Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (3)

Hari Ketiga – Etape 3 – Marisa – Gorontalo – Manado

  1.  Kota Marisa – Isimu – Gorontalo Utara – Minahasa Selatan
  • screenshot_2016-11-24-21-55-13-11Pada etape ke 3 ini kami akan menempuh perjalanan menuju Manadao k.l 500 km. Saya tidak bisa menduga jam berapa nanti kami tiba di kota Manado, karena ada hal hal yang tak terduga disetiap perjalanan yang kami lalui. Pukul 05.00, kami berkemas dan menaikkan barang barang mobil. Kami harus tiba di Bandara Jalaludin untuk menjemput Ungku disana. Ungku sudah berangkat dari Jakarta pakai Batik Air tadi malam. Sesudah transit di Makassar beberapa jam, kemudian Ungku terbang ke Gorontalo dan mendarat di Bandara Jalaludin pada pukul 06.00 pagi ini Sementara kami dari di kota Marisa akan menjemput Ungku di Bandara Jalaludin. Kami segera check out dari hotel, demi mengejar waktu tanpa sarapan pagi. Kijangpun melaju kencang menuju jalan Trans Sulawesi. Bismillahirrahmaanirrahim. …

Di beberapa titik jalan yang kami lalui, dalam keadaan rusak berat. Terdapat pemangkasan bukit yang membutuhkan pengerjaan yang cukup lama. Dipersimpangan Bandara, akhirnya Ungku bergabung dengan kami setelah menunggu 4 jam.  Saat Ungku bertemu dengan cucu kesayangannya yang biasa kami panggil abang, terasa sesuatu banget bagi Abang,karena bertemu dengan kakeknya yang sangat menyayanginya. Peluk cium diantara keduanya sangat memuaskan dahaga kerinduan seoarang kakek saat itu. Kamipun merasa semakin bersemangat. Sselama ini Ungku yang membawa kami menempuh jalan lintas Sumatera, Jawa hingga Madura. Kini tak disangka Ungku bisa meluangkan waktunya untuk ikut perjalanan dengan thema “ the long and winding road ini. Dalam perjumpaan di pagi hari itu, kami sarapan i di sebuah rumah makan di persimpangan Isimu Raya. Tersedia ayam bakar dengan sambal khas Gorontalo. Bagi saya, ini masakan “selera yang tau rasa”, karena cocok dengan lidah si Padang.

screenshot_2016-11-25-05-46-18-11Sesudahnya, dari persimpangan Isimu, kami melanjutkan perjalanan menuju Gorontalo Utara, ibu kotanya di Kwandang. Perjalanan dari Isimu menuju kota Manado masih sangat jauh. Kijang tunggangan kami akan menempuh jarak 375 km dalam waktu k.l 8 jam. Kijangpun melaju ke pantai utara pulau Sulawesi. Tatkala menuju jalur utara, Ada beberapa titik dalam proses pengaspalan.   Diperjalanan kami menemukan begitu banyak tanaman pohon kelapa, baik di perbukitan dan di lembah-lembah. Ini sesuatu bagi saya, membandingkan hutan hutan di pulau Sumatera saat ini yang semakin berkurang. Hutan sudah berubah area tanaman kelapa sawit, karena dikuasai oleh para pemodal kuat.  Dilintas utara pulau Sulawesi ini kita melewati teluk teluk kecil hingga sampai ke Propinsi Sulut. . Kondisi jalan sangat mulus dan berlika liku menyisir dinding perbukitan hingga saatnya kami memasuki Propinsi Sulawesi Utara.

fb_img_14800267928311 fb_img_14800268494871Kami datang dari “kaki kiri” Celebes kini sudah tiba di ” kepala “nya. Alhamdulillah semua berada dalam keadaan sehat. Fauzi – cucu saya dalam keadaan sehat wal afiat.

fb_img_14800286731971 Ia tetap konsisten jadi co-driver papanya, sambil sesekali berulah ingin nonton film action semisal power ranger, avenger, ironman kesukaan bocah bocah dari Youtube selama perjalanan itu. Lumayan untuk mengisi kondisi “badmood’ nya dia selama dalam perjalanan. Permainan berhenti sendiri kalau sinyal dari BTS hilang timbul. Pada panorama Puncak Gorut kami berhenti untuk mengabadikan perjalanan kami. Fauzi cukup aktif ingin berfoto sendiri. Dari kejauhan kami menyaksikan gugusan pulau pulau seperti Kawasan Mandeh di Sumbar. Tidak berapa lama lagi, kami akan melewati perbatasan Propinsi Gorontalo dan memasuki kabupaten Bolang Mongondow Utara. Berarti kami sudah menempuh perjalanan sejauh 220 km dalam waktu 4 jam dari Kota marisa pada pukul 06.00 WIT.

# Bolaang Mongondow

Kota pertama yang kami lalui di Propinsi Sulawesi Utara, adalah kota Boroko ibu kota Bolaang Mongondow Utara. Setelah itu berturut melintasi desa Baturapa Induk yang terletak di jalan Trans Sulawesi. Sambil mengisi waktu sayapun berselancar ingin mengenali lebih jauh suku-suku di Bolaang Mongondow. Bolaang Mongondow selain nama wilayah, ia juga sebagai nama suku bangsa.

screenshot_2016-11-25-06-09-48-11Dari situs http://www.suku-dunia.blogspot.co.id, saya menemukan ada suku Kaidipang, suku Bintuana, yang merupakan puak dari suku bangsa Bolaang Mangondow. Mereka punya dialek sendiri dalam bahasa percakapannya.  Mayoritas mereka beragama islam, k.l  2/3 dari jumlah penduduk yang ada di wilayah itu. Konon dulunya pernah ada kerajaan Kaidipang hingga tahun 1950. Namun seiring dengan asimilasi budaya, kemudian  mereka melebur  dengan etnis Bolaang Mongondow. Sebelum kemerdekaan termasuk ada pemekaran wilayah sekarang, Kabupaten Bolang Mongondow berasal dari 5 kerajaan. Yaitu kerajaan Bolang Uki, Kerajaan Bolang Bangka, kerajaan Bolaag Binta Oena, kerjaan Bolang Itam dan kerajaan Kaidipang. Bahasa yang digunakan bahasa Mongondow.

Menurut ceritanya suku Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tandeduata, Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Raja mereka yang terakhir dari 24 orang raja yang memerintah disana adalah Raja Henny Yusuf Cornelius Manopo yang berkuasa tahun 1947 – 1950. Pada tahun 1958, kerajaan Bolaan Mongondow bergabung di NKRI menjadi kabupaten Bolaang Mongondow.

Bagaimanakah eksistensi suku Bolaang Mongondow ini ? Hasil penelusuran saya saat kijang berlari kecang menimbulkan daya pikat bagi saya menikmati perjalanan diwilayah ini. Berawal ketika pemimpin kelompok masyarakat Mongondow, membentuk kerajaan bagi suku Mongondow yang bernama Bolaang. Bolaang sendiri bermakna lautan (balangon) yang menandakan kerajaan ini sebagai kerajaan maritim. Bolaang berasal dari kata bolango artinya laut. Suku Mongondow mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari pasangan Gumalangit dan Tendeduata serta pasangan Tumotoiboko dan Tumotoibokat, yang tinggal di Gunung Komasan, yang sekarang masuk ke dalam Bintauna. Masing-masing dari pasangan ini menurunkan keturunan yang kemudian menjadi suku Mongondow. Jumlah masyarakat Suku Mongondow yang semakin lama semakin bertambah banyak membuat penyebaran populasi mereka kian meluas, hingga ke daerah-daerah bukan tempat asal mereka.

Raja Mokodoludut adalah raja (Punu’) pertama kerajaan Bolaang. Kerajaan ini pernah menentang Belanda, ketika Raja Salmon Manoppo berkuasa 1735-1764. Pertentangan sengit antara Raja Salmon dengan Belanda, berakhir sang raja di tawan dan di buang ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan). Kejadian ini memicu protes dan huru hara besar dari suku Mongondow yang dibawah kerajaan Bolaang. Akhirya Belanda memulangkan Raja Bolaang ini. Sejak itulah nama Kerajaan Bolaang di tambahkan dengan nama suku yang ada di kerajaan Bolaang hingga menjadi Bolaang Mongondow hingga sekarang. Kerajaan Bolaang Mongondow resmi berakhir pada tanggal 1 juli 1950 saat Paduka Raja Tuang Henny Yusuf Cornelius Manoppo mengundurkan diri dan menyatakan bergabung dengan NKRI. Kemudian pada tahun 1958, bergabung kedalam NKRI menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow.

Menelusuri kilas balik pada masa kerajaan, kemajuan didunia pendidikan di Bolaang Mongondow, berawal saat Jakobus Manoppo mendapatkan pendidikan di Hoofden School Ternate. Ia orang pertama yang dientaskan Belanda/V.O.C untuk menempuh pendidikan ini, atas persetujuan ayahnya Loloda Mokoagow (datu Binangkang). Jakobus Manoppo diangkat menjadi raja ke-10 yang memerintah pada tahun 1691-1720 oleh VOC. Pengangkatannya sebagai raja, tidak direstui oleh ayahnya Loloda Mokoagow. Jakobus Manoppo pada itu saat dilantik menjadi raja beragama Roma Katolik.

Pada pemerintahan raja Cornelius Manoppo, selaku raja Bolaang Mongondow ke-16 (tahun 1832), agama Islam masuk kedaerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo, yang dibawa oleh Syarif Aloewi,   karena kawin dengan puteri di kerajaan itu tahun tahun 1866. Karena keluarga kerajaan sebelum raja Cornelius Manoppo juga sudah memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai agama raja. Sehingga sebagian besar penduduk Bolaang Mongondow memeluk agama Islam juga telah turut memengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat.

Memasuki wilayah Bolaang Mongondow kita menyaksikan rumah tempat tinggal di berbentuk rumah panggung dengan sebuah tangga di depan dan sebuah di belakang. Kini dengan adanya pengaruh luar, maka bentuk rumahpun sudah berubah. Kehidupan sosial budaya masyarakat yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan pembangunan sekarang ini, banyak yang telah berubah. Namun budaya daerah yang masih mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menunjang pembangunan fisik material dan mental spiritual, masih tetap dipelihara dan dilestarikan.

Minahasa

Setelah melewati Bolaang Mongondow, kijang membawa kami menyisir the long and winding road, hingga memasuki wilayah Minahasa. Yuuk..mari kita kenali tentang Minahasa, yang terkenal dengan gadisnya yang cantik-cantik. Sejarah dan asal usul Minahasa, berdasarkan pendapat para ahli diantaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack menyatakan orang Minahasa berasal dari ras Mongolscheplooi. Yaitu terkait pertalian Jepang dan Mongol. Lipit Mongolia, terlihat dari kesamaan warna kulit, yaitu kuning langsat. Ras Mongoloid tersebut diperkirakan berasal dari Formosa Taiwan. Setelah itu, orang Minahasa tidak murni dari Mongol saja, namun bercampur dengan bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda. Adanya pengaruh Belanda yang membawa unsur Yahudi, pada suku Minahasa  terbukti dengan kehadiran 1 tempat ibadah yang dilihat Sinagog di Tondano.

Disini saya mengutip secara utuh asal usul suku Minahasa, dari sebuah situs para peneliti sejarah. Suku Minahasa terbagi atas sembilan puak yaitu: Babontehu, Bantik, Pasan Ratahan (Tounpakewa), Ponosakan, Tonsea, Tontemboan, Toulour, Tonsawang, Tombulu. Nama Minahasa mengandung kesepakatan mulia dari para leluhurnya, melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Mereka akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada, dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995). Jadi dimanapun orang Minahasa berada, mereka tetap bersatu sampai akhir zaman.

Banyak hal yang bisa kita ketahui tentang suku Minahasa ini. Bila ditinjau dari suatu peradaban, maka pada awal abad 6, orang Minahasa telah membangun Pemerintahan Kerajaan di Sulawesi Utara yang berkembang menjadi kerajaan besar. Pada sekitar tahun 670, dari puak yang berbeda, bahasa yang berbeda, bertemu di sebuah batu yang dikenal sebagai Watu Pinawetengan. Di sana mereka mendirikan sebuah komunitas negara merdeka. Puak inilah atau anak suku Tonsea pada abad 13, meluaskan pengaruhnya sampai ke Bolaang Mongondow. Kemudian keturunan campuran anak suku Pasan Ponosakan dan Tombulu membangun pemerintahan kerajaan yang terpisah dari ke empat suku lainnya di Minahasa.

Seperti kita ketahui bahwa Manado awal keberadaannya di Indonesia, banyak pihak yang menganggap seperti bukan orang melayu pada umumnya. Apalagi sebelum kemerdekaan RI, etnis ini mendapat tempat dihati Belanda dan Sekutu. Etnis ini sangat berbeda dengan ciri orang Indonesia pada umumnya. Lipit mongolia, terlihat dari kesamaan warna kulit, yaitu kuning langsat, dimana ras mongoloid tersebut diperkirakan berasal dari Formosa Taiwan. Setelah itu, orang Minahasa tidak murni dari Mongol saja, namun bercampur dengan bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda.

Keistimewaan dalam perjalanan ini, saya beroleh info budaya yang belum pernah saya ketahui. Secara tak terduga saya berada disebuah negeri  yang bernama Minahasa. Meskipun pengetahuan tentang negeri ini berasal dari situs situs internet, namun saya merasa larut ke masa lalu tentang lahirnya sebuah peradaban di Sulawesi Utara ini. Tidak berapa lama lagi kami melewati kabupaten Minahasa. Perlahan lahan  kijang mengurangi kecepatan menuju arah kota Manado. Kehidupan mayoritas umat kristiani sangat terasa sejak memasuki wilayah Minahasa. Diantara tersebarnya rumah ibadah umat kristiani. Akhirnya kami menemukan sebuah mesjid megah disebuah perkampungan islam untuk menunaikan shalat jamak qasar Lohor dan Asyar. Kewajiban memenuhi perintah Allah telah kami tunaikan. Kepadatan penduduk dan aktivitas masyarakat semakin terasa disaat kemacetan mulai terasa disaat magrib menjelang tiba.

Manado

Akhirnya perjalanan Pomalaa – Menado  dalam jarak 1540 km kami tempuh selama 3 hari 2 malam atau k.l 65 jam J lamanya. Alhamdulillahirrabil alamiin. Kami tiba di hotel pada pukul 20.00 dan akan beristirahat selama 4 hari di kota ini. Kami sudah menjalani 3 etape perjalanan. Sekiranya kondisi tubuh terasa lelah, tentu saja setara dengan kepuasan hati saat bertadabur alam. Seraya menyaksikan kehidupan penduduk didesa dari pelbagai etnis dan budaya serta penganut keyakinan yg berbeda. Kondisi jalan raya yang rusak  hanya 2 % dari jarak atau k.l 30 km dari beberapa titik yg rusak karena longsor. Kerusakan itu bukan karena tidak ada pembangunan jalan raya melainkan disebabkan longsor, pelebaran jalan serta pengikisan bukit terjal di jalan trans Sulawesi.

Sejalan kekawatiran teman teman terhadap adanya Isu gangguan keamanan selama diperjalanan, sejauh yang kami rasakan alhamdulillah aman. Suasana ini bisa menjadi pembanding, bagaimanakah  dengan wilayah lain, semisal jalan di Sumatera, seperti Jalinteng, jalintim atau jalinbar ?. Harapan saya adalah : Ayo bersinergilah Pemprov di wilayah Sumatera, agar menghasilkan pembangunan yang merata disemua propinsi.

Sesi selanjutnya saya akan berselancar diseputaran kota Manado. Menelisik suasana kota yang terkesan makmur – aman dan damai. Yuuk kita Explore Manado … mariii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: