Melancong ke negeri Jiran : Singapore – KL

“ Nikmat mana lagi yang engkau dustakan…, demikian antara lain firman Allah SWT, yang disampaikan secara berulang ulang dalam Surah Ar – Rahman, untuk kita pahami agar kita selalu bersyukur kepadaNya. Saya termangu – mangu duduk diatas mobil yang kami tumpangi di jalan tol yang menghubungkan Singapore – Kuala Lumpur kala itu. Saya hanyalah rakyat biasa, namun saya mensyukuri betapa nikmat Allah yang diberikan kepada saya – akan saya nukilkan dalam kisah perjalanan, yang tidak saja bermanfaat bagi diri sendiri akan tetapi juga bari orang lain hendaknya.

Jam menunjukkan pukul 10.00, ketika kami meninggalkan rumah di Singapore menuju Malaysia. Di Center point, Singapore, cukup lama petugas administrasi memeriksa semua paspor penumpang yang berjumlah 7 orang termasuk seorang sopir. Perbatasan S’pore dengan Johor – Malaysia dilakukan dengan melintasi laut sepanjang k.l 1 km. Dan tanda perbatasannyapun cukup rumah kecil yang tak ada istimewanya. Terdapat perubahan yang cukup pesat pada ujung Semenanjung Malaysia ini. Center point, Johor – untuk pemeriksaan paspor lebih besar. Jembatan layang yang menghubungkan hingga jalan lingkar luar Negeri Johor – sudah sangat rapih. Lalu lalang pelintas batas antar kedua negara cukup padat. Mereka adalah para pekerja yang bekerja di Sinagpore dan berdomisili di Negeri Johor ini. Mereka menggunakan “ motorsikal “ sahaja.

Terasa ada perbedaan mencolok antara Malaysia dan S’pore. Memasuki Malaysia terasa kita masuk wilayah Sumatera. Bahasa Melalyu “ yang cukup aneh bagi kita membuat suasana di mobil kami mejadi gaduh.

“ Woww.. ada kedai gigi”, salah satu anak kami memulai pembicaraan. Saat itu diperjalanan banyak sekali kedai gigi. Maksudnya adalah di Indonesia disebut “ tukang gigi”.

“ Wah ada “pengurup uang berlesyen”. Geli juga kami mengartikan istilah itu. Kami menanfsirkan pengurup uang itu adalah “pengeruk uang”. Dalam bahasa kita berarti mengeruk uang secara tidak halal. Sehingga diartikan sebagai koruptor.

Banyak yang aneh dikuping kita , seperti :

Ind – English Malaysia Ind – English Malaysia
custom Clearence Kastam Petugas tol juru tol.
highway lebuh raya Kasir juru wang
show room untuk penjualan mobil Toko kereta baru hotel Rumah tumpangan
bengkel motor servis motorsikal Money changer Pengurup uang berlesyen
Salon kecantikan Salun gunting rambut dan persolekan staff Kaki tangan
Jual mobil bekas Jual mobil terpakai distributor pengedar

Di Malaysia ini banyak sekali “ pengedar”, yang di Indonesia selalui ditafsirkan sebagai penjual barang haram. Ternyata pengedar itu adalah distributor

“ kok kita tidak menemukan rumah sakit korban laki-laki ya…….kata saya.  Ternyata istilah ini sudah tidak kita temukan lagi. Istilahnya telah berganti menjadi “ klenik kesuburan”.

Mulailah mobil kami melaju dengan kecepatan tertentu  menuju KL, sejauh 385 km. Dikiri kanan jalan sejauh mata memandang yang terlihat adalah pepohonan kelapa sawit. Aku hanya tercenung … ini kah negara yang diam-diam telah membangun negaranya dari hasil perkebunan kelapa sawit melalui ekspor CPO terbesar didunia. Mereka banyak menggunakan  pendatang haram dari Indonesia sebagai buruhnya.

Konon kabarnya, banyaknya “pendatang haram” istilah Malay, bekerja di Malaysia ini tidak lain dari kecerdikan para cukong dengan aparatnya. Sewaktu mereka datang tidak berlesyen, aparat menutup mata. Setelah proyek/pekerjaan  selesai, barulah mereka memulangkan dengan istilah “ pendatang haram.”

Memasuki jam makan siang kala itu, kami beristirahat di pinggiran Lebuh Raya (tol), pada  kawasan Medan Selera (food court) dengan manikmati masakan khas melayu di wilayah Seremban Negeri Sembilan. Medan Selera ditandai dengan bangunan atap bagonjong – bangunan ba‘ rumah gadang di Ranah Minang. Lebih lebih suasana Minangkabau – akan terasa, manakala kita berjumpa dengan wanita berbaju kurung – ba‘ amai amai kita serta Datuk yang kita jumpai di kota Bukittinggi. Yang terasa dihati saya kala itu : „ ondeh lai basobok jo dusanak awak mah…“. Di Kedai – kedai selera itu, ada masakan balado dan ada yang bersantan. Semua menerbitkan air liur, kamai yang tengah dilanda rasa lapar, seperti : sayur pucuk Perancis, gulai rebung, terong balado, gulai basantan. Alah mak… batitiak salero… Murah meriah dengan hitungan RM, yang jika dirupiah sama Rp 30.000,- per kepala. Nah.. lagi – lagi teringat saya akan negara kita, mengapa ditempat peristirahan di  Lebuh Raya, semisal Jakarta – Cikampek –  Cipularang, Bandung, justru yang menonjol adalah hasil makanan bangsa bule. Seperti Pizza Hurt, AW, KFC, M’donald. Tolonglah dikoreksi oleh Penguasa baru nantinya, demikian saya berharap.

Ketika kami sampai di KL, semula kami merencanakan naik Menara Petronas yang menjadi kebanggaan bangsa ini. Ternyata kesempatan kami untuk naik ke Menara Petronas – kali ini gagal, tidak seperti sebelumnya. Tiket „ percuma“ yang ingin kami peroleh keburu habis. Kami berharap besok hari dapat memasuki Menara itu, seperti tahun lalu. Oleh karena itu, waktu luang yang ada kami gunakan untuk berkunjung ke Genting Highland sekarang. (bersambung)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: