sendal jepit mahasiswa

Sambil mengasuh anak, semalaman ini saya belajar dan mengulang dan mendalami ilmu yang kupelajari dibangku kuliah. Walau sudah beberapa kali protes kepada Dekan salah satu Fakultas Hukum PTS yang berlokasi di Kalimalang – Jakarta itu, agar saya tak diberikan mata kuliah sisa, tetap saja tidak memberikan hasil.

Tahukah mata kuliah sisa itu ? ialah mata kuliah yang berkategori Applied Science – yang biasa dosen lain tidak sudi mengajarnya. Begitulah mata kuliah ” Perbandingan Hukum Perdata ” harus dikuasai. Bagitu aku menguasainya.. pada jadwal semester berikut aku disuruh memberi materi Hukum Dagang. Hukum Internasional kemudian hukum agraria. Duh..Tidak ada mata kuliah yang tetap.

Jika hal ini di klaim – Dekan itu berkata : Sudahlah Bu… saya tahu kapasitas Ibu. ndak ada yang mau pegang mata kuliah ini. Atau dia sering berkata..Tolong bu.. nilainya jangan pelit. Kita mau naik peringkat nih…
Atau dia berkata : ” Jika anak-anak kita rendah IPnya… mereka gagal memasuki dunia kerja.

Seperti biasa, demi memenuhi hasrat menjadi guru bagi siapa saja, maka setiap saya mengajar saya berangkat dari rumah mengggunakan angkutan umum dari Serpong dengan cara : naik angkot roda niaga menuju Tangerang, kemudian naik Patas Aja di Kebun Nanas – Tangerang.

Setelah itu bus akan melintasi kota Jakarta dan pada akhirnya saya turun di perapatan Halim, nyambung naik mikrolet jurusan Kalimalang Bekasi. Jangan berpikir untuk naik kendaraan pribadi – honor mengajar tidak akan mampu mengimbangi biaya bensin dan tip seorang sopir. Honornya kecil… Akan tetapi bagi saya tak jadi masalah. Karena ketika kita bertatap muka dengan para mahasiswa/i yang muda belia dan cantik. Amboi hati ini rasanya sejuk dan bahagia. Apalagi sang mahasiswa manggut manggut karena mengerti atau pura pura mengerti. Ini juga tidak penting. Bagi saya hasil akhir, akan dapat dilihat pada hasil ujian semester mereka. Saya selalu jujur memberi nilai. Tidak peduli IPnya akan rendah. Bukankah kualitas harus dijaga.
Demikianlah hari itu udara kota Jakarta sangat panas. Saya berangkat ke kampus dengan perjuangan. Walau badan bekeringat wajah dosen yang imut itu tidak boleh ” lusuh dihadapan mahasiswa. Ini menyangkut ” performance” dan kadar intelektual.

Apa dinyata.. ketika saya berdiri dihadapan kelas – menyusullah – tiga orang mahasiswa berambut gonrong dengan celana jeans butut dan sendal jepit. Dengan wajah tanpa dosa – beliau beliau itu masuk dan duduk dibarisan belakang. Kesan petantang petenteng sedikit muncul dari wajahnya. Mahasiswa yang lain seakan tak peduli dengan sikap mereka.
Oh… rupanya mereka aktivis kampus…Cak ilah… aktivis kampus ?? memangnya saya ndak pernah merasakan…..
Hati saya mendidik dan dengan suara keras saya berkata : ” Saudara saudara .. saya ingin bertanya, dimanakan saudara duduk saat ini….???
Diruang kuliah… bu… seorang mahasiswa yang betubuh tambun menjawab lantang.
” yang lain…. mana suaranya…? kata saya.
” Oh… iya… ya… diruang kuliah…Bu.

Tahukah Anda .. bahwa sebenarnya para mahasiswa itu tidak 100 % hatinya siap menerima mata kuliah saya. Ada yang duduk berpasangan sambil bercakap-cakap mesra. Ada Para mahasiswi tersenyum centil diantara mereka.
Okay…. lanjut saya. Ruang ini bukan rumah.. bukan kamar mandi dan bukan di pasar..!! Bagi yang merasa menggunakan sandal – apalagi sandal jepit di ruang kuliah ini… silakan keluar..!!!perintah saya.
Akhirnya suara bak lebah diruang itu diam dan membisu. Saya mengambil wibawa di kelas itu. Posisi 1- 0. Saya mengitari ruangan. Tiga mahasiswa yang saya usir secara halus itu tidak juga memberikan reaksi. Ternyata kemudian – mereka disadarkan oleh temannya karena pemberian materi terhenti sudah hampir setengah jam.
” Maju… Maju… bisik temannya. Beri alasan…
Kemudian satu orang diantara mereka maju menghadap saya.

” Bu.. maaf bu, kami dari tadi malam memang belum pulang kerumah.Kami ada kesibukan di Senat. Ada kegiatan kampus, demikian alasannya. Maafkan kami … Bu.
” Okay… karena ruang ini dimata saya bukan rumahmu – bukan kamar mandi, silahkan keluar, kata saya.
Suara hiruk pikuk bergema di ruang kelas itu. Mereka memaksa temannya itu untuk keluar dari ruangan. Saya yakin pasti ada yang setuju dan ada yang tidak setuju.
” Huuh… sok benar.. ibu ini .. bathinnya.
Bagi saya biarlah saya disebut ” Dosen Killer “. Saya masih memegang idealisme, seperti yang saya dapat dikampus saya dulu.
Entah mereka memang tidak menyukai sikap saya, yang jelas beberapa kali kuliah sesudahnya, anak anak itu tidak pernah mengikuti kuliah saya.
Setelah itu……, aneh tapi nyata – satu diantara mereka menulis surat dikertas ujiannya pada saya :
Ibu Hifni yang terhormat. Maafkan saya, selama ini tidak mengikuti kuliah ibu berhubung banyak program senat yang mesti saya lakukan. tolonglah ibu memahami posisi saya. Agar saya bisa lulus pada mata kuliah ibu. Kasihan orang tua saya dikampung… Bu.
Saya termenung akan tetapi idealisme tetap dijaga. Saya berprinsip ; Jika nilainya memang C murni akan saya luluskan …!! (Biasanya saya menggabungkan kehadiran dan tugas dalam ujian akhir semester). Setelah saya periksa hasil ujiannya. Ternyata ia memang tidak mampu menjawab.
Jika ada sedikit kaedah disiplin ilmu yang ditulisnya, mungkin dia akan saya bantu. Namun.. ia tidak mampu menyampaikan kaedah disiplin ilmu itu. Akhirnya nilai D terpaksa saya berikan padanya. Walau nilai E paling pantas untuknya.
Tahukuan Anda… siapa anak anak mahasiswa itu…????  Mereka adalah anak-anak yang menimba ilmu ke ibu kota dengan dibiayai dengan keringat orang tuanya.. Saya sedih.. tapi apa mau dikata…

Satu Tanggapan to “sendal jepit mahasiswa”

  1. Itu lah susahnya jadi mahasiswa… Kalau nggak pandai membagi waktu bisa bahaya… Semua jadi kacau balau…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: