekongga.

Dia melakukan pembinaan kepada penenunnya, atas bantuan dana CSR PT Antam. Dalam waktu singkat motif mantik sangia telah mendapat pengakuan dari Kemenkumham sebagai hadil karya ciptanya. Alhamdulillah.

Selain seni tenun yang dirancang oleh orang Bugis itu,  saya ingin perkenalkan juga seni tari lulo.  Tari “ lulo “ – tarian khas suku Tolaki. Diawal tahun 1970an tarian ini sangat digemari orang Jepang yang berkunjungvke Pomalaa kala itu. Mereka itu adalah para vendor, nakhoda dan ABK kapal tangker pengangkut biji nikel, rekanan PT ANTAM ).

Saya pernah mencoba mengikuti gerakan tarian Lulo yang nenyerupai taria poco poco. Keunikan tarian ini ialah, para peserta tarian saling bergandengan tangan satu sama lain sehingga membentuk lingkaran. Peserta Lulo menari mengikuti irama gendang dengan ritme yang dinamis. Pada masa itu, sebagai tarian pergaulan, penyelenggara acara pernah mengganti suara gendang dengan irama musik latin La Paloma. Lokasi acaranya didepan Guest House.

Itulah informasi yang saya peroleh saat berkunjung keBumi Mekongga khususnya “ Negeri Tanah Merah ‘ – Pomalaa – . Dimana sekian puluh tahun yang lalu  saat masa remaja saya doeloe,  saya pernah  menetap di Kawasan tanah merah ini. Dan sekarang telah berobah menjadi tanah hitam karena disebarnya krikil sleg.

Puspiptek, 26 May 2011

Iklan

12 Tanggapan to “” Bidikan Konggaha’a di Bumi Mekongga “”

  1. itu orang mekongga sama ji orang tolaki.. tapi orang orang dulu bilang mereka itu “o ata” atau bisa di bilang kaum bawah kalau tidak percaya tanya orang tua yg sudah ubanan.
    pisss nenek yg bilang.. dia keturunan mokole jadi tau banyak.

  2. subarwan sakoy Says:

    wah salah tuh…yang digelari “o ata” itu orang Moronene dik….jadi salah besar kamu mungkin nenekmu keturunan mokole palsu yang gak tau sejarah orang Tolaki. Saya ponakan Prof. DR. Abd. Rauf Tarimana (antropolog Tolaki asal Mekongga) jadi tau tapi bukan om saya yang bilang tapi sejarah….

  3. abbas. archa Says:

    Jika anda atau siapa saja yang ingin mencari data dan cerita yang sebenarnya dari SEJARAH KERAJAAN MEKONGGA saya anjurkan untuk mampir ke http://riwayatmekongga.blogspot.com/
    Demikian semoga berguna dan bermanfaaat bagi anda dan kita semua … !

  4. Hasman S Pd Says:

    mekongga itu adalah nama wilayah kerajaan, karena disitu pernah di diami burung elang besar, yg disebut kongga’ aha….jadi mekongga itu bukan nama suku,,,,tetapi nama rumpun atau wilayah kerajaan,,,,jangan salah persepsi bro…..dan suku yg mendiami daerah itu adalah suku tolaki mekongga karna sesungguhnya suku tolaki itu terbagi 2 rumpun atau daerah yaitu: Konawe (Kendari) dan Mekongga (Kolaka)

  5. Hasman S Pd Says:

    generasi sekarang banyak yg salah persepsi tentang nama Mekongga

  6. Terima kasih buat teman teman Tolaki dan Mekongga. Saya sudah bertemu dengabn Ketua Adat Suku Mekongga di Pomalaa. Apa yang sudah dijelaskan oleh Subarwan Sakoy memang benar adanya. Saya punya buku Adat Tolaki dan akhirnya paham tentang asal usul orang Tolaki dan Mekongga.

  7. kawan2 pecinta budaya Tolaki Mekongga, yg punya literatur tentang bentuk rumah adat tolaki mekongga , klo bisa di email ke gdesign@yahoo.co.id ,

  8. Sepengetahuan saya suku Tolaki berasal dari danau Matana dan Manohola yang melakukan penyebaran melalui perjalanan panjang melewati danau Towuti dan Malili sampai mereka tiba disuatu tempat yang bernama Andolaki dan mereka menempati daratan tersebut beberapa generasi. Setelah Mereka berkembang lalu mereka melakukan ekspansi untuk mencari pemukiman baru yang dikenal dengan “Rongo Mbatombulo” menuju Timur sehingga mereka menemukan daratan luas yang sekarang menjadi kabupaten Konawe (unaaha) dan sebagian lagi menuju bagian Barat yang inilah yang menempati daerah Kolaka Sekarang. Setelah mereka tiba didaerah yang saat itu mereka sebut Napoohaa yang sekarang menjadi Kabupaten Kolaka yang sudah dihuni salah satu suku yaitu suku Moronene. Adapun kata Mekongga nanti setelah ada sebuah peteka yang terjadi, yaitu terbunuhnya Kongga’aha yang menjadi landasan berdirinya satu kerajaan yang dikenal Kerajaan Mekongga. Jadi Mekongga Bukan Suku TITIK.

  9. Subarwan Sakoy Sepupuh sy benar dan Jabir Tulu Benar, yg lain masih tanda Tanya. Kalau mo jelas ? apa yg di anjurkan Abbas Arca diikutin dulu dan singkronkan dengan blog2 lain. Saya ngak mau ikut koment krn nanti salah persepsi.

  10. Sabaruddin T Pauluh Says:

    Hati sy terusik, apa yg ditulis Bung Abbas Archa sptx mendekati benar. Wallahu Alam. Jujur, Sy juga ragu dgn Sejarah Mekongga hari ini. Sy tdk ingin menuduh adanya ketidak jujuran para pembesar adat dlm meluruskan asal muasal sejarah yg sebenarx. Tetapi kata hati sy merasakan sptx ada pembelokan / penyelewengan sejarah. Tp Mudah2an jika ini benar, ini semata-mata krn ketidaktahuan dan bukan krn ada faktor X. Tp sy setuju, ada baikx membedah apa yg ditulis Bung Abbas Archa dan memadukan tanggapan para pemerhati budaya spt Bung Subarwan Sakoy …..

  11. Setuju… Mekongga bukan suku tetapi wilayah kerajaan yang pada akhirnya orang yg turun temurun berada wilayah itu disebut orang Mekongga…

  12. ~padusi~ Says:

    Sehubungan dengan tanggapan atas artikel ini, saya mohon maaf atas kekeliruan saya. Saya mencintai Bumi Tolaki sehingga saya ingin memperkenalkan ke dunia luar tentang etnis Tolaki, Jika sekiranya ada yang salah dari artikel ini, tidak lain mungkin saya tidak utuh menangkap penjelasan nara sumber, Disinlah pentingnya koreksi mengkoreksi dari pihak orang Tolaki. Sultra saat ini jadi bidikan aseng dan asing. Saban saya berkunjung ke Bumi Tolaki pasti kita bertemu dengan mereka. Saya kawatir Sultra dikuasai mereka seluruhnya tanpa bisa kita rebut kembali. Jadi bersatulah wahai orang Tolaki, Jaga wilayahmu dari penjarahan pihak asing,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: