3 – Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

PELAKSANAAN IBADAH HAJI – HARI TARWIYAH

Badanku terasa lemah membayangkan apa yang akan terjadi di Arafah. Akan mampukah padang pasir ini menampung jutaan manusia? Bagaimana pengaturan lalu lintas ke sana/ bagaimana hal-hal yang manusiawi lainnya yang harus kita persiapkan baik secara fisik dan mental. Sering kita dengar di tanah air, bahwa ujian ketika akan menunaikan ibadah haji ini luar biasa. Ada yang berjam-jam mengalami kemacetan untuk menuju Padang Arafah itu.
Demikianlah, rombongan kami diberangkatkan oleh petugas Maktab pada hari Tarwiayah, bertepatan padahari Minggu tanggal 8 Januari 2006, setelah ba`da dzuhur. Aku mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani. Secara jasmani, aku berusaha menjauhkan diri dari gangguan manusia pada tubuh kita, seperti b.a.b dan segala sesuatu yang mesti kita keluarkan dari tubuh. Anehnya saat ini tidak ada dorongan, untuk mengeluarkan hajad dan hadas ini. Aku berusaha untuk melompat-lompat, namun aku ditertawai.
“Uni Evi … coba minum susu saja, agar semuanya lancar. Atau minum air putih sebanyak-banyak. Yakin deh.. dijamin lancar..!!, kata Asmeinar teman seregu kami member saran.
Benar saja, apa yang kuinginkan ternyata berjalan mulus. Sementara itu – sebagai persiapan rohani, mengingat perjalanan yang sukar diprediksi kepadatannya, kami melaksanakan sholat jamak takqim qosar.Keberangkatan kami ke Arafah, dilakukan atur oleh petugas Maktab. Jarak tempuh Kota Mekkah menjuju Arafah adalah 21 gkm. Susana perjalan menuju Arafah berjalan lancer. Tidak ada kemacetan sebagaimana yang selalu dikawatirkan orang. Meskipun bus-bus pengangkut jemaah menuju Arafah sangat banyak, namun ternyata tidak terlalu padat.
Disini, Aku menyaksikan disaat menjelang Arafah, banyak para jemaah haji mandiri dari Negara-negara lain, mulai memasang tikar dengan berpayung langit. Sungguh luar biasa perjuangan mereka untuk melaksanakan rukun islam ke lima ini.

Mendekati lokasi Maktab kami, tiba-tiba ada diantara anggota rombongan kami mengalami gangguan tubuh – persis seperti yang semula aku kawatirkan. Ia mengalami sakit perut yang luar biasa. Mukanya terlihat pucat dan berkeringat menahan bom – yang sewaktu-waktu meledak tak tertahankan. Sementara itu Bus yang kami tumpangi masih berputar-putar mencari lokasi Maktab 44 – tenda tempat kami akan melakukan wukuf. Lagi pula, Pengemudi Bus tampaknya kurang terampil mengenali lokasi tenda kami.

Alhasil antara perjuangan dan daya juang untuk menahan gangguan pencernaan ini, anggota rombongan kami itu berhasil menahan dirinya tanpa didera rasa malu. Seandainya terjadi emergensi, yang tidak diinginkan, bisa kita bayangkan tidak saja akan berdampak pada rasa malunya namun juga dampak bagi anggota rombongan yang satu bus dengan kami itu.
Arafah dilengkapi pasilitas MCK yang memadai. Alhamdulullah tidak ada yang perlu di kawatirkan dalam urusan ini.

WUKUF : Hari Arafah – Tanggal 9 dzulhijah 1426 H

Wukuf adalah mengasingkan diri atau mengantarkan diri ke suatu “panggung replik” Padang Mahsyar. Suatu tamsil bagaimana kelak manusia di kumpulkan disuatu padang Mahsyar dalamformasi antri menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT.
Wukuf adalah suatu contoh sebagai peringatan kepada manusia tentang kebenaran Ilahi. Status hukum wukuf di Arafah adalah rukun yang kalau ditinggalkan maka hajinya tidak syah. Wukuf juga merupakan puncak ibadah haji yang dilaksanakan di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhizah.

Sebagai mana Sabda Rasulullah :
Alhaju Arafah manjaal jam`in kabla tuluw ilafji adraka alhajj
(diriwayatkan oleh 5 ahli hadis)
artinya : Haji itu melakukan wukuf di arafah “
Pada hari wukuf tanggal 9 zulhijad, yaitu ketika matahari sudah tergelincir atau bergeser dari tengah hari, (pukul 12 siang) hitungan wukuf sudah dimulai.
Yang pertama kami lakukan adalah, sholat dzuhur dan ashyar yang dilakukan secara bergantian. “Jamak Taqdim”, yaitu Sholat ashar dilakukan bersamaan dengan Sholat dzuhur pada waktu datangnya sholat dzuhur, dengan 1 x dan 2 x iqomat.

Setelah sholat zuhur dan ashar, disunatkan seorang Imam berkhotbah. Untuk memberikan bimbingan wukuf, penerangan, seruan – seruan ibadah dan panjatan doa kepada Allah SWT.
Setelah dilakukannya jamak takdim sholat dhuhur dan asyar, para jemaah haji disunatkan supaya menghadap Qiblat dan memperbanyak membaca doa dzikir dan AlQuran
Ketika berdoa disunatkan supaya menghadap Qiblat dan memperbanyak membaca doa zikir dan membaca Al Quran.
“laa ilaha illallaah wahdahula laa syarikalah, lahul mulku walahulhamdu, yuhyi wayumit, wahua hayyun layamutu biyadihil khair.
Wahua `alaa kuli syaiin qodiir”
Artinya : ya allah tiada tuhan selain allah tidak ada sekutu baginya
Baginya segala kerajaan dan puji
Dia yang menghidupkan dan mematikan. Ia hidup tidak mati
Ditangannya segala kebaikan dan dia Maha Kuasa.

Karena ada hadis Nabi yang mengatakan :
“ Sebaik-baiknya doa pada hari Arafah, dan sebaik-baiknya yang dibaca oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : laa ilaha illallaah wahdahula laa syarikalah, lahul mulku walahulhamdu, yuhyi wayumit, wahua hayyun layamutu biyadihil khair.Wahua `alaa kuli syaiin qodiir” (Hadis Riwayat : Tarmidzi).

Terdapat 3 inti orang menunaikan ibadah haji.
a. Pertama pergi bertobat
b. Kedua pergi beribadat, dan
c. Ketiga pergi berdoa supaya ada perubahan dalam hidup sesudah haji.

Diantara hikmah ibadah haji :
• ibadah haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah SWT semata dengan meninggalkan kemewahandan keindahan sebagaimana yang diungkapkan dalam berpakaian ihram.

• melaksakan kewajiban haji merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Hanya orang yang mempunyai kemampuan ini yang diwajibkan menunaikan ibadah ini agar ia mendekatkan diri pada Tuhannya.
• Pelaksanaan haji adalah merupakan perkemahan Rabbani, yang disegerakan dan disetir oleh tuntunan rohani oleh yang Maha Kuasa, sehingga secara sukses mengatur beratus ribu bahkan berjuta manusia berkumpul di Padang Arafah itu.
• Umat islam dari seluruh dunia berkumpul pada pusat pengendali roh dan kalbu mereka di Padang Arafah ini. Disini sirna perbedaan kaya dan miskin serta satu sama lain saling menyapa dan mengasihi.

Bagiku yang terpenting, haji menyimpan kenangan di hati, mampu membangkitkan semangat ibadah dan ketundukan tiada kepada perintah Allah.

Kewajiban melaksanakan ibadah haji disyariatkan pada tahunke 6 H, setelah Rasululah SAW, hijrah ke Madinah. Setelah di Syariatkan , ternyata Rasul sendiri hanya 1 kali mengerjakan haji yang kemudian disebut haji wada. Tak lama sesudah itu beliau wafat.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan upacara peribadatan yang sangat erat hubungannya dengan syariat yang disampaikan Nabi Ibrahim. Disini meyakinkan kita bahwa agama yang dianut, kita bukan ajaran yang baru, tetapi agama yang pernagh diajarkan Nabi Ibrahim AS. Yaitu
– mengajarkan tauhid
– meng-Esakan Allah sebagaimana yang tercermin dalam talbiyah ketika kita berpakaian ihram

Arafah memang terasa lain bagi mereka yang wukuf di sini. Suasana Arafah hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan ibadah ini.

Jutaan manusia berkumpul disini untuk berzikir mengharap tuhan mendengar permohonannya. Bagaikan dengungan lebah atau gelombang samudra yang maha dahsyat suara bergema disekitar Arafah. Ucapan zikir jutaan manusia.

“Ya Allah hanya kepadamu aku menghadap dan hanya kepadaMu aku mengharap. Jadikan dosaku terampuni, haji diterima, kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Di Arafah ini aku memohon ampunan pada Yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Dia yang maha hidup dan Maha mengatur segala makhluknya dan kepadaNya aku bertaubat.

Dzikir ini dibaca 100 kali oleh para jemaah dengan berurai air mata membayangkan segala kesalahan yang kita lakukan didunia.

“Aku datang memenuhi panggilanMu,..Ya Allah, aku datang memenuhi panggilamu tidak ada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala sesuatu dan nikmat serta kekuasaan hanya milikMu tiada sekutu bagiMu.
Seribu macam doa dilafazkan untuk memohon ampunan. Menuju Allah memohon ampunan, memohon perlindungan dari godaan syetan, memohon limpahan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW serta kepada saudara/ kerabat beliau.

Memohon ampunan bagi ayah, ibu, anak – anak, adik/kakak, saudara-saudara, kaum kerabat, guru, sahabat, dan orang-orang yang berpesan untuk didoakan dan semua orang yang berbuat baik kepada diri kita.
“Ya Allah ya Tuhan……… berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat dan hindarkanlah kami dari api neraka. Semoga salam dan sejahtera tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada para sahabat kami………………Amiin ya robbal alamin.

Khutbah wukuf disampaikan oleh Sdr. Askari – pegawai Kantor Kementrian KLH – adalah -salah satu anggota rombongan dari KUA – Serpong. Ia mempunyai wawasan keislaman yang sangat luas sehingga sangat menyentuh hati para jamaah yang berada dalam satu tenda dengan kami. Kami – para ibu-ibu – menangis dan meratap atas uraian khutbahnya. Ia berhasil menyadarkan kita bahwa sebagai hamba yang beriman kita belumlah apa-apa untuk berbuat untuk diri kita sendiri, untuk membela Islam, menegakan keimanan dan keislaman kita sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.
Pengkhotbah berpesan, bahwa kita harus kembali kepada hal-hal yang dicontokan Rasulullah SAW. Janganlah kita hanya berpedoman pada Ulama semata, yang tidak sesuai dengan yang diperbuat Rsulullah. Kebanyakan kita terkondisi pada mazhab-mazhab bertentangan antara satu dan yang lainnya dan saling mempertentangkan dalil-dalil dan keyakinan diantara mereka

“ Saudara…… saudara lihatlah ……!! Para malaikat turun di Arafah saat ini. “Memohon ampunanlah kepada Allah …… serunya ber-api-api.

Ia mengingatkan kembali atas 3 pesan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga,yaitu:

1. Nabi Muhammad SAW, mengharamkan darah sesama muslim terbunuh akibat mempertahankan keyakinan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
2. Jauhilah Riba, yaitu perdagangan yang tidak mengikuti syariat islam.
3. Lindungi istri dan anak oleh para suami/ayah. Kepada istri, layanilah suami/anak2 dengan sebaik mungkin serta berbaktilah kepada keluarga.

Kedekatan bathin antara kita dengan Allah SWT atas dzikir-dzikir yang kita lafazkan, seakan diri ini telah menyatu dengan tuhan Yang Maha Agung. Waktu antara dzuhur sampai dengan magrib di Arafah ini, terasa sangat singkat bagi kami.

Sementara itu, dihadapanku terasa ada yang sangat mengganggu suasana bathinku. Ada sebagian jemaah yang tidak memamfaatkan momentum untuk bertaubat ini. Aku menyaksikan masih ada para jemaah bercengkrama, bercanda ria antara mereka yang mengganggu konsentrasi kita dalam berzikir ini. Astagfirullah………………

Beberapa jemaah haji setelah mendengarkan khutbah ada yang tidur karena didera kantuk dan matanya yang lebih berkuasa atas diri ini. Bahkan ada yang pusing mendengar deru dan gelombang zikir dari seantero Padang Arafah yang dilafazkan oleh jutaan manusia yang sedang berwukuf.
Aku menyaksikan bagi hamba yang tidak siap dengan suasana ini, maka baginya suara ini sangat memekakan telinga. Kepala pusing mendera bagaikan ia sedang di rukyyah.

Disini aku dapat menyimpulkan bahwa:
->Bagi kalangan muda usia – perjalanan haji ini seakan perjalanan wisata dakwah. Betapa tidak, ……! Tidur ditenda dengan pasokan makanan/minuman berlimpah ruah yang disediakan oleh pihak maktab, sungguh sangat menyenangkan.
Bagi orang tua yang sudah uzur, suasana kesyahduan kurang memberi makna baginya, karena disebabkan factor kelelahan karena kekuatan fisik yang menurun.

Sungguh kesempatan yang berharga ini harus kita mamfaatkan untuk bertaubat kepada Allah SWT, berdoa agar diberi kesempatan lebih baik serta merobah sikap prilaku kita.

Rangkaian ibadah haji untuk menuju kesempunaan islam, manakala kita dapat menyelesaikan rukun secara sempurna dan khusuk. Suasana batin setiap jemaah memang tidak sama. Ketidak seriusan pihak lain seakan menjadi ujian bagi kita.
Beruntunglah aku, dimana regu kami memiliki komitmen yang sama untuk memamfaatkan momentum Arafah ini dengan berdoa dan berzikir sebanyak-banyaknya, sehingga kami merasakan kepuasan bathin yang tiada taranya. Sungguh ….suasana bathin yang belum pernah aku rasakan seumur hidup.

Aku bersyukur pula – Abi – memilih tempat khusus diantara bukit-bukit diseputar Arafah itu, menyampaikan doa wukufnya tidak jauh dari maktab kami. Bukankah ini menambah kekhusukannya, dibandingkan bila ia ada di tenda kami, yang saat itu sudah diisi dengan senda gurau para jemaah pria.

MABIT DI MUDZALIFAH
Senin,9 Dzulhijjah /hijriah

Perpindahaan jutaan manuasia dari Arafah ke Mudzalifah memang memerlukan kepiawaian tersendiri. Manajemen tranformasi dan transportasi manusia setiap tahun ditingkat kualitasnya.
Terakhir dengan sistem taraduddi, kekisruhan dalam mengatur jutaan manusia semakin diminimalisir.
Rombongan jemaah haji kali ini, sudah tidak mengalami kemacetan untuk menempuh perjalanan Arafah Mudzalifah sejauh 9 km, sebagaimana yang pernah dialami jemaah haji tahun-tahun sebelumnya.

Demikian pula menuju Mudzalifah – Mina sejauh 5 km. Maktab yang dirunjuk oleh masing-masing negara bertanggung jawab dalam penyediaan fasilitas diArafah, Mudzalifah, dan Mina.

Dalam antrian yang begitu panjang untuk memindahkan kelompok maktab yang terdiri dari, 2005 rngibu jemaah haji Indonedia tentunya memerlukan kesabaran kita dalam menunggu giliran. Belum lagi jemaah dari negara-negara lain. Jam 9 malam kami meninggalkan arafah dengan dengan perasaan bersih hati menuju Mudzalifah.
Salah seorang teman kami sdr. Ir. Nur Triharjanto menyatakan seandainya kita dapat melihat, maka di Arafah ini akan terlihat begitu banyak serigala, harimau, ular, berkeliaran setelah keluar dari tubuh manusia. Tentu yang dimaksudnya adalah sifat-sifat kebinatangan telah keluar dari tubuh hamba yang telah bertobat. Manusia telah suci bagaikan bayi yang baru lahir.

Sesampai di Mudzalifah jemaah sibuk mencari batu kerikil. Walaupun dalam tuntunan manasik haji yang dikeluarkan oleh badan penerangan haji pmerintah Saudi Arabia, bahwa mengambil batu di Arafahpun tidak mengapa. Kesempatan untuk hal inipun ada. Akan tetapi ada perbedaan, kamipun tidak berani memungut batu kerikil tersebut dari Arafah. Kadangkala seperti dalil dan keyakinan menimbulkan diskusi kecil-kecilan diantara kami. Seperti halnya ketika kami memulai perjalanan menuju Arafah dari Mekkah.
Jika kita mengikuti apa yang dilakukan Rasul, ketika menunaikan ibadah Haji – sunah Rasul – perjalanan untuk wukuf di Arafah, bermula dari Mina pada ba`da subuh. Namun kami diberangkatkan, pada satu (1) hari sebelum wukuf yaitu pada hari Tarwiyah. Pada hari Tarwiyah itu, pada ba`da dzuhur kami diberangkatkan dibawah koordinasi oleh Sub Daker – Makkah, yang dilakukan oleh Maktab masing-masing.
Maktab adalah penyelenggara akomodasi, transportasi dan logistik bagi para Jemaah Haji, yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama. Bagi kita haji Jemaah Indonesia, telah bersepakat bahwa ketentuan yang ditetapkan pada buku manasik haji, tetap menjadi panutan kita dalam menjalankan rukun haji ini.

Kawasan Mudzalifah Masjidil Haram, dikelilingi bukit batu, menghembuskan angin malam yang menusuk tulang . semestinya pada kawasan ini, para jemaah disunahkan berdoa dan berzikir.

Aku bersin-bersin bersahutan dengan jemaah lain ketika angin malam menerpa wajah. Kami menunggu giliran untuk diangkut ke Minan, oleh petugas Maktab. Diantara kami ada yang dapat merebahkan dirinya sambil menikmati tidurnya yang dengan lelap. Sementara aku, walau kantukku mulai menyerang, namun hati ini susah untuk ditidurkan.

Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 wib. Berarti saat ini di Indonesi menunjukkan jam 06.00. Aku mengirim SMS – pada Iman anakku, untuk menanyakan apakah ia sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat Idhul Adha pada pagi ini.
Tak berapa lama kemudian akhirnya, aku tertidur sejenak dan terbangun ketika para jemaah bersiap-siap untuk melakukan sholat shubuh. Kami segera mengambil wudhu, namun setelah itu terjadi sedikit kegaduhan. Ada yang mengatakan agar menunda sholatnya shubuhnya, karena saat itu giliran rombongan kami yang akan diangkut oleh Bus . Namun ternyata menjelang azan subuh tiba, Bus yang akan mengangkut jemaahpun belum juga kelihatan. Akhirnya sebagian kami mempersiapkan diri untuk sholat subuh ketika azan berkumandang.
Ketika imam melafazkan takbiratul ihram – ketika itulah bus yang akan kami naiki datang menjemput kami. Petugas maktab sudah tidak sabar untuk mengingatkan kami agar kami segera naik keatas bus.
“Tariq…. Tariq Hajji …… Hajjah ……… Bus sudah datang”, teriaknya dalam bahasa Indonesia yang lancar. Hati ini mendua untuk meneruskan atau tidak sholat ini. Kami mencoba khusuk mneruskan sholat kami, walaupun petugas maktab yang Arabic tersebut sedikit dongkol. Sementara Imam sholat kami tetap membaca surat yang panjang dalam bacaan sholat yang diimaminya.
Aku berkata-kata dalam hati, apakah imam tidak sadar bahwa kami akan ditinggalkan bus ? bukankah akan lebih afdo, bila l ia membaca surat pendek saja. Asytagfirullah al adziim………………….. Berat nian godaan ini.
Akhirnya kami bagian dari Maktab 39, adalah rombongan kedua yang terakhir meninggalkan Mudzalifah. Muatan bus itu semestinya untuk 50 orang dijejali menjadi k.l 70 orang, termasuk barang bawaan jemaah. Kami – jemaah Haji dihalau bagaikan ayam-ayam untuk dipaksa naik ke Bus oleh para petugas Maktab. Tahukah Anda, tidak ada sopan santun dan tidak ada keramahan. Hal yang serupa ini juga terjadi ketika kami meninggalkan Arafah pada delapan jam yang lalu.
Hatiku berkata : Ya… Allah inilah negeri yang disanjung oleh jutaan umat muslim didunia. Lebih-lebih kita orang Indonesia, yang senantiasa ingin menunaikan ibadah haji, dengan mempersiapkan keimanan dan harta benda untuk menuju tanah suci ini. Namun benarlah ternyata – sisa-sisa jahiliah – masih ada pada sebagaian besar bangsa Arab ini.
Bus yang kami tumpangi, terasa oleng ketika menuju ke Mina yang jaraknya 5 km. Aku hanya pasrah dan berdoa, agar tidak terjadi sesuatu apapun dengan bus ini. Bus berjalan terseok-seok menuju Mina. Aku menyaksikan begitu banyak jemaah negara lain menuju Mina dengan berjalan kaki dari Muzdalifah ini menuju Mina. Mereka memang memiliki stamina yang kuat bila di bandingkan dengan bangsa dari Sout East Asia / Asia Tenggara.
Mengenai pengelola Maktab, harap diketahui mereka adalah pelaku bisnis tahunan. Semakin efisien bus yang digunakan untuk mengangkut rombongan Maktabnya, maka semakin sedikit pengeluaran biaya untuk bus ini. Aku tidak melihat petugas haji Indonesia Daker/Sub Daker dalam pelaksanaan perpindahan massal ini. Semua semata-mata urusan Maktab. Bus yang disediakannya sangat terbatas bila dibanding dengan jumlah jemaah yang akan diangkutnya dalam 1 maktab k.l 2550 orang. Padahal, waktu shubuh di Muzdalifah adalah batas terakhir para jemaah itu harus meninggalkan Mudzalifah.
Matahari menampakkan cahaya kemerahan di ufuk timur Muzdalifah. Waktu berjalan dari menit ke menit, Tidak terasa bus yang berjalan terseok-seok itu semakin mendekati Mina. Sesampainya kami di Mina, matahari sudah menampakkan sinarnya.
Di Mina ini, kami akan menginap selama 3 malam dalam tenda-tenda yang be AC. Didalam tenda besar itu – terasa menjadi sempit, karena ditempati oleh dua rombongan – setara 80 orang jemaah. Kami tidur bagaikan ikan pepes, karena demikian sempitnya. Entah siapa yang benar – entah mana yang salah – sesungguh nya kondisi ini tercipta karena diantara rombongan dua rombongan tidak ada yang meng – alah untuk mencari tenda yang lain.
Walau hati ini ingin bertanya – namun tidak perlu bertanya, agar kita tidak semakin didera oleh gerutuan yang akan mengakibatkan kurangnya kekhusukan dalam kita menunaikan rangkaian prosesi ibadah haji ini.
MABIT DI MINA – 10-13 Djulhijah 14226/

Mina secara harfiah adalah tempat tumpahan darah binatang yang disembelih. Mabit di Mina merupakan kelanjutan dari pelaksanaan ibadah sebelumnya.

Ada dua ibadah yang wajib dilakukan jemaah selama di Mina, yaitu:
a. Pada hari Nahar, melempar Jamarat yaitu Jamratul Aqobah
b. Pada hari Tasrik – selama 2 hari berturut-turut bagi yang memilih Nafal Awal dan 3 hari bagi yang memilih Nafar tsani, yaitu melempar jamratul Ulaa, Wustho, dan Aqobah.

Ketika kami berziarah sebelum pelaksanaan ibadah haji, aku sudah melihat kawasan Mina ini tidak begitu luas, namun berbeda apa yang kita alami ketika para jemaah melakukan mabit diwilayah ini.

Ternyata kawasan ini menjadi luas secara otomatis. Hal ini sesuai dengan ucapan Rasulullah SAW : “sesungguhnya Mina ini seperti rahim seorang ibu, yang meluas ketika terjadi kehamilan.” Subhanallah…………………………..

Mengapa jamaah haji diwajibkan melempar jamarat ini ? Melempar jamratul Ulaa. Wustho dan Aqobaah tidak lain semata-mata mengikuti tuntunan, Rasulullah SAW.

Jadi, tidak ada yang perlu dikawatirkan jika berada tempat di sini. Melempari Jamarat adalah simulasi yang atas apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim, ketika beliau digoda oleh syetan untuk menyembelih putranya. Adapun kita melakukan kewajiban melempar jamarat ini adalah semata-mata mengikuti tuntunan, Rasulullah SAW.

Di Mina kami menempati tenda ber AC berlantai karpet, berjejal dalam 3 rombongan atas k.l 135 orang jemaah. Satu (1) maktab, terdiri dari 6 kelompok terbang. Kami bercampur dengan jemaah dari embarkasi Jakarta, Palembang, Solo, Surabaya, Banjar Masin, Ujung Pandang, sehingga jumlah jemaah haji pada satu maktab adalah 2550 orang.

Coba dibayangkan ! Dengan jumlah jemaah yang sebanyak ini, sementara toilet (MCK) yang tersedia hanya 20 bh/pintu masing-masing untuk pria dan wanita. Disini tingkat kesabaran kita diuji luar biasa, untuk memanfaatkan sarana MCK yang serba terbatas itu.
Menurut perhitunganku, kemampuan manusia BAB (buang air besar) dapat bertahan selama maksimal dua hari. Akan tetapi kemampuan manusia untuk menahan b.a.k (buang air kecil) adalah maksimal 6 jam. Apabila kita terdesak untuk mengeluarkan b.a.b dan b.a.k ini, kita harus antri minimal dibelakang 5 – 4 orang. Bisa Anda bayangkan, kita akan menunggu giliran waktu k.l 1 jam. Bila kita mempergunakan MCK waktu malam atau siang sama saja. Masya Allah……….

Pernah aku mencuri kesempatan mandi dengan mengguyuri tubuh dari dalam baju. Mengapa seperti itu ? Karena aku hanya mendapat jatah untuk sekedar buang air kecil bukan untuk mandi. Seorang ibu menawarkan agar aku bergabung dengannya. Tawaran yang baik ini aku terima dengan hati gembira. Tidak henti-hentinyaaku mengucapkan terima kasih pada wanita itu.. Akan tetapi aku tidak membawa perlengkapan mandi. Ibu ini, menawarkan sabunnya. Alhasil demi kenyaman tubuh dari keringat, aku guyur badan itu tanpa menggunakan handuk. Aku pulang basah kuyub dari kamar mandi ketempat Tenda rombongan kami. Ini tidak mengapa karena toh baju bisa diganti ditenda.

Didalam MCK penuh dengan ceceran pembalut wanita pantyliner para wanita. Keadaan sampah disetiap kamar sudah menggunung. Aku berfikir, kita wanita Indonesia kok bisa seenaknya tidak membuang kotoran itu ke tempat sampah yang disediakan.
Pada Suatu ketika, seorng ibu – usia k.l 60 an tahun, secara sukarela menyapu sampah tersebut dari setiap kamar mandi. Iba hatiku melihatnya. Beliau ini bukan Celaning Service. Ia hanyalah seorang volunter yang ingin berbuat amal demi kebersihan bersama. Lama-kelamaan, sampah yang dikeluarkan dari tiap-tiap kamar mandsi, semakin menggunung. Ia tidak akan sanggup mendorong sampah – sampah tersebut. Lillahi ta ala aku segera membantu ibu tersebut dan mendorong gunungan sampah tersebut yang ternyata lumayan berat. Terasa berat untuk mendorong dan menyapu sampah-sampah itu. Apalagi bagi sang ibu tesebut. Aku memijat punggungnya yang tua dan berkata kepada dengan doaku :
“ Ibu saya mendoakan ibu …… agar pekerjaan ini menjadi amalan sholeh bagi Ibu. Amiin ya rabbal alamiin.

Pengalamanku dengan MCK ini luar biasa. Sebuah KBIH dari Jogyakarta, kalau tidak salah “ MT AISYAH Jogyakarta – menyepakati agar kamar-kamar mandi wanita ini, dilakukan pemisahan antara untuk kepentingan sekedar b.a.k/b.a.b dan untuk Mandi. Semua sudah tertulis rapi dan jelas. Namun ada saja, diantara wanita-wanita ini yang tidak peduli atas ketentuan yang spontan diciptakan demi kebaikan.
Begitulah, kebiasaan mengatur demi kebaikan bersama harus aku lakukan. Seorang ibu yang tidak peduli dengan kesepakatan itu, harus aku bujuk agar dia mau berpindah tempat. Ia bermaksud mandi, namun ia antri pada tempat KPC/KPB. Dia ngotot tidak bersedia pindah tempat, berhubung dia sudah merasa pada antrian terdepan pada MCK yang dikhususkan bagi KPC/KPB ini. Ketika itu aku menunjukkan padanya – dimana seorang ibu yang sedang mengeluarkan hajat kecil di tempat wudhu. Tampaknya ia tidak mampu menahan KPC. Aku berkata pada si Ibu ini :
“Tahukah ibu, jika ibu tidak mengikuti kesepakatan ini, maka akan semakin banyak ibu-ibu yang lain mengeluarkan pipis sembarangan tempat. Dan itu akan menjadi genangan najis.”
Akhirnya setelah menyaksikan kejadian seorang mbah-mbah pipis sembarangan, maka beranjaklah ia pindah ketempat yang sesuai dengan peruntukan kamar mandi itu.
Secara tidak sadar, Aku bertindak sepertti Asykar Putri di Masjid Nabawi – Madinah. AKu teringat, ketika berada di Mesjid Nabawi dulu, Men or Women toilet tertata bersih, karena ada asykar mengaturnya.
“Hajjah……. Hajjah…… Tariq……. Sana……….sana atau bawah……. Bawah teriakannya dalam bahasa Indonesia, manakala terjadi kemacetan di pintu masuk MCK. Mereka mengarahkan para kaum wanita yang ingin berhajad ke Toiley yang kosong. Nah….di Kawasan Mina ini, dengan sejumlah jemaah yang terkonsentarasi pada satu wilayah sacara bersama memang tidak semudah yang kita harapkan.

HARI NAHAR : 10 dzulhijah 1426 h

Yang disebut dengan hari NAHAR, adalah waktu afdhol untuk melempar jumratul aqobah. Pada jam 06.00 pagi ini – sebuah KBIH yang satu tenda dengan kami, membawa rombongan jemaahnya ke Jamarat. Dua jam kemduian mereka telah kembali. Dari rombongan ini kami mendapat informasi bahwa keadaan di jamarat masih lengang. Berdasarkan informasi ini, regu kami segera pula mengambil inisiatif untuk menyegarakan diri untuk berangkat menuju jamarat.

Harap diketahui. Kelompok kami yang terdiri dari teman satu kantor, teman satu kompleks dan satu kawasan adalah Jemaah Haji Mandiri. Mandiri dalam mencari pemahaman dalam menunaikan rangkaian ibadah haji. Kami bergerak mengikuti tuntunan yang ada pada saat manasik haji serta buku panduan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.
Menurut buku panduan ibadah haji, Jemaah Haji Indonesia dianjurkan agar melakukan melempar jamarat pada malam hari. Akan tetapi kita menyaksikan begitu banyak rombongan jemaah yang dikoordinasikan oleh KBIH tertentu – telah melakukan acara melempar jamarat ini. Atas dasar ini pulalah yang memicu semangat regu kami untuk bersegera pula menuju Jamarat itu. Apa yang tercantum dalam buku panduan itu menjadi terabaikan. Sementara itu bagi -jemaah pria pada rombongan kami – saat melempar jamaarat – merupakan saat untuk bertahallul awal. Ia akan melepaskan pakaian ihramnya dan akan mencukur habis rambutnya.

Ketika kami berangkat menuju Jamarat di pagi hari, pada saat sang mentari bersinar terang, aku menyaksikan manusia berbondong bondong dan berjalan kaki menuju jamarat. Suasan yang tercipta adalah suasan airbah mengalir diantara sungai-sungai. Ribuan manusia – bagaikan air bah itu – menembus terowongan Al Moaisem Sloughterhouse untuk menuju Jamarat. Kami tidak menyadari sama sekali bahwa pagi itu adalah waktu afdhol bagi para jemaah untuk melempar Jumaratul Aqobah.
Orang Afrika, Turkey termasuk warga negara-negara diseputar Negara Teluk, Balkan, Negara Asia Selatan; India, Pakistan, Afganistan yang berbadan besar-besar berjalan dengan tegapnya menuju Jamarat. Ketika itu Jamarat sudah sedemikian padatnya.
Menjelang Jamratul Aqobah terjadi deburan gelombang manusia yang bermaksud sama untuk melakukan lemparan. Terjadi pusaran yang luar biasa dimulut Jamratul Aqobah itu. Tidak ada lagi yang mau mendengar kata: Hajjii …. ..sabar ……sabar , untuk menyadarkan mereka agar mereka bersabar.
Saat ini ego manusia semakin kuat. Semua ingin masuk atau keluar dari pusaran itu. Aku menyebutnya pusaran syetan. Karena semua tidak mau mengalah untuk memberikan kesempatan lebih dahulu bagi yang berada di posisi depan

Jujur saja – tidak perlu kita menunjukkan orang lain dalam peristiwa ini, diri ini termasuk manusia yang tidak sadar diri akan arti sebuah kesabaran sesungguhnya.
Pada pusaran ini kita tak berdaya untuk menghindari diri dari jepitan sesamamanusia.
Kesalkah hati ini kepada para jemaah yang setinggi daun pintu itu. Mereka merambah diri kita – manusia Indonesia yang bertubuh mungil – bagaikan mereka berjalan di semak-semak belukar.

Bahuku serasa patah-patah oleh rambahan tangan mereka ketika mereka berusaha mendahului kami. Aku harus berdiri sesadar-sadarnya, bahwa aku tidak boleh jatuh dan terinjak. Jika jatuh, maka mautlah tantangannya. Semakin kita ingin berada pada posisi depan terdepan dari melempar Jamratul Aqabah itu, semakin terjepit badan ini. Sungguh malang nian kita yang berbadan kecil ini.

Abi dengan kekuatan tenaga dalam, berusaha melindungi diriku. Ia telah melakukan pelemparan. Ketika aku melempar batu yang pertama tidak sampai, bahkan mengenai kepala orang. Yang kedua masih mengenai kepala orang ……. Astagfirullah al adzhim. Begitu lemparan ketiga, barulah batu melayang ringan ke Jamarat. Kemudian hingga ada sepuluh batu, baru aku memenuhi syarat 7 buah lemparan pada dinding jammarat.

Ketika kami pulang, kami melihat gelombang manusia semakin bergelombang menuju jamarat.mereka berjalan tegap dan langkah lebar berucap :

Allahu Akbar…….. Allahu Akbar……. Allahu Akbar ………. Laa ilaa haillalahu wallahu Akbar…….. Allahu Akbar walillahilham……

Aku merasakan suasana desakan ini, pasti lebih dari yang kurasakan saat ini. Memang benar petunjuk yang diberikan panduan Manasik Haji yang dikeluarkan Departemen Agama, bahwa jemaah Indonesia hendaknya mengutamakan keselamatan saat melempar jamarat ini.
Sungguhpun waktu afdhol dalam melempar jamarat pada hari nahar ini yaitu waktu dhuha, namun bila tidak dilakukan pada waktu afdhol – tidak mengapa. Amalan tidak menyebabkan gugurnya kewajiban haji.

Dengan selesainya melempar Jumratul Aqobah, maka kami diperbolehkan melakukan Tahalul Awal, yaitu :
a. memotong rambut bagi jemaah wanita, dan memangkas rambut bagi jemaah pria.
b. Bagi pria telah diperbolehkan melepaskan pakaian ihramnya.

Sedangkan Tahalul Qubro dilakukan, nanti setelah kami melakukan tawaf ifadhah dan sa`i.

MELEMPAR JAMARAT (Hari-Hari Tasyrik)
tanggal 11,12,13 Dzulhijah 1426 H

Pada hari ke 2 di Mina atau tanggal 11 januari 2006, kami lebih santai dalam melakukan pelemparan.
Rencanya, kami akan melakukan pelemparan 3 jumrah pad ba`da asyar hari itu. Namun karena kami dilarang oleh pihak Maktab, serta informasi yang sayup-sayu kami dengar terdapat accident di seputar jamarat. Sekian ratus jamaah haji asal India, dll mengalami cidera tubuhnya, akibat terhimpit dalam desakan di Jamarat itu.

Untuk mengantisipasi gangguan keselamatan inilah, maka para petugas Maktab – berbangsa Arab melarang kami menuju jamarat. Menurut mereka, di jamarat masih sangat padat, sehingga akhirnya kami melakukan pelemparan yang kedua kalinya ini pada jam 10 malam.
Sementara itu, mengingat lokasi jamarat k.l 3,5 km dari tenda kami. Kami mulai mendiskusikan, apakah diperbolehkan bila kita melakukan lemparan ketiga pada jam 2 dini hari berikutnya ? Sehingga – kita akan berdiam diri dengan melakukan mabit disekitar lokasi jamarat, menunggu datangnya waktu untuk melempar jamarat untuk yang ketiga kalinya . Bukankah hal ini akan lebih efidien dari sisi tenaga kita.
Pada akhirnya, tidak satupun diantara kami yang mampu mencari dalil kebenaran akan efisiensi ini. Pernah aku bertanya pada salah satu ketua KBIH rombongan lain. Merekapun tak berani menjawabnya. Meskipun ternyata ia dan rombongannya (KBIH itu), mengambil kesempatan ini dengan melakukan pelemparan pada waktu yang tidak jauh berbeda, yaitu jam 10 malam (22.00 waktu setempat ) dan jam 2 malam dini hari berikutnya. atau berselang waktu selama 4 jam dari pelemparan sebelumnya. Wallahualam……

Pada hari ketiga di Mina atau tanggal 12 dzulhijjah 1426 H, kami mengambil sikap atas ketidak pastian kapankah waktu yang diperbolehkan untuk melempar Jamarat. Ketua regu kami – Haji Syafrul Adlin, ST, berpendirian bahwa waktu dhuha tidak masuk hitungan penilaian. Sementara hari ini hari terakhir bagi orang yang memilih nafar awal. Jamarat akan lebih padat lagi dikunjungi oleh jamaah. Aku dan Aby berdua memilih setelah ba`da shubuh berjalan menuju jamarat untuk melakukan lemparan. Ternyata pada waktu itu lokasi sekitar jamarat masih dipenuhi oleh jemaah haji yang melakukan mabit.

Mabit artinya bermalam semalam. Sebagian jemaah berpendapat mabit di jamarat wajib dilkukan, karena lokasi tenda Maktab Indonesia termasuk Mina Jadid (baru), sehingga mereka beranggapan tidak afdhol apabila kita tidak melakukan mabit disekitar Mina Qodhim
Entahlah ….. faham manakah yang akan kita ikuti / kita akan semakin bingung. Semakin kita banyak mengetahui dalil orang semakin kita bingung memahaminya.

Regu kami bersepakat, untukmengikuti petunjuk yang diberikan Departemen Agama dengan tidak melakuka wira wiri dari Maktab ke lokasi jamarat dan tetap memilih waktu melempar pada jam yang ditentukan ,demi keselamatan diri. Ada hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa Mina ini bagaikan rahim, seorang ibu yang mengembang sesuai kebutuhan. Jadi sebenarnya tidak mengapa bila kita Mabit di Mina Jahid saja.

Ada teknik melempar jumroh agar kita tidak terjepit dalam kerumunan manusia yaitu bahwa jamaratul yang saat ini memanjang k.l sepuluh meter. Kita dapat melakukan pelemparan pada ujung dinding terakhir, dimana kerumunan manusia yang berebut untuk melempar sudah berkurang. Alhamdulillah teknik ini dapat aku lakukan dan mempermudah pelemparan.

Ketika sebagian jemaah memilih nafar awal , terjadi insiden dalam pelemapran di Jamarat ini. Menurut informasi yang kami peroleh korban ada 300 orang diantaranya ada yang meninggal dan pingsan. Sebagimana yang pernah aku ceritakan pada halaman sebelumnya, jemaah dari Afrika,Turkey, dan mungkin beberapa negar ayang selalu memilih waktu afdhol untuk melempar, yaitu sat tergelincir matahari (ba`da dzuhur). Mereka semua berkehendak melempar pada waktu afdholtersebut, yaitu ba`da dzuhur, sehingga terjadi kerumunan yang luar biasa serta desakan manusia yang saling mendorong dan akhirnya terjepit.

Kami: aku, Aby, Bu Enggay, Bu Sri, Ibu Mundariah melempar Jamarat pada pulu; 06.00, pada jum`at tanggal 13 Ajnuari 2005. kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat disertai dengan doa semoga menjadi haji yang mabrur. Sepulang dari melempar kami merasa berbahagia bahwa perjuangan kami dalam melaksanakan rukun haji ini, kami sudahi dengan selamat, terhindar dari resiko desakan manusia yang saling mendorong dan akhirnya terjepit. Dicuaca pagi yang yang cerah ini, kami menikmati gado-gado yang dijajakan oleh perempuan Madura. Nikmat sekali rasanya bila dibandingkan dengan makanan yang disediakan Maktab selama mabit berturut-turut makan “kari daging unta”.
Nafar Tsani, pada hari-hari tasyrik telah kami lalui dengan sempurna. Kami pulang ke penginapan di Mekkah, dengan kondisi bus yang sarat penumpang. Alhamdulillah

Dalam tuntunan manasik dijelaskan bahwa, diantara 3 pilar ulaa, wustha, dan aqobah para jemaah dapat memanjatkan doa dan menyampaikan hajat dan memohon ampunan kepada Allah SWT sambil tetap mengkadap Ka`bah.
Aku menyempatkan diriuntuk berdoa sambil berjalan diantara pilar yang satu ke pilar yang lain , yaitu agar aku mampu menuntaskan dan menyelesaikan amanah dari orang – orang tua dalam keluarga besarku dapat berjalan lancar.

Ya Allah berikanlah akukemudahan dan kemampuan untuk menyelesaikan urusan yang besar ini….. bahwa sesungguhnya ini adalah amanah dari orang-orang tua kami sesungguhnya ini adalah amanah dari orang-orang tua kami sehingga hasilnya diharapkan akan memberikan keselamatan bagi keluarga besar kami. Hanya kepadamulah aku memohon dan meminta perlindungan Allah……… Amin

TAWAF IFADAH & SA`I
Makkah 13 Januari 2006 /13 dzulhijah 1426.

Selepas Isya, kami melaksanakan Tawaf Ifadhah sebagai bagian dari rukun haji. Tidak sah haji seseorang apabila ibadah ini tertinggal dan ditinggalkan. Tawaf ifahdah ini menjadi sempurna sesuai dengan urutannya sebagaimana, yang telah diceritakan diatas anatara lain:
a. melakukan tawaf 7 putaran
b. sholat sunah dan berdoa dibelakang makam Ibrahim
c. meminum air zamzam
d. sa`i
dari ibadah rukun haji dan umroh adalah dengan melakukan tawaf ifadhah dan sa`I sebagai realisasii selesainya ibadah haji. Inilah yang disebut Tahalul Qubro.

Diantara melaksanakan rukun-rukun haji, seperti yang telah diceritakan dia tas, maka aku memantapkan diri bahwa selain tujuan kita berhaji melaksanakan rukun Islam ke -5, juga untuk berdoa kepada Allah SWT, demi menyampaikan hajad, pesan dan harapan kepada Allah serta bertobat kepa Nya serta tekad untuk mengubah sikap dan prilaku. Ya allah …. Sampaikan hajadku Ya Allah, mudahkan urusanku, maafkan aku……………

Makkah 16 Januari 2006 – Ulang tahu Aulia Ke -17

Pada jam 01.00 dini hari aku sengaja membunyikan alarm agar pada jam 5 pagi waktu Indonesia aku bisa menelpon Aulia anakku yang ke-2 saat ini memasuki usia 17 tahun. Hatiku sedih karena tidak dapat menghadiri Ultahnya secara bersama –sama. Terharu aku untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Suaranya yang bening berucap : Nggak … apa… apa… Ma…, ketika aku menyampaikan Selamat ulang Tahun yang Ke – 17 ….semoga menjadi pohon yang rindang kelak dikemudian hari dimana banyak yang akan berteduh dibawahnya. Aku berkata jangan sedih karena mama dan papanya tidak hadir dalam ulang tahunnya. Kami menyarankan agar mengajak keluarga bear kami makan bersama diluar rumah.

UMROH
MAKKAH 16 JANUARI 2006 – 16 Dzulhijah 1426 H

Jam 02.00 dini hari setelah mngucapkan Selamat pada Aulia, Aby melaksanakan umroh yang pertama, (sesudah musim haji) dengan memulai miqot di Ta`im
Mesjid Ta`im disebut juga Mesjid sayyidah Aisyah – isteri Rasul Ibnu kaum muslimin. Letaknya 7,5 km sebelah utara Masjidil Haram, dipinggir jalan Makkah – Madinah, mesjid ini dibangun ditempat berihramnya Siti Aisyah ketika melakukan umroh pada pelaksanaan haji Waa (Haji Perpisahan). Banyak sekali para jemaah haji, selama masihdiMakkah ini melakukan umroh ini, seperti
Bangsa Afrika, Jazirah, Arab, Turkey, India, Pakistan, China serta bangsa –bangsa dari Asia Tenggara.
Bagi kami berdua yang ingin memamfaatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk melaksanakan ibadah, maka ibadah haji kami laksanakan dengan sebaik – baiknya.
Adalah pelaksanaan

Tentang kewajiban umroh banyak hadis yang menunjukan hal itu diantaranya :
a. Sabda Rasulullah tatkala menjawab pertanyaan Jibril tentang Islam, dimana beliau menjawab bahwa haji dan umroh adalah pelaksanaan keislaman seseorang (hadis Ibnu Khuzaimah dan Ad Daraquthi dan Umar bin Khatab)
b. Hadis Aisyah :

Aisyah bertnya : “Wahai Rasulullah adakah kewajiban berjihad bagi wanita ?
Beliau menjawab : “Bagi wanita kewajiban berjihad tanpa peperangan, yaitu haji dan umroh (hadis Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam buku sejarah Nabi Muhammad SAW karangan Al Haviz Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Nabi Muhammad telah melaksanakan umroh sebanyak 4 kali, yang dikenal dengan umroh Hudaibiyah, Umrah Ji`ranah, Tan Im pada tahun ke -6 H. akan tetapi baik haji maupun umroh hanya diwajibkan sekali saja seumur hidup.

Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah Saw dalam Hadis Shahih :
“ Haji itu hanya sekali wajibnya. Barang siapa menambah melakukan lebih dari sekali, maka itu adalah amalan sunnah atas kerelaaan (tathawwu).”

Sebagai amalan tathawwu berdasarkan dalam shahih Al Bukhari dan Muslim;
Dari Abu Hurairah R.a ia berkatata Rasulullah bersabda :
“Dari umroh ke umroh adalah menutupi (kaparat) kesalahan-kesalahan yang terjadi antara keduanya. Dan haji mabrur itu imbalannya tiada lain adalah surga.
Ketika umatnya bertanya kepada Rasulullah apakah setiap tahun Allah mewajibkan hambanya untuk menunaikan ibadah haji, diwajibkan oleh Rasul : “Seandainya kukatakan wajib setiap tahun, maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.

UMROH- Makkah, 17 Januari 2006 /17 dzulhijah 1426 H

Keesokan harinya akupun ikut melaksakan umroh besama Abi dengan memulai Miqot di Mesjid Ta`im. Cukup menarik juga tempat kami melaksanakn miqot ini, karena perbatasan miqotnya itu, dibuat persis di dinding depan mimbar IMAM selaku pemimpin sholat.
Di Mesjid ini setelah Tahiyatul Mesjid, aku melakukan sholat umroh dan dilanjutkan dengan niat “Labaika Allahmma umrotan”.

Udara pagi hari ini cukup sejuk membawa perjalanan kami untuk kembali ke Mesjidil haram terasa nyaman. Aku bahagia bercampur bangga rasanya karena aku menyangka terdapat lagi ibadah yang dapat kami lakukan selain ibadah haji. Betapa tidak ketika masyarakat Indonesia berangkat untuk umroh dari tanah air sekitar 9000 ribu – 12 ribu US dollar, kok kami dengan mudahnya membiayai perjalanan umroh ini tidak melebihi 10 riyal pergi pulang.
Pukul 04.30 kami samapi diMesjidil Haram untuk memenuhi rukun-rukun umroh, yaitu : Tawaf, Sa`I, Tahalul,. Mengingat rangakian rukun umroh dilakukan bersamaan dengan sholat shubuh tiba, maka ketika tawaf selesai kami laksanakan, kami menghentikan pelaksanaan sa`i. sa`I dilanjutkan setelah sholat subuh. Ibadah umroh diakhiri dengan bertahalul.

UMROH 2 – Makkah, 18 Januari 2006 /18 dzulhijah 1426 H

Teringat aku akan Alm. Papa yang tercinta yang berhasrat untuk menunaikan ibadah haji dan ku merasakan nikmatnya melakukan ibadah umroh ini, maka tanpa mencari dalil kebenaran, maka keesokan harinya aku kembali melaksanakan ibadah umroh atas nama Alm. Papa dengan menyebut :

Labaika Allahumma Umratan Ly Aby Almarhum. Djamaludin
Semua rukun umroh diniat dan atas nama Alm. Papa tercinta

Munkin ada yang memppertentangkan akan keabsahan ibadah ini namun yang aku jharap adalah ridho Allah Swt. Bahwa amalan umroh ini diperuntukan untuk beliau. Subhanallah ……….

Karena ada rencana berangkat ke Jeddah pada siang hari, maka hanya Abi yang berangkat umrohpada hari kamis tanggal 19 Januari 2006 ini. Rencananya Aby berumroh ke Ja`ronah, namun lokasi miqotnya cukup jauh, akhirnya Aby memutuskan untuk umroh di Ta im ini adalah pelaksanaan umroh i yag ke-4 kalinya.

WISATA KE JEDDAH/ LAUT MERAH – Makkah, 20 Januari 2006/ 20 Dzulhijah 1426 H

Untuk mengisi kekosongan selama di Mekkah kamipun mengisi waktu dengan wisata Ke kota Jeddah. Promosi kota ini cukup hebat, yaitu untuk melihat sepeda Nabi Adam As, Makam Siti Hawa, Mesjid Qisas, Mesjid terapung dan Istana Bawah Air. Sebagai kota internasional Jeddah merupakan kota perdagangan bebas seluruh produk negara didunia bersaing di kota ini.
Fasilitas hiburan yang tersedia dikota ini tidak beda dengan kota Jakarta. Kehidupan masyaratkatpun tidak beda dengan kota-kota lain diseluruh dunia. Aku terkejut melihat beberapa wanita tidak menutup kepalanya. Namun masih dalam batas-batas kesopanan mereka memakai baju panjang berwarna hitam. Begitupun ketika aku menduga beberapa wanita yang berlalu-lalang itu itu adalah wanita Indonesia, ternyata wanita Philipines, Thailand yang non muslim mereka umumnya bekerja di Jeddah sebagai karyawan perusahaan multi nasional yang ada di Jeddah ini.
Ketika kami makan siang pada pukul 14.00 di Mesjid terapung kami melihat keluarga Arab, mulai berdatangan untuk melakukan rekreasi pantai. Bagiku suatu yang aneh kok pada jam mendekati asyar ini mereka baru berdatangan. Mengapa bukan pagi hari ?. ternyata nadi kota-kota Arab baru hidup pada ba`da magrib hingga terbit fajar. Pada siang hari mereka tidur dirumah, ini karena pengaruh iklim setempat, dimana mereka menyesuaikan diri dengan alam setempat dengan cara menukar malam menjadi siang dan siang menjadi malam.

Saya melihat beberapa remaja puteri Arab (menurut dugaanku) – sedang asyik menikmati air laut merah itu dipinggir pantai. Seketika saya bergabung dengan mereka untuk berpose bersama,  sambil berkata dalam hati : ” Amboi … lincah dan pintar bergaya juga ya… remaja puteri Arab ini. (Ketika itu mereka menggunakan gamis hitam, kaca mata hitam dan sebuah topi model wisata)  Menurut saya sesuatu yang luar biasa – jika ada remaja puteri Arab selincah ini. Bukankah yang tidak biasa bagi wanita Arab bukan ?. Saya memanggil mereka untuk mengabadikan gaya dan polah mereka untuk berfoto  bersama. Mereka menyetujui ajakan saya dan setelah itu ……dengan menggunakan bahasa Indonesia logat Madura fasih ia bertanya kepada saya :

” Ibu di Indonesia – berasal dari mana.??

” Haah…. ??? saya kaget dan seketika ia membuka cadar dan topinya….
Ternyata mereka adalah TKW asal Madura yang sedang berekreasi di pantai Laut Merah dan diajak berekreasi bersama oleh majikannya.

Oh ……. Pantas mereka lincah sekali……. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wanita Arab dan di tanah Arab pula…

I`TIKAF DI MAJIDIL HARAM
Makkah : Tanggal 21 Januari 2006 / 21 Dzulhijah 1426 H

Sambil mengisi malam minggu, aku dan Aby setelah sholat isya di Masjidil Haram, kami kembali melaksanakan ibadah umroh. Aku meniatkan ibadahku ini bagi Ibuku tercinta : Alm. Aunah Binti Bahsan

Aku menyampaikan permohonan ampunan untuk beliau, abik kesalahan maupun kehilafannya. Mohon diterima segala amal baiknya serta terimalah ia disisinya.
Ternyata umroh pada ba`da isya sangat padat sehingga mesjid tempat miqot ini penuh dipadati jemaah Turkey, Iran, Pakistan, dalam jumlah rombongan besar. Hampir semua jemaah melakukan ibadah ini dalam mewakili orang tuanya, suami, mertua. Dalam haji dikena badal haji, sedangkan umroh dilaksanakan seperti kita menunaikan ibadah dengan memenuhi rukun-rukun umroh. Tidak perlu mempertentangkan hal ini. Allah sendirilah yang kan menilai amalan hambanya sesuai dengan niatnya.

Setelah melaksanakan rukun-rukun umroh yang ditutup dengan Tahlul, kami melakukan I`tikaf / mabit di Masjidil Haram ini. Aku mengisi waktu dengan membaca Alquran yang kurencanakn untuk menghatam di tanah haram iniuntuk yang kedua kali. Jam sudah menunjukan 02.30. Namun suasana mesjid ini, baik orang bertawaf maupun bersai masih tetap ramai. Banyak jemaah Indonesia yang memamfaatkan untuk tidur di Mesjid ini . semula kami akan melanjutkan mabit sampai waktu subuh tiba, namun badan sudah terasa masuk angin, bersin-bersin, serta perut terasa mual karena menahan kantuk, akhirnya ittikaf kami akhiri dan kamipun kembali ke penginapan. Aku sedikit menyesal mengapa memilih pulang bukan menunggu waktu shubuh tiba, namun mengingat hasrat buang air kecil tak tertahan lagi, maka pilihan ini harus aku lakukan.

TAWAF DI LANTAI 3 MASJIDIL HARAM
Makkah, tanggal 23 Januari 2006 /23 Dzulhijah 1426 H

Tawaf mengelilingi Ka`bah sudah tak terhitung kami lakukan. Karena setiap mwmasuki Masjidil Haram ini, kami melakukan tawaf sebagai pengganti sholat Tahiyatul Mesjid.

Tawaf di lantai 2 sudah kami lakukan pada waktu hari Arafah pada waktu yang lalu. Pada kesempatan lain, kami mencoba untuk mealkukan sholat dilantai 3.
Suasana dilantai 3 ini terasa amat nyaman dan indah. Dengan mudah kita menyaksikan perputaran manusia mengelilngi Ka`bah. Dengan mudah kita melihat orang yang berjuang memperebutkan Hajar Aswardseperti Hijr Ismail.
Setelah shubuh kami masih ingin berlama-lama dilantai 3 Masjidil Haram. Dilantai ini kami bertemu dengan 6 dara yang masih kuat dan sehat asal Padang Panjang –Sumbar, namun mereka bertubuh mungil berjalan – jalan di lantai 3. Kami bertegur sapa dengan daa-dara ini, yang ternyata mereka bertempat tinggal di Aziziah, k.l 15 km dari Masjidil Haram. Setiap hari mereka berupaya ke Mesjid ini dengan menggunakan bus yang disediakan gratis. Kami tidak kelaut merah kantanya. Ketika kami bertanya sudah berziarah kemana saja beliau ini.Aby memperlihatkan camera foto mengenai suasana Jeddah kepadanya dan ternyata ini sangat memuaskan hatinya. Mereka menyatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir mengunjungi Ka`bah sehingga mereka memamfaatkan kesempatan untuk beramal sebanyak-banyak di Ka`bah ini. Wallahuala ……… hanya Allah SWT yang mengetahui apakah mereka masih diberi kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah ini karena mereka sudah nenek-nenek 76, 73, 0,68,60 dan tang termuda berusia 56 tahun.
Dari pada melakukan sholat dhuha dilantai 3 ini , akhirnya kau memilih melakukan tawaf dilantai 3 ini. Keliling lantai 3 ini k.l 650 m, sehingga dalam 7 kali putaran setara dengan perjalanan 4,5. sehingga ketika aku mengitari Ka`bah tak terkira ayat-ayat suci yang kita lafazkan, antara lain :
e. Albaqarah 1-5
f. Albaqarah 254-255
g. Albaqarah 284-286
h. Surat Yasin
i. Surat Al-ikhlas, Al-alaq, An nas
j. Asmaul husna
k. Ayat 5
l. Dzikir dan doa
m. Doa rabbana atina berulang kali.

Mana kala letih, aku berhenti di bibir pagar lantai 3 ini, sambil tetap berdzikir menyaksikan lantai bagaimana ka`bah dibersihkan setiap ba`Da shubuh oleh petugas kebersihan, dengan tetap memberi kelonggaran orang untuk tetap bertawaf. Hijr Ismail dikosongkan karena harus dibersihkan. Namun sesaat pintu Hijr Ismail dibuka, aku melihat orang nerhamburan memasuki pelataran tersebut hingga berdesak-desakan untuk melaksanakan sholat mutlaq.
Pemandangan yang unik dari lantai 3 masjidil Haram, kita melihat jutaan manusia bagaikan butiran pasir bulat berputar disebuah kotak hitam dengan deru deburan suara bagaikan suara lebah. Dari atas ini, kita menyaksikan bagaimana manusia dengan keykinannya mengikuti sunah Rasul berupaya untuk mencum Hajar Asward dan memeluk-meluk ka`bah. Ada rumor yang menhatakan bahwa kita dapat menggunakan jokkey untuk menembus himpitan manusia menuju Hajar Asward. Seorang ibu dari Medan pernah ditawari untuk mencium Hajar Aswad dengan 50 Riyal, Wallahualam……… hanya tuhan yang mengetahuinya.

Demi mengejar fadhilah banyak orang yang berharap dapat mencium Hajar Asward. Karena keutamaan mencium hajar Aswar ini sebagai ia menjadi saksi atas peritungan amalan atas amalan manusia serta dismbuhkan dari segala penyakit yang diderita. Banyak manusia yang memaksakan diri untuk mencium Hajar Asward ini. Demikian pula orang yang berebut Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah bagaian dari Ka`bah tempat ini merupakan tempat yang paling mustajb untuk menyampaikan doa disini orang melakukan sholat Mutlaq 2 rakaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: