Independence Day in Sydney 2006

Disaat ada anggota keluarga besar kami bertugas di Sydney, Australia, saya mengikhtiarkan suatu saat saya bisa merayakan HUT RI bersama masyarakat Indonesia disana. Lebih dahulu harus beroleh izin dari kantor. Saya bersyukur, ternyata atasan saya menyetujuinya. Setelah itu mengurus Visa. Ternyata tidak mudah mengurus Visa masuk ke negara Paranoid seperti Australia. Banyak persyaratan yg harus saya persiapkan. Mulai dari hubungan kekerabatan hingga kemampuan keuangan. Pada waktu kritis, dalam hitungan jam saja, akhirnya visa keluar 10 jam jelang keberangkatan. Masya Allah.
Setiba di bandara Internasional Sidney, seperti orang desa masuk kota, kami clingak clinguk saat check out yang akhirnya kami diperkarakan petugas imigrasi Australia yang rata rata perempuan gaek semua. Galaknya minta ampun… !!
Karena nama yg melekat pada paspor dianggap berbau menakutkan mereka, akhirnya wajahku di scan dan meminta sidik jariku. Ya ampun…penakutnya kamu Aussie..
Akhirnya tamu dari desa Setu, Serpong tertahan cukup lama karena harus mendeclair pula barang bawaaannya.
Demikianlah saya dijemput oleh 2 orang ponakan saya setelah menunggu k.l 2 jam lamanya.
Setiba kami di tempat kediaman Konjen RI – Sydney Australia atau Wisma Indonesia, suasana Wisma telah dipadati masyarakat yang akan melaksanakan upacara penaikan dan penurunan bendera.

Di kota Sydney terdapat k.l 30 ribu masyarakat Indonesia yang terdiri dari 42 komunitas baik karena suku, agama dll.

Suasana yang saya rasakan, bahwa Wisma Indonesia itu bagaikan ” Rumah Gadang” bagi masyarakat Indonesia. Di saat itu mereka akan bertemu dengan kerabat dan handai tolannya sesama bangsa Indonesia.
Saya turut merasakan, entah bagaimana perasaan yang berkecamuk dihati mereka. Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dan bendera merah putih dikibarkan… Yang menjadi Pembina upacara adalah Konsul Jenderal. Sebagai peserta upacara adalah keluarga vapak Konjen yaitu Isteri, anak-anaknya. Di barisan itu berdiri pula diriku bersama beberapa anggota rombongan dari Jakarta. Kami ikut tegap berada diantara para peserta upacara.
Para peserta upacara, umumnya anggota masyarakat yang sudah bermukim lama di Australia. Diriku meyakini bahwa dilubuk hatinya, mereka memandang Indonesia sebagai tanah air yang tak akan terlupakan. Namun apa daya, nasib dan peruntungan telah mengantarkan mereka menjadi warga negara kelas dua dinegeri Kangooroi itu. Meskipun mereka telah memiliki Permanent Resident yang tak akan pernah pulang ke Indonesia. Bagi pemilik Permanen Residen mereka memiliki jaminan social atas masa depannya. Diantara mereka sudah menjadi generasi kedua dari generasi terdahulu dan diantaranya sudah memiliki posisi yang baik di Australia.

Di Wisma tersedia aneka acara, antara lain; tari poco-pico, organ tunggal untuk mengiringi lagu-lagu Indonesia. Para tamu yg datang banyak yang tidak ingin segera meninggalkan Wisma. Wisma menjadi terasa kecil dan sempit. Para tamu setia menunggu acara dari pagi hingga sore harinya yaitu saat upacara penurunan bendera.
Para tamu yang memadati Wisma Indonesia, pulang kerumah masing mading pada jam 10 malam. Mereka pulang sambil membawa menu-menu yang masih tersisa, sehingga makanan yang dibawa pulang dapat dinikmati bersama keluarga mereka dirumah.
Pada acara penaikan dan penurunan bendera itu, pihak Wisma Indonesia menampilkan menu makanan bagi para tamu, yaitu ; soto bangkong, pempek palembang, dll.

Pada meja Buffe , tersedia rendang lengkap dengan menu lainnya. Ada soft drink dengan appetizer ala menu – ibuku. Pada sore harinya, terhidang pula : soto mie, pempek, minuman skoteng.

Suasana itu, benar-benar perhelatan yang dipersiapkan secara natang oleh seorang “ bundokanduang”.
Aku tak menyangka bahwa inilah pekerjaan seorang isteri diplomat yang tidak tertulis uraian tugasnya, namun harus dikerjakan dengan sempurna – agar masyarakat di manca negara tetap terhimpun dalam satu kesatuan bangsa Indonesia disaat National celebration diselenggarakan.

Keesokan harinya, pagi hari itu, pihak Wisma harus membersihkan semua perlengkapan dan peralatan makanan dengan sampah yang sudah setinggi gunung. Subhanallah, pada bulan Agustus ini – udara kota Sydney, dingin luar biasa. Sayangnya saya tidak mengabadikan suasana kala itu, ketika ruangan belakang Wisma Indobesia itu dipenuhi peralatan dan piring bertumpuk tumpuk .
“ saya berdecak kagum, betapa berat tugas seorang isteri dalam mendampingi tugas suami.
Saat tampil dihadapan masyarakat Indonesia, penampilan harus anggun dalam busana nasional. Harus ramah menyapa tamu. Setelah usai acara, ada tugas rumah tangga telah menanti. Adanya onggokan sampah dan peralatan masak yang belum dicuci – dan harus dibenahi. Inilah yang tidak pernah dibayangkan oleh para tamu – mungkin juga para staf diplomat dan lokal, bagaimana suasana seusai pesta besar itu.
Sekali lagi tidak ada uraian tugas yang tertulis „ but it must be done.

Kepiawaian meramu menu – bukan kepiawaian sesaat saja. Butuh pengalaman, didikan masa kecil – ikut mendukung kinerja Ibu rumah ini. Meramu menu dengan cita rasa yang tidak boleh bersifat sukuisme – mentang-mentang berasal dari Minang. Karena simpati orang dikala kita menjadi orang nomor 1 di Manca Negara, harus diraih se maksimal mungkin agar Bapak/Ibu Konjen tetap dikenang – disaat telah meninggalkan negeri itu.
Wisma Indonesia harus menjadi rumah yang terbuka bagi seluruh WNI. Agar WNI yang menumpang hidup dinegeri orang itu dapat merasakan hidup dirumah sendiri.

Luas kota Sydney 6 kali wilayah DKI Jakarta. Orang Indonesia disini harus benar-benar meluangkan waktu untuk datang ke Wisma. Mereka akan enjoy – happy – disaat national day atau event lain yang diselenggarakan oleh pihak Konsulat, karena disinilah mereka akan bersua dengan masyarakat Indonesia lainnya.

Sydney, August 20, 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: