Semalam di Kuala Lumpur dan dipagi hari

1Cerita kali ini, saya akan mengkisahkan tentang suasana bathin saya ketika berada di negara rumpun melayu ini, seputar kuliner, body language, kreativitas bangsa serumpun ini. Saya mencermati benar sikap dan prilaku mereka, khusus kaum wanitanya. Saya kagum kepada keanggunan wanitanya yang tetap konsisten berbaju melayu. Saya memandang mereka bagaikan ibu saya, walau mereka masih muda dibanding saya. Kala dulu – ibu saya – sering menggunakan dan membuat baju ini. Masih ingat bagi saya, bagaimana cara memotong pola, kemudian menjahitnya. Ada Siba, yaitu sampiran baju yang bersambung pada lengannya yang lebar. Potongan inilah yang menyebabkan lekuk tubuh kita tidak kelihatan. Akhirnya saya jadi teringat akan baju kurung buatan saya sendiri, kala gadis doeloe.

Saya membuatnya untuk keperluan menyambut hari yang terindah dalam kehidupan saya seperti baju kurung untuk wisuda, bahkan  saya membuatnya menjadi pakaian pengantin yang bersulam benang emas.  Inilah yang saya banggakan sebagai gadis minang 25 tahun yang lalu – walau saya tetap menjadi remaja ibukota kala itu. Kemudian saya berkesimpulan dalam hati – bahwa ibu saya berhasil membangun  jati diri putri-putrinya menjadi gadis minang sejati di rantau orang, sementara saya sekarang ini belum tentu mampu membangun jati diri minang, terhadap puteri saya sekarang ini. Itulah obsesi sebuah baju kurung dimata saya.

1Semalam di Kuala Lumpur, kami nikmati jalan-jalan dengan bermacet-macet ria. Untuk menuju sentra bisnis bagi kalangan wisatawan di Bukit Bintang, kami harus duduk berjam – jam didalam mobil. Ditingkahi hujan yang luar biasa lebatnya kala itu, membuat kami termangu-mangu tak berdaya di dalam mobil. Wilayah yang satu ini adalah kawasan mal serta plaza. Anak-anak protes jika cari makan malam disana. Mereka ingin makan di kaki lima. Ingin makan pratha, tandhori, karee, nasi lemak, serta jajanan melayu jika itu ada.

Akhirnya kami mencari Restoran Nasi Kandar Penang, yang lokasinya didepan Hotel Niko, entah dimana alamatnya. Anak-anak sangat puas sekali, lebih-lebih “ AULIA “ anak kami yang lebih suka kepada suasana yang avonturir. Malam itu kami menanyakan nasi lemak. Ternyata baru tersedia nanti pada jam 11 malam. Konon katanya, pejabat Indonesia sering berkunjung ke restoran ini dan direkomendasikan oleh KBRI – KL, sebagai tempat yang representative sebagai tempat makan pinggiran. Murah meriah… Eheemmm… ternyata banyak juga pejabat kita yang berupaya ngirit kalau lagi diluar negeri. Suasananya seperti pusat jajanan malam di Jakarta. Entah salah pesan, yang jelas saya tidak menikmati masakan yang enak kala itu. Mie gorengnya “ bakalintin “ yang membuat poros tengah mejadi ‘ liok’n”nek, rasanya. Ada tandhori – pakai kuah dalca, rasanya kok beda dengan buatan dirumah saya. Saya mencoba – kuliner “ orang keling” ini. Saya ingat dengan seorang perantau minang di milis RantauNet, Jamaludin Mochyidin dan Idris Talu, yang menjelaskan bahwa di KL – ada masakan dalca. Inilah yang akan saya coba malam itu. Padahal waktu tahun lalu – kakak saya pernah menemukan “ gulai bagar rasa minang asli ‘, ketika kami menginap di Hotel Dorrsett, yang loMkasi bersebarangan dengan Menara Petronas. Entahlah.., memang kalau terlalu disigi benar – belum tentu pas dengan harapan kita. Yang penting, semua suasana makan malam ini – saya bidik dalam video dan camera saya. Akan menjadi kenangan bagi saya.

Setelah kenyang makan malam, semula kami bermaksud ke ke Petaling. “ Petaling adalah China Townnya KL. Disini pusat perbelanjaan souvenir Malaysia, dan banyak menjual barang branded “ palsu”.  Namun karena pada tahun sebelumnya sudah mengenal wilayah ini – yang tidak jauh beda dengan “ Paddish market di Sydney – Australia atau China Town – Bugis Street di Singapore, ya … sudah balik ke Rumah Tumpangan. Istirahat hari sudah menunjukkan jam 21.30.

Keesokan harinya, saya dan kakak perempuan saya ( yang mengantarkan saya ke KL ini), berkolusi dengan saya “ Evy.. anak-anak dan papanya biar makan di Restoran Hotel, kita cari makan diluar. Okay… okey.. saya sambut tawaran jitunya ini. Bukankah kaki kami sama-sama bacilalek, kata rang minang. Alias suka keluyuran.

Kata kakak saya itu; “ Aku masih penasaran dengan daerah ini. Katanya disini pusat perbelanjaan kaum hawa.. tapi dimana..??? dan ada apa saja…???. Pastilah ia mempertanyakan hal ini, karena “ hotel Quality “ tempat kami menginap juga berdasarkan rekomendasi temannya. Begitulah kami berdua remaja kolot itu, ngacir dipagi hari itu keluar Hotel. Hasilnya ada tiga moment penting yang yang saya rekam dipagi hari ini.

Kami berdua menemukan menu-menu kuliner dipagi hari itu. Gulai kawah dan Nasi lemak. Soal nasi lemak ini tadi malam kami berburu hingga ke restoran nasi kandar Penang, didepan Hotel Niko. Ternyata kuliner ini adalah menu sarapan pagi. Dibungkus bulat dengan daun pisang. Soal bagaimana rasanya – biarlah saya simpan dulu,   karena saya lebih tertarik terhadap menu yang dihidangkan secara prasmanan. Saya meniru menu seorang pria muda yang berada disamping saya,  meracik menu “ Gulai Kawah”. Lagi pula udara dingin dipagi itu, ada masakan yang mengepul – ngepul, seketika  itu “ poros tengah “ mangariyuak minta diisi. Saya ikuti apa yang diambilnya. Saya akan rekam bagaimana rasanya.

“ Wow… ternyata menu yang eksotik – yang sangat saya sukai – karena tidak jauh beda dengan soto “ Widodo “ yang terkenal di Klaten – Jawa Tengah sana. Saya bilang sama kakak saya : “ my beautyful sister ..food is very tasty indeed. it’s the same as soto Widodo. Tapi kenapa mereka menyebut gulai Kawah. Antahlah….!!!

Yang jelas dipagi ini, kami berdua sangat menikmati kuliner melayu dalam suasana melayu pula di kampong melayu negeri jiran itu.

Langka kedua remaja kolot itu berlanjut hingga menyisir wilayah pusat perbelanjaan kaum wanita melayu. Persis sama seperti suasana di Pasar Baru – Jakarta. Tekstil dan baju kurung begitu banyak ragamnya. Kerudung, baju kurung, selendang. Harga stelan baju kurung berkisar  RM 40 – RM 100. Hampir sama kan ..? dengan harga di Indonesia. Bahan kain dengan aneka motif bunga banyak tersedia. Tampaknya bahan – bahan ini sudah diekspor ke Pasar Bawah kota Pekan Baru. Kami sudahi urusan yang satu ini. Bagi saya bukan ini – makna perjalanan yang akan saya raih.

Saya penasaran dengan banyaknya amai –amai malaysia ini yang berlalu lalang digedung yang berseberangan dengan Hotel kami. Ternyata diseberang Hotel itu sedang diadakan “ Ekspo Sulaman Warisan Sepanjang Zaman”. Saya melihat isi counter atau stand – yang dipamerkan dan produk yang dijual dalam rangka Ekspo itu. Ooh… para wanitanya – secara berkelompok menjual  buah karya tangan wanita melayu itu. Berupa sulaman bordir.

Maaf ya ..kepada dusanak  saya yang berasal dari negeri Jiran ini. Bukannya saya ingin lebih menonjolkan hasil ketrampilan wanita Indonesia – khususnya wanita minangkabau, maka hasil karya yang dipamerkan pada Ekspo itu, sungguh masih berada dibawah rata rata. Saya memberi penilaian begini ; Ibarat meracik sebuah masakan, ada  tiga rasa untuk menghasilkan masakan yang enak dan gurih. Yaitu terasa asamnya  – terasa asinnya dan terasa manis atau gurihnya. Untuk menghasilkan masakan itu,  tidak saja memenuhi unsur rasa seperti tersebut diatas, namun ada lagi yang lebih khas, yaitu yang disebut “ lakek tangan “ , istilah Minangnya. Bukan “ malakek tangan “ lho. Yang terakhir ini sangat jauh artinya karena menyangkut KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu – kita juga mengenal “ raso manenggang “. Jujur masakan “ raso manenggang “ ini mungkin dapat diumpamakan pada hasil masakan saya. Atau jualan kuliner yang serba tanggung – karena tidak tercipta antara “ rasa ‘ dan Citera”. Rasa itu tiga – sedangkan citera  adalah performance masakan itu.

Inilah penilaian yang saya berikan – ketika membandingkan hasil karya tangan perempuan Minangkabau yang berpusat di kota Bukitinggi dibanding hasil karya tangan perempuan Malay di Majelis Amanah Rakyat itu. Mengapa saya mengumpamakan demikian ?

Tidak lain karena, hasil karyanya belum menciptakan seni menjahit yang tinggi, yang mempersyaratkan kehalusan, keindahan, adanya gradasi warna dari ornamen ditampilkan. Bukankah semua itu memerlukan “ ketrampilan membordir “  yang lakek tangan bukan..????. Bukan hasil raso manenggang. Akhirnya penilaian yang dapat saya berikan adalah PDI – “ pado indak, kecek urang di Padang. Sekali lagi, untuk penilaian ini – saya menghaturkan maaf pada dusanak serumpun kita.

Rencana kami untuk menaiki Menara Petronas, kembali gagal. Tiket “ percuma “ (percuma = gratis..!?) untuk naik  ke Menara lagi –lagi habis, Saya merasakan kekecewaan hati seorang anak saya yang ingin mencoba suasana KL pada siang hari,  di ketinggian lantai 41 Menara itu. Padahal saya ingin menunjukkan ke unikan  Menara Kembar itu kepadanya, yaitu jembatan penghubungnya yang dibuat lentur – walau memiliki struktur yang kokoh. Saya pernah merasakan goncangan dan goyangan ba’ ayunan, dikala dulu saya berada disana sambil tidak puasnya berpose dengan bermacam gaya. Akhirnya untuk memuaskan hati, saya beralih membidikkan camera saya pada gaya wanita – wanita pekerja dengan baju kurungnya. Mereka adalah para karyawati yang sedang berativitas di perkantoran di Menara itu. Saya membidikkan camera kepada salah satu diantaranya. Walau senyum manis – tidak tersungging dari bibirnya perempuan Malay itu – saya mencoba untuk beramah tamah padanya bahwa saya akan mengambil gambarnya. Dan jadilah beberapa pose wanita Malay di camera saya. Suatu saat saya akan mencari tahu – mengapa ada kesamaan baju Malay itu dengan baju kurung kita. Siapa desainer awalnya ?. Ini yang menjadikan tanda tanya bagi kita, disaat tidak ada lagi batasan ruang, maka masing – masing negara akan berlomba menghimpun kekayaan intelektual. Kadang bangsa Malay ini – seakan menjarah semua hasil kreasi anak bangsa kita dalam bentuk nyata, seperti yang saya saksikan di TV 2 Malysia ketika saya masih di Hotel kala itu. Secara utuh saya ungkapkan apa yang saya saksikan kala itu : “ seorang  presenter sedangkan mempertunjukan 2 buah wayang – yang rupanya persis sama dengan wayang kulit di negeri kita. Ia menyatakan sebagai : Wayang is a creative art that is often encountered in our market Negeri Kelantan.  Wayang made of cattle skin, but We do not know the original from……. .

“ Hhaaahhhh………!!!!! Saya terperanjat dan bercampur marah. Benarkah – sebuah wayang – yang dengan bangganya orang Jawa sering mementaskan wayang semalam suntuk, perempuan malay – yang menjadi presenter TV2 – tidak mengenal asal dari Wayang ….???  Sayang ketika itu, saya  belum cekatan mengabadikan omongan perempuan Malay itu dalam bidikan video saya. Akhirnya tinggalah saya ngomel –ngomel tidak karuan mengingat peristiwa itu. Sudahlah ini memang saudara saya – yang mungkin kurang beretikan. Siapa tahuu…??? . Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita sambil mencari tahu bagimana – suasan negara bagian lain untuk menjadi kenangan saya dan menjadi kisah saya selanjutnya (bersambung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: