2. Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

KEGIATAN JAMAAH DI MAKKAH ALMUQARRAMAH :

Tawaf, Sa`i, Tahal lul – Tanggal 28 Desember 2005

Kami sampai di kota Mekkah pada pukul 18.00. Kami mengalami keterlambatan dalam perjalanan Madinah – Mekkah selama 2 jam di bandingkan rombongan satu Kelompok Terbang kami. Rombongan kami menempati di maktab 39, rumah No. 400,di daerah Misfalah- kota Mekkah. Lokasi Misfalah berjarak 2 km dari Masjidil Haram.
Mengenai lokasi tempat tinggal kami, dapat Aku ceritkan pada Anda, bahwa wilayah Misfalah termasuk wilayah yang datar – dibandingkan wilayah pemukiman para jemaah haji lainnya di kota Makkah ini. Kota Mekkah adalah kota berbukit yang dikelilingi gunung.
Tempat penginapan kami sederhana dan tentunya kami harus terima dengan ikhlas

Bahkan diantara anggota rombongan kami, ada yang tidak mendapatkan tempat sama sekali seperti Bapak/Ibu Haris Yadda, Bapak/Ibu Zainal, Bapak/Ibu Ahmad Sarbini. Pasangan ini satu malam tidak mendapatkan kamar. Berkat kepedulian anggota rombongan yang lain, kami mengajukan keberatan kepada pihak Daker (Daerah Kerja), sehingga nasib anggota rombongan kami yang tidak mendapat kamar, mendapat penyelesaian. Akhirnya pasangan ditempatkan di sebuah hotel. Yang lokasinya tidak jauh dari tempat pemondokkan kami. Alhamdulillah.

Tawaf qudhum, sa`I dan Tahalul :

Setiap pengunjung kota Mekkah Al mukarramah, wajib menentukan Miqad nya, sebagai titik perjalanan, dimana ia harus menggunakan pakaian Ihram dan memasang niat untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Ketika sampai di kota Mekkah, para jemaah diwajibkan melakukan rukun umroh yaitu melakukan tawaf qudhum, sa`I dan tahalul.

TAWAF QUDHUM
Dalam pengertian umum ibadah Tawaf adalah mengelilingi Ka`bah sebanyak 7 kali dimana 3 putaran pertama berlari – lari kecil (jika mungkin) dan selanjutnya jalan biasa.
Tawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad ( tempat batu hitam ), sehingga posisi Baitullah berada disebelah kiri Anda.

Ada beberapa tawaf yang dilakukan sejak pertama kalinya sejak Nabi Adam, hingga tawaf yang kita lakukan saat ini, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, antara lain :

a. Tawaf Nabi Adam :
Hadis Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA menceritakan, bahwa nabi Adam AS pernah melakukan ibadah Haji dan melakukan tawaf berkeliling ka`bah dengan 7 kali putaran.
Kemudian para malaikat menemuinya dan berkata:
“Semoga hajimu mabrur wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakn ibdah haji di Baitullah ini sejak 2000 tahun sebelum kamu.
Adam Bertanya:
“Pada zaman dahulu apakah bacaan pada saat kalian tawaf ?”
Malaikat menjawab:
“Dahulu kami membaca : Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar”

Adam melanjutkan dan berkata : “ tambahkanlah dengan ucapan, “ Wa la Haula wa la quwwata illa billah”
Maka selanjutnya para malaikatpun menambahkan ucapan itu.

b. Tawaf Nabi Ibrahim :

Setelah menerima perintah membangun kembali Ka`bah, nabi Ibrahim As melaksanakan ibadah haji. Kemudian para malaikat menemuinya pada saat tawaf, seraya mengucapkan salam kepadanya, lalu Nabi Ibrahim pun bertanya kepada malaikat.
“ Dahulu apakah yang kalian baca saat tawaf ?”
Malaikat menjawab :
“Dahulu sebelum bapakmu Adam, kami membaca ; Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar” “ lalu Adam menyuruh kami menambahkan ; “ Wa la Haula wa la quwwata illa billah”

Selanjutnya Ibrahim berkata kepada malaikat :
“Tambahkanlah bacaan kalian dengan Al aliyyi al `adzim”.
Kemudian para malaikatpun melaksanakannya.
(sumber ; Al-Azraqy I/45).

Dengan demikian maka do`a tawaf adalah :
“Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar Wa la Haula wa la quwwata illa billah Al aliyyi al `adzim”.

c. Tawaf Rasulullah :
Ibnu umar RA menceritakan ;
“Dahulu, apabila Rasulullah melakukan tawaf, yang pertama (Tawaf Qudum,atau Tawaf selamat datang), beliau berlari-lari kecil pada putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran berikutnya. Beliau juga melakukan Sa`I (berlari kecil) pada Baithul Masil (perut lembah) diantar bukit Safa dan Marwah.

Suci dari hadas….!

Dalam menyelenggarakan tawaf, jemaah harus dalam keadaan wudhu dan suci dari hadas besar dan kecil. Bagi wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh melakukan kegiatan tawaf dan sa’i.

Syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan tawaf adalah sebagai berikut :
1. Berniat akan melakukan tawaf
2. Mencari garis coklat sebagai tanda batas putaran tawaf yang letaknya searah dengan hajar aswad.
3. Hadapkan wajah ke Ka`bah sambil ber-Istilam (mengangkat tangan kanan kea rah Hajar Aswad) dan memberi syarat dengan mengecupnya sambil mengucapkan “Bismillahi Wallahu Akbar “.
4. Setelah itu mulailah berjalan putaran pertama sambil membaca do`a.
5. Sampai di ruku Yamani, mengusap rukun Yamani (bila memungkinkan atau cukup dengan mengangkat isyarat tangan saja) sambil mengucapkan “Bismillahi Wallahu Akbar.”
6. Setelah melewati Rukun Yamani sampai ke Hajar Aswad ditandai garis coklat, maka selesailah satu putaran.
7. Teruskan dengan putaran berikutnya, sampai selesai putarn ke 7 yang berakhir di Hajar aswad.

Setiap selesai melakukan tawaf, lanjutkan dengan ibadah berikutnya. Dan kalau bisa sesuai dengan urutannya.
Ketika rombonganku melakukan tawaf qudhum ini, rombonganku sangat dekat sekali dengan Ka`bah. Aku Ingin mendekat lebih dekat dengan Ka`bah, namun disini terdapat ribuan jema`ah yang juga melakukan tawaf, baik untuk melaksanakan tawaf qudhum maupun tawaf sunah.
Tentu kita tidak mau mengambil resiko dan harus menyadari, bahwa kemustahilan bagi kami untuk dapat menjamah ka`bah pada saat ini. Ribuah manusia mengelilingi kami, berhimpitan di lokasi yang utama yang ada diseputar Ka’bah, yaitu : Hijr Ismail, rukun Yamani, Hajar Aswad.
Aku dan suami mulai melakukan tawaf dengan berdiri menghadap Hajar Aswad. Seluruh badan miring, dengan mengangkat tangan kanan sambil melambai (beristilam) dan membaca : Bismillahi Allahu Akbar.

Perhatian ………,
Jika kita mengalami batal wudhu, pada saat melaksanakan tawaf, seperti kentut, segeralah berhenti dari pelaksanaan tawaf. Segera bersucilah kembali atau bertayamum. Setelah itu ulangi putaran. Jika saat batal wudhu dan sisa tawaf dihentikan, maka putaran yang sudah dilakukan sebelum wudhu batal adalah syah dan dapat dimasukan hitungan.

Tahukah Anda, ketika aku menjalani tawaf Qudhum ini, pada putara ketiga tanpa kusadari aku mengeluarkan angin. Barangkali karena pengaruh angin malam, tiba-tiba ada hembusan angin yang tanpa sengaja keluar dari tubuhku.
Aku berseru ditengah tengah regu kami ; Ya… Tuhan.. Saya kentut tanpa sengaja nih… Bagaimana.. Pa, kataku pada suamiku. Ketika pemandu kami mendengar percakapanku itu, beliau menyuruh aku dengan ditemani suami pergi berwudhu.
Kami berdua bingung, dimana tempat wudhunya. Bukankah Masjidil Haram ini luar biasa besarnya. Pada pintu yang mana kami harus keluar ? Setelah berjalan tidak keluar mencari tempat berwudhu, secara tiba-tiba kami melihat deretan tangki air zamzam yang digunakan orang untuk berwudhu. Disinilah pada akhirnya aku bergabung dengan jamaah dari negara lain untuk berwudhu.

Setelah mengelilingi 7 putaran disertai do`a tawaf atau zikir pada setiap putaran, maka kami melakukan sholat sunah dibelakang Makam Nabi Ibrahim. Dalam keadaan terjepit diantara derasnya putaran manusia yang melakukan tawaf, kami mengupayakan untuk melakukan sholat sunnah dibelakang Makam Nabi Ibrahim ini. Walaupun ketika masih di tanah air, kami telah diingatkan bahwa seluruh pelataran Ka’bah adalah tempat yang baik untuk berdoa. Namun mengingat ini adalah tawaf pertama yang kami lakukan, maka kami berupaya pada saat melaksanakan tawaf selamat datang ini, kami melakukan sholat Sunnah dibelakang Makam Nabi Ibrahim.
Suamiku – ditanah suci Mekkah ini aku memanggilnya Abi - berusaha membentengi diriku ketika aku melaksanakan sholat sunnah itu.

Setelah sholat sunnah, Aku berdoa pada Allah, bahwa sesungguhnya hanya Allah lah yang mengetahui apa yang menjadi hajadku yang tersembunyi dan amal perbuatanku .
„Ya Allah, ampunilah dosaku dan jangan biarkan ditempat ini aku masih dalam keadaan berdosa. Ampunilah aku ya Allah……………………
Apakah maqam Ibrahim ? Makam ibrahim adalah batu yang dibawa Ismail sebagai tempat berpijak Nabi Ibrahim, yang digunakan untuk berdiri, ketika Nabi Ibrahim membangun Ka`bah ditanganinya sendiri.
Keutamaan Maqam Ibrahim antara lain :
- sebagai tempat sholat sebagaimana yang terdapat pada Q,S.Al.Baqarah 2;25
- Maqam Ibrahim adalah batu-batuan yang berasal dari sorga, seperti halnya Hajar Aswad. Seandainya Allah tidak melenyapkan cahaya keduanya, maka niscaya cahayanyaitu mampu menerangi wilayah timur dan barat.
- Sebagai tempat dikabulkannya apabila kita berdoa.

Ketika selesai berdoa dan melaksanakan sholat sunah di Maqam Ibrahim ini, maka kita disunahkan pula untuk meminum air zam-zam.
Saat ini, diseputar pelataran Ka`bah, banyak sekali kran air zamzam, yang memudahkan para jemaah untuk meminum air zamzam itu. Meminum air zamzam termasuk perbuatan sunah.

Doa yang diajarkan Nabi SAW, ketika kita meminum air zamzam :
Allahumma inni as a luka I`imaaan Naa fi aa`n wa rizqaan wa si aa`n wa syifa an min kulli daa in, saqomin birahmatika yaa arhammarrahimiin.

Setelah kita usai melakukan Tawaf, Sebetulnya kita dapat pula melakukan ibadah sunah lainnya, yaitu melaksanakan sholat mutlak di Hijr Ismail. Namun mengingat kepadatan yang luar biasa, maka aku dan suami tidak mungkin mencapai bagian dari Ka`bah ini. Massa jemaah begitu banyak, dan Anda akan dihimpit oleh beribu jemaah yang ingin melakukan shalat Sunnah di areal Hijr Ismail ini.

SA’I
Ibadah sa`I merupakan salah satu rukun haji dan umrah, yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari kecil) bolak – balik 7 kali dari bukit safa kebukit marwah dan sebaliknya. kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekiatar 405 meter.
ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Safa dan Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon hijau), para jamaah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil, sedangkan para jemaah wanita berjalan cepat.
Ibadah haji boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas.
Ketika hendak mendaki bukit Safa sebelum sa`I dimulai, aku dan suami mengikuti tata cara melaksanakan Sai. Kami melihat para jemaah berdoa menghadap kiblat. Banyak para jemaah mengangkat tangan seakan – akan bertakbir. Disini aku mengikuti tata cara orang melakukan sa`I, dengan mengangkat tangan seolah bertakbir. Ternyata dalam buku panduan yang diterbitkan oleh Badan Urusan Wakaf dan Haji Pemerintah Arab Saudi, mengangkat tangan seolah bertakbir, ini merupakan suatu kekeliruan. Karena sebenarnya kita cukup mengangkat tangan untuk berdoa dengan menghadap kiblat.

Aku dan Suami menjadi bingung. Mau bertanya dengan siapa ? Bukankah kami sudah terpisah dari regu/rombongan kami. Kami melihat, begitu banyak cara dan ragam manusia dalam melakukan prosesi ibadah Sa’I di bukit Safa ini. Saling berbeda dalam melaksanakan Sa’I ini. Masih dalam keadaan bingung, akhirnya aku dan suami mengikuti sa`I antara bukit Safa hingga Marwah itu, dengan membaca doa yang yang tertulis dalam buku doa dan dzikir ibadah haji terbitan Departemen Agama RI.

Makna Ibadah Sa’I

Kata sa`I artinya usaha, yaitu berusaha dalam hidup baik pribadi maupun masyarakat.
Ketika melaksanakan sa`I ini, mataku sudah terasa mengantuk. Waktu sudah menunjukan jam 23.30. Kepadatan di pelataran sa`i tidak berkurang. Badan terasa lelah, karena sejak sholat subuh di Mesjid Ijabah – di Madinah, aku belum sepenuhnya tidur atau istirahat.

Sesaat kemudian aku sadar, bahwa perjalanan dari bukit Safa ke Marwah ini, merupakan napak tilas dari Siti Hajar, untuk mencari air minum bagi dirinya dan putranya Ismail. Kita harus menyadari bahwa pelaksanaan Sai harus dilakukan secara bersungguh-sungguh. Apalagi bila kita langsung membaca arti doa-doa yang tercantum dalam buku doa dzikir ibadah Haji terbitan Departemen Agama, maka semakin ringanlah langkah kita untuk menghayati hikmah Sai ini.

Jarak bukit Safa hingga Marwah adalah 405 m, berarti malam ini kami telah menempuh perjalanan sejauh k.l 7 x 405 m = 2,35 km ditambah berjalan mengelilingi Ka`bah ketika tawaf sebelum kita melakukan Sa’i.

TAHALLUL

Menurut bahasa berarti ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’. Dengan demikian Tahallul adalah diperbolehkan atau dibebaskannya seseorang dari larangan atau pantangan ihram. Pembebasan tersebut ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut sedikitnya 3 helai rambut.
Semua Mashab berpendapat bahwa Tahallul merupan wajib haji. Hanya mazhab Syafi,iyah menganggapnya sebagai rukun haji, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Fath ayat 27 yang artinya :,
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan pada RasulNya bahwa mimpi RasulNya itu akan menjadi kenyataan. Yaitu Engkau dengan penduduk Mekah lainnya akan memasuki kota Mekkah, Insya Allah aman, bebas, dari rasa takut terhadap kaum musyrik, dengan mencukur rata kepalamu, sedang yang lain mengguntingnya saja. Tuhan mengetahui apa yang tidak kamu ketahui itu. Dibalik ‘Yang tidak kamu ketahui itu’ Tuhan memberi kemenangan lebih dahulu kepadamu pada waktu dekat”.

Tepat pada pukul 01.15, kami berdua selesai melaksakan Sa’i dan disudahi melaksanakan Tahallul. Kami melaksanakan tahallul dengan jalan saling menggunting rambut satu sama lain. Setelah itu, kamipun kembali kepenginapan.

“Tawaf Sunnah” - Tanggal 29 desember 2005 :

Hari kedua di kota Mekkah pada waktu Ba`da Ashar aku dan suami serta regu kami melaksanakan tawaf Sunah. Tawaf sunah adalah sebagai pengganti solat tahiyatul Masjid. Karena suasana padat kami mencoba melakukan tawaf pada lantai 2 Masjidil Haraam.

Perlu aku ceritakan disini, bahwa diameter ka`bah 150 m, Jiki kita berjalan mengelilingi pelataran Ka’bah lantai 2 ini, berarti kami telah berjalan dengan rumus keliling lingkaran, yaitu 22/7 x 150 m = 471,4 m. Apabila berjalan 7 kali putaran, berarti kita akan menempuh perjalanan sejauh jarak tempuh k.l 3.300 m2.
Demikianlah jarak yang cukup panjang ini dalam lingkup ibadah sunnah, kami tak akan pernah melupakannya dan tidak mengurangi tekad kami melaksanakan ibadah ini. Ditengah kami bertawaf ini, masuklah azan sholat magrib. Tawafpun kami hentikan sejenak ketika datang sholat magrib itu. Kami bergabung dengan anggota jemaah lainnya.

Setelah usai melaksanakan sholat magrib kami meneruskan sisa putaran tawaf tadi. “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha ullallah wallahu akbar, wala haula wala quwwata illah billah,Al-alliyyi Al-Adzim.
Kita dapat melantunkan dzikir ini menikuti irama yang kita sukai.

Ibnu Abas RA bercerita, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya pada setiap hari, Allah Aza wa Jalla menurunkan 120 rahmat kepada orang yang mengunjungi Baitullah ini.

- Enam puluh untuk orang – orang yang bertawaf,
- Empat puluh untuk orang yang sholat dan,
- Dua puluh untuk orang memandang Baitullah. Subhanallah………

Hari Ketiga di Kota Makkah - Jum`at 30 Desember 2005 :

Dengan hati sedih aku tidak dapat melaksanakan tawaf pada hari ini di karenakan kodratku sebagai seorang wanita menghalangiku ke Masjidil Haram.
Sekalian melaksanakan sholat Jum’at Abi berangkat ke Mesjid sendirian.
Pada saat ia berada di Mesjid, Abi menyampaikan pesan singkat – sms – pada ku, bahwa ia berhasil mencium hajar aswad. Alhamdulillah …………seruku terharu.
Berita bahagia ini, segera aku teruskan kepada anak-anakku Ulil Amri, Aulia, Iman dan Ilma. Tujuannya, agar mereka juga gembira mengetahui kabar kami di tanah suci ini. Selain itu, bukankah iringan doa yang dilakukan anak-anakku di Tanah Air, pada setiap magrib dengan cara sholat berjamaah, membaca AlQur’an - Yasin - di Indonesia, sangat membantu kami dalam penyempurnaan ibadah yang kami lakukan secara khusuk.

Bagi para jemaah Haji, keinginan untuk mencium hajar aswad merupakan ibadah sunnah yang harus diperjuangkan secara serius dan direncakan. Tidak ada kesempatan yang datang begitu saja, atau karena kebetulan. Karena ada sekian juta jemaan dari seluruh dunia berupaya untuk mencium Hajar Aswad ini .

Belakangan diketahui bahwa mencium hajar aswad yang dilakukan Abi itu, belumlah sempurna. Karena beliau hanya sempat mencium lingkaran Hajar Aswad belaka, karena saking padatnya perebutan hajar aswad ini.

Mengapa orang harus berebut Hajar Aswad ? Padahal sahabat nabi “ Umar Bin Khatab “ , menyatakan :
“Sesungguhnya aku mengetahui engkau hanyalah batu. Kamu tidak mampu memberi mamfaat bagi diriku. Namun jika sekiranya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tak akan pernah menciummu. “(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Ternyata Rasulullah telah memberikan tuntunan yang bijaksana terhadap Hajar Aswad ini. Bagi orang orang yang bertawaf, jika sekiranya tidak dapat mencium hajar aswad, maka cukuplah baginya menyentuhnya dengan tangan. Kemudian mencium tangan yang telah menyentuh hajar aswar itu.
Seandainya tidak mungkin menyentuh dengan tangan, cukuplah beri isyarat dari jauh dengan tangan kemudian menciumnya (sikap ini disebut istilam).
Dengan demikian mencium Hajar Aswad ini tidak lain - semata-mata sikap kepatuhan seorang muslim mengikuti Sunnah Rasulnya.

Para jamaah meyakini tentang kemulian Hajar Aswad, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Al Khatib dan Ibnu Asyakir :
“Hajar aswad adalah tangan kanan Allah Azza wajalla dimuka bumi. Allah berjabat tangan dengan makhluknya,seperti seseorang berjabat tangan dengan saudaranya.”

Aku tidak mengerti kesahihan hadis ini. Yang jelas sedemikian banyak yang berupaya untuk mencium hajar aswad itu.

Teknologi selular sangat maju. Komunikasi antar keluarga di tanah air dengan kami berjalan lancar. Aku dan suami sering, mengirimkan pesan singkat kepada anak-anakku - Ulil Amri dan Iman. Ternyata pesan-pesan singkat yang kami kirimkan kepadanya dikawatirkan mereka, bahwa Mama dan Papanya tidak khusuk dalam menunaikan ibadahnya. Padahal sesugguhnya, kami memiliki begitu banyak waktu senggang diantara melakukan ibadah sebanyak-banyaknya dengan tugas-tugas rutin lainnya.
Aku dan suami adalah jemaah haji mandiri non KBIH. Memandu diri sendiri melalui pengelompokan regu beregu. Kemudian dikelompokkan lagi dalam rombongan. Rombongan ini menyatu dalam kelompok terbang. Dalam satu kelompok terbang ini, banyak para jemaah melakukan tugas harian di kota Mekkah ini, seperti mencuci, memasak bagi yang membawa alat. Waktu yang longgar itu kami melakukan kegiatan non ibadah adalah sepulang sholat shubuh hingga datangnya waktu zhuhur. Begitu pula antara waktu dzuhur sampai Ashar.
Aku sedikit tersenyum kecut juga, ketika kaum Ibu jemaah satu kloter, masih tidak merubah menu makanannya, yaitu sayur asem dan ikan asin. Mereka begitu sibuk memasak, sehingga terkadang mengabaikan kesempatan membaca alqur’an. Barangkali ada alasan tertentu yang menyebabkan mereka memasak sendiri ketimbang membeli masakan Indonesia yang cukup banyak dijual disepanjang jalan-jalan.

HARI KE EMPAT DI KOTA MEKKAH Sabtu, 31 Desember 2005

Para jemaah sebanyak-banyaknya berusaha melakukan sholat di Mesjidil Haram, karena pahala yang diperoleh setara dengan 1 x waktu sholat di Mesjidil Haram nilainya 100 ribu kali sholat di Bahrul Ulum Puspiptek atau Mesjid di manapun.
Teman-teman sekamarku dengan sangat giat, melakukan sholat di Masjidil Haram, Pada jam 2 malam kami bersiap-siap untuk berangkat ke Masjidil Haram. Bagi diriku yang tidak dapat sholat cukuplah aku menulis catatan perjalanan serta berupaya mencari sumber, dalil serta hikmah yang terkandung dalam perjalanan rohani ini.
Demikian pula semangat para jemaah dari berbagai Negara sangat kental. Beberapa kelompok jemaah manca negara datang berbaris dari berbagai penjuru menuju satu titik tujuan “ Masjidil Haram. Rombongan itu “Mirip massa yang melakukan aksi damai “. Ada yang membawa poster atau papan nama Negaranya serta memakai seragam warna seragam bimbingan.
Rombongan paling dinamis yaitu kelompok jemaah dari Turki, Mesir, Iran, dan Irak, selain postur tubuhnya besar – besar barisannya rapat dan kompak. Semua itu dengan semangat ukhuwwah, sesama umat, seiman Islam sedunia, bersatu dengan tujuan satu; beribadah kepada Allah SWT.

Pada tahun 2006 ini, wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2006. Pada 9 hari menjelang wukuf terjadi penggantian tahun (tahun baru). Sebagian besar jemaah haji Indonesia di tanah suci tidak menyadari bahwa pada saat itu masyarakat Indonesia sedang merayakan pesta akhir tahun.
Pada waktu ini, Di Mekkah kami menikmati hiruk pikuk para jemaah haji dari seluruh dunia - pulang pergi dari Mesjidil Haram ke tempat Penginapan masing-masing.
Pada malam itu, mereka menunaikan sholat isya atau sebaliknya. Ada yang akan bermabit dan i`tikaf di Masjidil Haram.

Sementara itu, ada pula jemaah yang sedang asyik berbelanja, entah dipertokoan sepanjang jalan atau di tempat pedagang kaki lima yang menjajakan souvenir berbagai macam rupa.

Selama di kota Mekkah, Suami memberiku “kaca mata kuda” pada diriku. Apakah itu ? Artinya pandangan mataku harus menatap kedepan saja. Tidak boleh melirik kekanan atau kekiri. Padahal begitu banyak barang dagangan yang dijajakan. Mulai dari sepanjang jalan Masyjidil Haram sampai menuju kerumah penginapan kami.
“Nanti ……, katanya.
“Apabila sudah selesai pelaksanaan ibdah Haji (maksudnya ; wukuf, melempar jumroh, mabit)…… boleh sepuasnya menikmati dunia belanja “, demikian arahannya kepada diriku. Beliau kawatir, dunia belanja para kaum perempuan, akan mengganggu kekhusukan menjalankan ibadah haji kami pada hari wukuf di Arafah yang tinggal beberapa hari lagi.

Hari kelima di Kota Makkah : WISATA ZIARAH

Minggu, 1 Januari 2006

Pada hari ini, kami berkesempatan melakukan wisata yaitu Jabal Tsur, Jabal Nur, Arafah/Jabal Rahman, Muzdalifah, Mina, serta mengunjungi tempat pemotongan kambing/unta guna memenuhi kewajiban membayar dam.
Jabal Nur atau Gua Hira adalah sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Makkah. Tempat ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama. Di Jabal Nur terdapat Gua yang cukup duduk 4 orang.
Gua ini dikenal dengan “Gua Hira” disinilah Nabi menerima wahyu yang pertama yaitu surat Al alaq.

Mengingat waktu yang terbatas, maka rombongan kami hanya melewati saja lokasi ini untuk langsung menuju Padang Arafah.
Padang Arafah merupakan gurun pasir yang tandus, gersang tanpa satupun tanaman yang tumbuh disana. Mengapa Arafah digunakan sebagai lahan pertobatan dan dzikir manusia?
Sesungguhnya, Arafah ini merupakan simulasi padang Mahsyar. Kering dan panas.
Manusia yang berada di Padang Arafah itu, menggunakan pakaian ihram, yaitu – bagi pria menggunakan 2 helai kain tidak berjahit. Jika kita amati, Bukankah pemakaian pakaian ihram ini, merupakan simulasi bangkitnya manusia dari alam barzah.
“Subhanallah ……………….., betapa hebatnya Rasul menuntun umatnya dalam perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT ini. Arafah memang bumi yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jabal Rahmah, terkenal sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa, setelah mereka berpisah lama ketika mereka keluar dari sorga.
Arafah saat ini telah ditanami pohon akasia. Konon kabarnya pohon ini sengaja didatangkan dari Indonesia untuk memberi kesejukan bagi jemaah yang wukuf di sana.
Pemandu kami cukup jeli memamfaatkan momentum pertemuan Adam dan Hawa di lokasi Jabal Rahmah ini, untuk menggali kembali kasih saying pasangan suami istri yang tengah berkunjung kesana.
“Bapak2 dan ibu2.., silahkan menaiki Jabal Rahmah ini. “Insya Allah …… Allah akan mempereratkan tali kasih Bapak/ibu pasangan suami istri yang berbahagia…, demikian katanya.
Aku dan suami, mencoba mengikuti anjuran pemandu kami. Kami berdua mencoba menaiki bukit berbatu dan terjal di Jabal Rahmah itu. Ternyata tidak mudah bagi diriku menaiki bukit yang terjal itu. Kakiku yang invalid membuatku sadar, bahwa kami tidak mungkin mencapai tugu Jabal Rahmah tersebut.
Demi mencapai kepuasan bathin, maka kami gunakan kesempatan untuk berpose berdua dilokasi ini.

Lokasi pertemuan adam dan hawa itu, ditandai dengan tugu putih dan berada di puncak bukit.
“Wah …… berbahagialah bagi pasangan suami istri yang berada di sini, kata teman-temanku yang kebetulan tidak didampingi pasangannya. Alhamdulillah……………
Jabr Tsur adalah tempat Nabi Muhammad, menyembunyikan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy.

Dari posisi kami berdiri, terlihat dari kejauhan titik-titik putih meng-ular sampai ke puncak bukit. Titik –titik itu adalah jemaah yang mencoba mendaki bukit dengan perjalanan pendakian mencapai 2 jam.

Hari ketujuh di Kota Makkah - 3 Januari 2006 :

Pada jam 2.00 dini hari waktu Makkah, kami selalu bangun dan bersiapdiri untuk pergi ke masjidil Haram. Selain ingin mendapatkan 120 rahmat, maka jika kita sholat berdoa di hadapan Ka`bah khususnya di depan Multazam terasa sangat khusuk sekali.

Multazam menurut bahasa artinya pasti. Multazam berada diantara Hajar Aswad dan pintu Ka`bah.
Rasulullah bersabda :
“Multazam adalah tempat berdoa yang mustajab (terkabul), tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa ditempat ini tanpa terkabul permintaanya.

Ketika kita menyebut Maha Suci Allah. Puji syukur. Tiada Tuhan selain Allah… Allahu Akbar, tidak terasa air mata menetes bercucuran tiada henti-hentinyanya.
Kita teringat akan segala kelalaian, kesengajaan kita dalam melakukan pelanggarannya/laranganNya. Saat inilah kita mohon ampunannya. Selain itu betapa bersyukurnya kita, bahwa kita bisa datang memenuhi panggilanNya.
Karena itulah, aku memohon kepada Allah, agar Allah akan mengampuni dosa-dosaku.

Doa yang pernah kulafazkan di depan multazal ini antara lain :
“Ya Allah … limpahkanlah rizki pada kakak-kakakku/adik-adik/saudara/ kerabat dan handai tolan kami, yang tidak dapat aku sebutkan satu-persatu namanya. Engkaulah Maha mengetahuinya, sehingga mereka suatu ketika juga dapat duduk dihadapan Baitullah ini.
“Aku mohon perlindungan terhadap keluarga dan anak-anakku, saudara, kerabat, dan handai tolan yang secara ikhlas, telah mendoakan keberangkatan kami ketanah suci ini ya Allah.

Tidak terasa aku menangis berurai air mata. Aku mengalami kesulitan untuk menahannya. Ingusku meleleh tidak karuan. Ketika itu keadaan darurat sekali. Ya Tuhan…., tiba-tiba saja seorang wanita Iran yang duduk disampingku, memberikan beberapa helai tissue untuk sekedar menghapus air mata dan ingusku itu. Begitu pula selama berdoa ini, aku disuguhkannya pula segelas air zamzam kepadaku. Rasanya tidak enak hati menolak ketulusan hati perempuan Inya. Aku terima segelas air itu dan aku minum sampai habis. Padahal sebelumnya ketika dari penginapan,aku telah minum segelas susu dn begitu juga ketika aku masuk mesjid aku telah meminum segelas air zamzam. Hari baru menunjukan pukul 04.00, buang air kecil sudah tak tertahankan. Dibarisan shaf depan, aku melihat Abi duduk dengan khusuk. Tidak mungkin aku pamit kepadanya dan tidak mungkin aku minta pertolongannya untuk mengantarkanku ke toilet. Lagi pula dimanakah women toilet itu ? Terus terang aku bingung dan sudah tidak konsen terhadap al quran yang saat itu sedang aku baca, sambil menunggu waktu Subuh tina. Didera kondisi tubuh seperti ini, sungguh sangat tersiksa.
Alhamdulillah …, hingga waktu shubuh tiba pada jam 05.30, aku masih bertahan. Tubuh menggigil kedinginan. Ternyata kantung kemih masih berfungsi baik sehingga aku mampu menahan keinginan hajat kecil ini. Ketika sholat shubuh usai, terburu-buru aku memanggil Abi dan segera mengajaknya pulang ke penginapan. Selama perjalan dari Masjidil Haram sampai ke penginapan saja, yang jaraknya 2 km, kami berjalan terbirit-birit.

Aku sadar, dari peristiwa ini aku teringat suatu kejadiaan. Aku pernah mencandai seorang bapak yang serombongan dengan kami. Si Bapak itu mengalami keinginan buang hajat kecil, ketika kami menaiki bus dari bandara Madinah ke penginapan. Kawatir bus kami tertinggal rombongan bus lainnya, maka aku mencandai si bapak tersebut agar mengikat jempolnya dengan karet gelang, agar rasa keinginan untuk buang hajad kecil itu hilang.
“Wah …… jangan-jangan ini pembalasan bagi diriku … ucapku dalam hati. Astagfirullahal adzim……

HARI KE DELAPAN DIKOTA MAKKAH 4 Januari/dzulhijah 2006

Setiap malam dini hari kami bangun untuk melakukan sholat tahajut ke Masjidil Haram.
Sesampainya di Mesjid kami melakukan Tawaf sunnah. Tawaf sunnah adalah sebagai pengganti tahiyatul Masjid.
Hari ini suasana mesjid terasa amat sesak. Tinggal berapa hari lagi waktu wukuf di Arafah tiba. Para jemaah mulai berdatangan dari seantero Negara di Timur Tengah dan Afrika utara. Terasa benar suasana kebesaran islam. Mekkah bagaikan pertemuan mu`tamar bangsa-bangsa yang luar biasa untuk bertahmid, bertasbih, bertakbir.
“Subhanallah… walhamdulillah…… wala ilaha ullallah…… wallahu akbar,……..lahaula wala quwwata illah billah,Al-alliyyi Al-Adzim.
Memuji Allah yang sebagaimana yang dianjurkan malaikat dan RasulullahSAW, sangat sederhana.

Tiada bacaan lainyang harus kita lafazkan. Akan tetapi umat Nabi Muhammad yang berkembang menjadi berbagai macam mahzab dan aliran, mengucapkan kalimah-kalimah Ilahi sesuai dengan mahzab mereka. Lantunan tasbih, tahmid dan takbir itu, bagaikan kita berada disarang lebah. Kita akan mendengar dengungan ayat-ayat suci yang mengagungkan nama Allah.

Betapa kecilnya kita bila berada ditengah pusaran tawaf ini. Badan kita bagaikan berada ditengah genangan air deras dengan batu-batu besar mengapit diri ini. Terseok-seok,……………..terdorong-dorong …………..dan terjepit. Aku mencoba berjinjit untuk mengimbangi tinggi saudara seiman islam kita. Bila makin dekat kita dengan Ka`bah, maka pusaran manusia semakin deras bagaikan riak gelombang manusia yang menghantan diri ini. Abi – suamiku, harus kuat membentengi diriku dengan kekuatan tenaganya Tenaga Abi harus super ekstra untuk mempertahankan dirinya dan juga untuk melindungi istrinya.
Ego manusia dalam pusaran ini semakin tambah besar. Benar-benar memperdaya yang manusia Indonesia yang kecil-kecil tubuhnya. Bagi mereka yang berpostur besar, maka kita yang berbadan kecil ini bagaikan kerikil-kerikil diantara batu-batu besar dari suatu aliran air yang deras.
Begitulah kondisi yang kita hadapi pada saat kita melakukan tawaf pada MIN H dan PLUS H. Bagi saudara kita seiman islam itu, ketika berjalan diantara kita, sangat mudah sekali ia merambah badan kita. Inilah jihad bagi jemaah haji Indonesia. Jihad melawan nafsu “jidal” karena kita sama sekali tidak boleh mencederai jemaah yang lain. Jika kita tidak kokoh berjalan dalam pelaksanaan tawaf ini, maka kita bias tersungkur dalam tawaf itu. Akibatnya mautlah tantangannya.

Tak kalah dengan suara. Saudara seiman islam itu ada yang menganggap, bahwa jika suara semakin kencang dalam bertasbih, tahmid, takbir kepada Allah SWT, seakan suara merekalah yang akan didengar. Hal yang perlu diingat oleh calon jemaah haji adalah adanya beberapa kekeliruan yang semestinya tidak boleh dilakukan saat bertwaf, antara lain :
- Melakukan ramal (lari-lari kecil) hampir semua putaran, padahal cukup dilakukan pada 3 putaran saja. Inipun tidak perlu memaksakan diri sehingga akan mencederai orang lain.
- Mengeraskan suara pada waktu tawaf, dapat mengganggu orang lain yang sedang bertawaf
- Berdesak-desakan untuk sholat didekat makam Ibrahim As.h

Perbuatan semua itu adalah sunah hukumnya. Janganlah kita melakukan kekeliruan ini yang menjadikan orang teraniaya.

Bila kekeliruan ini tetap terjadi, maka keinginan manusia untuk megharap ridho Allah akan berbenturan dengan sikap dan prilaku yang tidak sesuai menurut ketentuan Rasul. Astagfirullah…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s