` arafah panggung replika padang mahsyar `

Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan rohari dalam memenuhi panggilanNya untuk menunaikan rukun islamyang kelima bagi yang mampu. Mampu secara bathin karena adanya keinginan dan kemauan untuk beribadah untuk mengharap ridho Nya serta memohon ampun kepada Nya, sehingga seseorang akan menjadi hamba yang sebenar-benarnya muslim setelah rukun islam yang ke lima ini.

Disaat keberangkatan akan terasa perjalanan haji itu memang lain. Ini adalah perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT. Bagi yang belum berkemampuan, berbondong-bondonglah mereka melepas keberangkatan para calon haji itu, seraya menitipkan pesan dan harapan agar mereka diberi keluangan waktu dan biaya untuk turut menunaikan ibadah ini.

Kita tidak habis mengerti – mengapa setelah itu orang yang sudah menunaikan ibadah ini – menambahkan gelar di depan namanya. Apakah ini menyangkut harga diri dan kehormatan atau tingkatan harkat manusia, dihadapan manusia ? Entahlah..

Barangkali pada masa dahulu – ketika perjalanan menunaikan ibadah haji terasa sulit,  tidak semudah seperti sekarang ini – yang hanya berjarak tempuh selama sembilan jam, Tentu terasa agak aneh, jika pemberian gelar Haji itu setara dengan peningkatan martabat para haji itu.

Sesungguhnya, pelaksanaan ibadah haji merupakan manifestasi persaudaraan muslim sedunia,  karena haji merupakan muktamar tahunan atau silaturahmi akbar baik di kota Makkah almukaramah maupun di Madinah. Pertemuan muslim sedunia itu, juga bagaikan muktamar bangsa-bangsa. Disini kita saling membawa budaya masing-masing, dengan aneka ragam budaya dan tingkah laku. Cara mereka mendirikan sholat, terkadang ada yang berbeda dengan cara yang biasa kita lakukan. Meskipun demikian, ada kesamaan pedoman kiblatnya yaitu Baitullah dan hubungan bathin dengan Allah SWT. Dari sini kita dapat memetik 2 hikmah pernyataan keislaman kita,  yang diucapkan dalam ikrar 2 kalimah Syahadat, yaitu :

a. Syahadat pertama, yaitu Asyhadu alla ila ha illallah, disini menegakkan ikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini menjadi sempurna ketika kita menunaikan ibadah haji serta beribadat di Baitullah – Tanah Haram Makah. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

b. Sedangkan syahadat yang kedua, yaitu “ Wa Ashadu Anna Muhamma Rasulullah”, yaitu  ikrar kita atas kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Disinilah gunanya kita mengunjungi Masjid Nabawi serta menziarahi makam nabi Muhammad SAW, sebagai kesempurnaan iman islam kita terhadap pelaksanaan ikrar kita yang kedua ini.

Dalam menunaikan ibadah haji ini, kita beribadah dan berwukuf di Arafah. Tidak sah haji seseorang, bila mana ia tidak melakukan wukuf di Arafah ini. Bila dimaknai lebih mendalam, maka ibadah haji mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Mengapa? Karena kita merasakan bahwa ibadah haji ini, menjadi ibadah perjalanan rohani dan sekaligus persaudaraan muslim sedunia. Ia datang dan diundang oleh ALLAH SWT melalui rezeki yang dilimpahkan pada hambanya atau juga di inginkan kedatangannya oleh Allah melalui keinginan hati hamba untuk memenuhi panggilannya. Subahanallah makna yang terkandung dalam kalimat : “Labbaikallahumma labbaik labbaik kalla laa syarikalah kallabaik.. Innal hamda wani’mataq laa syarikalah.

Wukuf adalah mengasingkan diri atau mengantarkan diri ke suatu “panggung replika Padang Mahsyar. Suatu tamsil bagaimana kelak manusia  di kumpulkan disuatu padang Mahsyar dalam formasi antri menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT.

Wukuf adalah contoh – sebagai peringatan kepada manusia tentang kebenaran Ilahi. Status hukum wukuf di Arafah adalah rukun. Jikalau ditinggalkan, maka hajinya tidak syah. Wukuf merupakan puncak ibadah haji yang dilaksanakan di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhizah.

Sebagaimana Sabda Rasulullah : Alhaju Arafah manjaal jam`in kabla tuluw ilafji adraka alhajj (diriwayatkan oleh 5 ahli hadis). artinya : Haji itu melakukan wukuf di arafah “

Ada hadis Nabi yang mengatakan :

“ Sebaik-baiknya doa pada hari Arafah, dan sebaik-baiknya yang dibaca oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : laa ilaha illallaah wahdahula laa syarikalah, lahul mulku walahulhamdu, yuhyi wayumit, wahua hayyun layamutu biyadihil khair.Wahua `alaa kuli syaiin qodiir”  (Hadis Riwayat : Tarmidzi).

Artinya : ya Allah tiada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu baginya bagiNya segala kerajaan dan puji. Dia yang menghidupkan dan mematikan. Ia hidup tidak mati. Ditangannya segala kebaikan dan dia Maha Kuasa.

Terdapat 3 inti orang menunaikan ibadah haji.

  • Pertama,  pergi bertobat,
  • Kedua,  pergi beribadat, dan
  • Ketiga pergi berdoa,  supaya ada perubahan dalam hidup sesudah haji.

Diantara hikmah ibadah haji :

  1. ibadah haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah SWT semata dengan meninggalkan kemewahandan keindahan sebagaimana yang diungkapkan dalam berpakaian ihram.
  2. melaksakan kewajiban haji merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Hanya orang yang mempunyai kemampuan ini yang diwajibkan menunaikan ibadah ini agar ia mendekatkan diri pada Tuhannya.
  3. Pelaksanaan haji adalah merupakan perkemahan Rabbani, yang disegerakan dan disetir oleh tuntunan rohani oleh yang Maha Kuasa, sehingga secara sukses mengatur beratus ribu bahkan berjuta manusia berkumpul di Padang Arafah itu.
  4. Umat islam dari seluruh dunia berkumpul pada pusat pengendali roh dan kalbu mereka di Padang Arafah ini. Disini sirna perbedaan kaya dan miskin serta satu sama lain saling menyapa dan mengasihi.

Arafah memang terasa lain bagi mereka yang wukuf di sini. Suasana Arafah hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan ibadah ini.

Ya Allah hanya kepadaMu aku menghadap dan hanya kepadaMu aku mengharap. Jadikan dosaku terampuni,  haji diterima, kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Di padang Arafah ini kita dianjurkan ber dzikir sebanyak banyaknya. Minimal  dibaca 100 kali oleh para jemaah. Tidak terasa kita berurai air mata membayangkan segala kesalahan yang kita lakukan didunia.

Aku datang memenuhi panggilanMu,Ya Allah, aku datang memenuhi panggilamu tidak ada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala sesuatu dan nikmat serta kekuasaan hanya milikMu tiada sekutu bagiMu.

Pada tenda – tenda yang difasilitasi oleh Maktab, pada waktu tengah hari setelah menunaikan sholat jamak takdim zhuhur dan asyar, kita akan mendengar khotbah. Kebetulan Khutbah wukuf rombongan kami, disampaikan oleh Sdr. Askari – pegawai Kantor Kementrian KLH – -salah satu anggota rombongan kami. Ia mempunyai wawasan keislaman yang sangat luas sehingga sangat menyentuh hati para jamaah yang berada dalam satu tenda dengan kami. Kami – para ibu-ibu – menangis dan meratap atas uraian pembicara. Ia berhasil menyadarkan kita bahwa sebagai hamba yang beriman kita belumlah apa-apa untuk berbuat untuk diri kita sendiri, untuk membela Islam, menegakan keimanan dan keislaman kita sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.

Pengkhotbah berpesan, bahwa kita harus kembali kepada hal-hal yang dicontokan Rasulullah SAW. Janganlah kita hanya berpedoman pada Ulama semata, yang tidak sesuai dengan yang diperbuat Rsulullah. Kebanyakan kita terkondisi pada mazhab-mazhab bertentangan antara satu dan yang lainnya dan saling mempertentangkan dalil-dalil dan keyakinan diantara mereka

Saudara…… saudara lihatlah ……!! Para malaikat turun di Arafah saat ini.          “Memohon ampunanlah kepada Allah …… serunya ber-api-api.

Ia mengingatkan kami agar kembali atas 3 pesan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga,yaitu:

  1. Nabi Muhammad SAW, mengharamkan darah sesama muslim terbunuh  akibat mempertahankan keyakinan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
  2. Jauhilah Riba, yaitu perdagangan yang tidak mengikuti syariat islam.
  3. Kewajiban meindungi istri dan anak bagi para para suami/ayah. Bagi para istri, agar melayani suami/anak2 dengan sebaik mungkin serta berbaktilah kepada keluarga.

Kedekatan bathin antara kita dengan Allah SWT atas dzikir-dzikir yang kita lafazkan, seakan diri ini telah menyatu dengan Tuhan Yang Maha Agung. Sehingga waktu antara dzuhur sampai dengan magrib di Arafah kala itu, terasa sangat singkat bagi kami.

Gema takbir, tahmid, tahlil, tasbih membahana seantero Padang Arafah yang gersang itu. Seakan suara lebah berdengung. Membuat hati kita terlarut dalam yang tidak dapat diceritakan bagaimana hikmadnya. Itulah suasana bathin yang bisa saya rasakan.

Sementara itu, bukan tidak ada godaan yang kita hadapi. Betapa dihadapan kami terasa ada yang sangat mengganggu suasana bathin ini. Ada pula sebagian jemaah yang tidak memamfaatkan momentum untuk bertaubat ini. Saya menyaksikan masih ada para jemaah bercengkrama, bercanda ria diantara mereka, sehingga cukup mengganggu konsentrasi kita dalam berzikir ini. Astagfirullah………………

Beberapa jemaah haji setelah mendengarkan khutbah,  ada yang tidur karena didera kantuk dan matanya yang lebih berkuasa atas diri ini. Bahkan ada yang pusing mendengar deru dan gelombang zikir dari seantero Padang Arafah yang dilafazkan oleh jutaan manusia yang sedang berwukuf itu. Kita dapat menyaksikan,  bagi hamba yang tidak siap dengan suasana ini, maka baginya suara ini sangat memekakan telinga. Kepala pusing mendera bagaikan ia sedang di rukyyah.

Disini aku dapat menyimpulkan bahwa:

–      Bagi kalangan muda usia –  perjalanan haji ini seakan perjalanan wisata dakwah. Betapa tidak, ……! Tidur ditenda dengan pasokan makanan/minuman berlimpah ruah yang disediakan oleh pihak maktab, sungguh sangat menyenangkan.

–      Bagi orang tua yang sudah uzur, suasana kesyahduan kurang memberi makna baginya, karena disebabkan factor kelelahan  karena kekuatan fisik yang menurun.

Sungguh kesempatan yang berharga ini harus kita mamfaatkan untuk bertaubat kepada Allah SWT, berdoa agar diberi kesempatan lebih baik serta merobah sikap prilaku kita.

Rangkaian ibadah haji untuk menuju kesempunaan islam, manakala  kita dapat menyelesaikan rukun secara sempurna dan khusuk. Suasana batin setiap jemaah memang tidak sama. Ketidak seriusan pihak lain seakan menjadi ujian bagi kita.

Beruntunglah saya , dimana regu kami memiliki komitmen yang sama untuk memamfaatkan momentum Arafah ini dengan berdoa dan berzikir sebanyak-banyaknya, sehingga kami merasakan kepuasan bathin yang tiada taranya. Sungguh  ….suasana bathin yang belum pernah saya rasakan  seumur hidup.

Selain Arafah merupakan panggung replica padang mahsyar, kita menjumpai kewajiban dalam perjalanan ibadah haji dengan acara acara bermalam (mabit) sebagaimana yang dilakukan Nabi Saw pada zamannya, antara lain : Mabit di Muzdalifah dan Mina

Mabit di Muzdalifah  ; Perpindahaan jutaan manuasia dari Arafah ke Mudzalifah memang memerlukan kepiawaian  tersendiri. Manajemen tranformasi dan transportasi manusia setiap tahun ditingkat kualitasnya. Terakhir dengan sistem taraduddi, kekisruhan dalam mengatur jutaan manusia semakin diminimalisir.

Sesampai di Mudzalifah jemaah sibuk mencari batu kerikil. Walaupun dalam tuntunan manasik haji yang dikeluarkan oleh badan penerangan haji pemerintah Saudi Arabia, bahwa mengambil batu di Arafahpun tidak mengapa. Kesempatan untuk hal inipun ada. Akan tetapi, kamipun tidak berani memungut batu kerikil tersebut dari Arafah. Kadangkala seperti dalil dan keyakinan menimbulkan diskusi kecil-kecilan diantara para jemaah. Seperti halnya ketika kami memulai perjalanan menuju Arafah dari Mekkah.

Menurut sunah Rasul perjalanan untuk wukuf di Arafah bermula dari Mina pada ba`da subuh. Namun yang kami jalani adalah 1 hari sebelum wukuf pada hari Tarwiyah. Pada ba`da dzuhur kami sudah diberangkatkan dari Mekkah ke Arafah yang dikoordinasi oleh Sub Daker melalui maktab masing-masing. Jemaah Indonesia telah bersepakat bahwa yang ditetapkan dibuku manasik haji tetap menjadi panutan kita dalam menjalankan rukun haji ini.

Di Kawasan Mudzalifah, yang dikelilingi bukit batu, menghembuskan angin malam yang menusuk tulang. Semestinya pada kawasan ini, para jemaah disunahkan berdoa dan berzikir.

Mabit di Mina : Mina secara harfiah adalah tempat tumpahan darah binatang yang disembelih. Mabit di Mina merupakan kelanjutan dari pelaksanaan ibadah sebelumnya.

Terdapat 2 ibadah yang dilakukan jemaah selama di Mina, yaitu:

–                 melempar Jamarat pada hari Nahar yaitu Jamaratul Aqobah

–                 pada hari Tasrik selam 2 hari berturut-turut bagi yang memilih Nafal Awal dan 3 hari bagi yang memilih Nafar tsani, yaitu ulaa, wustho, dan aqobah.

sesungguhnya Mina ini aseperti rahim seorang ibu, yang meluas ketika terjadi kehamilan.”        Subhanallah…………………………..

Jadi tidak ada yang perlu dikawatirkan jika mabit di tempat ini.

MELEMPAR JAMARAT (Hari-Hari Tasyrik) tanggal 11,12,13 Januari 2006/

Dzulhijah 1426 H

Melempar Jamarat : adalah simulasi yang dialami oleh Nabi Ibrahim, ketika beliau digoda oleh syetan untuk menyembelih putranya. Adapun kita melakukan kewajiban melempar jumroh Ulaa. Wustho dan aqobah adalah semata-mata mengikuti tuntunan, Rasulullah SAW.

Setelah kita bermalam pada hari hari tasyrik di Mina, kemudian kita kembali ke Mekkah al mukarammah untuk melakukan tawaf dan sai, maka selesai sudah pelaksanaan ibadah haji.

Kewajiban melaksanakan ibadah haji disyariatkan pada tahunke 6 H, setelah Rasululah SAW, hijrah ke Madinah. Setelah di Syariatkan , ternyata Rasul sendiri hanya 1 kali mengerjakan haji yang kemudian disebut haji wada. Tak lama sesudah itu beliau wafat.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan upacara peribadatan yang sangat erat hubungannya dengan syariat yang disampaikan Nabi Ibrahim. Disini meyakinkan kita bahwa agama yang dianut, kita bukan ajaran yang baru, tetapi agama yang pernah diajarkan Nabi Ibrahim AS, yaitu

–    mengajarkan tauhid

–    meng-Esakan Allah sebagaimana yang tercermin dalam talbiyah ketika kita berpakaian ihram.

Rangkaian ibadah haji yang dilakukan di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina hingga diakhiri dengan melakukan tawaf dan Sai di kota Mekkah,  memang terasa lain. Lebih lebih Arafah, dimana bagi mereka yang wukuf di sini. Suasana Arafah hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan ibadah ini.

Lantas ketika para haji tersebut menyandangkan gelar H di depan namanya – sudah cukup dinilai sebagai orang yang bermartabat dihadapan Allah SWT ?.  Tentu saja tidak. Karena selain bagi hambanya yang belum menunaikan ibadah haji – bukan berarti mereka tidak ditempatkan pada sisi yang mulia dihadapan Allah – melainkan tetaplah pada nilai ketakwaannya. Dikala ia menjalankan syariah dan kewajiban dan larangan yang diberikan kepadaNya.

Mudah – mudahan pula, tidak hanya orang yang melakukan perjalanan ini saja, yang menemukan hikmah-hikmah seperti ini, akan tetapi juga bagi orang yang ingin menunaikan ibadah ini sebagai wujud ketundukkannya terhadap perintah Allah.

2 Tanggapan to “` arafah panggung replika padang mahsyar `”

  1. […] ` arafah panggung replika padang mahsyar ` « Istana Kunang Kunang […]

  2. mantap bana….klu yg mudo punyo salero tinggi…makanan di arafah, mina…berjubel….apalagi minuman kaleng berbagai rasa penyegar kerongkongan….ayo yg muda segera menuju rumah Allah………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: