Republik Catur

Dari kiri ke kanan, raja putih, benteng dan menteri hitam, pion putih, kuda hitam, dan gajah putih.

Kata catur diambil daribahasa sanskerta yang berarti “empat”. Namun kata ini sebenarnya merupakan singkatan dari caturangga yang berarti empat sudut. Di India kuno permainan catur memang dimainkan oleh empat peserta yang berada di empat sudut yang berbeda. Hal ini lain dari permain catur modern di mana pesertanya hanya dua orang saja.

Kemudian kata caturangga ini diserap dalam bahasa Persia  menjadi shatranj. Kata chess dalam bahasa Inggris  diambil dari bahasa Persia shah. Dalam artikel ini bukan teknisnya yang akan kita perbincangkan, namun adalah filosofi kerja catur dalam percaturan politik

Dikeluarga kami– aku bersaudara tidak ada yang hobby bermain catur. Berbeda dikeluarga suami – para ipar, pambayan (suami sang ipar) semua memilik hobby bermain catur. Dimataku – para anggota kerabat itu – menjadi orang yang tidak peduli dengan lingkungannya. Saking tidak pedulinya – tinggalah para isteri-isteri mereka mengomel tidak karuan melihat polah dan tingkah laku yang agak egois ini.   Entah apa yang menyebabkan mereka mencintai catur, karena catur menawarkan tantangan yang berbeda di setiap pionnya.. bukan ??? segan bertanya dengan para ipar lebih baik aku bertanya pada teman-teman dikantor. Apa sih yang menjadikan pecatur itu penasaran dan memiliki tingkat egoisme yang agak lumayan?

Yang kuamati dari bermain catur adalah, permainan ini bersifat teka-teki, seperti bermain scrabble dan mengisi teka-teki silang. Kebanyakan pria yang statis – tidak memiliki kosa kata yang cukup banyak untuk berbagi cerita,  sangat mengagandrungi permaian catur ini, karena mendorong rasa penasarannya Meski sudah bisa, rasa penasaran dan ingin terus bermain selalu muncul. Lagipula ini dapat menstimulus daya pikir otak. Hal ini tentu berbeda dengan pria yang atraktif – dinamis, sehingga tidak akan mengkin ia mampu berlama-lama menatap sepenuh hatinya pada buah – buah catur itu. Padahal bermain catur memiliki strategi tertentu yang tak kalah dengan peran yang dimainkannya dalam kehidupannya.

Untuk mengikis rasa penasaranku, aku bertanya pada sahabatku – Saud Maruli Siregar orang Tapanuli.  Hal yang lumrah bila kita bertanya pada ahlinya.. bukan ??

Didalam negara Republik Catur – begitu istilahku, ternyata permainan ini didukung oleh masing-masing para anggotanya yang terdiri, pion 8 buah, benteng 2 buah, kuda 2 buah, gajah 2,  menteri1 buah, raja 1 buah. Untuk keberhasilan dan pencapaian kemenangan berarti dibutuhkan 32 buah kekuatan.

Etika politik yang berlaku didalam republic ini adalah mencari ; peluang – kesempatan dan kelengahan lawan. Siapakah yang diharapkan dapat mendukung kemenangan dalam Republik catur ? Semua anggota – anggota yang tersebut diatas. Boleh jadi kedudukan pion memiliki kemampuan yang cemerlang manakala ia berjalan terus tanpa penghalang kecuali dia dijegal. Bagi anggota – anggota republic catur , masing-masing memiliki tugas dan fungsi seperti halnya dalam kehidupan bernegara. Ada sispro (system dan prosedur) yang wajib ditaati. Juga memiliki visi yaitu maju kedepan menuju satu tujuan untuk memenangkan pertandingan. Bagaimana merealisasikan visi tersebut ? Ialah melakukan kiat – kiat tertentu. Disinilah peran dari para Timses. Memang menimbulkan perang urat syaraf untuk memenangkan suatu pertandingan.

Pesta demokrasi Pemilu 2014 sudah di depan mata. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyelesaikan sebagian tahapan-tahapan kerjanya dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Pemilu tersebut. Tahapan-tahapan kerja dimaksud ditetapkan di dalam Peraturan KPU dan peraturan lainnya

Strategi politik Capres  – seperti  “permainan catur yaitu, memutar-mutar langkah dengan maksud membingungkan lawan.  Ada yang  mencoba memberi kesan “siap“ dan meyakini public atau arah  lawan bermainnya.

Apakah ia berposisi sebagai pemain atau ia beperan seperti kuda hitam atau kuda putih ? Rakyat adalah pion dalam percaturan politik. Ia mampu mempromosikan Kuda, Gajah, Benteng dan Menteri. Sebaliknya pion pun akan dilindungi oleh para pembesar di Republik Catur itu. Bahkan ia mampu mengambil posisi yang menentukan dalam percaturan politik. Sebagaimana orang bersorak menyaksikan percaturan ketika sebuah pion melakukan Skaakk Ster…….

Jika Tim Sukses bertindak sebagai pemain catur dia harus mampu membaca apa yang akan ia lakukan. Ia memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir. Percaturan politik sekarang ini berbeda dengan masa dahulu.  Pada Pilpres tahun 2009 ini, terdapat 3 pasangan capres dan cawapres untuk kita pilih dengan strategi yang sulit diduga dan mungkin hasilnya tidak disangka sangka. Sekarang hanya 2 pasangan Capres/Cawapres. Keduanya memiliki kesempatan untuk memenangkan pertandingan urat syaraf ini. Boleh saja mengusung ekonomi rakyat  – ekonomi kreatif atau ingin melanjutkan semua program yang masih terbengkalai. Perdebatan capres membuat hati deg degan – karena takut calon itu tabrakan atau tersungkur sebelum mencapai tujuan. Tentu menjadi tanda tanya kita pula “ mau dibawa kemana negara ini…?????

Demikianlah baik kuda maupun  “raja” harus bisa mengelak dan melangkah bahkan apabila ada menteri dan pion-pion yang ingin menghambat maka menteri-meteri dan pion-pion tidak mampu menghambatnya. Keboleh jadian seorang tokoh bisa diskak oleh seorang kuda hitam. Siapakah yang berperan sebagai si Kuda Hitam/Putih dalam percaturan politik kali ini ? Ternyata banyak sekali. Ia bisa mencomot siapa saja. Bila seseorang kena skak kuda. Jadi urusan pengadilan tampaknya. Begitulah yang kita lihat pada perselisihan antar Tim Sukses para Capres dan Cawapres itu. Atau dari pihak pihak yang membawa kampanye hitam

Kadang – kadang saya berpikir… Hemmmm sebenarnya Tim Sukses itu – kan ibarat “ kudo palajang bukik “ kata bundaku dulu. Sering benar ku dengar kalimat ini. Dan baru sekarang kusadari maknanya ;, bahwa seekor kuda – tidak lain adalah bagai kuda beban – yang kemudian ditinggalkan oleh penunggangnya.

Mudah – mudahan pemilihan Presiden tahun 2014 ini dapat berjalan aman dan damai. Lebih lebih kepada kuda pelajang bukik itu tidak mengalami kekecewaan, andaikan ia ditinggal oleh penunggangnya. Begitu pula sang pemain catur yang telah menoreh urat syaraf pemain dan penonton hingga titik penghabisan dapat kendor hingga akhirnya kita menemukan “ pemimpin Indonesia yang memang layak untuk memimpin bangsa ini. Semoga saja. Amiin.

 

Diedit dari artikel 6 Juli 2009 dalam judul yang sama, saat menyambut Pilpres 2009

Puspiptek, 17 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: