Catatan Perjalananku Ke Negara Kangooroo (1)

Tepat jam 11.00 tanggal 16 Agustus 2006, akhirnya visa dari Kedutaan Australia untuk izin masuk ke benua Australia berhasil diperoleh. Aku memantapkan diri bersama Dewi –saudaraku untuk berangkat jam 9 malam itu dari Jakarta dengan menggunakan pesawat Qantas…. Dalam keadaan tergesa-gesa aku menyiapkan baju – baju yang diperlukan selama di Aussie nanti. Semua harus serba cepat dan tergesa-gesa, karena semulanya perjalanan ini penuh dengan ketidak pastian saat pemberangkatannya, ternyata sudah didepan mata.


Negara Australia sempat kukatakan sebagai negara paranoid. Betapa tidak. Untuk memperoleh visa aku harus mempersiapkan tetek bengek data, a.l : Bukti kemampuan keuangan minimal 40 juta, surat izin suami, bukti hubungan sister in law dengan Konsul Jenderal RI Drs. Wardana dan data wajib lainnya. Membuktikan hubungan sister in law dengan Konsul Jenderal tidak terlalu mudah bagiku, sehingga kami perlu menunjukkan bukti melalui akta nikah dimana Ibu konjen dan aku berayahkan sama binti Djamaludin.


Kilas balik perjalanan inin harus dilalui dengan penuh lika liku. Betapa tidak menggiurkan bagiku, ketika setahun sebelumnya kakakku “if Wardana” menceritakan, betapa indah dan cantiknya kota Sydney. Ia mengajakku untuk berkunjung kesana

Bagi kakakku, dimana pun ia berkesempatan tinggal di luar negeri mulai Amerika, Eropa dan Jepang tentu ia dapat membandingkan keindahan satu kota dan kota lainnya di mancanegara. Benua Australia cukup dekat dengan Indonesia. Dalam pandangannya, Aussie masih mudah terjangkau dibanding dengan Negara yang pernah ia tinggali. Keseriusan untuk mengajakku ke Sydney disampaikannya lagi awal tahun 2006 ini, disaat rombongan ibu-ibu tetangga di kompleks Buaran Regency, berencana berkunjung ke sana. Namun banyak faktor yang menjadi alasan aku tidak dapat memenuhi ajakan ini.


Nah .. ketika If menjanjikan 1 tiket, agar aku dapat berkunjung ke Sydney, langsung aku sambut dengan perasaan senang luar biasa serta tidak lupa minta izin kepada suami tercinta. Sebenarnya bila aku dan suami dapat berangkat bersama seperti kami menikmati perjalanan haji dulu, maka tentunya akan lebih gembira. Namun karena kendala biaya perjalanan yang cukup tinggi dengan harga tiket US $ 740, tentu sangat berat bagi kami.

Keberangkatan hari ini, kami awali dengan rasa percaya diri, dengan mengucapkan “Bismillah” meskipun terselip perasaan kawatir. Namun karena semangat untuk menghadiri perayaan 17 Agustus 2007 di Manca Negara, sebagaimana yang aku inginkan, maka perasaan kawatir tersebut sedikit sirna dari hati ini. Ini adalah perjalanan ke luar negeri pertama bagi kami, walaupun ke Saudi Arabia aku pernah, tentu perjalanan ini berbeda dengan pergi haji. Australia adalah negara yang kurang bersimpati dengan Indonesia – yang dikatakannya sebagai gudang teroris. Sementara kedutaannya di Bom beberapa tahun yang lalu.

Di pesawat – telah dipenuhi penumpang hampir 90 % WNI yang bermata sipit untuk berlibur ke Australia. Bagi mereka dengan hanya membayar tiket US $ 540 untuk perjalanan 5 hari yang saat itu sedang mengalami libur panjang mudah saja bukan.

Pukul 06.35, pesawat mendarat di Bandara Port Botany “Kings Smith”. Aku berdecak kagum. Inikah namanya Mancanegara yang menjadi idaman setiap orang. Hamparan karpet biru bagaikan kami memasuki hotel bintang lima. Bagiku sangat mewah bila dibanding Bandara Sokarno Hatta Jakarta. Masih terngiang ucapan If dalam candanya, apabila kita baru pertama kali keluar negeri, jangan lupa perhatikan petunjuk yang ada sekitar. Kalau ada tulisana “ Baggage” , itu berarti pertunjuk bagi orang Minang, agar bagage (cepat-cepat) jalannya . Kalau ada tulisan “ Sale”, itu petunjuk bagi orang Betawi agar jangan melakukan kesalahan. “Sale kate atawa sale jalan”.


Sambil memasuki ruang chek – in , gurauan itu aku lontarkan ke Dewi…

.. Ayo Wi … bagage awak…. Itu baco tulisannyo. Maka cepat-cepat kami melangkah sambil setengah berlari mengikuti langkah penumpang lainnya yang badannya tinggi-tinggi. Perjalanan yang menggembirakan, kami buka dengan canda yang tak habis-habisnya.


Antrian penumpang sangat banyak pada pagi itu, karena selain dari Jakarta terdapat pula para penumpang pesawat lain yang entah dari mana datangnya. Guna menghindari petanyaan yang bukan-bukan atas penampilanku yang menggunakan topi penutup kepala, ketika di pesawat aku melepaskan topiku. Rupanya ini menjadi bencana bagi kami. Kami dijaringnya. Sebagai orang yang baru pertama berkunjung ke Aussie, kami digiring ke counter lain dan paspor kami di scanning oleh petugas imigrasi. Yang menjadi petugas rata-rata sudah berusia sudah diatas 40 tahun. Sikap dan tindakan mereka sangat tegas. Hampir 45 menit aku menjalani antrian ini.


Ketika memasuki ruang pengambilan bagasi – kami tak berhasil menemukan kopor. Melalui petugas aku menanyakan keberadaan kopor.

„ Please check your flight number and look at the display” demikian kata petugas yang bertampang Melayu menjelaskan. Semulaaku kira Ia orang “ Indo”

Berputar-putar kami mencari dispaly dimaksud. Wong deso Iki piye tho….

Rak understand mencari kopore….. ucapku dalam hati. Akhirnya kami menemukan display yang dimaksud serta menemukan flight number pesawatnya. Saat itu… hanya kopor kami saja yang masih tertinggal dan berputar-putar di ban berjalan itu\.


Langkah berikutnya kami memasuki ruang pemeriksaan barang dan custom declare. Waduh karena terlalu mempercayai seorang wanita China di pesawat pada saat mengisi formulir custom declare, dimana ia menyarankan agar menambah kalimat “ personal in use” atas obat-obat yang kami bawa, maka kami dioper-oper petugas pemeriksaan. Kami sempat panic, karena proses antrian awal hingga saat ini telah berlangsung 2 jam lamanya. Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa Inggris yang entah benar entah tidak.

I just bring a little medicine… madam. But it is personal in use. Entah karena mengerti atau karena apapun namanya, akhirnya kami lolos dalam pemeriksaan yang terasa berbelit-belit itu. Kami dijemput oleh Danif dan Ruci– keponakanku, yang kelihatan sudah gelisah, karena sejak pendaratan pesawat mereka telah menunggu kami 2 jam lamanya.

Perjalanan dari Bandara menuju Wisma Indonesia ditempuh selama setengah jam. Saat ini aku merasakan tidak ada keistimewaan dari suatu kota besar, karena kami melalui daerah pemukiman penduduk yang rumahnya kecil-kecil dan mungil. Dengan rumah type 45 dan luas tanah 100 m2, apakah mereka tidak sempit mendiami rumah ini. Kompleks perumahan yang kulalui itu persis seperti BSD City – Tangerang tempat tinggalku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: