Ketika mengantarkan anak melamar gadis

by Evy Nizhamul

Apa yang Anda rasakan ketika tiba-tiba anak Anda mengutarakan niatnya hendak  berumah tangga ?  Jujur saya tersentak serasa bangun dari mimpi yang indah.  Ini pengalaman yang saya alami ketika putera saya yang serasa – kemarin masih ada diperut – kemudian disusui dan akhirnya sampailah ia menjalani kehidupannya menjadi ‘ Pria yang dewasa’.

” Ah …apa iya nak…. ??? kataku padanya. Apa nggak nunggu tahun depan saja – agar kamu lebih mempersiapkan diri secara baik ..?? Bagaimana dengan kemampuan rohani dan jasmanimu…?? Apa yang sudah kamu persiapkan…?

Segudang pertanyaan saya ajukan kepadanya. Pertanyaan yang saya ajukan dengan tujuan agar ia sudah memiliki perencanaan yang matang dan tidak asal memperturutkan nafsunya mentang-mentang sudah memiliki penghasilan tetap.  Dengan segala argumentasi yang disampaikan kepada saya selaku Mamanya, maka ia berusaha meyakinkan diri saya agar bisa memahami keinginannya. Sementara apa yang ada dihati ini adalah berkecamuknya pikiran – bahwa dengan usianya saat itu – dimataku Ia belum pantas untuk menjalani ikatan pernikahan. Bukankah masih ada kakak-kakaknya (sepupu) yang lebih pantas untuk menikah ketimbang dirinya. Dari diri saya timbul pula pertanyaan apakah saya telah sampai mengantarkannya pada tujuan yaitu BAHTERA RUMAH TANGGA.

Bagi saya sebagai orang tua – memahami Bahtera rumah tangga – bukanlah sekedar apa yang diharapkan oleh semua orang bagi pasangan pengantin baru agar menjadi Keluarga Sakinah Mawaddhah ma rahma – keluarga yang sejahtera dan berkasih sayang saja, melainkan bagaimana ia bisa membangun dan merawat ” bangunan keluarga besar “ kami yang sebelumnya sudah dibentuk oleh orang tua – mertua kami dulu.

Apa yang saya ingat dari petuah orang tua kami – rumah tangga itu bagaikan berjalan diatas rel – dalam kesejajaran sehingga mampu mecapai Stasiun yang akan dituju. Diatas rel itu berjalan gerbong – gerbong kereta yang bukan tidak mungkin kitalah yang menjadi lokomotifnya.

Jujur saya tidak berani bercerita kepada suami atau Papanya. Saya bertanya pada teman terdekat yang memiliki kedalaman Ruhaniah. Ia berkata : ” Bu tidak baik menghalangi anak yang ingin menikah. Apalagi ia sudah memiliki penghasilan tetap. Agama menganjurkan agar pria yang sudah memiliki kemampuan – segera melaksanakan hajad untuk menikah. Saya mencoba mencari opini dengan yang lain – sebelum saya menyampaikan hal ini pada Papanya. Ternyata kakak lelaki saya,  memiliki pemahaman yang sama dengan sahabat saya tadi. Dia berkata : “ Hati-hati dengan anakmu yang jauh di negeri orang. Jika kamu menahan keinginannya – dikawatirkan akan ada orang lain yang mencoba mendekati anakmu.

Dengan kekawatiran ini – maka majulah saya menghadap pada suami.  Reaksi yang disampaikan suami – hampir sama dengan reaksi yang saya berikan pada putera pertamaku ini. Akhirnya diperoleh kesepakatan, bahwa sang Anak harus menyampaikan langsung kepada Papanya. Sebagai seorang calon kepala kelaurga  – ia harus berani menyampaikan keinginannya ini. Demikianlah sebagai seorang pria minang – Urang Sumando dalam sebuah keluarga Minang – papanya meminta saya agar menyampaikan hal ini kepada kakak lelaki saya.

Secara tidak disadari kami diharuskan melakukan tradisi dan budaya – dimana baik Suami sebagai urang Sumando dan Kakak lelaki sebagai Mamak – anak-anak saya – harus ditempatkan sebagai orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Akhirnya setelah melalui tatakrama yang baik ini, baik suami dan Mamak dari anak saya ini – bersepakat dan menyetujui rencana anak saya untuk berumah tangga itu.

Dalam jiwa yang diliputi oleh budaya dan tradisi yang mengakar sejak kecil, saya mulai berpikir. Bagaimana merealisasikan hajad ini berdasarkan pedoman adat dan tuntunan agama ?

Dalam tradisi di Minangkabau – khususnya kota Padang hingga Pariaman – berlaku  tata cara adat yang menempatkan pria sebagai pihak yang dilamar. Sementara calon anak saya – bukanlah orang Minang dan sudah dipastikan tidak akan paham dengan adat dan budaya Minang. Jika saya mengabaikan hal ini – barangkali saya pun akan dianggap sudah tidak mengenali atau melupakan adat. Saya mencari solusinya ” dahulukan nan diawak laluan nan diurang “. Duh .. indah sekali pepatah ini jika kita bisa memahami tanpa kita menyinggung perasaan orang lain.

Akhirnya saya memberikan pada sang anak.  Bagaimana keinginan saya dan keinginan sang anak berjalan bagai sebuah rel yang akan dijalani sebuah lokomotif. Saya bertanya kepadanya.

” Nak….. bagaimana cara yang harus  kita lakukan, agar kita bisa melaksanakan tradisi lamar melamar ?….. tanya saya

” Ya….. Mama. Kita yang datang dong pada keluarganya….??  jawabnya.

” Haah… datang kepadanya – sementara kita berjauhan dan kita belum mengenalnya.

” Begini ..” kataku. Bagaimana sekiranya – mereka yang datang untuk berkenalan dengan Mama..???   Di suku manapun adalah hal yang lumrah jika – pihak perempuan yang lebih dahulu mengenali calon suami anak gadisnya bukan…..???? Ini bukan bermaksud menang-menang lho .. nak… rundingan saya padanya. Hemmmm……

Tampaknya anak sayapun berunding dengan calonnya – sambil menyampaikan apa yang saya maksudkan.

Alhamdulillah – kata berjawab dan gayung bersambut, jujur saya mengacungkan jempol kepada calon besan dan calon anak mantu saya – karena ternyata mereka adalah orang yang PAHAM tentang apa keinginan saya. Saya tidak menyebut bahwa saya sukses dalam hal ini – namun adalah semata – mata bagaimana memahamkan pada orang lain dan menyentuh RASA yang ada pada hati mereka yang paling dalam. Bahwa siapapun kita – seandainya juga saya bahwa saya pun akan melakukan hal yang sama untuk berkenalan dengan keluarga calon suami anak perempuan saya kelak…. Insya Allah.

Yang dinanti akhirnya tiba… Calon besan saya yang bersahaja, datang dengan beberapa anggota keluarga lain  mengundang rasa haru saya. Mereka membawa buah tangan yang penuh makna didalam budaya Jawa, yaitu yang garing dan yang lengket. Agar kedua calon keluarga ini dipertautkan dalam suasana yang garing dan lengket. Itulah suasana ” maresek “ yang dilakukan oleh keluarga lain kepada pihak saya.

Dalam silaturahmi yang singkat dan padat serta keramah tamahan, kami putuskan seketika itu, bahwa dalam waktu dekat – kami akan melamar anak gadisnya. Bagi saya yang Minang tulen – yang berasal dari Kota Padang – pergi melamar gadis – tentunya merupakan suatu ketidak laziman. Dari bisik – bisik ada saran kenapa bukan mereka – kenapa harus kita.

Tidak masalah … agama telah menetapkan bahwa bagi laki-laki yang dinyatakan dewasa – apabila ia sudah mampu untuk mengutarakan niatnya berumah tangga, maka ia lah yang akan melakukan PELAMARAN itu..!!

Ini yang saya tegaskan pada anak saya. Apakah dia sanggup mengucapkan kata melamar kepada jantung hatinya secara langsung kepada orang tuanya dan dihadapan saya sebagai orang tuanya. ..???  Sanggup….????  Okay… saya dan papa akan berangkat menemaninya.

Demikianlah Saya dan Suami mengajak beberapa kakak kami untuk menemani anak kami pergi melamar gadis. Dalam suasana yang garing dan lengket itu, acara PELAMARAN  itu berlangsung secara sukses.

Teriring doa kepada anak dan calon saya, agar perjalanan yang mereka rancang nanti akan berjalan dibawah ridho Allah. Aamin…

Tangerang Selatan, 30 Juni 2010

3 Tanggapan to “Ketika mengantarkan anak melamar gadis”

  1. Idhien poernamasarie Says:

    Terharu,, mresapi cerita ini…
    Begitu indah perbedaan, namun perlu k lapangan hati untuk menyatukan perbedaan ini.
    Andai kisah kami, bisa semudah ini. Tak kan mengambang seperti ini.. Mgkin kah, kami bisa bersatu dgn perbedaan. Yg belum dapat tengah ny..

  2. Kisah cinta beda adat ini sama dengan yang saya (cewek keturunan jawa) dengan pacar saya (cowok pariaman) alami. Namun keluarga kami sama-sama mempertahankan adatnya. Sehingga sampai sekarang belum ada titik temunya. Dan mungkin kami harus mengalah untuk tidak bersatu.

  3. Bersatu atau tidaknya tentunya terkait dengan jodoh. Saya bersyukur kedua anak saya ini bisa memahami kultur masing-masing. Sebagaimana yang saya katakan pada mereka, bahwa sewajarnya pihak perempuan lebih mengenali keluarga calon suaminya. Bukan berarti menang-menangan. Namun untuk lebih mengenali siapakan calon suami anak perempuannya. Dari pada menyesal kemudian menerima begitu saja lamaran pihak laki-laki tanpa ingin mengenal lebih dahulu keluarga calon suaminya. Menurut teman saya dari etnis Jawa menyatakan lazim pula pihak lelaki menerima kedatangan pihak perempuan lebih dahulu, apalagi lelaki calon suaminya berasal dari orang berketurunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: