Cara Keras Atau Cara Lembut ?

lemah lem Siapa yang tidak kenal dengan organisasi masyarakat (ormas) Islam garis keras saat ini.  Ia adalah organisasi masyarakat yang konsisten menegakkan syariat Islam dan melakukan penegakan amar makruf nahi mungkar.  Banyak hal yang telah dilakukannya antara lain melakukan pengawasan terhadap kegiatan masyarakat di bulan suci Ramadhan yang merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya. Hal ini dilakukan untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa sekaligus menjaga kesucian bulan Ramadhan. Saya turut mendukung visinya, dalam membasmi penyakit masyarakat lainnya atau pendangkalan akidah umat.

Dibalik sikap tindak yang baik ini, jujur saya galau dengan prilaku kelompok garis keras ini. Kegalauan ini akibat sikap dan tindakan mereka yang cenderung belum beradab, tidak tahu adat (sopan santun);. Banyak aksi mereka yang justru mengarah pada tindakan criminal, meskipun perbuatan yang tidak beradab itu dibantah oleh pimpinan kelompok sebagai perbuatan oknum.

Bagaimana seharusnya yang dikehendaki masyarakat terhadap ormas islam yang melaksanakan programnya melalui jalur keras ini ?  Saya teringat kepada Amanah Pribadi Rasulullah SAW  kepada seluruh kaum muslimin, jelang akhir hayat beliau. Yang disampaikannya pada saat haji Wada (Padang Arafah, 9 Zulhijjah 632 M).

 “ Hai Manusia, dengarlah baik-baik.  Aku mungkin tak akan lama lagi berada di tengah kalian. Yang lemah di antara kalian, berilah makan dari apa yang kalian makan, Berilah mereka pakaian sebagaimana kalian berpakaian. Kalian akan bertemu dengan Tuhanmu, Dan Ia akan memanggilmu untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Biarlah yang hadir hari ini memperingatkan mereka yang tidak hadir.Kalian semua adalah keturunan Adam, Dan yang terbaik di antara kalian akan beroleh rahmat dari Tuhan.

Renungkanlah dengan mendalam apa yang kukatakan ini. Hapuskanlah seluruh pertentangan kalian,Kalian harus tahu setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.

Dan semua orang muslim bersaudara satu sama lain. Di antara muslim tidak ada ras dan suku-suku, Tidak juga kamu harus mengambil apapun dari saudaramu. Kecuali bila diberikan secara cuma-Cuma. Jangan menindas dan jangan tertindas.

Oh umatku, aku hanyalah seorang manusia biasa. Mungkin malaikat maut akan segera menjemputku. Dan kematian akan merenggutku. Tapi aku telah meninggalkan kitab untukmu, diungkapkan oleh Allah, Al Quran, yang adalah terang dan pembimbing. Kini sebarkanlah pada umat firman terakhir dari Al Quran.Sebagai penutup dan tidak akan bertambah lagi. Bukan kata Muhammad, tetapi firman Allah. Hari ini Aku telah menyempurnakan agama padamu. Dan menyempurnakan pertolonganKu padamu. Dan telah memilihkan Islam sebagai agamamu.

Lalu apakah   harus ada kelompok melebihi apa yang diamanahkan Rasulullah dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar ?.

Jangan jangan ada kelompok yang mengetahui apa yang diamanahkan Rasul tetapi mereka belum memahami hikmah yang disampaikan Rasululullah itu. Karena meskipun mereka tahu,  tetapi mereka tidak mengamalkan amanah Rasulullah itu sendiri.

Sesungguhnya apa yang disampaikan Rasulullah dalam pesan pribadi beliau di Arafah pada Haji  Wada,  tidak lain kekakawatiran beliau beliau melihat masa depan umat, baik dari sisi Iman—Ilmu—dan pengamalan bergama. Padahal tuntunan bagi ummat telah ada dalam al Quran,  agar setiap hamba menjadi hamba yang Ibadirrahman.

Berikut ini saya petikkan sikap hamba yang diharapkan Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran – QS. Al Furqon: 63.

” Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Mereka -ibadurrahman- berjalan di muka bumi dalam keadaan ‘hawna’ yaitu dalam keadaan tenang dan tawadhu’, yaitu : “Berjalan dengan penuh kewibawaan dan ketenangan. Bersikap lemah lembut meski mendapatkan perlakuan kasar.

“Mereka ‘ibadurrahman tidak menjahili (berbuat nakal pada orang lain). Jika dijahili, mereka malah membalasnya dengan sikap lemah lembut.”

Bukankah memberikan contoh kepada lingkungan adalah lebih baik daripada berbuat aniaya. Meskipun ada orang yang berprilaku tidak baik. Allahpun memberikan gambaran kepada semua hamba dalam sikap tindak apapun sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat: 34-35, yaitu :

34. “ Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

35. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.

Maksudnya hanya sikap sabar dalam bertindak yang dapat meraihkan keuntungan dan keberhasilan. Begitupun demi tercapainya penegakan amar ma´ruf nahi munkar serta penerapan Syari´at Islam secara káffah, maka subyek pribadi anggota kelompok ormas garis keras ini harus diperbaiki  lebih dahulu, sebelum ia bersikap pada orang lain dengan jihadnya. Hanya ada dua pilihan bagi mereka yaitu : Cara keras atau lembut ?

Semoga ini menjadi perenungan bagi kita semua. Ketika begitu banyak orang orang yang tahu tentang agama yang penuh Rahmat ini namun mereka tidak mengamalkan bagaimana pribadi Rasulullah yang berakhlak mulia dalam menegakkan amal makruf nahi mungkar. Rasulullah adalah contoh manusia yang mencapai uswatun hasanah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: