” falsafah terombang ambing di arus deras (Rafting)

 

by : Hifni Hafida

JIKA anda memilih tidak untuk mengombang ambingkan diri di air deras, adalah wajar. Alasan bukannya takut, tetapi  menganggap  kurang kerjaan. Untuk menguji nyali, rasanya bukan tempatnya pula. Karena sedikit tidaknya  membutuhkan adrenalin yang tinggi.

Tatkala memasuki usia “golden age”, sebenarnya saya bangga bisa mengikuti kegiatan arung jeram ini. Satu usia yang rentan kekawatiran dan rasa cemas bagi perempuan separuh baya. Akan tetapi ajakan adik-adik rekan sekerja, saat kami mengadakan outbond disela rapat kerja di luar kota, maka sayapun dengan tegar mengikuti kegiatan itu. Mereka begitu gencar mengajak. “ Harus semangat  Bunda. Kapan lagi ikut olah raga ini, kalau bukan sekarang”, demikian kata mereka. Akhirnya mereka mengacungkan jempol ketika saya menganggukkan kepala tanda setuju, dengan janji bahwa mereka akan menjaga saya selama mengikuti arung jeram itu. Bagi yang ingin mendalami falsafah kehidupan, ikutilah olah raga arung jeram (rafting) ini.  Sensasional—penuh tantangan dan menuntut kerjasama.

Di kehidupan sebenarnya, seberapa jauh kita menghayati filosofi  hidup mengalir bagaikan air itu? Yang mengandung makna bahwa hidup dijalani dalam suasana enjoy aja. Persis motto dari iklan rokok. Percayalah, jika kita menjalani hidup, mengalir bagaikan air, sesungguhnya kita tengah berhenti mengupayakan sesuatu yang bermanfaat  bagi diri dan apalagi diri orang lain. Karena air mengalir selalu menuju tempat yang rendah.

Saya menemukan sebuah artikel yang membuat rumusan non kimia tentang H2O, yang artinya hidup harus optimis. Rumusan ini harus kita dukung. Namun bila seseorang memiliki ketenangan bagaikan air , ia menjadi seseorang  diam diam menghanyutkan. Maknanya ganda, mungkin karena ada prestasi yang telah diraihnya, atau seseorang yang sudah hanyut tak tertolong lagi.

Sifat air mengandung ajakan agar manusia harus menyesuaikan diri.  Dimana pun dan kapanpun berada. Air akan menyerupai tempatnya. Contohnya : air  yang ditaruh dalam bejana—ember—gelas—botol, maka air akan menyesuaikan diri serupa dengan wadahnya.  Saya mengutip falsafah air dari  pelajaran IPA murid sekolah dasar.  Dalilnya adalah : Air mengalir menuju tempat yang rendah tanpa membedakan situasi kondisi yang dilaluinya. Air bisa deras  atau  tenang.

Bagaimana implementasi falsafah air dalam kehidupan ?. Setiap kejadian seputar air, penuh dengan kejutan. Tak bisa kita bayangkan kejadian sebelumnya atau sesudahnya. Hal ini terjadi, pabila air itu sudah mengancam manusia pada peristiwa – peristiwa bencana alam—banjir atau datangnya air bah secara tiba tiba. Jadi ada baiknya sesekali kita bertafakur alam. Agar dapat mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup ketika bertafakur alam itu. 

Kita dapat menghayati, sebagai manusia semestinya berakhlak tawadhu terhadap Tuhan Maha Pencipta Alam ini.  Air menjadikan semua yang ada di bumi ini menjadi bersih dan segar. Kita berwudhu dan diwudhukan saat menghadap Allah. Tujuannya untuk pembersihan jiwa dan raga.

Karena sifat air mudah menyesuaikan dengan  lingkungannya, semestinya sifat yang demikian itu  juga diperlukan saat beradaptasi dengan lingkungan masyarakat. Sebaliknya, tidak selamanya hidup ini  mengalir bagaikan air. Bagaimana sekiranya kehidupan seseorang, ia harus mengalami lika liku hidup yang berputar- putar untuk mencapai tujuan hidupnya. Akibatnya para pelaku kegiatan tersebut harus berjuang untuk menjalani kehidupannya. Banyak diantara manusia yang terombang ambing di arus deras itu. Karenanya saat menjalani hidup, manusia harus berusaha dan bekerjasama. Betapapun derasnya ujian hidup,  harus dilalui dengan segala doa dan ikhtiar !.

Saat saya mengikuti arung jeram (rafting), ada rasa ketar ketir karena kegamangan menaiki perahu dalam arus yang deras. Hikmah yang saya dapati saat rafting itu, sungguh luar biasa.

Saya menemukan hikmahnya saat menjalani olah raga arung jeram itu. Pembelajaran yang diterima dari sensasi olah raga ini, menjadi renungan saya disaat menjadi awak perahu itu.  Perahu arung jeram, mengandalkan arus dan pendayung agar ia berada pada jalur yang diinginkan. Perahu arung jeram punya mekanisme dan aturan, saat berbelok—mundur—maupun mengurangi laju perahu. Semuanya dilakukan oleh pendayung dengan berkoordinasi diantara sesama pendayung.

Praktik yang diberikan instruktur rafting, harus sesuai dengan teori yang diajarkannya. Teori dan praktik itu saya jadikan pelajaran hidup bagi saya, yaitu :

  • Disaat berada dalam riak air yang teratur, kami para pendayung harus mendayung sekuat mungkin. Hal ini mengibaratkan kita harus berpacu dengan waktu dalam upaya pencapaian sasaran yang kita tuju.
  • Dikala berbelok, pendayung harus mendayung mundur. Maksudnya, jika kita memilih keluar jalur, berarti kita harus sadar diri dan tahu diri bahwa kita kembali berada dalam posisi sebagai pemula. Kita kembali pada titik nol. Kemudian barulah  kembali berjalan senada dan seirama perjalanan yang kita tuju.

Mengamati kehidupan insan yang kurang beruntung, saran apa yang harus kita sampaikan kepadanya ?. Benarkah ia merasa kurang beruntung ?. Meskipun saya bukanlah orang yang tepat untuk mengajari insan yang kurang beruntung itu, namun saya bisa merasakan kegetiran mereka saat  menjalani kehidupan ini.  Melalui olah raga arung jeram yang menantang adrenalin, saya menemukan sebuah pemikiran yang mendalam dan bermanfaat bagi kita semua

Disaat engkau terombang ambing didalam arus hidupmu. Petunjuk ampuh bagimu. Kuatkan dayungmu. Dayung kehidupan ini berada pada iktiar dan keikhlasanmu. Melalui falsafah ini, engkau akan mampu menyederhanakan  persoalanmu  untuk merasakan sensasi kehidupan yang engkau jalani.

 Kita merasakan sensasi kehidupan ini, tatkala kita dirundung masalah. Masalah itu bagaikan arus yang sangat deras. Dalam penyelesaian masalah itu, kitalah yang mesti menyelesaikannya.  Lalu tatkala perahu kami masuk ke tengah arus air yang kuat, sungguh luar biasa saya merasakan sensasi dari arung jeram ini. Perahu kami terbanting banting kekiri dan ke kanan. Disaat arus deras itu, kami diarahkan instruktur agar bersikap diam dan menaruh pendayung di atas dua paha kami. Saat sikap berdiam diri dalam kepasrahan itu, ternyata perahu itu tetap berjalan seirama derasnya air. Kami sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan perangkat pendayung. Bahkan kami harus  menelentangkan  badan  diatas  perahu itu. Ini sebuah  pengalaman yang berharga bukan ?.

Falsafah yang kuperoleh adalah :

Hidup ini harus  didayung, bila ingin tetap berikhtiar menuju tujuan yang ingin dicapai. Bisa didayung mundur apabila anda ingin pindah jalur. Carilah arus yang lembut jika tak sanggup menghadang yang deras. Jika sampai pada puncak perjuanganmu, engkau harus pasrah untuk sementara sambil berdoa menunggu pertolongan Tuhan. Jika engkau terpuruk, jangan sungkan minta bantuan yang lain. Itulah namanya kerjasama.

Hasil yang kurasa kala itu ialah,  badan berkeringat dan kedua telapak tangan mengalami lecet, namun saya menemukan kiasan hidup didalam olah raga arung jeram ini.

Pembaca yang budiman, ketika menemukan dalam kehidupan nyata seperti sensasi di arung jeram, selalulah berdoa didalam shalatmu  ataupun  sesudahnya. Sebagaimana doa yang tercantum dalam QS  Albaqarah ayat 286 yaitu :

“  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

 (Mereka berdoa):” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “.

Puspiptek, Tangerang Selatan, 27 Januari, 2010

 

Buku ” seri Kunang-kunang ~ Sketsa perjalanan

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Kunang Kunang : “ Sketsa Perjalanan “

Hafida, Hifni

Pustaka Padusi

X + 142 hal,  140  mm  x  210 mm

ISBN : 978-602-19389-1-1

Penyunting :

Tim Redaksi Pustaka Padusi

 Perancang sampul/tata letak :

Imanul Ilmi

Cetakan I,  Maret  2012

©2012

Hak cipta dilindungi undang-undang

All rights reserved

Penerbit  : Pustaka Padusi

Kompleks Puspiptek Blok I C No 2, Setu, Tangerang Selatan.

Telp.       : (021) 70564488, Fax : (021) 7564302

Email      : pustakapadusi@yahoo.co.id

 

 

 

 

Iklan

Satu Tanggapan to “” falsafah terombang ambing di arus deras (Rafting)”

  1. bambang pujiono Says:

    ASSWRWB………betul bu, filosofi kehidupan memang harus terombang ambil dengan berpegang teguh kepada allah swt. tetap semangat bu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: