Diatas langit masih ada langit…….

Oleh : Evy Nizhamul

Pagi-pagi anggota kerabat saya disibukkan dengan kegiatan perapihan diri, dandan dan sarapan pagi. Anak saya yang akan melaksanakan ijab kabul sebentar lagi, sudah berdandan rapi. Tepat jam 07.00 seluruh anggota kerabat berkumpul dalam warna busana senada. Biru terang ataupun putih  menyejukkan. Tak putus-putus saya bersyukur atas kehadiran mereka mengiringi anak kami yang akan berumah tangga. Sebelum berangkat anak saya bersalaman dan mohon doa restu pada Oom dan tantenya serta kakak-kakak sepupunya. Sebelum berangkat kamipun foto bersama. Suasana heboh tapi menggembirakan. Setelah usai acara sesi foto, rombongan  bersiap-siap naik ke mobil yang sudah disediakan. Tak jauh dari kami berfoto bareng, tampak oleh saya sebuah mobil sedan hitam. Sedan itu mengkilat dan beberapa buket bunga dilekatkan pada badan sedan itu.

Wakil besan yang menjemput kami, mempersilahkan kami menaiki mobil itu. Seorang sopir membukakan pintu mobil dan berkata :

 “ Mari pak dan bu..”, silahkan naik. Sebuah senyum ramah terlihat dari wajahnya. Saya pun bagai tersanjung, turut merasakan  diri sebagai orang tua “ Raja Sehari “.

“ Hemm baik pak.., aku membalas ajakan sopir itu sekenanya. Sayapun naik dan duduk seanggun mungkin berdampingan dengan suami. Saya berkata dalam hati bercampur bangga.

“ Hemmm….asyik juga mobilnya, ketika saya menemukan rasa nyaman dalam mobil itu.

“ ckk cckkk… hebat benarlah si besan ini. Untuk  menyambut kedatangan CPP dan orang tua, mereka berupaya  menyediakan mobil segala “.

Mobil raja sehari beserta ibu surinya berjalan perlahan paling depan dari seluruh rombongan. Dibelakangnya berturut-turut mobil para kerabat menuju tempat acara akad nikah.

Dalam perjalanan, pak sopir menyapa kami dengan ramah. Ia bercerita panjang lebar tentang kesalahan dan ketidak tahuannya,  sebelum ia tiba di Hotel kami. Dari ceritanya, ia telah menunggu sejak jam 05.30, sesuai dengan arahan panitia CPW di Hotel lain. Setelah sekian lama menunggu hingga tiba waktu keberangkatan, barulah ia menyadari bahwa ia berada bukan di Hotel tempat kami menginap.

Dimata saya kala itu,   peduli apa dengan alasan keterlambatannya. Bukankah, hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh para sopir,   agar mereka tidak ditegur oleh calon penumpangnya. Saya asyik masuk dalam kebanggaan sebagai seorang Ibu Suri, jelang detik–detik anak jadi raja sehari. Tanpa peduli ocehan sopir ini.

Tiap sebentar dia mengutak-atik perangkat mobil sedan ini. Ia menyetel lagu-lagu dari radio mobil.  Setelah itu tangannya sibuk mecari rasa kenyamanan mobil. Tiap sebentar ia menengok kami untuk meyakinkan dirinya bahwa kami nyaman dalam mobil itu. Ia benar-benar memperlakukan kami sebagai penumpang terhormatnya. Dalam hati, saya berucap :  “ Jika seperti ini pelayanan seorang sopir  mobil sewaan, saya yakin dia dapat acungan jempol dari pelanggannya “.

Ia benar benar tengah melaksanakan prinsip kepuasan pelanggan adalah  segala galanya.  Waduh,  jangan – jangan ia juga paham dengan customer satisfaction.

Saya merenung dalam perjalanan itu. Dari mana besan saya  mendapatkan mobil sewaan dengan sopir seperti ini ?. Apakah kota Gresik yang kecil ini, juga menyediakan pelayanan mobil penganten?    Hebat..(y). Benar benar hebat, tak kalah dengan gaya orang Jakarta. Jujur saya memang merasa surprise dengan kondisi ini. Ketika saya tak pernah membayangkan sedemikian detail, persiapan yang dilaksanakan oleh keluarga besan kami.

Tiba-tiba sopir ini membuyarkan lamunan saya. Dalam perjalanan itu, dengan ramahnya, sambil memegang knop Ac, sang sopir bertanya kepada kami

“ Maaf lho Pak – Bu. Apakah AC terasa cukup dingin…?.  Soalnya kota Gresik luar biasa panasnya.

“ Hemmmm. Saya manggut mangut tanggung tanda meng-iyakan.  Tanpa berniat beramah tamah, saya pun berkata : “ Ya kota ini memang panas. Tapi Lumayan kok .. AC nya dingin.

“ Alhamdulillah…., katanya menunjukkan kepuasannya.

Lebih lanjut ia bercerita, saat ini Indonesia pada umumnya, sedang mengalami cuaca ekstrim. Kadang ada hujan dan kadang panas. Ia melanjutkan pertanyaannya pada kami : “ Bagaimana kota Jakarta..Bu… Apakah juga sama ?.

Sedikit acuh,  saya menjawab : “ Ya sama saja. Tidak ada bedanya.

Bagi saya kala itu, dari pada beramah tamah dengan seorang sopir, tentu  lebih penting memantau  kelancaran iringan rombongan kerabat kami yang berada dibelakang kami. Itu pula yang dilakukan oleh suami dalam perjalanan itu,   Tiap sebentar ia menelpon dan  memantau posisi rombongan.

Pak Sopir, jangan kencang kencang ya bawa mobilnya. Nanti rombongan kami tidak bisa beriringan, kata saya padanya dengan tegas.

“ Oh ya baik bu,  Mohon maaf ya bu. Kalo pelayanan saya ndak baik.. Maklum saya belum biasa melayani tamu.

Dengan takzim sambil membungkukkan badannya berulang ulang,  dengan bahasa tubuhnya ia meyakinkan kami bahwa ia adalah sopir yang kurang sempurna.

“ Heemmmm ya…., Imbuh saya. Saya saat itu, bagaikan seekor jerapah yang sedang berada di singgasana. Tak siap merunduk kepada seekor semut yang sedang menghadap sang jerapah.

Ketika iringan mobil penganten memasuki halaman acara, saya  mengatur sang sopir, agar ia mancari posisi parkir mobil secara sempurna. Maksudnya agar orang orang yang menyambut si Raja sehari bersama Ibu Surinya dapat tertata rapih. Sang sopir melaksanakan arahan saya secara baik. Berkali – kali ia menunjukkan kepatuhannya sebagai sopir atas perintah majikannya.

“ Baik ..bu.     baik..bu…..

Nah, setelah semua sempurna dimata saya, maka saya bersiap siap turun dari mobil itu. Ketika itulah  sang sopir menyampaikan salam takzim dan salam hormatnya kepada kami, serta permohonan maaf atas ketidak sempurnaannya.

Maaf lho Bu. Kalo pelayanan saya ndak sempurna. Saya belum biasa melayani penumpang bu, katanya. Sepertinya ia merasa, ada saja suatu kesalahan pada dirinya.

“ Oh..ya… ndak apa apa pak. Saya juga mengucapkan terima kasih. Akhirnya saya berpisah dengan pak sopir itu.

Selang  seminggu kemudian, putera saya yang sudah jadi penganten itu, berkata :  “ Ma…. Pak Bambang itu, baik sekali ya…ma.

“ Pak Bambang yang mana …???, tanya saya ringan.

“ Itu..tuh. Pemilik mobil penganten, yang menjemput kita saat  acara akad nikah di kota Gresik, kata anakku

“ Haah…. Yang menyopiri mobil penganten ?

“ Dia pemilik mobil pengantin ?

“ Dia  yang berkali – kali minta maaf atas keterlambatannya ?

“ Dia yang selalu merasa kurang sempurna saat  memberi pelayanannya ???

“ Dia yang   memberikan perhatian secara detail, agar penumpang puas saat menaiki mobil itu….?????

“ Dia adalah Pemilik mobil….????

Demikian pertanyaan bertubi – tubi, saya sampaikan kepada anak saya.

“ Iya benar. Dialah pemilik mobilnya, Kata anakku. Masih ada mobil camry dan berbagai merek yang lain di garasinya. Dia itu orang yang sangat baik. Tidak pernah perhitungan. Dia yang selalu merespon permintaan bantuan. Dia lah mensponsori pendukung Persebaya  dengan bonek  bonek  Surabaya, baik bantuan  bus atau kendaraan lain yang dia berikan  secara gratis. Kalangan masyarakat, menyebut dirinya dengan panggilan Pak Suporter

“ Ya… Allah. Betapa saya malu kepadanya. Tatkala membayangkan kepongahanku  saat naik mobil miliknya.

Dengan sedikit keangkuhan diri, aku tak sadar telah berlaku sombong dihadapannya.  Bukan  tidak mungkin ia berkata dalam hatinya :

“ Hemmmm… betapa angkuhnya dirimu Bu…. 

“ Nih liat aku, seangkuh-angkuhnya dirimu, sebenarnya akupun bisa lebih angkuh, bilamana mana aku tak punya kekayaan hati “.

Barangkali itulah ungkapan hatinya, ketika saya merasa tak ramah kepadanya.

Dalam prilaku kita, terkadang secara tak sadar, kita sering salah menafsirkan orang lain dalam kebersahajaan—kesederhanaannya.  Padahal ketika kita merasa diatas puncak kebanggaan atau mungkin kesombongan, ternyata “ diatas langit masih ada langit “.

Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan 11 April 2011

_________________________________

Hifni Hafida

Perpustakaan Nasional RI : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Mozaik ~ keping kehidupan.

Hafida, Hifni

Pustaka Padusi

113  +  VIII hal,  140  mm  x  210 mm

ISBN : 978-602-19366-4-1

Editor : Tim Pustaka Padusi

Desain sampul: Imanul Ilmi

Cetakan I,  Maret  2013

©2013

Hak cipta dilindungi undang-undang

All rights reserved

Di terbitkan  oleh : Pustaka Padusi

Kompleks Puspiptek Blok I C No 2, Setu, Tangerang Selatan.

Telp.        : Telp/Fax : (021) 7564302

Email        : pustakapadusi@yahoo.co.id

3 Tanggapan to “Diatas langit masih ada langit…….”

  1. kisah yang menarik…. salam kenal ya dari choirul huda

  2. Ambiar Lani Says:

    Ini sungguh sebagai sebuah thausiyah yang sangat metodologis, tidak menggurui tetapi menuntun dan membimbing dengan cara yang sangat well educated. Walau di awalnya dikatakan sebagi sebuah cerita yang unit dan diangkat dari pengalaman pribadi, tapi kami meyakininya sebagai kepiawaian seorang Evy Nizhamul dalam memberikan tarbiyah kepada saudara-saudaranya seiman melalui fb. Memang banyak jalan untuk sampai ke Roma. Syukran katsira.
    Wassalam: Ambiar Lani (Jkt-Bekasi/L/59)

  3. ~padusi~ Says:

    Terima kasih Pak Ambiar…
    Terima kasih atas tanggapannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: