Pada Sebuah Kapal….

0bb066b4Lili_Aini_ViewofSitiNurbaya

Angka itu belum mencapai angka tahun perak. Angka yang dicita-citakan oleh pasangan yang ingin meraihkan kebahagian dalam rumah tangganya. Kami baru menapaki bahtera rumah tangga selama 24 tahun. Setara angka dua lusin. Belum apa apa dibanding dengan handai tolan yang telah menapaki bahtera rumah tangga melebihi angka ini.

Duapuluh empat tahun yang lalu pula, nakhoda kapal kami mengucapkan lafaz ijab kabul, didepan penghulu yang disaksikan para kerabat dan handai taulan. Sang Nakhoda dan Mualim berjanji untuk melayarkan kapalnya menjadi keluarga sakinah ma waddhah wa rahmah. Nakhoda dan Mualim sadar bahwa lautan yang akan dilayari tidak selamanya tenang. Ada angin yang membuat arus dan gelombang. Terkadang laju bersama gelombang dan terkadang oleng karenanya. Alhamdulilah kapal yang kami lalui

tetap seimbang dalam pelayarannya, berkat keahlian nakhoda mengatur pelayaran. Nakhoda harus tegas dan kalau perlu bersikap otoriter demi menyelematkan penumpangnya. Ini adalah kewajiban agama yang diperintahkan Allah kepada nakhoda nakhoda kapal.

Didalam kapal itu telah ada 4 orang penumpang, yang akan diseberangkan sang nakhoda dan mualim. Sungguh tugas yang berat dan mulia. Ini amanah di mata Allah. Satu persatu penumpang itu akan kami turunkan pada tempat tujuannya. Yaitu pada pelabuhan kehidupan yang sudah pasti.

walau kami tidak mampu menciptakan teladan yang dilakukan oleh keluarga Imran, namun kami senantiasa berharap agar segala nasehat Imran kepada anak-anaknya dapat kami lakukan.

Berkatalah Nakhoda pada penumpangnya. “ Berjalanlah engkau Nak… Papa telah mengiringimu hingga tujuan yang engkau cita-citakan. Awalilah langkahmu dengan mata menatap kedepan. Sesungguhnya ribuan langkah yang engkau lalui – selalu berasal dari satu langkah. Berpesan Mualim kepada penumpang. “ jika engkau tersandung – tetaplah engkau berdiri dengan hati yang tegar. Masih panjang perjalanan yang akan engkau lalui. Kasih Ibumu akan selamanya mengiringi perjalanan hidupmu hingga maut datang memisahkan dirimu dan ibumu.”

Dua puluh empat tahun yang lalu, pula kami memakai pakaian kebesaran. Menjadi raja sehari. Yang disanjung. Yang diiringi doa dari segenap sanak family. Walau ada riak dan gelombang, namun kami meyakini itulah namanya dinamika kehidupan. Terasa manis bila kita sadar bahwa ujian dan cobaan selalu diberikan pada hambanya yang beriman.
Doa kami semoga Allah SWT, senantiasa melindungi keluarga kami dari ketidak mampuan kami menjaga janji janji Allah yang telah memberikan kami keberkahan, rezeki yang bermanfaat serta limpahan rahmat dan nikmat lainnya.

“ Fabiayyi ala hirabbikumaa tukazdzibaan…. Nikmat mana lagi kah yang engkau dustakan… Demikian salah satu bunyi firman Tuhan.

“Ya Allah… jika mengingat nikmat yang telah Engkau berikan itu, ternyata kami sia-siakan – rasanya kami

termasuk orang yang tidak bersyukur dan merugi. Karenanya…. ampunilah dosa kami. Berkahilah selamanya kehidupan rumah tangga kami. Jauhkan kami dari segala fitnah dan godaan yang datanganya tanpa kami sadari. Karena mungkin berasal dari diri kami. Tetapkanlah diri kami menjadi suri tauladan bagi anak-anak kami dan handai taulan yang telah terjalin silaturahminya dengan kami. Amiin .. Amiin ya Rabbal al

amiin.


Puspiptek, Tangerang Selatan, 4 agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: