Sutan Kuadrad

Diwaktu kecil bernama si “ Oyon”. Terlahir dari seorang dukun beranak yang bernama Mak Ripin disebuah tempat terpencil bernama “ Curuk “ Bengkulu, pada 22 Juni 1956. Ia bangga sekali dengan tanggal kelahirannya, karena setiap tahun dirayakan oleh 11 juta penduduk kota Jakarta. Sebagai seorang ilmuwan ia bergelar Ir. Nizhamul Latif, M.Sc dengan jabatan peneliti. Dikeluarga ia bergelar Sutan Perhimpunan. Isterinya menyebutnya Sutan kadrad. Karena gelar itu ada didepan ada dibelakang namanya.  Akhirnya setelah itu, gelarnya panjang – sepanjang tali beruk, yaitu : Haji Ir. Sutan Nizhamul Latif, Msc, gelar Sutan Perhimpunan.

Gelarnya akan lebih panjang lagi, bila berhasil meraih gelar “DOKTOR”, apabila ia berhasil membiayai pendidikan S3nya. Namun ternyata ia gagal setelah nunggak uang  SPP sebanyak 20 juta. Demi memperjuangkan anak yang juga mau masuk PT, maka cukuplah Ia senang hati pernah menjadi candidat doktor, dengan prakualifikasi nilai A. Mudah-mudahan setelah itu sebagai seorang peneliti ia akhirnya dapat meraih gelar Professor Riset, apabila point demi point dari jumlah kredit point dapat dikumpulkannya.

ketika dimasa Ia kecil, ia banyak melakukan aktivitas yang atraktif, maklum waktu itu tidak banyak permainan seperti sekarang, Masa itu ia bermain sepak tekong, main potok lele, main petak umpet, termasuk suka usil dengan adik dan kakaknya. Mungkin ia termasuk anak yang hiperaktif. Karena itu, ia sering mendapat banyak larangan dari orang tuanya. Kreativitasnya selalu dibinanya sendiri. Ia  berusaha melawan dunia orang (menurut istilah minang). Sejak remaja , ia ingin menjadi seorang olahragawan dan memiliki kemampuan bermain musik. Pintar bermain piano dan gitar secara otodidak. Bahkan menciptakan beberapa buah lagu, walaupun tidak masuk dapur rekaman.

Kalau ia lagi bernyanyi …. maka Oke punya deh. Lagu favorit nya adalah Delilah, I start the joke, My way..itu tuh lagu lagu jadul. … termasuk lagu minang “ bareh solok “.
Ia berjuang demi kesuksesannya. Masuk Fakultas Teknik UI nyambi ngajar les privat. Bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam jabatan fungsional peneliti, penuh tantangan dan rintangan.

Ia bagaikan seekor semut dalam ketekunan. Semut berusaha merambat naik ke batang pohon hingga ratusan kali dan jatuh sebanyak jumlah yang sama. Namun ia berusaha sampai pada tujuannya. Karena ia menganut prinsip tidak mudah menyerah dan tidak pernah putus asa atas upayanya.

Begitulah yang dialaminya di lingkungan kerja, yang ketat dengan budaya feodalisme. Sungguhpun ia bukan siapa siapa dan bukan sebagai apa, namun ia tetap memiliki popolaritas dikalangan dunia industri sebagai seorang konsultan dibidang material, mechanical, industrial trainning. Ia adalah pengajar ilmu ilmu applied science dikalangan industri.

Ditubuhnya ia memiliki energi yang luar biasa. Ulet dan tidak pernah capek. Anak dan isterinya, saudara kandungnya, kerabat dan familinya mengenalnya sebagai orang yang ingin serba cepat, cepat tanggap dan segera tuntas, tidak sabaran dan mudah meledak….!  Nafas orang yang terbiasa lamban dan lelet akan terengah-engah dibuatnya. Perhatiannya kepada keluarganya luar biasa. Semua akan berdecak kagum dengannya.

Anak dan isterinya selalu dalam rangkulan dan dekapannya. Ia mengiringi anak dan isterinya dengan segala perhatian dan tanggung jawab penuh. Ia mendukung dan mengfasilitasi segala kreativitas anak dan isterinya. Akibatnya, anak-anak dan isterinya selalu tergantung kepada “Suami atau Papa”nya. “Semua urusan jadi beres, bila ada Papa”.

Orang yang tidak mengenal dirinya bisa menafsirkan lain, seolah ia suka membelenggu atau mengungkung orang orang terdekatnya itu . Mau menang sendiri…. begitu mungkin pendapat yang tidak sejalan dengannya.   Padahal diluar anak dan isterinya, para anggota kerabatnya yang lain – juga sangat tergantung kepadanya. Ia adalah lokomotof keluarga besarnya.
Herannya, sebegitu besarnya perhatiannya pada keluarga besarnya, ia dikenal oleh para  kemenakan sebagai seorang paman “Om” yang galak. Sesungguhnya sebagai seorang paman – “Oom”, ia menganut falsafah minang :

“Anak dipangku, kemenakan dibimbing” . Para kemenakan tidak menyadari bahwa pekerjaan membimbing jauh lebih berat daripada memangku. Membimbing berarti melewati jalan yang benar sesuai dengan sistem dan prosedur (alur yang patut). Tidak ada hubungan dengan materi. Itulah sikap dan tanggung jawabnya yang ingin ia lakukan sebagai pria minang.dan sebagai Ninik mamak dikeluarga besarnya.

2 Tanggapan to “Sutan Kuadrad”

  1. salutttttttttttttt

  2. ajo-pulomas Says:

    ein Wort für mein Lieber Onkel…. Er ist wunderbar!..
    Alles Gute zum Geburtstag Oom….. met ultah oom,smoga panjang umur sehat selalu… amin ya robbal allamin….

    hab dich sehr lieb……
    grüß aus Hamburg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: