‘ City Tour in Sydney (2) ‘

The Padish Market, Darling Harbour, China Town, and Circle Quay

Hari ini kami menjelajahi kota Sydney dengan naik kendaraan umum. Mulailah perjalanan diawali dengan naik bus kota yang harga Aus $ 2.4.

Sampai di pusat kota “ City” kami mampir ke toko coklat yang katanya murah. Ternyata rupiah kita tak terkejar dengan dengan nilai dollar Australia $ 1.- setara Rp 7800,-. (kurs Rp di Aussie).

Terbayang sanak saudara yang akan dioleh-oleh coklat begitu banyak, Akhirnya aku menghitung jumlah kepala keluarga yang ada di keluarga besar  kami. Alhasil aku membelanjakan uang sejumlah Aust $ 36.-.

Hayoo hitung berapa rupiahnya……………….

Dari padish market kami mencoba menaiki monorel yang route cukup pendek yaitu China town, darling harbour, circulair quay. Tidak ada yang istimewa pada Darling Harbour. Daerah ini adalah pelabuhan Sydney – seperti Tanjung Periuk Jakarta. Pelabuhannya bersih.

Aku terheran-heran mengapa airnya bening dan tidak tercemar olie seperti di Indonesia. Setelah shooting camera, perjalanan dilanjutkan ke kearah circulair Quay. Cukup jauh kami berjalan namun tetap terasa nyaman karena udara bersih dan dingin. Tidak terlalu berkeringat.

Di circulair Quay kami bertemu dengan “Capten Cook”, manusia pertama yang menginjakkan kaki di kota Sydney dari Inggris. Gak salahnya jika aku berfoto sejenak dengannya.

Yang aku rasakan kenikmatan dalam berjalan kaki di Sydney  ialah ketika kita sering menyaksikan di TV bagaimana suasana kota di luar negeri – orang berjalan berbondong-bondong,  melangkah tegap dan dipersimpangan jalan mereka menunggu dengan tertib hingga saat lampu hijau menyala – barulah mereka menyeberang beramai-ramai. Tertib sekali tampaknya. Walaupun kita tidak boleh membandingkan dengan Negara kita, namun bolehlah  aku menceritakan bahwa ini kembali kepada kedisiplinan yang ditegakkan oleh aparat serta perangkatnya yang sangat memadai.

Para pengemudi kendaraan cukup santun menghargai pejalan kaki. Apabila lampu hijau menyala, pengemudi dengan tetap memberikan kesempatan kepada pejalan kaki.

Aku mempunyai obesesi tentang pengaturan lalu lintas, bila diterapkan di Indonesia,khususnya Jakarta. Bahwa setiap pengendara mobil harus mendahului pengendara mobil yang berada di sebelah kanannya. Mata pengemudi cukup melirik mobil sebelah kanan sehingga dijamin tidak adakan terjadi kecelakaan, apabila dipersimpangan tidak terdapat lampu merah.

Di Sydney ini, aku mempunyai pengalaman buruk – ketika aku dan Dewi tidak mengerti bagaimana cara menyebrang jalan. Kami pernah menunggu selama bermenit-menit, di penyebarangan jalan. Lampu hijau bagi penyebrang jalan, tidak kunjung menyala. Kami panic. Gimana nih.. lampu pejalan kaki tetap berwarna merah.  Kami baru sadar bahwa dipenyeberangan jalan itu, terdapat tombol untuk ditekan – agar dapat menyalakan lampu hijau bagi penyebrang pejalan kaki.  Kami tertawa ngakak.. inilah si melayu..jalan-jalan ke Manca nagara.

Ketika di “Opera House – kami semua sadar bahwa hari sudah menunjukkan jam 14.30. Belum sholat dzuhur. Ada bu haji yang tidak boleh melalaikan waktu sholatnya. Terus terang diNegara non muslim – tentu tidak punya tempat untuk melaksanakan sholat. Akhirnya dengan dalih kedaruratan, maka kami semua tetap melaksanakan sholat dengan cara bertayamum. Aku menepukkan tanganku pada badan omzil yang jaketnya sedikit berdebu dan mengambil wuduk dengan cara bertayamum.

Menyadari waktu dzuhur menjelang habis sementara kewajiban sholat harus ditegak kan, maka kami melaksaknakan sholat sesuai dengan tuntunan agama kita, yaitu ; dengan cara ber tayamun.

Hal ini kami lakukan bahwa tempat sholat tidak kami temukan, air untuk berwudhukpun juga tidak ada, termasuk arah kiblat tidak diketahui. Aku sholat di bangku taman, demikian pula yang lain. Masyarakat yang beralalu lalang menyaksikan kami dengan rasa heran. Mungkin ini muslim atau adakah penganut agama lain yang melakukan sholat sambil duduk.

Alhamdulillah tidak ada hutang sholat saat itu, karena kami melakukan sholat jamak takdim  qoshar 2 – 2 rakaat dzhuhur dan asyar.

City tour kami kali ini, memang sengaja dilakukan menjelang senja, karena kami akan melakukan shooting camera dengan focus membidik burung camar yang sangat banyak berkeliaran di sekitar lokasi teluk dan pantai.

Binatang ini sangat jinak dan mereka akan menghamburan menghampiri kita, apabila melempari mereka dengan makanan.

Shooting yang penting lainnya adalah ingin mengabadikan suasana sunset dengan latar belakang harbour bridge dari atas ferry yang routenya Circulair Quay – Rose Bay tempat kami tinggal.

Perilaku kami persis seperti anak-anak. Ferry yang kami naik melaju kencang bahkan sedikit “ngepot” jalannya. Kami sibuk pula berebut agar dapat diabadikan posenya. Entah apa komentar para bule – yang menyaksikan tingkah dan polah kami. Para Bule itu, umumnya para pekerja yang akan pulang kerumah disepanjang tepian teluk kota Syd.

Hari sudah jam 7 malam. Kaki sudah sangat pegal. Besok jam 7 pagi kami harus siap lagi untuk melanjutkan tour ke ibu kota Negara Aussie  ”Canberra”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: