Tour D’Celebes : Raun Raun ke Lima Negeri (2)

Hari Kedaua Etape 2 – Kota Poso – Parigi Moutong – Marisa

screenshot_2016-11-24-16-42-25-11Pada etape ke 2 ini, mobil akan meluncur dari Kota Poso menuju kota Marisa melewati kabupaten Parigi Moutong. Tepat pada pukul 06.30 kami meninggalkan Hotel Pandawa. Sebelum meninggalkan kota, kami mencari sarapan pagi lebih dulu. Disebuah jalan di kota itu, kami menemukan sebuah warung makan milik orang Jawa. Di warung itu, tersedia kuliner yang cocok lidah kami yaitu : bubur ayam, nasi kuning dan nasi campur ala Lamongan. Si Mbak yang berasal dari Jawa sudah menggunakan dialek Sulawesi dan tampaknya ia generasi kedua transmigran dari pulau Jawa yang bermukim di Sulteng. Usai sarapan kami meninggalkan kota Poso pada pukul 07.30 menuju Kota Parigi.

FB_IMG_1479981101086-1[1].jpgGerak kehidupan kota Poso tenang dan santai. Tidak ada raungan motor atau klakson yang biasanya mewarnai kesibukan suatu kota.  Jalan trans Sulawesi menuju kota Parigi lurus, mulus dan disepanjang jalan itu seakan kami berada di pulau Dewata Bali. Bagaimana tidak. Saat menyisir pantai Teluk Tomini, disepanjang jalan yang kami lalui, kami disambut tiang tiang janur kuning dari rumah rumah serta pura yang kokoh.  Kehidupan social etnis Bali disini sejahtera. Mereka tidak merasakan sedang di perantauan. Karena karya, cipta, budaya dan keyakinan umat Hindu terjaga. Umat Hindu hidup berdampingan dengan ummat kristiani. Masing masing punya rumah ibadah tempat mereka melaksanakan ritual menurut keyakinannya. Diselingi pula bangunan Mesjid yang sangat bersahaja, pertanda umat muslim disini berada pada posisi minoritas.

3.  Kota Parigi

screenshot_2016-11-24-17-12-201fb_img_14799820688711Jarak antara kota Poso – kota Parigi sejauh 132 km kami tempuh kurang dari 3 jam. Mobil melintasi  kota Parigi dan terus meluncur pada jalur Trans Sulawesi tanpa berhenti di kota itu. Namun kami singgah di Pusat Rekreasi Mutiara Khatulistiwa, tempat diselenggaraannya Teluk Tomini Sail 2015 di Pantai Kayubara. Diatas bukit Kayubara terdapat teks signage Parigi Moutong Mutiara Khatulistiwa. Demi mengikis rasa penasaran, kami menyambangi puncak bukit itu. Menaiki Bukit Kayubara, mobil melintasi gerbang selamat datang. Jalanan semakin menanjak dengan kemiringan yang membuat jantung berdebar. Saya berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan.

screenshot_2016-11-24-17-24-28-11fb_img_14799820615791fb_img_14799820459811Woow…ternyata di puncak Bukit Kayubara itu, ada sebuah taman yang dilengkapi teater outdoor beserta tribune penonton. Saya berdecak kagum. Untuk daerah tingkat 2, didaerah terpencil pula, maka keberadaan arena teater dan taman taman sungguh luar biasa. Di puncak bukit berdiri monument Khatulistiwa yang berbentuk mercusuar. Monumen berwarna jingga sesuai warna sponsornya J. Dari puncak bukit itulah kita menyaksikan kota Parigi dari kejauhan serta warna laut yang membiru Teluk Tomini. Jadi yang membawa kami mencapai puncak bukit itu, semata rasa penasaran akan signage tulisan Parigi Moutong Mutiara Khatulistiwa tu. Kami tetap kosisten menghemat waktu, sehingga perkiraan jarak dan waktu yang disebutkan Nona Google tetap memenuhi target. Pertanyaan saya tentang kota Parigi disebelah selatan dan Moutong disebelah utara menjadi Kabupaten Parigi Moutong akan saya  cari data dan informasinya internet. Ada apa dengan Parigi ? ada apa dengan Moutong ?.

# Kerajaan Parigi

Dari situs http://www.kerajaanparigi.blogspot.co.id saya menemukan jawabannya.

Wilayah Sulteng sebelum jatuh ketangan pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1905, merupakan wilayah kerajaan terdiri dari 15 kerajaan. 7 kerajaan di timur dan 8 kerajaan di barat. Dibahagian selatan leher Sulawesi ini berdiri kerajaan Parigi,  diperintah oleh Raja/Magau berpusat di kota Parigi . Dibahagian utara leher Sulawesi berdiri kerajaan Moutong berlokasi di Tinombo, di perintah oleh Raja Tombolotutu. Bukan tidak ada perlawanan terhadap penjajahan Hindia Belanda dari para raja kala itu, banyak raja raja itu yang melakukan pembangkangan terhadap Belanda bahkan bersama sama melakukan peperangan. Karena Belanda melakukan politik adu domba (devide et impera) diantara raja raja, menyebabkan kekuatan raja tidak kokoh. Belanda membuat lansekap lansekap diwilayah Sulawesi Tengah ini, dimana semua kerajaan berada dibawah afdheling Belanda. screenshot_2016-10-27-07-59-13-11Dalam catatan website kerajaan Parigi, tercatat sebuah dokumen Vinono, yang menyatakan diri tidak ingin dijajah Belanda. Setelah terjawab tentang Parigi, saya meneruskan penelusuran tentang Moutong ?. juga mencari tugu khatulistiwa didesa Sinei, kecamatan Tinombo. Jarak kota Parigi – Tinombo k.l 160 km. Bertolak dari Kota Poso, kami sudah menempuh perjalanan k.l 5.5 jam dalam jarak 297 km.

 

4.   Kecamatan Tinombo :

# Kerajaan Moutong

Dalam perjalanan ini, masih terngiang-ngiang ucapan Uni Beryl C. Syamwil, saat meninggalkan Pomalaa kemarin. ” selamat mengobok obok pedalaman Sulawesi “. Yaa…. Mudahan saya akan menemukannya dan menjadi kenangan terindah bagi saya dipenghujung usia ini.

fb_img_14799879228021fb_img_14799879117791Ahaay ..girang hati saya, setiba di Tinombo pada pukul 13.10 waktu setempat. Saya menemukan situs budaya disana. Sebuah plank bertuliskan “ Bekas Istana Raja Moutong “menarik perhatian saya. Rumah itu berada disudut perempatan jalan. Kenapa ada rumah raja di Tinombo ini ? Setelah ditelusuri, maka di Tinombo merupakan pusat kerajaan Moutong. Cikal bakal kerajaan ini terbentuk dari kerajaan Kasimbar yang dipimpin oleh Raja Pataikacci. Ia memerintahkan anaknya agar tinggal di Moutong. Lalu Raja Tombolotutu yang bergelar Pua Darawati, menerima tahta kerajaan Moutong pada Tahun 1877 dalam usia 20 tahun. Demikianlah kerajaan Moutong dipimpin keturunan raja Timbolotutu secara silih berganti memimpin kerajaan. Kemudian, ketika Belanda menguasai Moutong, maka pada tahun 1930 dibangunlah rumah untuk raja Moutong ini. Raja Moutong yang pernah menempati rumah ini bernama Raja Hi. Kuti Tombolotutu, berkuasa dari tahun 1929 – 1945. Konon di dalam rumah raja Moutong ini terdapat 2 buah senjata meriam peninggalan raja, foto dokumentasi, perlengkapan rumah tangga dan beberapa pakaian kerajaan. Nah…demi menghemat waktu,  cukup saya bidikkan camera ke rumah bekas raja itu.

” Waktu kok dihemat-hemat menelusuri situs budaya. Cukup bensin sajalah yang dihemat, agar lebih banyak waktu singgahnya dari pada jalankan mobil kata, cuit  saudaraku dari media sosial. “ Waah …benar juga… . Tapi sudahlah saat ini kami cuma pelintas batas diwilayah ini. Mengutip judul lagi the Beatles “ the Long and winding road – melintasi jalan panjang dan berliku. Sambil menikmat budaya setempat secara langsung. Bila informasi yang diperoleh masih dangkal, nanti bisa kita cari di situs budaya melalui mesin pencari data. Mencermati situs budaya disemua wilayah menjadi minat saya disetiap traveling. Banyak kerajaan dihabisi penjanjah Belanda dengan menanam pengaruh kepada raja raja kecil diwilayah. Lalu membentuk hirarkhi kekuasaan di sekitarnya.

Disebuah SPBU di Tinombo ini, kami melaksanakan shalat jamak qasar lohor dan asyar. Lega rasanya hati apabila anggota tubuh sudah dibasuh, maka jiwapun terasa tenang dan nyaman. Kami harus selalu ingat kepadaNya yang memperjalankan kewilayah ini.  Di SPBU ini kami berjumpa dengan 2 orang pedagang keliling yang berbahasa Jawa…. Walaah seperti bertemu dengan saudara. Mbah Uti dan Vita bercakap cakap-cakap dan berbagi informasi dengan keduanya. Mereka perantau dari Semarang dan tinggal didekat perbatasan di kecamatan Popayato,  Kabupaten Pohowatu. Antara terkesima bercampur galau saya merenungkan bagaimana anak manusia bertahan dalam hidupnya hanya untuk berjualan gambar property pendidikan disebuah daerah terpencil ? Apa daya tariknya sehingga terdampar di daerah ini ? Kita sering menyaksikan rakyat kecil di kota kota besar sangat sulit mengais  rezeki dan lebih banyak menunggu rezeki. Tetapi tidak, bagi kedua orang ini. Mereka justru sedang mejemput rezekinya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS Hud ayat 6 : Tidak suatu binatangpun termasuk manusia yang bergerak diatas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya. Inilah implementasi rahmanNya Allah atas semua makhluk didunia. Penilaian saya terhadap kedua  orang Jawa ini sama dengan apa yang terkandung dalam QS An Najm ayat 39 : “ Tidaklah manusia mendapat apa apa kecuali apa yang telah dikerjakannya. Disini pula letak keadilan Allah kepada umat manusia, yang tidak memandang apakah dia muslim atau kafir. Dan pada akhirnya saya memaknai masalah rezeki ini dengan kalimat Allah : lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna a’dzha bii laa syadiid – Sesungguhnya jika kami bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih ( QS Ibrahim ayat 7)

Setelah beramah tamah dengan keduanya, mereka menginformasikan  bahwa perjalanan ke Kota Marisa, masih sangat jauh. Mereka memperkirakan perjalanan kami akan ditempuh k.l  5  jam lagi. Karena jarak tempuh ke kota Marisa k.l 234 km lagi. Ya Allah.. perjalanan kami ternyata masih jauh.. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 13.45 w.i.t. Ayo kita berangkat…….

# Tugu khatulistiwa Siney :

fb_img_14799470066831fb_img_14799470314801fb_img_14799470226551

Mobil meluncur meninggalkan Tinombo, menuju tugu khatuslistiwa yang terletak di jalan Trans Sulawesi di desa Siney. Tugu ini diresmikan oleh Jenderal Tri Sutrisno,  dimana pada puncak tugu terpampang lambang  Propinsi Sulteng. screenshot_2016-11-24-19-09-09-11Tugu khatulistiwa ini berbeda dengan tugu khatulistiwa di Bonjol Sumatra Barat yang sudah saya kunjungi pada tahun 2008. Tugu khatulistiwa di Bonjol berbentuk bola dunia. Saya tidak menyangka bahwa saya diperjalankan ke wilayah garis khatulistiwa di lokasi berbeda dalam kurun waktu 8 tahun kemudian. Ironisnya tugu khatulistiwa di Siney ini kurang terawat karenan warna catnya sudah memudar serta rumput liar dibiarkan begitu saja. Setelah berfoto foto sejenak di lokasi ini dan menaiki mobil, Nona Google memerintahkan mobil meluncur kearah timur laut di jl. Trans Sulawesi.

# Suku Tomini

Setelah beranjak dari tugu khatulistiwa didesa Siney, mobil menyisir jalan menuju Ambesia yang berada di kecamatan Tomini, masih di wilayah Parigi Moutong.  Di kecamatan Tomini ini hidup sekelompok masyarakat yang dikenal sebagai  suku Tomini.  Sebenarnya suku Tomini berasal dari suku Lauje dan suku Tialo. Merekalah yang mengklaim  diri sebagai penduduk asli daerah Teluk Tomini. Tepatnya dikawasan yang berada di leher pulau Celebes. Seputar suku Tomini ini menarik perhatian saya, ketika tetangga saya bu Yusda Sylvia menyatakan bahwa leluhurnya adalah orang Tomini. Menurut legenda masyarakat setempat, awal kehidupan suku ini, berawal dari pertemuan langit dan bumi. Artinya mereka yang hidup di gunung dan yang hidup didaratan bersatu ditepian teluk. Banyak sekali kelompok  etnis yang berada di wilayah ini, sehingga terjadilan percampuran budaya dan etnis. Bagi yang mendiami Donggala di pantai barat bercampur dengan suku Bugis dari Sulsel, sedangkan dipantai timur bercampur dengan suku Gorontalo dan suku Minahasa.

Bila kami  mengambil tema “ the long and winding road, saya terus melakukan pencarian sebanyak mungkin. Sambil merenungkan kehidupan dari desa kedesa di jalanan yang mulus serta berliku ini. Bagaimana bangkitnya suatu budaya yang berasal dari mythos, kemudian dituturkan dari mulut kemulut. Dipercaya sebagai kebenarannya, meskipun mythos itu hanya mengandung 2 – 3 %. Begitulah awal dari keberadaan masyarakat hukum adat diseluruh dunia. Lalu ketika muncul program transmigrasi ke wialyah, suku suku asli bercampur dengan suku suku pendatang. Jadi wajar saja orang Tomini membatasi asal usul suku Tomini berasal dari suku Lauje dan suku Tialo. Wajar pula mereka mengklaim  diri sebagai penduduk asli daerah Teluk Tomini. Mythos asli disuatu daerah akan terkikis, karena masyarakat sudah bersifat majemuk. Sebagaimana tidak asing lagi kalau disepajang jalur kota Parigi – Tinombo – Tomini sudah banyak pula pendatang dari Jawa dan Bali karena mereka memang diprogram untuk menggarap wilayah baru.

3.  Popayato : Perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo :

Jelang memasuki propinsi Gorontalo, saya menyaksikan dataran rendah di sepanjang teluk dipenuhi tanaman palawija. Pohon kelapa tumbuh subur disepanjang jalan yang kami lalui. Tidak terasa berjalan dari Tinombo k.l 3 jam yang lalu, kami tiba di perbatasan Propinsi Sulawesi Tengah – Propinsi Gorontalo. Waktu menunjukkan pukul 16.45 WIT.

fb_img_14799911707081Di Desa Popayato ini saya minta di shooting langsung di gerbang Propinsi Gorontalo yang megah. Saya bersuara seperti anak kecil saking girangnya : “ Bu Yusda.. saya sudah sampai dinegerimu. Betapa kagetnya reaksi ibu tersebut, hingga ingin rasanya ia terbang menemui saya di lokasi ini. Tentu saja mengherankan dan mengagetkannyanya. Begitu juga tetangga lainnya yang sekompleks dengan saya. Kok bisa  ya ..? padahal Ini hari ketiga saya bepergian dari rumah.

Kabupaten Pohuwato merupakan kabupaten yang berada diujung barat propinsi Gorontalo. Meski hati ini girang saat menginjak tanah Holandao, namun sesungguhnya perjalanan ke kota Marisa masih harus ditempuh 100 km lagi dalam waktu 2.5 jam. Untuk sekedar pengisi waktu, saya menelusuri profil kabupaten Pohuwato. Kabupaten ini sebagaimana Propinsi Gorontalo juga menganut adagium : Adat Bersendi Syara’ – Syara’ bersedi Kitabullah. Adagium yang juga menjadi pedoman adat di Ranah Minang, terkenal diucapkan pertama kali oleh Muhammad Shahab, dengan gelar Peto Syarif bin Pandito Bayanuddin alias Malin Basa, kemudian dikenal dengan nama Tuanku Imam.

Mengapa Kabupaten Pohuwato mengambil adagium ABSSBK ?, tidak lain keragaman suku yang mendiami wilayah ini. Ada 10 suku yang populasinya berjumlah banyak, yaitu : Gorontalo, Minahasa, Sangir, Bugis, Bajo, Tomini, Kaili, Jawa, Bali. Wilayah ini benar benar Bhinnieka Tunggal Ika, sehingga Pohuwato menetapkan motto “ Mahutato Totoliangga yang artinya bersaudara dan saling mengasihi. Bagi Kabupaten Pohuwato, penerapan adagium ABS – SBK paling tepat dilaksanakan, karena Al Quran akan menjadi sumber kehidupan ditengan masyarakat yang beraneka ragama adat dan budayanya.

Adanya 10 suku mayoritas di Pohuwato,memberi jawaban bagi saya terhadap 2 orang Jawa Semarang yang kami jumpai di Tinombo 5 jam yang lalu. Bahwa mereka bermukim di desa Popayato sebagaimana yang diceritakannya pada kami. Disanalah masyarakat suku Jawa banyak bermukim . Sekilas ada kesamaan dalam pemakaian adagium ABS SBK di Propinsi Pohuwato dan Propinsi Sumatera Bakat, namun latar belakang penerapannya tidak sama.

Hari semakin gelap, tatkala kijang tunggangan kami melewati the long and winding road menembus kegelapan malam. Selain berlika liku, masih banyak jalan trans Sulawesi di wilayah ini rusak dan sedang dalam perbaikan. Sesekali kami berpapasan dengan beca motor ala Gorontalo yang melintasi desa dan kecamatan. Tidak ada penerangan jalan yang berasal dari pemukiman penduduk disepanjang jalan.

Akhirnya setelah menjalani etape kedua melintasi kampung, kecamatan dari kota Poso, Kabupaten Parigi Moutong, kami tiba di kota Marisa pukul 20.30. Suasana kota gelap. Terkesan pertumbuhan kota ini  agak lambat. Malam ini kami harus beristirahat setelah menempuh perjalanan sejauh  536 km selama k.l 13 jam. Dalam kondisi kota yang agak gelap kami mencari penginapan. Kami menemukan penginapan sederhana tanpa fasilitas air panas, namun lumayan bersih.

Dihari ketiga, pada etape ketiga dari kota Marisa ini kijang akan berlari kencang  menuju kota Manado. Dari Bandara Jalaluddin, penumpang mobil bertambah 1 orang lagi. Putera saya akan ditemani papanya. Ungku akan bergabung dengan kami di Gorontalo. Badan terasa lelah namun semangat tak pernah pudur. Ini yang kami rasakan ketika tumbuh rasa senang dan bahagia. ALhamdulillah ya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: