Travelling di tiga negeri dengan si Ipah (3)

Negeri Lancang Kuning – negeri tulang salapan karek perantau Minangkabau.

Lancang Kuning, Lancang Kuning

Berlayar malam hai … Berlayar Malam

Haluan menuju … Haluan menuju ke laut dalam…

Ini sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Papa kami ketika beliau masih ada bersama kami. Katanya lagu ini adalah lagu melayu yang biasanya diiringi oleh music gambus bagi anak muda zaman doeloe. Saat mengenang lagu itu pula, rombongan kami meninggalkan kota Medan di pagi hari yang dingin pada jam 05.00, selepas sholat shubuh. Pasti diantara Anda pernah mendengar nyanyian tua itu bukan… ??

Lancang Kuning …. ? Ya itu adalah sepotong bait lagu rakyat Riau, yang beberapa jam kedepan kami akan menuju kesana. Lagu Lancang Kuning adalah lagu rakyat yang sangat populer di Riau, negeri yang akhirnya dijuluki Bumi Lancang Kuning.


Dalam sebuah versi sejarah Melayu, kapal Lancang Kuning legendaris itu teng­gelam di Tanjung Jati, perairan Bengkalis. Tak terurai je­las apakah musibah itu akibat human error ataukah karena kega­nasan alam yang tak teratasi oleh kemam­puan seorang anak manusia. Mengumpamakan kata kapal bertuah yang tersebut dalam legenda, jujur hati ini terasa aneh – mengapa kapal yang sudah tenggelam – dijadikan suatu lambang budaya suatu suku bangsa melayu di wilayah Riau ini ? mungkin saja terkandung hasrat agar rakyat diwilayah itu – mampu membuat kapal dan mencat dengan warna kuning untuk berlayar menuai berkat atau rejeki. Akan tetapi pada kenyataannya , bertahun-tahun negeri ini – sebelumnya – pernah mengalami stagnasi dalam pembangunan. Berjuta sumber daya meniral dikuras untuk kepentingan negeri antah berantah, tanpa SDM nya mampu berbuat apa-apa.

Inilah yang doeloe kurasakan , ketika pernah berkunjung ke Kota Pekanbaru pada tahun 1990 silam. Kota Pekanbaru di masa silam, hanya berupa dusun kecil. Menurut riwayatnya – Kota Pekanbaru sebelumnya bernama Payung Sekaki yang terletak di pinggiran Sungai Siak – kemudian menjadi kumpulan kampong-kampung tua. Barangkali karena kapal lancing kuning itu telah berlayar – maka kampong Payung Sekaki berkembang menjadi sebuah Pekan yang baru alias Pekanbaru. Kumpulan kampong-kampung tua yang berkembang menjadi Pekan Baru – kemudian saat ini telah berubah menjadi kota “sejuta ruko” yang dibangun oleh para pendatang yang bermodalkan “ tulang salapan karek”. Ini pendapat ku ya… jangan diambil ke hati dan jangan dijadikan riwayat “ kota Pekanbaru”.

Apa yang menarik untuk menceritakan tentang Bumi Lancang Kuning ini.

Pertama, karena kami telah mengatur travelling melewati Negeri Lancang Kuning. Meskipun hanya satu hari, bagiku cukup berkesan, karena Bumi Lancang Kuning – nan bertuah saat ini – adalah negeri sesama orang-orang Melayu yang jika berbicara selalu diawali atau diakhiri dengan sebait pantun.

Kedua, untuk melihat perantau minang di negeri Lancang Kuning – yang bermodalkan tulang nan salapan karek – untuk membangun kota ini menjadi kota bak seribu malam.

Sungguhpun badan terasa letih, karena baru sampai pada jam 21.00, aku dan suami tidak menolak ketika adik ipar serta rombongan family dari kota Padang yang lagi berkumpul di kota ini, mengajak menjelajahi kota Pekanbaru di malam hari.

“ Mari Uni dan Uda , kami ajak keliling kota, katanya. “ Uni mau saya tunjukkan tempat remaja memadu kasih di jembatan Leighton. Disana ada tempat jajan di tepian sungai Siak sambil melihat air yang mengalir di bawah jembatan Leighton, pasti unik dan beda. “ Bila mereka putus memadu kasih, tinggal yang patah hati terjun ke Sungai Siak itu.., demikian katanya.

“ Hemmm… yang benar saja….!? Aku yakin ini cerita bohong – karenanyanya aku tak menanyakan lebih lanjut padanya. Yang jelas mereka semua bersemangat untuk mengantarkan kami – untuk melihat kota yang sudah berubah metropolitan kecil di bumi lancang kuning itu.

Perubahan dratis langsung terasa dibanding 20 tahun yang lalu. Persis sama seperti pembangunan kota satelit “Bumi Serpong Damai “ – tidak jauh dari tempat tinggal kami.

Yang jelas yang dapat kuceritakan padamu Kawan.. Banyak sekali tempat jajan dan santai-santai di kota PekanbaruRiau, baik yang modren maupun yang tradisional. Dari kaki lima hingga tempat-tempat excutive yang exclusive – bertaburan di Pekanbaru. Ada satu jalan yang terpanjang di kota ini yaitu jalan Sudirman tapi anehnya buntu..!!. Disepanjang jalan banyak pedagang kaki lima yang berjualan “ bandrek “ – minuman impor dari kota Bandung…! Siapa penjualnya ? Lagi lagi urang minang yang bermodalkan tulang nan salapan karek.

Menyisiri jalan Sudirman yang panjang itu, ahaa… sampai akhirnya aku melihat tempat “randevouze “ remaja kota Pekan Baru untuk makan jagung bakar. Sebenarnya warga kota Pekanbaru sudah tidak asing lagi dengan tempat yang banyak menjual jagung bakar ini. “ Duh seperti di di Dago Bandung saja rasanya “. Yang membedakan adalah – bila dikota Bandung – banyak gadis remaja masih berkeliaran – bahkan sebuah Statasiun TV pernah menelisik kehidupan malam di kota itu, di Kota Pekanbaru terlihat masih dalam batas keseponan – aku tidak melihat ada remaja puteri ada disana pada jam 22.00 itu.

Tak lama kemudian sampailah kami di jembatan Leighton melintasi sungai Siak sambil melihat air yang mengalir di bawah jembatan itu. Apanya yang unik dan berasa beda ?? ., yang dibawahnya mengalir – yang konon katanya tempat sepasang anak manusia memadu kasih. “ hemmmmaku tak melihat keanehan di seputar jembatan itu. Mungkin sudah malam – akan tetapi warna sungai yang kuketahui disiang hari bukanlah pemandangan yang mengasyikkan. Akhirnya karena tidak ada obyek lain yang kami peroleh di malam itu selain menyusuri sepanjang jalan kota sejuta ruko.

“ Uni dan Uda ndak kepengen mancubo bandrek “, adik-adik menawari minuman yang seperti baru trend dikota ini.

“ Ondeh indak lah “ lagi-lagi perut kenyang. Cari duren ..?? “Okelah… tapi yang durian runtuh ya… kataku sambil gelak tertawa. Walau tak yakin ada durian runtuh dimalam itu – kegembiraan kami bersaudara dalam menyusuri kota Pekanbaru diwaktu malam benar-benar menyenangkan.

Besok pagi, kami berencana akan mencari ketupat gulai paku yang katanya enak -hasil karya tulang salapan karek. Ternyata penjual ketupat gulai paku itu tersebar dimana-mana. Melebihi jumlah penjual dari kampong asalnya. Rasanya pun sangat luar biasa – gurih – lecker begitu deh. Pas rasanya – pas seleranya dan pas kantongnya alias murah meriah. Ada toping berupa sala lauak. … Persis sama dengan yang kuperoleh tentang kelezatan masakan ini.

Menjelang pulang ke kota Padang, rombongan kami mampir terlebih dahulu ke Pasar Bawah – Kota Pekan Baru. Pasar yang dulu dibanggakan sebagai pusat barang-barang import, mataku tidak ada istimewanya.

Bonia…??? Oh Bonia….?? Wow.. sangat yakin aku bahwa barang ini diproduksi di Tanggulangin – Jawa Timur. Tanggulangin adalah sebuah perkampungan tempat memproduksi aneka kopor – tas – aksesori kulit – yang sangat menyerupai aslinya. Untunglah aku bukan orang yang suka barang-barang branded – melain justru produk yang mengandung kultur yang tinggi – dimataku lho.. yaitu tas –tas etnic gitu ….

Rasanya iri juga melihat kota Pekanbaru yang sedemikian berkembang pesat dibanding sepuluh tahun yang lalu. Kota ini tidak dibangun karena hasil minyak. Sesungguhnya gerak dan laju perekonomiannya yang dinamis – yang menyebabkan kota maju pesat. Artinya ada daya beli masyarakat – ada kebutuhan dan ada pemenuhan kebutuhan alias supply dan demand

Lagi-lagi kota tulang salapan karek – kutinggalkan yang entah kapan pula akan singgah disini. Si Ipah melaju menuju kota Bukitinggi.

Di Bangkinang kami melaksanakan sholat zdhur di sebuah Mesjid yang menyerupai Mesjid Raya di Putera Jaya – Malaysia. Luar Biasa jasa orang yang mewujudkan mesjid sangat indah ini. Hanya saja kebersihan mesjid masih kalah dengan mesjid di negeri jiran itu. Kami meninggalkan kota Bangkinang dan mulai memasuki perbatasan Sumar – Riau.

Si Ipah terus melaju melewati perbukitan yang hutannya tidak begitu lebat lagi. Bagi orang Pekanbaru menjelajahi jalan antara Riau – Sumbar memang sangat mengasyikkan. Jalanan lebar. aku merenung – mengapa sih orang jauh –jauh pergi merantau ? seperti – perantau minang yang tinggal di delapan penjuru dunia. Ada negeri OBAMA – AS. Ada di Eropah. Dan ada di Australia. Apa..sih yang dicarinya. Kalau semula ada pepatah yang menyatakan bahwa “ pergi merantau karena dikampung berguna belum” . Lantas ketika ia sudah berguna pun ia – tidak pernah pulang hingga nyawa berpisah dari jasadnya…..

Itulah suasana yang selalu terekam bila setiap aku pulang kampong ke kota kelahiran di kota Padang. Entah mengapa timbul rasa sedih – haru biru – entah apa sebabnya. Barangkali karena aku terlalu cinta dengan kampong halamanku…. Padahal sesungguhnya aku tidak pernah menikmati apa sesungguhnya menjadi anak dan remaja di kampong halamanku.

Di usia sepuluh tahun sudah meninggalkannya – karena dibawa nasib dan peruntungan orang tuaku. Maka ketika lagu – lagu Elly Kasim dengan nada suaranya yang bening dengan dialek dan langgam minangnya – cukup membuat kita terharu… disetiap lagu yang dinyanyikan. Bagiku bukanlah karena kebeningan suara Cik Uniang Elly itu – melainkan karena lyric lagunya yang selalu mengingatkan kita akan keindahkan Ranah kita. Aku tak pernah mengenal tempat tapian mandi – aku tak mengenal sawah lading – tak pernah rumah gadang, namun ketika arround the villages – maka inilah yang membangkitkan selalu keingin untuk pulang kampong.

Lagu yang kuingat selalu adalah Rantau Batuah… ndeh kanduang.. …???!! Pembuat lirik lagu benar – benar pandai menghunus jantungku. … Bahkan hingga mengeluarkan air mata.

Setelah berhenti sejenak di Koto Panjang – Bakinang (??) melihat bedol deso sebuah perkampungan di wilayah itu, kami meneruskan perjalanan ke Kelok Sembilan. Belokan Sembilan menimbulkan tanda Tanya bagi kami. Berapa milyarkah pembangunan kelok Sembilan ini ? Adakah manfaat yang dapat dipetik dari pembangunan jembatan di Kelok 9 itu…?? Barangkali tiga tahun mendatang baru bangunan ini akan siap mengingat keterbatasan dana APBD.

Aku pernah mendapat cerita dari kawan – bahwa di Lubuk Bangku ..(??) ada Rumah makan yang enak. Rumah Makan Bahagia kah…??? Entah mengapa kami ragu-ragu untuk singgah. Tidak lain karena keinginan kami untuk menimati nasi kapau di kota Bukitinggi. Apa yang terjadi …???? masakan yang kami angan-angankan semenjak berangkat dari kota Pekanbaru sebelumnya – ternyata beberbeda yang kami rasakan di Bukitinggi. Perut sudah terlalu lapar. Untuk mengunyah pun sudah tidak kuat. Kenikmatan masakan hilang sudah….

Tidak berapa lama Jam gadang akan ditutup pada malam tahun baru. Aku mendengar ocehan pedagang dipasar atas. Mereka mengeluhkan – mengapa jam gadang itu ditutup. Ya.. mau apalagi jika tujuannya untuk pengendalian mental dan moral masyarakat… Ka baa juo lai… ni..?? Awak ko kan urang ketek…. Kami tingga mancaliek baa caro manutuik jam tuh… begitulah kata para pedagang di pasar atas. Aku berucap : Ya… ndak apalah Pak dan bu.. Indak jam gadang nan dicaliak.. ka lai… jaga Pak dan Bu nan ka dicaliek nyo,.. kataku menghibur.

Ondeh.. uni,,, urang nan datang banyak nan manawar sajo tapi indak ado nan mambali. Dagangan kami langang kini..ko.. Lho.. kok begitu …?? Ternyata banyak pedagang minang yang sudah hijrah ke kota nan salapan karek … di Pekanbaru sana….

Dalam perjalanan pulang ke kota Padang – selepas istirahat beberapa saat di Kota Bukiktinggi – kami para penumpang si Ipah semua hening. Semua penumpang duduk diam masing-masing asyik dengan kenangan dalam perjalanan yang panjang melewati tiga negeri

Si ipah mungkin bertanya dalam hatinya. Ada apa uni dan uda …??? Kok haniang – haniang sajo…. Maotalah Ni…. Bia ambo mandanga otak Uni nan lamak tuh..

Aku tersenyum mendengar curahan batin si Ipah, karena selama 10 hari – ia telah menemani kami mengarungi tiga negeri ; Minangkabau – Batak dan Melayu Lancang Kuning. …. (TAMAT).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: