~ Pensiun ~

oleh : Hifni Hafida

Kuteringat kemasa puluhan tahun silam. Saat diriku tetap berkehendak memilih bekerja di lembaga yang tidak berpihak kepada sarjana non teknis. Aku butuh pekerjaan yang lokasinya tak jauh dari rumah, agar aku bisa menjalani peran gandaku.
Ketika seleksi dan wawancara kujalani, aku ditanya oleh seorang pejabat penyeleksi pegawai.

“ Mbak.. anda sadar konsekwensi jadi abdi Negara dilingkungan riset  ? “.

“ Hemmm..ya pak “, sahutku dengan ringan.
“ Kalian nanti tak lebih dari sekedar akar rumput yang membuat teduh lembaga ini “,  lanjut pejabat itu.

“ Hemmm..ya pak “, sahutku dengan santai.

Masih beruntung diriku, ditengah perjalanan sebagai PNS itu, aku diberi kesempatan pindah jalur menjadi tenaga perbantuan untuk membina SDM di BUMN yang lahir di Instansi riset itu. Sehingga, apa yang diramal oleh seorang Penyeleksi Pegawai masa doeloe itu menepis kenyataan dalam masa pengabdianku.

Merentang waktu ke masa puluhan tahun silam itu, aku menyadari bahwa diriku bukan siapa-siapa dan tak akan menjadi apa apa kalau tidak ada tangan Tuhan yang bekerja dalam masa karir itu. Itulah realita yang kujalani sebagai seorang pegawai negeri sipil selama puluhan tahun.

***

Dalam rentang tahun yang panjang itu, mungkin banyak anggota masyarakat yang mencibirkan tentang kinerja Pegawai Negeri Sipil. Penilaian miring ini karena mereka mengganggap bahwa hasil keluaran Lembaga Pemerintah tidak seimbang dengan sasaran yang ingin dicapai. Lembaga riset tempat aku bekerja, berbeda dengan citra yang dipikirkan orang lain.
Disini berdiam masyarakat  ilmuwan dan para staf. Mereka bekerja demi membangun sebuah cita-cita yaitu kemakmuran negeri. Segala sumber daya diberdayakan demi berjalannya visi dan misi Lembaga.  Meskipun tidak semua warga di Instansi itu paham dengan isi visi dan misi lembaga. Lebih-lebih mereka yang disebut dengan ”ahli staf”. Suatu istilah yang dipopulerkan oleh kelompok akar rumput di Lembaga itu. Ahli staf – bukanlah suatu jabatan karena keahlian fungsional maupun struktural, melainkan semua SDM yang tidak pernah tersentuh dan tidak pernah terlibat dalam program dan sistem yang tengah berjalan. Kinerja mereka diukur, cuma dari kedisiplinan dan kehadiran. Diukur dari pemantauan waktu—saat kedatangan dan saat kepulangan. Intansipun memberikan kelonggaran atas tugas-dan  urusan pribadi.
Instansi punya prosedur untuk memantau urusan pribadi dari formulir ; izin datang terlambat/pulang lebih awal—izin keluar kantor sementara—izin tidak masuk kerja. Disiplin kehadiran, terdeteksi dari sentuhan jari dan telapak tangan yang disebut ‘ finger scan ‘. Situasi ini yang wajib kami patuhi selaku abdi Negara. Kami para pegawai tak menuntut banyak atas kesejahteraan, meskipun kami selaku akar rumput di Lembaga Riset, punya idealism tentang sesuatu yang berarti bagi Negara.

Andaikan tak ada peran yang berarti, kami akan menyikapi seperti lirik sebuah lagu, yang kami sunting dari lirik sebyah lagu:

              ” Melambung jauh terbang tinggi bersama angan. Kudekap dan ku terlelap hingga pelangi anganku sirna. Setelah tersadar diri, ku  kan jauh pergi. Tinggalah angan- yang tiada bertepi “.

Itulah suasana bathin para pegawai  negeri yang kuamati setelah mengabdi atau sekarang sudah tidak mengabdi  di Lembaga tempat aku bekerja itu

***

SEPUCUK SURAT UNDANGAN, kuterima dari panitia pelepasan masa purna bakti Pegawai yang berkedok Forum Inovasi Teknologi. Panitianya cukup paham untuk memenuhi kebutuhan para Calon Purna Bhakti. Mereka mengusung tema “ Kiat Menciptakan Peluang Wira Usaha dan Bisnis Bagi Calon Purna Bakti “ .

“ Calon Purna Bakti ?
” Heemmmm .. Ya..sebuah istilah bagi yang akan memasuki masa usia pensiun.

Tanpa terasa istilah ini, cukup membuat jantungku berdegup kencang. Sejujurnya, wajah ceriaku tak menutup kegundahan hati menghadapi ‘ masa pensiun’. Meskipun banyak orang berkata, pensiun bukanlah sebuah kartu mati. Pensiun sebuah kehidupan baru yang berproses secara alami.

“ …..benarkah itu ?, kesimpulan ini akan kutelusuri jawabannya.
Siapapun tak memungkiri, banyak kegalauan yang akan dihadapi bagi seorang pensiunan. Bagaimana tidak. Aktivitas dan penghasilan berkurang.
Sejalan dengan factor ‘ U ‘, secara alami muncul pula penyakit degenaratif yang membayangi diri. Lalu kenapa pula Lembaga Pemberi Kerja selalu mengaitkan dengan penciptaan peluang wira usaha ?

“ Hemmm, sanggupkah para pensiun itu menjalani masa itu ?  ”.

“ Aahaa..abaikan saja materi ” Kiat Menciptakan Peluang Wira Usaha dan Bisnis Bagi Calon Purna Bakti “. Mustahil seorang calon purna bakti memiliki kemampuan berbisnis. Karena nyatanya kemampuan bisnis dalam ekonomi kapitalis sekarang ini,  sangat mudah tersangkut dan terlindas oleh pebisnis raksasa.
Hal ini aku sadari disaat Panitia menyelipkan materi utama dengan suatu permainan, nyata sekali para pegawai gaek itu, punya kemampuan motorik dan kemampuan berpikirnya surut kebelakang seperti seorang anak TK !.

***

DI PENGHUJUNG masa pengabdian ini, aku membuat sketsa perjalanan dalam menjalani hidup ini.
” Apabila dirimu tidak bermanfaat bagi orang lain, jadikan dirimu  bermanfaat untuk diri sendiri.
Ini adalah filosofi hidup “ seekor kunang-kunang “ yang menerangi dirinya sendiri.

Perjalanan dalam ribuan mil bermula dari satu langkah. Jika langkahmu salah engkau harus  mundur. Tak  perlu membalikkan badan, agar tetap melangkah menuju masa depanmu. Jika kau tersandung pertanda ada kelalaian pada dirimu.  Jika tersungkur pertanda kau tak kokoh. Jika terjerembab kau akan luka, Namun tetaplah bangkit dengan semangat barumu. Jikalau ber-angan menjadi matahari. Bersiaplah menyinari bumi dengan segala ikhtiar. Jikalau ber-angan menjadi jadi bulan atau bintang. Bersiaplah menyinari  malam yang gelap. Jika kau tak pernah jadi matahari. Berusahalah menjadi bulan. Ketika kau tak mampu menjadi bulan. Berusahalah menjadi bintang. Ketika kau tak menjadi matahari, bulan dan atau bintang
Jadilah  kau seekor kunang-kunang. Kunang-kunang tak mampu menyinari yang lain . Namun dapat menyinari dirinya sendiri “.

AKU DUDUK TERMENUNG dengan pipi bersitumpu diatas telapak tanganku. Aku tengah berselancar memaknai akhir masa tugas. Apa yang sudah kudapati selama masa tugasku dari sketsa perjalanan ini. Sebuah kekuasaankah ? kekayaankah ? atau cinta ?  Aku terdiam atas pertanyaan itu. Aku tak tahu apa yang sudah aku dapati selama masa tugasku.
Bukan karena realita penghasilanku akan berkurang hampir 50 %. Yang kurasa  ialah kesedihan berpisah dalam suasana kantor yang teramat menyenangkan bagiku. Keramahan—canda ria dari kawan sekerja sangat berarti bagiku. Tak ada batas ruang yang memisahkan diantara kami.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku.
“ Waahhh… ibu mau pensiun ?
“ He..he. iya nih… jawabku singkat.
Seraya ku timpali dengan secercah senyum manis untuk  lawan bicaraku.

“ Apa rencana sesudah ini bu ?

Dengan lugas aku menjawab, aku akan menjalankan tiga komitmen untuk masa depanku yaitu bersyukur atas segala nikmatNya, memperbanyak beribadah dan berbagi ilmu pada yang membutuhkan.

“ Ya. ”. Setiap orang yang menjalani masa pensiunnya akan memberikan jawaban standar ini.  Benarkah komitmen itu mampu dijalani pasca pensiun nanti ? Seketika itu pula  suara hatiku berkata : “ Semestinya memang demikian ! Jangan pernah meramal masa depanmu melebihi apa yang direncanakan Tuhanmu “.

” Ya… . Aku terkesiap dalam kesadaran sebagai hamba yang beriman agar ikhlas menjalani masa pensiun nanti.

Tangsel/Kompleks Puspiptek, 1 April 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: