Travelling di tiga negeri bersama si Ipah

100_0650

Sai .. selamat ma sinegeri – negeri,
Ageni si bual – buali
Tu siantar tu sipirok padang panjang fort decock
Sai .. selamat ma sinegeri – negeri
Itulah sebuah alunan lagu yang dinyanyikan oleh seorang mamak/paman anak-anakku, ketika si ipah melintasi wilayah perbukitan dan jalan yang sangat berliku –liku selepas wilayah Gadut, kota Bukittingg. Entah suasana hati kami yang dilanda kegembiraan, ternyata lagu jadul yang wajib dinyanyikan para maba (mahasiswa baru) pada masa perpeloncoaan di era akhir tahun 1970-an. Lagi itu, cukup menghidupkan suasana perjalanan kami di tiga negeri ini.
Aku menyebut tiga negeri karena kami melintasi 3 wilayah adat dan budaya, yaitu ranah Minang, tanah Batak dan tanah melayu Lancang Kuning.

Demi mencapai target – target perjalanan panjang dan berliku, kami meninggalkan kota Padang pada jam 04.00 disaat fajar belum menyinsing. Sholat shubuh akan dilaksanakan di perjalanan nanti. Alhamdulillah – seakan direncanakan, pada saat azan shubuh berkumandang, kami memasuki daerah Lubuk Alung, Padang – Pariaman. Dan…… di Mesjid Lubuk Alung, kami melaksanakan sholat shubuh. Mesjid inilah tempat aku pertama kali mengenal huruf hijayyah disaat aku pernah menetap dan belajar mengaji kurang lebih 44 tahun yang lalu.
100_0621Sampai di Bukittinggi pada jam 06.00, Saat itu akan dilakukan senam kesegaran jasmani dan aerobic. Sambil bergabung dengan peserta senam, aku memandang jam gadang – kebanggaan rang bukiktinggi. Icon Sumbar ini, konon katanya akan diselimuti pada saat malam tahun baru nanti. Ini dilakukan – demi menghindari dari perbuatan maksiat – yang bukan tidak mungkin dikawatirkan akan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya orang – orang yang tidak bertanggung jawab diarea jam gadang itu.

3152788237_91f5bee0203152795513_6630161a943152795517_1cb7e12e34Aku sangat setuju dengan rencana ini. Semakin melakukan hal yang tidak lazim, sebenarnya justru mengundang pengunjung untuk berdatangan ke kota ini. Barangkali ini dapat dikatakan sebagai “ promoting revolution “, meminjam istilah marketing promotion .
Ketika perut dilanda rasa lapar dan ingin sarapan pagi – terasa sarapan yang paling enak dinikmati adalah makan pisang goreng disertai ketan, lapek sagan, pisang rebus Atau sekedar pisang yang bakar yang ditaburi luo, kemudian di ditekan hingga pipih dan dimakan diatas daun pisang.
Amboi.. lupakan angan-anganmu kawan… karena engkau tak menemukan menu itu. Menu sarapan pagi di Minggu pagi tanggal 21 Desemeber 2008 saat itu – alah barubah jo makanan mamak awak dari Amerika, yang disebut “ hamburger, hot dog dan siomai. Hayya… ondeh.. kama pusako kuliner awak kini ko…
Segera, Aku membuka jaringan internet melalui Hape dan membuka milis RantauNet. Ingin curhat di milist ini. Ketika Buya Mas’oed yang sangat aku hormati, muncul dengan subyek untuk memberi tanggapan atas penutupan jam gadang pada malam tahun baru itu, termasuk mengupas masalah akhlak dan Bukittinggi yang sudah berubah. Disini aku ingin melaporkan secara langsung kepada beliau melalui pandangan mata tentang kondisi yang aku alami kepada beliau. Tentang sarapan pagi itu. Duh..muncul pula bahasa gaul yang bejudul “ Hari gini masih doyan korupsi..??? terpampang jelas di tangga pasar atas. Bukittinggi memang sudah berubah. Begitulah tema yang kita petik dari perbincangan sanak sesama milis. Saat itu, aku menyaksikan didepan kepalaku dan ingin melaporkan langsung, tentang kebenaran yang terjadi.
Ketika laporan pandangan mata itu siap di kirim dan Akan tetapi perjalanan tetap kami lanjutkan, saat itu pula si Ipah sudah memasuki perbukitan dan jalan yang berliku menuju kecamatan Bonjol. Sinyal hilang dan laporan pandangan mata gagal terkirim.
picture-144 picture-152Setiba di kecamatan Bonjol pada jam 09.00 pagi, kami singgah di Musium Tuanku Imam Bonjol – Pemimpin Perang Paderi ( 1821 – 1837). Imam Bonjo alias Peto Syarif (1772 -1854), bernama asli Ahmad Shahab bin Tuanku Rajauddin. Musium ini terkesan kotor dan tidak terawat – karena begitulah kebanyak negeri kita – perawatan (maintenance) sering tidak menjadi perhatian. Lintang dan bujur garis equator ada di Musium ini. Yang menjadi perhatianku di Musium ini betapa perjuangan “ Tuanku Iman Bonjol “ ada yang menggugat. Sebagai “ orang Minang “ dan sebagai “ orang Islam “. Selayaknya kita tidak berpangku tangan atas gugatan ini. Memang ada ahli yang akan membahas dan mengupas perjuangan TIM (Tuanku Imam Bonjol). Suryadi – seorang peneliti dari University of Leiden – menginfromasikan bahwa di Padang Ekspress terdapat tulisan dan pembahasan mengenai Tuanku Imam Bonjol ini yang berjudul Seminar Nasional 200 Tahun Tuanku Imam Bonjol di Lubuksikaping (1). Bagiku ini merupakan pengalaman yang unik, karena disaat yang sama justru kami berada di area histori Tuanku Imam Bonjol itu. Laporan hasil seminar itu tidak dapat aku baca. Lagi – lagi terbatas sinyal. Padahal jika aku bisa meng –sinkronkan – antara tulisan dari Padeks itu dengan keberadaanku di Musium TIM di Bonjol ini. Betapa tidak – dunia cyber begitu mudah dan kita dimanjakan oleh teknologi informatika.
Yang menarik adalah bahwasanya – Ahmad Syahab gelar Peto Syarif gelar Malin Mudo dan gelar Tuanku Imam Bonjol, justeru sejak semula melakukan pembaharuan dalam cara beragama Islam yang didukung penghulu dan basa/raja — bermasyarakat menurut paham/cara Paderi, dan membangun kehidupan harmonis antara pemuka agama-pemuka adat. Jauh sekali dari gambaran yang diperkenalkan dalam pelajaran ejarah secara formal di bangku sekolah Indonesia — sumber dari Belanda, yang menganggap telah terjadi pertentangan dan perselisihan antara kaum adat dan ulama di Bonjol.
Adalah Tuanku Imam disetiap hari Jumat/menjelang shalat menyampaikan pesan berisi pengaturan kepemimpinan dalam masyarakat di Bonjol:
– Urusan adat diserahkan ke basa/penghulu;
– urusan ulama sebatas keagamaan.
Ia mengatakan, ciri masyarakat yang dibangun: bersuku ke suku ibu/bersako ke mamak/bernasab ke garis ayah. Tuanku Imam meminta pelaksanaan “Adat nan Basyandi Syarak” (kini dikenal Adat Basandi Syarak/Syarak Basandi Kitabullah (ABS/SBK) mengacu pada pertemuan di Puncak Marapalam Lintau). Menggambarkan betapa indah pergaulan berkehidupan dalam masyarakat. Demikian pendapat Syafnir Aboe Naim Dt Kando Marajo (Menelusur Perjuangan Internal dan Eksternal Tuanku Imam Bonjol) dalam seminar di Lubuk sikaping itu.
Ya… akan secanggih apapun teknologi – ternyata masih ada kendala human error yang masuk pada diriku. Yah… apa boleh buat. “ bakodak dengan gaya “ in action “ cukup mengobati hati ini. Bergaya sambil mentertawakan diri sendiri – cukup lucu juga lho..
Sesampai di Kecamatan Rao – setelah melewati Lubuk Sikaping – aku teringat atas sebuah buku controversial “ Tuanku Rao “. Putera negeri inikah beliau ?
Nama asli Tuanku Rao itu adalah “ Pongkinangolngolan Sinambela”. Ia adalah Pangliman kavaleri Islam yang membawa agama islam ke tanah Batak. Ia diislamkan di Kamang – Bukittinggi oleh Tuanku nan Renceh.
Sedikit berbagi kisah tentang “ Tuanku Rao “ – sebagaimana yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao alias Umar Bin Khatab yang bernama asli “ Pongkinangolngolan Sinambela “ adalah orang Batak yang pertama mengikuti Kursus Militer tingkat Lanjut di Luar Negeri. Satu setengah abad mendahului yang lain. Selama 18 tahun Ia menjadi panglima kavaleri islam di tanah batak. Ia berhasil mengislamkan tanah batak selatan. Ia dihukum mati kedalam Danau Toba oleh musuhnya. Benarkah demikian ?
Walaupun berusaha secara jeli membaca buku “ Tuanku Rao “ – negeri yang saat ini kulewati – sangat sukar bagiku untuk mengerti bagaimana kontroversi buku ini berlangsung. Prof HAMKA telah menanggapi buku “ Tuanku Rao itu, dengan suatu tulisan yang berjudul “ Antara Fakta dan khayal “ TUANKU RAO “ sebagai jawaban M.O Parlindungan. Dalam kebebasan akademik – sewajarnya Buya Hamka memberi tanggapan atas buku “ Tuanku Rao “ itu.
Bagi kita yang awam, tentu akan sulit memahami dimana letak kontroversi buku ini, jika tidak membaca buku “ Antara Fakta dan khayal “ TUANKU RAO “. Akan tetapi dari Buku Tuanku Rao itu kita mengetahui perkembangan agama Islam di Minangkabau – sebelum dan sesudah abad 17 – 18. Buku inipun mengkritisi adat dan budaya Minang yang bersumber dari mithos.

Apa yang terpikir olehmu kawan, ketika kita travelling ? Bagiku selain mengamati melakukan tadabur alam – juga melakukan tafakur alam. Kita akan mengagumi keindahan alam seraya kita juga merenung betapa indah dan sempurna keindahan alam. Ada alam yang diberi keindahan bagaikan sorga dunia, seperti yang kurasakan di benua Selatan Australia. Ada juga jagat raya yang serasa neraka dunia – namun mengandung kekayaan yang berlimpah, seperti yang aku rasakan ketika berkunjung Saudi Arabia. Terkadang bathin ini juga bertanya – mengapa kita tidak bisa membangun Negara kita dengan modal kekayaan yang berlimpah yang diberikan oleh yang Maha Kuasa kepada bumi Pertiwi ini. Semisal Negara tetangga kita Malaysia atau Singapore saja, sewaktu aku berkesempatan berkunjung ke negeri Jiran itu. Okelah. Duh.. mana tahan – jika aku dapat berkunjung keliling dunia seperti yang dilakukan oleh Seorang “ Andrea Hirata “ – demi mencari cinta A Ling.

Mestinya aku juga harus sadar – bahwa jangan berkahayal terlalu jauh, karena apa bila kita mampu melakukan tafakur alam – maka kita akan dapat merenungi secara sempurna khafiyat “ Surat Ar Rahman “ – surat ke 55 Al Qur’an yang secara berulang ulang berbunyi : Fabi-ayyi-aala-i rabbikumaa tukadz-dzibaan. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Tidak lain ayat ini menerangkan betapa tidak bersyukurnya insane manusia ketika jagat raya dan seisinya telah dinikmati manusia tanpa ia pernah bersyukur. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih….

Itulah yang aku rasakan – betapa malunya hati ini bila kita tidak pernah bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkan Nya kepada kita.

Dalam bertafakur alam, kita akan menemui perbedaan bahasa dan budaya. Inilah yang aku katakan pada anak bungsuku.

“ Ilma…, mari kita memperhatikan perbedaan bahasa dan budaya, setelah kita keluar dari wilayah Sumbar menuju Sumut nanti.

Ketika itu kamu mulai memasuki Bukit Dua belas. Bukit Dua belas adalah suatu wilayah perbatasan Sumbar Sumut. Hutannya masih perawan. Akan tetapi justru diperbukitan ini perut kami terasa lapar. Mau makan dimana ? Namanya juga hutan. ..

Oh tidak usah takut… Sebagai penanggung jawab logistic, aku sudah mempersiapkan dari rumah – makanan yang akan dibawa dalam perjalanan nanti. Adik sepupuku di Kota Padang sudah mengingatkan kami – agar membawa perbekalan dalam perjalanan ini. Aku sangat mengerti sekali menu apa saja yang harus dibawa dalam setiap perjalanan. Pasti menu murah meriah yang di Restoran tidak ada. Tapi membangkitkan selera. Apakah itu ? Sederhana saja. Ini dia….

Ikan asin petai balado,

Ikan goreng tandeman cabe ijo, yang besarnya sebesar telunjuk.

Ikan gabua balado – wah yang ini kesukaan my husband.

Ayam kecap (special untuk ABG)

“ Ondeh lamaknyo..lai.. makan ditengah hutan Bukit Dua belas, diiringi senandung jangrik dan semilir angin. Wangi dedaunan nan asri. Saking enaknya.. salero tagantuang – dek nasi yang dibawa pas-pasan. Maklum yang menakar perempuan – menurut ukuran perut sendiri, sementara di hutan lebat itu tidak ada penjual nasi. “Ya.. sudah – gantuang se lah salero tuh.. kata si Ipah yang diparkir tidak jauh dari kami. Padahal sungguh Kawan.. si Ipah ini – gadang salero pula. Tenaganya yang 2000 cc – ia bagaikan seorang DM alias diabetes mellitus. Tenaga besar – tapi kecepatan tidak bisa di optimalkan – disaat perjalanan panjang dan berliku-liku itu. Kesepatannya hanya bisa 40 km/jam. Mungkin jika diajak pada jalan “traffict on line “ baru ia akan unjuk gigi dengan kecepatan 180 km/jam. Haa.. kali ini si Ipah agak keok nampaknya. Si Ipah tidak bisa berlari kencang.

Gadang saleronya si Ipah dapat kuperhitungkan – bahwa sekali minum untuk si Ipah ini – kita harus keluarkan kocek Rp 200 ribu sebanyak 3 kali selama perjalanan Kota Padang hingga Medan. Sudahlah ini… urusan yang tersayang – my husband. Kami harus bersyukur ketika ini – BBM sudah turun Rp 5000,- sehingga dapat menghemat biaya perjalanan.

Di tengah hutan Muara Sipongi, perubahan bahasa itu mulai terasa, ketika sepasang suami isteri yang berjualan durian tidak jatuh. Ada sisipan kata “ nya” pada kalimat yang terucap. Contoh ;

“ bang berapa harga durian ini ?, Tanya si pembeli.

“ dua puluh lima ribu saja, jawab si penjual.

Tidak kurang nya itu ?, tawar si pembeli.

Perhatikan tingkuluak kaum ibunya. Padusi Minang akan menutup kepala dengan cara menyilangkan ujung seledang – sehingga agak menyerupai tanduk. Akan tetapi di wilayah perbatasan Sumut ini mereka membentuk selempang kepala yang khas. Pasti mengandung makna tersendiri pula. Jika masih dalam kebersamaan akidah maka aku sangat enjoy menikmati perjalanan. Tidak ada gangguan kenyamanan perjalanan. Bahkan sesampai di wilayah Sumut – di daerah Penyabungan – Mandailing & Natal (Madina) terdapat kompleks Pesantren yang sangat unik – karena terdiri dari gugusan rumah – rumah mungil yang dihuni para santri. Masing-masing santri ( semua anak laki-laki) tinggal di rumah liliput itu yang luasnya tidak lebih dari 1,5 X 2 meter. Pesantren itu bernama “ Mustofawiyah “, yang dipimpin oleh Mustofa Bahri. Ilmu yang dipelajari tentu seputar ilmu salafiyah dan aliran Naqsabandiyah. Santri – santri mereka sangat banyak.

Dari Rao – Muara Sipongi – Hutanopan – Jembatan Merah hingga Padang Sidempuan, Si Ipah melaju dengan pasti dengan kecepatan yang sedang sedang saja. Kami berbelok menuju Sipirok – bagian selatan dari bumi Tapanuli – merupakan batas pengaruh pengembangan islam yang dilakukan oleh Tuanku Rao.

Jalan antara Sipirok hingga Tarutung sangat buruk. Kita akan melewati gugusan Bukit Barisan, yang berbelok dan berliku. Memasuki Kota Tarutung – sangat jelas kita sudah memasuki wilayah tanah Batak. Hari sudah magrib. Mau sholat dimana ? Disini adalah mayoritas umat kristiani “ Huria Kristen Batak Protestan”. Tidak satupun kami menjumpai Mesjid – yang akan kami jadikan tempat untuk melakukan Sholat. Entah mengapa, suasana hati sedikit terganggu. Ini kota pedalaman dan si Ipah mulai bingung untuk membawa kami ke tempat tujuan.

Dalam bertafakur alam kita harus enjoy… Masih ada kesempatan kita untuk melakukan sholat dengan jamak akhir di tempat pemberhentian berikutnya.

Karena memasuki wilayah kebudayaan yang berbeda system kekerabatannya dengan system kekerabatan yang dianut Minangkabau – dimana etnis BATAK menganut garis patrilinial sedangkan Minangkabau menganut garis matrilineal, tentunya aku perlu menceritakan sedikit kepadamu Kawan – perihal suku bangsa Batak ini.

Menurut ilmu antropologi, Suku bangsa Batak adalah Proto Malayan (Melayu tua) seperti suku bangsa Toraja. Orang Batak sendiri mengakui bahwa etnisnya adalah Splendid Isolation – yang menetap di pegunungan dalam dan ribuah tahun tidak terpengaruh oleh Hindu, Budha, Konghucu dan lebih-lebih pengaruh islam yang dibawa pedagang Arab.

Seorang sahabatku di kantor bernama “ Saud Maruli Siregar” – seorang pria tambun dan sangat dekat denganku. Aku dipanggilnya “ bunda” dan sangat loyal denganku, bercerita :

Suku Batak menetap pertama kali di tepi danau Toba, dikaki Gunung Pusuk Buhit bernama Sianjur Sagala Limbong Mulana. Mereka menjadi splendid isolation karena kehidupan mereka terjamin. Didepan ada air danau Toba. Dibelakang ada tanah yang subur Gunung Pusuk Buhit. Ada pulau Samosir dan ada land bridge yang menjamin kenyamanan hidup aman dan sentosa.

Raja pertama dari suku Batak itu adalah Sori Manggaraja Ompu Si Raja Batak. Ia berdiam di Sianjur Sagala Limbong Maulana. Kemudian bagaimana mereka berkembang biak menjadi berpuluh-puluh marga – tidak lain karena migrasi yang mereka lakukan seantero wilayah sekitar dari Gunung Pusuk Buhit – dari Sianjur Sagala Limbong Mulana disebelah barat Danau Toba – kemudian berkembang kearah titik sentral melalui migrasi marga – marga mereka hingga ke selatan.

Berbeda dengan orang Minang dengan adat matrilineal merantau secara sendiri – sendiri, sesuai dengan pepatah “ pergi merantau selagi dikampung berguna belum” . Sebaliknya orang Batak dengan adat patrinilinial pergi merantau secara bergerombol dibawah satu komando marganya. Bila mereka menemukan suatu kampong tempat ia menetap maka itulah yang akan menjadi nama marganya.

Barangkali seorang “ Saud” yang bermarga Siregar – sahabatku itu yang berkisah, maka ia mengatakan bahwa marga Batak yang paling jauh mengembara kearah selatan adalah marga : Lubis, Harahap, dan Siregar. Mereka sangat kompak dan karena itulah mereka mendiami wilayah Tapanuli selatan.

Yang dapat kuceritakan kepadamu Kawan.., bahwa Mitologi orang Batak seputar Gunung Pusuk Buhit – persis sama – dengan mitologi orang Minangkabau dengan Gunung Merapi. Sebagaimana etnis Minangkabau yang bersumber dari Tambo – migrasi etnis Minangkabau yang semula menetap di desa Pariangan di Lereng Gunung Merapi – kemudian membentuk Luhak Nan Tigo demikian seterusnya. Masing – masing-masing sophisticated. Selanjutnya … ?

Gunung Pusuk Buhit dipercaya merupakan tangga ke Benua Ginjang ( tempat bersemayam Debata Mulajadi Nabolon). Hal ini digambarkan pada 3 warna yang hingga hari ini masih dijunjung sangat tinggi.

1. Banua Gindjang = Pelambang langit yang berwarna putih

2. Banua Tonga = pelambang bumi dan seisinya yaitu kehidupan yang berwarna merah

3. Banua Toru = pelambang tanah yang berwarna hitam – akhir kehidupan dunia berwarna hitam. Begitulah siklus kehidupan manusia dimanapun juga.

Bagiku sungguh fantastic bila filosopi yang dianut oleh suku bangsa Batak ini – bisa sama – dengan suku bangsa Toraja – Nun di pulau Sulawesi sana.. Suku bangsa Toraja juga menganut juga menganut “ the three holy colors “ ini. Lagi-lagi kedua suku bangsa ini adalah Melayu Tua ( proto melayu). Mungkinkah pelambangan dengan tiga warna akan ditemui pula pada suku bangsa yang berasal dari proto melayu ?

Lebih lanjut, Saud berkata padaku : “ bunda – pada adat Batak dengan adat dalihan na tolu – maka perkawinan yang ideal dilakukan apabila kawin dengan anak paman disebut pariban..

Apa itu adat Dalihan Natolu ? Saud menjelaskan :

“ Sama seperti tiga tungku sajarangan yang dikenal di Minangkabau ….Bunda.

ada Kahanggi = saya – ada Boru = saudara perempuan – ada Mora = saudara laki. Bila seseorang menikahi anak paman – maka inilah perkawinan ideal.

Begitukah …???

Soal tiga tungku sajarangan ini kemudian – aku bantah dengan menjelaskan kepada Saud – bahwa : Tiga tungku sajarangan di Minangkabau adalah mengenai system kemasyarakatan yang dianut di Minangkabau, terdiri dari kaum adat – kaum cerdik pandai – para alim ulama. Jadi berbeda pengertian dan aplikasi antara pengertian tiga tungku sajarangan di Tanah Batak – untuk menggambarkan system kekerabatan mereka, sedangkan di Ranah Minang tiga tungku ini untuk system kemasyarakatan

Cukup berapi-api juga Saud Maruli Siregar ini menjelaskan kepadaku seputar system kekerabatan Suku Batak ini. Dengan kepala mengangguk-angguk tiap sebentar – tanda semakin tidak paham – karena sesungguhnya yang kuinginkan dari padanya dalam rangka tafakur alam adalah – seputar perjalananku dari kota Padang – kampong halamanku menuju kota Medan. Lebih – lebih ingin membuktikan jasa Tuanku Iman Bonjol sebagai Pangliman Perang Paderi dan Tuanku Rao – dalam penyerabaran islam di wilayah selatan Tapanuli ini.

Yang jelas dapat kusimpulkan kepadamu kawan… bahwa diantara suku bangsa Batak sesungguhnya memiliki perbedaan adat istiadat mereka. Mereka sesungguhnya heterogen dalam pelaksanaan adat istiadat. Termasuk masalah akidah. Akan tetapi didalam perbedaan adat istiadat – mereka memiliki satu asal muasal, yaitu :

Berasal dari migrasi Proto Melayu ( melayu tua) dari wilayah Burma)

Splendid isolation di Gunung Pusuk Buhit di wilayah Sianjur Sagala Limbong Mulana dengan raja pertama mereka bernama Sori Manggaraja Ompu Si Raja Batak.

menganut system kekerabatan dari garis patrilinial,

menganut adat Dalihan Natolu sebagai sumber hukum adat Batak.

Kemudian secara migrasi mereka menyebar seantero wilayah lingkaran Danau Toba itu dan membentuk sub etnis yang kita kita kenal sekarang.

Mereka berkompok dalam sub etnis dan membentuk kesatuan masyarakat hukum adat yang berbeda satu sama lain menjadi :

* batak Mandailing, Tarutung, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak – Dairi, Batak Karo. (bersambung)

Cerita selanjutnya : “ eksotik Danau Toba “.

picture-230

Satu Tanggapan to “Travelling di tiga negeri bersama si Ipah”

  1. maaf ni …. sebenarnya tanah lancang kuning yg uni maksud itu dimana Ni ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: