Jumping on the sky to the sea.. serruuu

Bukan bermaksud bernarsis narsis, bila berkisah tentang pengalamanku ini. Akan tetapi sebenarnya terkandung  keinginan menyampaikan suatu cerita factual yang berdasarkan olahan dari memori yang tersimpan didalam benak ini. Apalagi bila kejadian itu benar-benar membekas di kepala kita. Mengkisahkan sesuatu, bertujuan sebagai jembatan menuju masa lalu.  Bukan hanya terfokus kepada obyek cerita, namun ada penggalan penggalan yang terkadang akupun merenung bahwa aku ini pernah menjadi murid kehidupan dan berguru kepada pengalaman. Ya… kita harus menjadi murid kehidupan. Bila diuraikan akan terlalu panjang kisahnya dan yang penting bagi Anda, Anda ingin mengetahui .. apa sih… Jumping on the sky to the sea..….???

 

Begini ceritanya :

Alkisah, sesampainya aku dan abangku di desa terpencil di Pomalaa Sultra itu, ternyata perhatian Kakak-kakakku tertuju pada  seorang anak perempuan yang bernama “ Evy”. Apanya yang membuat perhatian mereka begitu tertuju pada diriku seorang – aku tidak tahu. Yang jelas setelah sebulan lamannya kami disana, Kakak iparku berkata dan membujuk diriku : “ Evy .. lanjutkan sekolahmu disini saja. PT ANTAM akan mendirikan Sekolah Menengah Pertama dan saya ditunjuk oleh Perusahaan  untuk membangun, mengembangkan sekolah itu dengan seluruh fasilitas ditanggung Perusahaan termasuk perlengkapan murid-murid ditanggung Perusahaan.. dst.

 

Bukan perkara gampang untuk membujuk seorang anak perempuan baru tamat SD itu, untuk berpisah dengan kedua orang tuanya. Tidak mempan satu hari dilanjutkan hari hari berikut. Akhirnya datanglah surat sang Bunda yang berkata : “ bersekolah lah disana ……..Nak.. Temani Uniang Mas….. Kasihan dia sedang mengandung dan sebentar lagi dia akan melahirkan. Pasti Evy akan punya adik kecil. Terus terang saat itu, kakak perempuanku sudah sedang hamil tua. Ini adalah keberhasilannya untuk hamil . sesudah 8 tahun ditunggu-tunggunya.  

Berbagai macam negosiasi dilakukan. Diantara persyaratan yang kuberikan kepada kakakku adalah, agar aku diberikan sebuah “ Sepeda Mini”.  Kebetulan pada saat itu – di Jakarta – waktu itu baru muncul sebuah sepeda cantik mungil yang dikenal dengan nama “ Sepeda Mini”.  Pastilah anak baru gede seusiaku (ABG) sangat mengidolakan benda ini.

Disini dapat aku gambarkan pada anak muda, saat itu –  Indonesia  serasa damai. Mulailah masuk barang barang impor. Stabilitas politik, ekomomi, dan keamanan mulai berjalan baik. Ini adalah awal dari masa Orde Baru……..???!!! (aku ndak akan lanjutkan cerita politik disini ya…)

 

Hanya sebuah sepeda mini. … , Aku bisa membayangkan suasana hati Kakak iparku waktu itu. Pasti ia berkata  dalam hati : “ Duh .. evy, polos benar kamu ini. Hanya sebuah sepeda mini yang kamu minta. Ndak masalah… Yang penting kamu mau ikut menemani isteriku (sedang hamil tua) disini.

Walau memperoleh Sepeda bergengsi itu, sesudah itu barulah aku merasakan bahwa hadiah sepeda – sebenarnya tak sebanding nilainya dengan kerinduan seorang anak terhadap ibunya. Bagiku saat itu, mungkin sang ibu pun akan terasa berat berpisah dengan anaknya……………….

 

Alhasil, akhirnya aku merantau dan menetap didesa terpencil itu – suatu desa yang dirancang dan difasilitasi oleh Perusahaan sebagai sebuah menara gading dipinggir teluk Bone Sulawesi. Selama tiga tahun di Pomalaa, apa yang menjadi angan-angan untuk meraup permen di  pesawat udara, sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya tidak menjadi perhatian lagi, walaupun aku bolak balik naik pesawat komersial jika kembali ke Jakarta – Sulawesi. Bagiku dibawah asuhan seorang kakak inilah bermulanya perjalanan hidup manusia yang berawal dari satu langkah itu. Ternyata kehidupan itu merupakan upaya bagaimana menemukan dirimu serta bagaimana menciptakan dirimu sendiri.

 

Diantara perjalanan bolak balik Jakara – Sulawesi, pada suatu ketika, kami naik Merpati Ailines dari Bandara Kemayoran dengan  tujuan kota Makassar.  Pada jam 05.00, pesawat sudah take off. Setelah Pramugari secara khusus dengan bahasa verbal dan tubuhnya begitu lincah dan   terlatih memperagakan cara pemasangan pelampung dan tindakan apa yang dilakukan jika pesawat dalam keadaan darurat, tak lama kemudian beredarlah sang pramugari dengan permen, snack, dll.

 

Ketika empat puluh lima menit kemudian, terdengar olehku letusan kecil seperti bunyi suara ban sepeda meletus. Suasana hening. Entah apa jenis pesawat yang kunaiki itu, yang jelas, semula ada dua deru mesin secara teratur mengiringi perjalanan itu, ternyata yang terdengar hanya satu saja. Setelah itu terdengar suara halus pramugari, yang meminta semua awak pesawat menuju cockpit.

Tidak ada perasaan takut didalam diri, dibanding saat  pertama kami naik pesawat Cesna dulu.

 

Akhirnya dengan suara lembut, seorang Pramugari mengumumkan kepada para penumpang :

“ Kami atas nama Pilot A, dan copilot B – ( Entah siapa namanya) ,  menyatakan bahwa

berhubungan ada gangguang teknis pada mesin sebelah kiri – kanan  pesawat, maka pesawat Merpati Airline dengan Nomor penerbangan sekian,  terpaksa kembali mendarat ke Bandara Kemayoran.

Suasana pesawat hening entah apa yang dirasakan penumpang kala itu.

Setelah mendarat, para penumpang Merpati itu, oleh crew Airlines -dipersilahkan menunggu pemberangkatan kembali. Namun tidak bagi pada rombongan kami. Kakakku memilih menunda keberangkatan dan berencana menyewa pesawat Cesna dari Jakarta – Surabaya – Makassar – Pomalaa.

“ Wah .. aku serasa jadi jutawan lagi nih.. begitu suara bathin ini


Lama perjalanan Jakarta – Surabaya adalah empat jam. Bangga deh…merasakan bagaimana seorang jutawan yang memilik pesawat pribadi – kita tidak bersentuhan dengan penumpang lain. Padahal aku bukanlah anak siapa siapa dan aku bukan seorang apa apa.. begitulah pendapatku sekarang.

 

Dipesawat itu, jumlah penumpang hanya 5 orang, yaitu : kakakku suami isteri dan bayinya, aku dan seorang calon karyawan PT ANTAM yang akan ditempatkan disana. Jangan Anda mengira bahwa Kakakku berlagak sebagai jutawan atau aji mumpung memanfaatkan fasilitas Perusahaan – walaupun ia memiliki hak untuk itu, akan tetapi adalah semata-mata karena ia membawa gaji ribuan karyawan. Ingat .. 36 tahun yang lalu, kondisi perbankan tidak secepat dan secanggih sekarang. Waktu itu, Uang masih dibawa secara manual dari Kantor Pusat di jalan Bungur Besar Jakarta – ke Unit pertambangan nikel itu.

Dalam perhitungan biaya pokok produksi yang kita kenal, tentulah biaya transportasi semisal charter pesawat adalah komponen biaya overhead Perusahaan itu. Transportasi menuju daerah terpencil ini hanyalah – kalau tidak naik kapal tanker dari Pelabuhan Makassar – atau naik Ferry melalui pelabuhan Wajo – Kolaka atau kalau gak  ya menyewa pesawat Cesna itu. Kapal tanker itu – bukan pula merapat didermaga, namun berada ditengah lautan, sehingga kami para penumpang harus menaiki sekoci lebih dahulu untuk naik dan turun kapal. Beruntunglah sekarang ini sudah ada trayek penerbangan Makassar – Pomalaa .

 

Aku benar-benar happy kala itu. Lupa bahwa aku berpisah dengan sang Bunda.  Hemmm…apalagi serasa sebagai anak jutawan. Aku menyempatkan membaca majalah Tempo, Selecta, Varia, Times. Itulah bacaan orang dewasa yang harus aku baca untuk meghilangkan rasa jenuh selama perjalanan itu. Mengenai hidangan ? tetap tidak ada apalagi pelayan udara yang cantik. Cukuplah minuman dan kue yang dibawa kakakku dari rumah.  Ada lagu berirama lautan teduh –  latin atau lagu barat lainnya  yang diputar sang Pilot. Ya.. pokoknya lagu jadul lah… Ia ramah dan sering bercakap cakap dengan Kakakku.

 

Ketinggian Pesawat rendah saja. Suasana diluar jendela pemandangan standar alam pulau Jawa; gunung,  sawah dan sungai. Tidak terlihat awan yang bergumpal-gumpal, walaupun sesekali pesawat menerobos awan yang menggumpal tipis. Empat jam kemudian peawat mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Kami istirahat di Bandara ini sambil  Pesawat mengisi bahan bakar, selama  1 jam. Setelah itu, pesawat melanjutkan penerbangan ke Makassar yang memilik jarak tempuh selama 2 jam. 

 

 Sesampai di Makassar ini dan istirahat selama 1 jam, mulailah sang Pilot bertingkah.

Pak Ruswir … kita menginap di Makassar ini saja Pak. Besok pagi kita melanjutkan perjalanan.

Oh tidak bisa… Hari ini saya harus sampai di Pomalaa.  Disini kakak iparku itu. Ia  tidak mau di atur begitu saja oleh sang Pilot.

Kakak saya berkata : “ Dalam kontrak perjalanan antara Perusahaan dengan perusahaan penerbangan  Anda disepakati satu hari sampai ke tempat tujuan. Kalau tidak buat apa saya menyewa pesawat Anda ini.

Yang diingat kakakku – bahwa saat ini ia tengah membawa uang jutaan rupiah, gaji para karyawan ANTAM – Pomalaa.

“ Ingat Bapak…, kata Pilot itu tidak mau kalah. “ Tanggung jawab atas keselamatan penumpang ada di tangan saya. Saya mendengar ada angin… bla….bla… menuju … bla… bla…  (bla..bla = saya tidak tau apa yang disebutnya), sedang bergerak dari lintang sekian menuju lintang sekian.

 

Walaupun kakak saya sudah diingatkan dengan teori cuaca dan angin oleh sang Pilot, Kakak saya itu tetap tidak bergeming. Kakak saya ini tetap diam – menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan ramalan cuaca Pilot itu.

Akhirnya sang Pilot mengalah : “Seandainya Bapak tetap ingin sampai ke tempat tujuan saya tidak keberatan, mari kita coba. Jika ada alasan keselamatan yang berbahaya mari kita turun dan kembali ke Bandara “.

Akhirnya pada siang hari itu perjalanan tetap dilanjutkan.

 

Pada jam 14.00, mesin pesawat Cesna itu mulai dihidupkan. Kami menunggu dengan sabar selama setengah jam. Kemudian berjalan sangat perlahan menuju landasan pacu. Pesawat mengambil ancang-ancang dan berjalan pelan kemudian kencang – lebih kecang dan akhirnya pesawat kami terbang bagai layang-layang. Rasanya belum mencapai kecepatan tertentu, seperti yang kami alami dalam perjalan Jakarta – Surabaya – Makassar, tiba – tiba mesinnya berhentiii……!!!!!!  Dag… dig … dug…. Berdebar jantungku.  Seorang anak bayi – keponakanku satu-satunya mulai rewel…??  Hugh… hugh…. Suara tangisnya. Kami panic. Benarkah mesin pesawat ini mati…????

 

Antara marah… dan pucat pasi kepada Pilot itu, Kakakku bertanya : Ada apa… Dik……???

“ Yo.. ndak tau tho.. pak..!!!  ( Oohh .. de e ne .. wong Jowo tho… begitu kataku sekarang).

 

Manurut pengamatanku, dalam keadaan demikian ;, ” kok tidak ada … tango… tango… yanki.. yanki.. alpha …betha.. Yang ada hanyalah suara desis dan desis. Sebagai contoh  seperti…. Kalau Anda mendengar  mesin pompa air… yang sekali kali terdengar suara berdesis …Nah… begitulah bunyi suaranya…..!!!

 

“ Pak.. sepertinya kita memang harus kembali ke darat …, demikian katanya.

“ Bukan karena gangguan cuaca yang menghalangi perjalanan kita. Ada gangguan teknis….!!

 

“ Ya … sudah kita balik…., hanya itu satu kalimat – ucapan Kakakku kepada sang Pilot.

 

Berapa menitkah mesin pesawat Cesna itu mati… ???

Pokoknya cukup untuk membuat shockterapy bagi seorang pilot yang nakal kepada penumpang yang tidak memahami seluk beluk penerbangan.

 

Setelah menginap semalam di Kota Makassar, keesokan harinya barulah perjalanan dilanjutkan ke Pomalaa.

 

Setelah itu dalam lanjutan perjalanan keesokan harinya, ternyata ada sesuatu cerita – dibalik gagal terbang pesawat Cesna siang kemarin. Sang Pilot bercerita santai dalam penerbangan Makassar – Pomalaa.

Sebenarnya menurut perhitungan sang Pilot, apabila ia tetap melanjutkan perjalanan pada jam dua siang itu, ia akan terkurung di Pomalaa. Ia tidak mungkin kembali ke Makassar pada jam empat sore itu hari itu dari Pomalaa…. 

Ia memberi alasan bahwa justru pada jam – jam itulah ada angin… bla….bla… menuju … bla… bla…  (bla..bla = saya tidak tau apa yang disebutnya),  sedang bergerak dari lintang sekian menuju lintang sekian, sebagaimana yang ia jelaskan pada Kakak saya itu.

 

“ Bapak … bisa saya antar sampai ke tempat tujuan… tetapi saya terkurung ditempat Bapak, demikian penjelasan sang Pilot kepada Kakakku.

“ Saya benar-benar mohon maaf .. Pak, katanya.

Bukankah kemarin … Anda menerbangkan pesawat tanpa ada mesin…???kata kakakku padanya.

Ha…  ha… ha…., sang pilot tertawa terbahak-bahak. Dia memang mengakui bahwa ia mematikan mesin pesawat itu selama 5 menit saja.

 

Pertanyaan kita, bisakah pesawat itu dimatikan mesinnya sesaat, sebagaimana yang dilakukan sang pilot kepada kami waktu itu…??

Nah… secara sok tau, aku menjawabnya : “ bisa….” Simak baik-baik kebenarannya…..???!!!

 

Coba bayangkan ketika Anda masih kecil dulu, pasti Anda memiliki kegemaran membuat pesawat terbang dari kertas bukan….??? Walaupun aku anak perempuan, doeloe ketika masih kecil sering membuat dan memainkan pesawat kertas ini. Bahkan ketika aku menjadi seorang ibu muda, bahkan ketika sudah menjadi seorang “Uci atau Oma” dari anak-anak para keponakanku.

Amatilah … Anda akan menghembus moncong pesawat itu (ini entah kiat dari siapa yang mengajari….), setelah itu anda melemparnya keudara. Beberapa saat pesawat kertas itu terbang cantik – apabila sepasang sayapnya memiliki keseimbangan untuk melayang-layang diudara.

Dalam dunia pesawat terbang – tentu ada teori aerodinamika.. Sehingga dalam hal ini bukan kapasitas aku menerangkan ilmu ini. Bagiku cukuplah mengumpamakan pesawat terbang kertas itu. Jika diumpamakan pada sebenarnya pesawat, maka pesawat itu sudah dirancang adanya keseimbangan sepasang sayapnya…

 

Penerbangan antara Makassar – Pomala pada pagi hari itu berjalan lancar. Langit biru dan warna laut di Teluk Bone itu juga biru. Mendekati kawasan Pomalaa terlihat – gugusan pulau-pulau kecil disepanjang pantai Pomalaa. Mulai kelihatan,  rumah karyawan yang terlihat bagaikan kotak api yang tersusun rapi. Bagaikan sebuah maket aku mulai melihat tanah merah yang merekah yang digarap oleh truck tambang. Aku menganggap insiden kemarin siang, yang diulahi oleh pilot ini semestinya memang harus dimaafkan.

 

Ketika  bangunan dan perumahan yang ada didarat itu semakin tampak jelas, tiba – tiba sang Pilot berkata kepada Kakakku :

 “ Pak Ruswir….., kita jumping yuk……. Kita bisa beraktraksi diudara.

“ Berbahaya ndak .. Dik…, kata kakakku, sambil Kakak iparku menoleh dan minta pendapat isterinya. Sekaligus ia juga menawarkan padaku : “ Mau gak  Evy… kita diajak jumping oleh si Oom Pilot ini.

 

“ Mauu…. Kataku lantang.  Pastilah aku menjawab mau. Karena aku pernah menonton Video di rumah tentang petualangan seorang Pilot dalam film serial yang berjudul “ the Adventure of the sea.., disitu digambarkan sebuah pesawat perintis yang dapat mendarat dilaut. Nah .. jika peristiwa ini di filmkan, kami kami ini anggap saja adalah actor dan actrissnya.

Kakak iparku menampakkan wajah cerah. Calon karyawan juga. Kakakku lansung mendekap bayinya … Ini adalah pengalaman ber aktraksi di udara bukan. Siapapun pasti ingin mencobanya.

 

Mulailah pesawat beraksi…. Pesawat meliukkan badan berbalik arah untuk mengambil ancang-ancang. Setelah mencapai ketinggian tertentu, secara perlahan namun pasti mulailah peswat itu menukikkan badannya turun dilandasan laut.

Semua pasti sudah merasakan bagaimana pesawat akan landing. Begitulah gambarannyanya..!!

 

“ Suurrrrr………..terdapat cipratan air laut yang fantastic, ketika disentuh oleh bagian bawah badan pesawat. Sesaat kemudian kembali pesawat itu mengambil formasi take off dan terbang keudara. Yang jelas ada yang terasa di perut dan didada bahwa badanku ini melambung tinggi kehilangan daya…

Nah saat itu aku lupa nih.. pesawat itu sudah mengeluarkan roda atau belum aku tidak tahu..???.

 

Bagi Anda yang berdomisili di Amrika – tentu anda bisa menikmati suasana ini di Disneyland. Bagi yang berkunjung ke Jakarta Anda dapat menikmati cipratan air ketika anda menikmati aktraksi permainan di Niagara – di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Boleh juga sewa pesawat latih, katakana pada pilotnya bahwa Anda ingin menikmati Jumping on the sky to the sea  – seperti ibu Evy… (maaf ya… sekedar bergurau…)

 

Setelah menimbulkan efek cipratan air oleh badan pesawat itu, sesaat kemudian pesawat kembali ke udara. Apa yang kurasakan saat itu ?

Sambil tertawa terkekeh Pilot berkata lagi : ” Lagi ya.. Pak Ruswir… Kami diam ndak berkutik “.

Sekali lagi pesawat meliukkan badan untuk mengambil ancang-ancang dan dengan formasi seperti yang diuraikan sebelumnya. Badan pesawat mencolek air laut itu kembali dan kembali menimbulkan – Suuurrrrrr…… Benar benar fantastic cipratan air yang ditimbulkannya.

Lagi-lagi badan terbuai seperti kita naik kora kora di Taman Impian Jaya Ancol – Jakarta – perut dan nafas serasa melambung. Semua dilakukan pilot itu secara halus dan terampil sekali….!!!!

Barangkali jika penumpang pesawat ini lebih dari 5 orang – pasti akan terdengar teriakan sebagai upaya menghilangkan rasa panic. Akan tetapi kami tidak…..

 

Sesampai didarat…., telah ada staf perusahaan yang menunggu kedatangan rombongan kakakku. Mereka  akan mengambil barang-barang kiriman dari Jakarta, juga ingin mengetahui apa yang terjadi dengan pesawat kami. Mereka mendengar pesawat meraung-raung tapi tidak muncul dilandasan tanah merah,

 

” Ooh… ternyata mereka tidak tahu, bahwa pesawat ini sedang melakukan atraksi “ jumping on the Sky to the sea “.

Kakak iparku tertawa terbahak bahak sambil kepalanya geleng-geleng, menceritakan pada karyawan yang datang menjemput. Terlihat ada rasa senang diwajahnya dan pasti pengalaman yang menakjubkan baginya.

Duuh… lebih lebih bagi diriku.  yang merasakan aktraksi yang menakjubkan di dunia penerbangan – dikala aku berusia 14 tahun….!!!

 

Secara teknis.. pesawat Cesna sering digunakan untuk keperluan penerbangan perintis, pesawat latih,  dll. Kantor pusat dari penerbangan ini berkedudukan di Spore.

Pada bulan Desember 1972, kami mendengar bahwa Pilot pesawat perintis ini, wafat ketika mengalami kecelakaan udara.    Doaku ….Semoga arwahnya diterima disisinNya. Amiin

 

My diary on July 1972.

 

(This story has been confirmed from my old brother in law..).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: