” Bidikan Konggaha’a di Bumi Mekongga “

???????? ????????Mungkin ada yang bertanya bertanya dimanakah Bumi Mekongga itu ? Suatu kawasan masyarakat hukum adat yang disebut dengan Suku Mekongga. Dari Ketua Adat setempat yang bernama pak ” Lapabila ” saya mendapat menjelasan bahwa ; dahulu kala asal nenek moyang orang orang Mekongga, berinduk dari “Suku Toala “, yang bermukim di sebuah danau ” Matano “, didaerah Malili. Propinsi Sulawesi Selatan. Etnis ini kemudian menyebar ke utara disebut suku ” Tomori ” ke barat disebut suku ” Toraja “, ke tenggara disebut suku ” Tolaki ” . Wilayah antara barat dan tenggara disebut suku ” Toluwu “. Sedangkan yang menyebar kewilayah timur disebut ” Tobungku “.

Pada Zaman Belanda, Sulawesi Tenggara yang merupakan satu kesatuan masyarakat hukum adat Tolaki, dipecah menjadi 2 wilayah yaitu Kerajaan Konawe beribu kota di Kendari, sedangkan kerajaan Mekongga di Kolaka.

Dahulu di Konawe bertahta ” Ratu Wekoila “, suaminya bernama ” Oheo “. Ratu Wekoila punya saudara laki2 bernama Larungpalangi dan berkuasa di Mekongga persisnya di Wundulako sekarang ini. Ratu Wekoila bersamaan hidupnya pada abad pembangunan Candi Borobudur. Kemudian dari 2 Kerajaan ini, terpecah pecah lagi menjadi beberapa kerajaan. Raja Mekongga yang terakhir bernama Sangia Nibandera, yang hidup pada tahun 1697 – 1753.

Lembaga adat budaya MekonggaLegenda yang kita temui di Bumi Mekongga ini , ketika  kata to Mekongga berarti orang yang membunuh burung elang raksasa yang disebut Burung Konggaha’a.
Bagaimana kisahnya ?.
Meskipun Ketua adat Mekongga pak ” Lapabila” yang tinggal di Dawi Dawi sudah menjelaskan asal muasal masyarakat hukum adat Mekongga ini, namun saya coba mencari info lainnya dari blog yang memiliki kisah yang sama sebagaimana yang dipaparkan dari sebuah blog, yaitu :

Burung “KONGGARAHA” atau biasa disebut KONGGA  sudah ada sejak jaman Larum Palangi datang ke tanah Mekongga.

Disaat kedatangan Larum palangi burung tersebut masih kecil seperti elang/rajawali pada umumnya.  Pada saat pemerintahan SIKIRI yang kemudian diteruskan oleh LAPOTENDE burung tersebut tumbuh dan berubah menjadi burung buas dan sangat ganas.   Burung kongga berubah menjadi buas dan ganas karena hutan tempat mencari makan dihuni penduduk. Tidak ada lagi bahan makanan yang bisa dimakan dihutan . Akhirnya burung kongga memangsa manusia dan hewan ternak warga sekitarnya.  Timbul kecemasan dikalangan masyarakat  pada saat itu.   Sebagai orang yang berkuasa dan wajib melindungi warganya Lapotende maju untuk membunuh burung tersebut.   Dengan 2 (dua) buah keris yang ada padanya (Keris Ali Pote dan Keris Sawuwepita), Lapotende berusaha membunuh burung tersebut namun usaha Lapotende sia-sia. Disaat usahanya untuk membunuh burung kongga, Lapotende mendapat bisikan gaib bahwa burung tersebut   hanya bisa dibunuh dengan bambu kuning.   Lapotende melaksanakan bisikan igu, sehingga ia mengambil bambu kuning yang ada didekatnya kemudian ditombakkan keburung kongga tersebut.   Usaha Lapotende berhasil baik, burung kongga jatuh ketanah dan mati didekat sungai.   Burung Kongga berupaya terbang dan mengitari jazirah Sulawesi Tenggara. Darahnya berceceran di tanah dataran rendah dan perbukitan. Bahkan darah burung itu mengalir dari tubuh burung kongga sampai ke sungai dan memerahkan air sungai tersebut.  Sungai tersebut diberi nama SUNGAI MEKONGGA.  Begitu pun menurut legendanya darah yang berceceran itu membuat tanah di wilayah itu menjadi tanah merah. Kemudian dikenal mengandung nikel.  Masalah kebenaran asal usul asal usul tanah merah yang dikisahkan pak Lapabila – ketua adat Mekongga itu, kita anggap sebagai mitos belaka yang kebenarannya hanya 2 % saja.

Sekarang di wilayah ini, saya melihat paras muka mereka yang cantik, putih bersih – halus – bermata sipit – namun rambutnya hitam legam, semula saya menduga  mereka berasal dari ” Vietnam – hulu atau hilir sungai Mekong ( kalee lho … ya karena aku bukan ahli sejarah).

Dilain cerita tentang istilah   Mekongga dan Tolaki, saya mendapat informasi tentang kultur mereka yang juga memiliki kedekatan dengan penciptanya, melalui ritual adat pada umumnya.  Elit masyarakatnya berasal dari garis keturunan ” Wasasi Wesabenggali atau kerabat Raja dari golongan To’Manuru yang ditugasi untuk melakukan segala ritual adat suku Mekongga yang disebut Mbusehe atau Mbuakoy. Kelebihan yang dimiliki kalangan ini ialah mereka akan membaca mantra-mantra sebagai prasyarat dalam sebuah prosesi Mosehe Wuta atau Mobeli Wuta.

Sementara itu, kelengkapan prosesi adat ritual yakni disediakan seekor kerbau yang akan dikorbankan, kain kaci, daun-daunan seperti daun doule, sirih, towoa dan ulondoro, kapur sirih, serta buah pinang.
Penggunaan sirih pinang ini, sy mengamati masyarajat tradisonal di Indonesia selalu mengandalkan sirih dan pinang dalam setiap ritual adatnya ? Kenapa demikian ? Belum ada yang mampu merangkannya

Barangkali itulah informasi yang saya dapatkan,  dikala berkesempatan berkunjung ke “ Negeri Tanah Merah ‘ – Pomalaa – . Dimana masa remaja saya doeloe juga pernah pernah menetap di kawasan ini.

Seni tari yang ada di wilayah Mekongga, dikenal tari “ lulo “ – tarian khas suku Tolaki. Tarian ini sangat digemari orang Jepang yang berkunjung ke Pomalaa zaman dulu, seperti vendor, nakhoda kapal tangker, Buyer PT ANTAM ) – bila mereka bergabung menghadiri acara yang diselenggarakan UPN – ANTAM Pomalaa ketika itu. Sekarang ini tidak ada lagi acara acara demikian.
Saya pernah mencoba mengikuti gerakan tarian yang nenyerupai tarian poco poco. Tetapi keunikan tarian ini ialah peserta tarian saling bergandengan tangan satu sama lain sehingga membentuk lingkaran. Peserta Lulo menari mengikuti irama gendang dg ritme yang dinamis seduai dengan ketukan. Tetapi penyelenggara tari lulu di PT Antam pernah menggantinya dengan iringan mudik latin La Paloma.

Sedikit saya ceritakan kenapa saya berkunjung ke Bumi Mekongga ini. K.l 40 tahun yang lalu saya bersekolah di SMP Antam Pomalaa sebagai alumni pertama. Setelah 40 tahun berlalu, ternyata Allah memperjalankan kembali kewilayahah ini untuk mengunjungi putera saya yang bekerja disaba.
Sudah banyak kemajuan pembangunan di Sultra sejalan dengan pembangunan daerah daerah pada umumnya.

Saya masuk melalui jalur Kendari – kolaka- pomalaa. Bila sebelumnya melewati jalan poros Wundulako – Baula – Peusoa., Sekarang sudah ada jalan by pass menyisir bibir pantai sambil nenyaksikan gugusan pulau pulau yang ada didepannya.

Sedikit mengulas apa yang ada pada masa remaja sata disana, dahulu ada sebuah desa Tamvea,namanya. Tempat pemukiman suku Wajo disaba.
SONY DSC

Saya mencoba bernapak tilas ke desa ini, saya menyimpulkan adanya kehidupan yang unik dari suatu etnis yang hidup di Laut yang bernama Suku Bajo. Suku ini dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup matinya berada diatas lautan. Bahkan perkampungan merekapun dibangun jauh menjorok kearah lautan bebas, tempat mereka mencari penghidupan. Mereka tersebar diseluruh pesisir pantai di wilayah timur Indonesia. Suku Bajo, identik dengan air laut, perahu, dan permukiman dia atas air laut. Laut bagi mereka adalah satu-satunya tempat yang dapat diandalkan. Julukan bagi mereka sudah barang tentu ” sea nomads “.
Mungkin karena lekat dengan air laut, saya sering melihat rambut anak anak mereka berwarna pirang.
Ketika berkesempatan berdialog dengan mereka di Tambea ” mengapa mereka tinggal diatas laut ?
Mereka berkata : bahwa laut hanyalah dimiliki ALLAH, sedangkan tanah pantai dimiliki oleh penduduk setempat. Agar tidak menciptakan konflik, maka biarlah kami menetap dipinggir laut saja.
Dengan bidikan kamera –  saya bernapak tilas ke perkampuangan nelayan dan menemui masyarakat Suku Bajo itu.

Didesa Tambea itu saya menyaksikan kepedulian UB – ANTAM dalam pembinaan masyarakat setempat, yaitu  Pembangunan rumah penduduk sehingga kualitasnya melebihi layak huni. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial PT ANTAM terhadap masyarakat sekitar.  Penebaran batu  “ sleg” sebagai upaya reklamasi bagi perahu nelayan yang merapat di pantai.  Nah.. dari pantai Tambea pula – kita menikmati kumpulan pulau – pulau ; pulau padamarang, pulau maniang, pulau santigi – yang kayunya – dulu digemari oleh para awak kapal tangker jepang karena kayu itu halus dan indah,

SONY DSC
Dari tepi pantai Tambea ini, saya menyaksikan kapal tangker – pengangkut nikel KP Swasta ke China. Akibatnya perbukitan Bumi Mekongga habis terkikis dan kandungan bijih nikelnya pun belum tentu memenuhi syarat.

Sudahlah … Biarlah ada pihak lain yang menata perusakan lingkungan ini…..

SONY DSC

Matahari seperti jeruk :
Cukup lama kami menunggu seperti apa sih ” matahari seperti jeruk ” itu. Nyatanya awan tak memberi kesempatan ketika camerapun tak mampu membidik dikala matahari seperti jeruk. Bila matahari tidur ke peraduannya. Nyatanya matahari tak pernah tidur dan tak pernah pudur.
Dikala senja hari – matahari di pantai Tambea seakan akan malu malu nemperlihatkan wajahnya pada kami karena tertutup  awan. Akibatnya niat saya menikmati sunset tidak kesampaian. Mudah-mudahan saya dapat menikamati dihari lain dan ditempat lain….. Aamiin….

13 Tanggapan to “” Bidikan Konggaha’a di Bumi Mekongga “”

  1. subarwan sakoy Says:

    Mbak evy dan kawan-kawan lannya, Mekongga dan Tolaki tidak berbeda. Tolaki adalah Etnis asli mayoritas yang mendiami daratan jazirah Sulawesi Tenggara yang tersebar di dua ex-kerajaan yaitu Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga. Seperti etnis lainnya, orang Tolaki yang tinggal di eks Kerajaan Konawe disebut orang konawe dan orang tolaki yang tinggal di eks Kerajaan Mekongga disebut orang Mekongga. dikotomi Mekongga dan Tolaki dimunculkan disekitar tahun 2000-an oleh kelompok elit yang tidak bertanggung jawab ingin mengaburkan sejarah orang Tolaki karena terkait dengan berbagai kepentingan misalnya ; politik, arogansi etnosentris dll. Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan kebijakan pemerintahan, terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam strategi pengolahan sumber daya alam di Kolaka terutama potensi pertambangan nikelnya. Dimana Pemerintah Daerah merasa perlu memberikan peluang investasi kepada pihak swasta lain selain BUMN. Namun kebijakan tersebut tidak dibarengi dengan ketatnya pelaksnaan peraturan maupun ketentuan lain yang mengatur tentang kaidah-kaidah pengelolaan industri pertambangan yang benar. Disana-sini dapat kita temui kerusakan lingkungan akibat banyaknya bukaan lahan yang tidak terkendali disekitar jalur hijau (Pesisir pantai teluk mekongga) yang disulap menjadi stock file serta pelabuhan/outlet para “pedagang ore”. Pertanyaan kritisnya adalah siapa yang akan bertanggung jawab ???? jika para aparat pemerintah, legislatif, aparat lainnya juga ikut bermain dalam kancah “perdagangan tanah” di Pomalaa yang bertameng “orang lokal” (Pihak Imigrasi Perlu ketegasan terhadap keberadaan orang2 asing di Pomalaa). Masyaallah !!!!! Pomalaa di ambang kehancuran tidak hanya lingkungan, tatanan sosial juga cepat atau lambat juga akan ikut rusak dan yang akan paling berisiko menanggung efeknya adalah Perusahaan yang akan beroperasi dalam waktu yang lama sebut saja Antam……

  2. itu orang mekongga sama ji orang tolaki.. tapi orang orang dulu bilang mereka itu “o ata” atau bisa di bilang kaum bawah kalau tidak percaya tanya orang tua yg sudah ubanan.
    pisss nenek yg bilang.. dia keturunan mokole jadi tau banyak.

  3. subarwan sakoy Says:

    wah salah tuh…yang digelari “o ata” itu orang Moronene dik….jadi salah besar kamu mungkin nenekmu keturunan mokole palsu yang gak tau sejarah orang Tolaki. Saya ponakan Prof. DR. Abd. Rauf Tarimana (antropolog Tolaki asal Mekongga) jadi tau tapi bukan om saya yang bilang tapi sejarah….

  4. abbas. archa Says:

    Jika anda atau siapa saja yang ingin mencari data dan cerita yang sebenarnya dari SEJARAH KERAJAAN MEKONGGA saya anjurkan untuk mampir ke http://riwayatmekongga.blogspot.com/
    Demikian semoga berguna dan bermanfaaat bagi anda dan kita semua … !

  5. Hasman S Pd Says:

    mekongga itu adalah nama wilayah kerajaan, karena disitu pernah di diami burung elang besar, yg disebut kongga’ aha….jadi mekongga itu bukan nama suku,,,,tetapi nama rumpun atau wilayah kerajaan,,,,jangan salah persepsi bro…..dan suku yg mendiami daerah itu adalah suku tolaki mekongga karna sesungguhnya suku tolaki itu terbagi 2 rumpun atau daerah yaitu: Konawe (Kendari) dan Mekongga (Kolaka)

  6. Hasman S Pd Says:

    generasi sekarang banyak yg salah persepsi tentang nama Mekongga

  7. Terima kasih buat teman teman Tolaki dan Mekongga. Saya sudah bertemu dengabn Ketua Adat Suku Mekongga di Pomalaa. Apa yang sudah dijelaskan oleh Subarwan Sakoy memang benar adanya. Saya punya buku Adat Tolaki dan akhirnya paham tentang asal usul orang Tolaki dan Mekongga.

  8. kawan2 pecinta budaya Tolaki Mekongga, yg punya literatur tentang bentuk rumah adat tolaki mekongga , klo bisa di email ke gdesign@yahoo.co.id ,

  9. Sepengetahuan saya suku Tolaki berasal dari danau Matana dan Manohola yang melakukan penyebaran melalui perjalanan panjang melewati danau Towuti dan Malili sampai mereka tiba disuatu tempat yang bernama Andolaki dan mereka menempati daratan tersebut beberapa generasi. Setelah Mereka berkembang lalu mereka melakukan ekspansi untuk mencari pemukiman baru yang dikenal dengan “Rongo Mbatombulo” menuju Timur sehingga mereka menemukan daratan luas yang sekarang menjadi kabupaten Konawe (unaaha) dan sebagian lagi menuju bagian Barat yang inilah yang menempati daerah Kolaka Sekarang. Setelah mereka tiba didaerah yang saat itu mereka sebut Napoohaa yang sekarang menjadi Kabupaten Kolaka yang sudah dihuni salah satu suku yaitu suku Moronene. Adapun kata Mekongga nanti setelah ada sebuah peteka yang terjadi, yaitu terbunuhnya Kongga’aha yang menjadi landasan berdirinya satu kerajaan yang dikenal Kerajaan Mekongga. Jadi Mekongga Bukan Suku TITIK.

  10. Subarwan Sakoy Sepupuh sy benar dan Jabir Tulu Benar, yg lain masih tanda Tanya. Kalau mo jelas ? apa yg di anjurkan Abbas Arca diikutin dulu dan singkronkan dengan blog2 lain. Saya ngak mau ikut koment krn nanti salah persepsi.

  11. Sabaruddin T Pauluh Says:

    Hati sy terusik, apa yg ditulis Bung Abbas Archa sptx mendekati benar. Wallahu Alam. Jujur, Sy juga ragu dgn Sejarah Mekongga hari ini. Sy tdk ingin menuduh adanya ketidak jujuran para pembesar adat dlm meluruskan asal muasal sejarah yg sebenarx. Tetapi kata hati sy merasakan sptx ada pembelokan / penyelewengan sejarah. Tp Mudah2an jika ini benar, ini semata-mata krn ketidaktahuan dan bukan krn ada faktor X. Tp sy setuju, ada baikx membedah apa yg ditulis Bung Abbas Archa dan memadukan tanggapan para pemerhati budaya spt Bung Subarwan Sakoy …..

  12. Setuju… Mekongga bukan suku tetapi wilayah kerajaan yang pada akhirnya orang yg turun temurun berada wilayah itu disebut orang Mekongga…

  13. ~padusi~ Says:

    Sehubungan dengan tanggapan atas artikel ini, saya mohon maaf atas kekeliruan saya. Saya mencintai Bumi Tolaki sehingga saya ingin memperkenalkan ke dunia luar tentang etnis Tolaki, Jika sekiranya ada yang salah dari artikel ini, tidak lain mungkin saya tidak utuh menangkap penjelasan nara sumber, Disinlah pentingnya koreksi mengkoreksi dari pihak orang Tolaki. Sultra saat ini jadi bidikan aseng dan asing. Saban saya berkunjung ke Bumi Tolaki pasti kita bertemu dengan mereka. Saya kawatir Sultra dikuasai mereka seluruhnya tanpa bisa kita rebut kembali. Jadi bersatulah wahai orang Tolaki, Jaga wilayahmu dari penjarahan pihak asing,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: