Sekilas kenangan

Mengenang Mertuaku

Beliau  meninggalkan kami semua, pada tanggal 7 Januari tahun 2002.. Ia bernama Putri Nirma binti Sutan Usman. Seorang ibu yang halus dan sangat mengasihi anak-anaknya. Terlahir dikota Surabaya dan ditinggalkan sang bunda ketika ia belum tahu apa-apa tentang dunia, ketika ia berusia delapan bulan. Setelah itu ia berada dalam pengasuhan neneknya yang bernama Putri Hafsah. Demikianlah menjadi anak semata wayang yang hari-hari dijalaninya sendiri tanpa saudara kandungnya. Ia menjadi mandiri dan selalu berusaha untuk mandiri dan bersabar ditengah-tengah keluarga besarnya yang hidup dalam kemapanan. Ia berusaha untuk selalu dicintai dan dikasihi keluarga besarnya itu , dengan cara ; rajin bekerja, membantu apa saja termasuk suka mengasuh anak-anak saudara sepupu nya.

Akhirnya dalam tempaan hidupnya itu,  ia menjadi wanita yang selalu mengerti dan berusaha baik pada semua orang dan menjauhkan diri dari perasaan kecewa, lebih-lebih bila ia diperlakukan tidak adil didalam keluarga besarnya itu.
Melahirkan sepuluh orang anak, terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Disaat ia berusia ¾ abad, alhamdulillah ia masih dapat menyaksikan keluarga besarnya serta anak-anaknya yang semakin mapan. Subhanallah….Untuk masa sekarang, bukanlah perkara gampang mengasuh sepuluh orang anak. Aku menilai – sepuluh orang anaknya itu, ternyata terbagi dalam tiga kelompok karakter, yaitu :

* Kalem – pendiam,  homoris – lucu, heboh – suka bergaya.

Untung semua  anaknya itu tidak memiliki satu satu karakter saja. Nah .. bagi yang merasa, silahkan masuk dalam tiga kelompok itu. Disinilah letak harmoni dikeluarga ini.

Kenangan kami dengannya sangat luar biasa. Anak-anak merasa sangat dekat dengan Anduangnya.  empat orang cucu yang memanggilnya demikian, tidak memanggilnya Oma.

Ketika aku menjalani operasi lutut kaki, Ia berkata  : “Evi harus tegar dan ingat pada anak-anak. Berjuanglah untuk kesembuhan Evi”. Selain itu ?? Ia pernah pula berkata padaku : ” Mama .. tidak akan pernah melukai hati para mantu .. Mama. Dan ternyata memang demikianlah keramahan, kebaikan dan semua sapaan lembut selalu di berikan kepada kami para mantunya.

Ketika menjelang akhirnya hayatnya, ia memandang kami semua anak dan menantunya. Ia berkata : ” Nanti setelah Mama tiada, kalian hendaknya akur-akur saja ya. Jangan berantem ya… Itu wasiat terakhirnya. Entahlah .., apakah anak-anak, menantu  dan cucu-cunya akan mengingat kata terakhirnya ini..?

Beberapa tahun sebelum itu,  pada tanggal 8 Januari 1993, seorang ayah meninggalakan keluarga besarnya. Tidak banyak yang dapat kuceritakan tentang ayah mertuaku yang bernama “ Sutan Nazarudin Latif. Ia seorang ayah yang pendiam. Taat beribadah dan sering mengaji. Dengan doanya ia mengantarkan anaknya agar menapaki kehidupannya dengan baik. Untuk keduanya aku berdoa semoga ia mendapat tempat disisiNya. Diterima segala amal ibadahnya. Amiin ya rabbal alamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: