1 – Catatan perjalananku menuju kesempurnaan ISLAM :Persiapan – Pemberangkatan – Ziarah Madinah

Walimatul Safar Bi Haj : 4 Desember 2005

Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan rohari dalam memenuhi panggilanNya untuk menunaikan rukun islamyang kelima bagi yang mampu. Mampu secara bathin karena adanya keinginan dan kemauan untuk beribadah untuk mengharap ridho Nya sertamemohon ampun kepada Nya, sehingga seseorang akan menjadi hamba yang sebenar-benarnya muslim setelah rukun islam yang ke lima ini. Keharuan semakin terasa menyelimuti hati ini ketika langkah yang kami lakukan adalah terlebih dahulu meminta maaf kepada saudara, kerabat, handai toulan / tetangga agar mereka memaafkan kita serta berdoa agar kita menjadi haji yang mabrur. Bagiku menggapai haji yang mabrur ini terasa berat, sementara hampir semua orang mendoakan kita, agar kita memperoleh haji yang “mabrur”.

Menghimpun saudara, kerabat dan handai toulan merupakan langkah yang efektif bagi para calon jemaah haji – tanpa maksud berpesta ria untuk melepas keberangkatannya, tanpa ada maksud bermewah – mewah, namun semata adalah demi kesempurnaan acara dan kesyahduan.


Demikianlah pada acara Walimatursafar yan
g kami selenggarakan secara sederhana – tak terkira rasa gembiraku. Begitu besar perhatian saudara/kerabat/handai taulan untuk meluangkan waktunya menghadiri pertemuan ini. Kami mengundang seorang penceramah. Bapak “Hasyim Syamsudin” selaku penceramah pada acara walimatussafar, memnyampaikan pesan – pesan kepada kami serta para hadirin, bagaimana seorang calon jemaah haji, harus bersikap dalam menunaikan ibadah haji serta dapat memetik hikmah ibadah haji.

Ketika sampailah pada acara pembacaan doa yang dipimpin oleh “uztad Sobari dari “Pesantren Nurul Ihsan “, aku menangis terisak betapa ratib “Hadad” yang dibaca hadirin bersama para santri secara serempak, menjadikan diri ini penuh dosa. Akan mampukah aku menjadi manusia yang diharapkan menjadi haji mabrur? Sungguh berat predikat haji mabrur ini bukan ,?

“Ya Allah iringi aku dalam perjalanan ini. Hanya kepada engkau aku memohon perlindungan dan hanya Engkau yang menemaniku”.

Masuk Asrama Haji :

Dengan diantar oleh keluarga besar kami, serta disertai perasaan haru dan bahagia, aku dan suami, meninggalkan rumah pada ba`da dzhuhur.

Pagi hari sebelum keberangkatan, sebelum kami meninggalkan rumah, kami memanggil anak – anak dan menasehati mereka, agar mereka selama ditinggal pergi Papa dan Mamanya, bersikap dan berprilaku yang baik.

Kami berdua ; aku dan suamiku – Uda Oyon , sebelum berangkat terlebih dahulu melakukan sholat “Safar” serta saling bermaaf – maafan diantara kami berdua. Agar kami berdua tidak mengalami hal-hal yang dapat merintangi perjalanan kami.

Hendaknya diantara kami berdua akan menjadi teman perjalanan menyenangkan. Insya Allah……Amin ………………………………………

Kepada keluarga besarku yang hadir, suamiku menitipkan anak-anak kami : Ulil Amri, Aulia Khair, Imanul Ilmi, dan Amrina Khairi Ilma. Kami menyampaikan permohonan maaf serta memohon doa agar keberangkatan kami ini dapat dimudahkan oleh Allah SWT.

Ulil Amri anak kami yang pertama mengumandangkan azan melepas keberangkatan kami. Kakak ipar kami ‘Mulyono Iskandar”, membaca doa pelepasan keberangkatan kami.

Tempat pelepasan keberangkatan jemaah haji, dilakukan di sebuah lapangan sepak bola yang berlokasi didesa “Cilenggang” , Serpong, Tangerang. Para jemaah Haji dilepas secara resmi oleh kepala KUA – Serpong. Suasana pengantar haji, cukup padat. Masing-masing keluarga besar para jemaah, menghantar anggota keluarganya dari desa ini. Disini aku menyadari bahwa perjalanan haji memang lain. Ini adalah perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT, sehingga berbondong-bondonglah anggota kerabat melepas keberangkatan para calon haji itu.

Uraian air mata Amrina Khairi Ilma” putri kami yang terkecil (10 tahun), cukup mengusik hati ini. Dari atas bus aku berusaha menenangkannya. Aku merasakan perpisahan selama 40 hari ini memang terasa lama. Apalagi dia belum pernah ditinggal selama ini.Akhirnya perlahan bus kami, meninggalkan lapangan yang sempit ini disertai lambaian para kerabat calon jemaah haji lainnya. Hujan deras mengiringi keberang katan kami. Hati ini diliputi rasa haru yang mendalam, ketika bus yang kami tumpangi merengsek secara perlahan dan akan mengantarkan kami ke asrama haji di Pondok Gede – Jakarta.

Dalam perjalan menuju Asrama Haji Pondok Gede, kami rombongan jemaah haji dituntun membaca doa menaiki kendaraan serta doa perjalan yang dipimpim oleh ketua regu kami, yaitu Syafrul dan Suroso.

Calon jemaah diinapkan semalam, untuk mempermudah pengurusan exitpermit, paspor dan buku kesehatan jemaah termasuk pemberian living cost sebesar 1500 Riyal.

Ketika kami menginap semalam di Asrama Haji Pondok Gede, kami bertekat bahwa perjalan ini harus dapat dinikmati, sehingga apapun yang terjadi inilah rahmat bagi kita. Ada guyon diantara regu kami ketika kami menikmati hidangan makan malam yang disajikan diasrama ini.

“Sayurnya asem ………saja enak, apalagi sambal goreng hatinya………..(karena memang makanan yang disuguhkan kepada kami sangat enak sekali).


KEBERANGKATAN KEMADINAH :Tanggal 19 Desember 2005

Kami merupakan gelombang I, kelompok terbang ke 27, yang diberangkatkan menuju Madinah melalui Embarkasi Jakarta. Jumlah jemaah berasal dari kabupaten Tangerang berjumlah 455 orang. Kami diberangkatkan dari Pondok Gede jam 09.00. Semua jemaah yang akan berangkat diharuskan melakukan sholat safar. Demikianlah sebelum berangkat dari Asrama Haji Pondok Gede, terlebih dahulu aku melakukan sholat safar agar diberikan kemudahan dalam perjalanan menuju tanah Madinah. Begitu pula sesampai di Bandara Cengkareng – sambil menunggu keberangkatan dari Terminal Haji – Badara Sutta, kami melakukan sholat jamak Taqdim – Qoshor masing-masing untuk sholat dzuhur dan asyar 2 – 2 rakaat.


Pesawat yang akan membawa rombongan kami, diberangkatkan pada jam 14.15 wib, sesuai jadwal yang direncanakan. Perjalanan yang kami rasakan, teramat menyenangkan. Hal ini tercermin dari muka yang ceria para jemaah yang ada di kelompok pesawat terbang itu. Kami seakan melupakan rumah dan anak – anak yang ditinggalkan.

Perjalanan menuju Madinah memerlukan waktu 10 jam. Makanan yang dihidangkan sangat berselera. Alhamdulilah kami dilayani seperti tamu eksekutif oleh para pramugari Garuda. Pelayanan pramugari ini, sangat berbeda dengan pramugari Garuda lainnya, yang cenderung bermuka tidak ramah.

Dipesawat aku lebih banyak tidur, mungkin karena pengaruh obat batuk China, yang aku minum sebelum berangkat, sehingga perjalanan ini terasa amat singkat. Beberapa jemaah, banyak yang membaca al quran untuk mengisi kekosongan waktu di pesawat. Akupun membaca al quran, namun ternyata kantuk sangat menguasai mata ini. Mudahan bukan makhluk penggoda yang bernama Syaitan itu ada dipelupuk mata ini.

Memasuki wilayah Saudi Arabia, perjumpaan kami dengan orang-orang Arab adalah ketika pesawat transit di “Bandara Aini” – Abu Dabi, untuk mengisi bensin. Pesawat dibersihkan. Setelah itu, kemudian pesawat diterbangkan ke Madinah dan mendarat di Bandar “Amir Muhammad bin Abdul Aziz-Madinah, pada pukul 20.00 waktu setempat.

Ternyata kedatangan kami ini di kota Nabi, ini menurut perkiraan Daker (Daerah Kerja/Penanggung Jawab Jemaah Haji Indonesia), mengalami percepatan 6 jam dari jadwal kedatangan kloter kami. Ada perasaan mencekam ketika, tiap sebentar bus yang kami tumpangi berhenti dan berhenti – entah apa alasannya. Yang kami tahu adalah sopir berteriak-teriak tanpa kumengerti.

Seperti biasa pada sebuah perjalanan yang jauh, selalu saja ada yang kebelet pipis. Beberapa kaum ibu sudah tahan lagi menahan hajat kecilnya. Penumpang lain mulai menahan perasaan. Pada saat bus akan merengsek perlahan, seorang bapak-bapak berseru bahwa iapun ingin berhajat. Hemmm… sabar ya Allah. Bagaimana emosi seseorang harus dikendalikan ? akupun setengah bergurau kepada si bapak itu : “ pak … ikat saja jempol tangannya dengan karet.., kataku. Dijamin Bapak hilang rasa kebeletnya… Seketika tanganku disikut suami.

“Huss.. jaga hati dan jaga mulut, katanya. Akhirnya dengan kesabaran penuh, para penumpang menunggu si bapak pergi menuju toilet yang bukan milik umum di tanah nabi itu – sebuah toliet – milik staff Bandara Mandinah. Secara perlahan berangkatlah bus mengantarkan rombongan kami menuju penginapan. Kami menempati penginapan yang sederhana berjarak 1 km dari Masjid Nabawi. Alhamdulillah ……………………………

HARI PERTAMA DI MADINAH (SHOLAT ARBAIN) – Tanggal 20 Desember 2005 :

Pada pukul 03.00 dinihari, regu kami bersegera melaksanakan sholat arbain yang pertama (waktu subuh). Udara Madinah yang dingin tidak terasa bagi kami.

Ketika itu, suasana mesjid belum terasa ramai. Kami masuk menuju pintu yang diperuntukkan bagi jemaah wanita. Kami sedikit tertegun gugup, ketika didepan pintu terdapat beberapa wanita yang berpakaian hitam-hitam dan bercadar. Dipintu Mesjid Nabawi yang disebut pintu Usman bin Affan no. 29 itu, kami benar-benar terperanjat, karena dihadang oleh para wanita yang bercadar tadi. Mereka adalah “askar” (satpam putri). Mereka memeriksa seluruh isi tas bawaan kami, secara teliti.

Tidak dinyana, mereka menemukan handphone camera milik bu Rety, seorang anggota regu kami. Menurut Askar – handphone itu harus dititipkan kepada petugas penitipan barang yang ada dihalaman mesjid. “ Hajjah.. hajjah, amanat.. amanat, teriaknya kepada kami. Kami kaget untuk pertama kalinya, kami dipanggil hajjah. Hemmm.. belum haji kok sudah dipanggil hajjah…? Betapa pucatnya kami berlima yaitu : Aku, Ibu Rety, Ibu Uni, Ibu Armida, Ibu Dewi atas sikap mereka yang tegas. Kami menjadi “ limbung’ dengan Askar yang menggunakan jubah hitam serta mukanya ditutupi cadar itu. Ditengah kebingungan, kawatir handphone tidak bisa diambil lagi, akhirnya kami memilih sholat dipelataran luar Mesjid Nabawi.

Karena sholat dialam terbuka serta udara Madinah yang dingin, membuat diri kami ingin buang angin atau buang air kecil. Ibu Armida – teman kami, sudah tak tahan ingin buang hajat kecil. Ia terpaksa harus ketoilet. Sesaat tempat (sajadah) ditinggal bu Armida itu, ternyata sajadahnya diduduki seorang wanita India. Kami menyampaikan keberatan dan mengatakan kepadanya, bahwa sajadah itu milik teman kami. Namun apa katanya……….

” Ini bukan tempatmu. Ini rumah Allah”……….. seraya tangannya menunjuk keatas. Sambil Ia menggoyang-goyangkan kepalanya bak artis film India. Ia menyatakan, bahwa tidak satupun dari kami boleh menyatakan bahwa tempat yang ia duduki itu tempat kami. Mengertilah kami bahwa tidak seorangpun diperbolehkan menetapkan suatu kepemilikan di mesjid Nabi itu. Oh…… begitu. Asytagfirullahal adzim ..India.. oh india.

Mesjid Nabawi yang megah dan berlimpah cahaya memisahkan ruang sholat wanita dan pria agar terhindar dari percampuran jenis. Dalam suasana seperti ini aku melihat betapa besar kekuatan islam di dunia ini. Secara spektakuler dari barat ke timur, dari utara dan selatan, Nabi Muhammad SAW melalui para sahabat dan kekhalifahan sesudahnya telah menghimpun umat islam, untuk berdzikir kepada Allah SWT dan bersalawat kepada Rasulullah SAW.

Sebagai penghormatan atas perjuangan para sahabat Nabi khususnya Abu Bakar Siddiq dan Umar Bin Khatab, maka kedua sahabat Nabi itu, dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah di Mesjid Madinah ini.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan manifestasi persaudaraan muslim sedunia, karena haji merupakan muktamar tahunan atau silaturahmi akbar. Ziarah di Madinah , bagaikan muktamar bangsa-bangsa. Disini kita saling membawa budaya masing-masing, dengan aneka ragam penampilan dan tingkah laku. Cara mereka menunaikan ibadah sholat, ada yang berbeda dengan cara yang biasa kita lakukan. Aku melihat beberapa wanita Turkey, Iran yang membaca al-qur’an disaat sholat. Apapun yang mereka lakukan, semata-mata ingin menjalani ibadah secara khusuk.

Begitu pula dengan tata cara berpakaian, Khusus bagi jemaah wanita dari Afrika, Turkey, Iran, Pakistan. India, mereka berbusana yang benar-benar berbeda dengan jemaah wanita yang berasal dari Malaysia dan Indonesia. Yang menarik bagiku dan perlu aku ceritakan disini adalah, penampilan para wanita dengan ragam busana yang aneka ragam. Aku menyaksikan bagaimana gaya perempuan Afrika: Sudan, Nigeria, Guinea, Senegal, dll yang mendatangi masjid dengan pakaian mereka yang berwarna-warni “ permen nano-nano”, serba indah lengkap selendang menutup kepalanya. Bagi wanita Indonesia selendang mereka itu, digunakan untuk pesta-pesta perkawinan. Demikian pula para wanita Turkey, Magraby / Aljazair, Maroko, Iran, mereka menggunakan seragam yang berwarna senada dan diselimuti fasmina yang tebal dan indah. Wanita India dan Pakistan tak kalah dengan penampilan yang menarik. Aku menyaksikan dengan model rupa,, warna dan coraknya. Tampak wanita muslim di Masjid ini, bagaikan mengikuti fashion saja.

Sementara itu, kita menyaksikan betapa kebersahajaan wanita Indonesia. Umumnya wanita Indonesia menggunakan daster batik rumahan saja. Kemudian kepala ditutup mukenah sahaja. Suatu perbedaan yang seharusnya kita koreksi. Padahal sesungguhnya kita memiliki baju muslim lebih dari sekedar daster batik. Mengapa kita tidak menggunakan baju muslim itu ? apalagi untuk mengunjungi masjid yang megah dan berlimpah cahaya ini.
Menurutku adalah suatu info yang keliru ketikadi tanah air, aku disarankan cukup membawa 2 daster saja. Nanti thoh …… akan tertutup mukena. Menurutku ini suatu kekeliruan. Sebab bagaimanapun yang namanya ke Mesjid, tentu kita harus menempatkan diri dalam berpakaian.

Tidak dalam kebersahajaan saja namun bukan pula untuk bermegah-megah. Bagiku kerapihan dan penampilan harus tetap dipertahankan, tanpa mengurangi kekhusukan dan kekhidmatan dalam melaksanakan ibadah.

Aku menyebut pertemuan kami dengan wanita muslim sedunia itu, sebagai muktamar muslimat sedunia. Karena kita akan berkenalan dan beramah tamah dengan para wanita tersebut. Barisan shaf wanita Indonesia amat disukai wanita Turki, untuk menyelipkan tubuhnya yang besar agar bisa duduk diantara kita. Mulanya aku sedikit kaget dengan kebiasan mereka. Namum lama-lama kita nikmati saja prilaku mereka ini, karena saking sudah terbiasa.

Kami banyak berkenalan dengan wanita jemaah lain seperti : Turki, Magraby, Pakistan, Iran, dll. Namun kenalan kami yang satu inilain. Ia wanita Pakistan yang cerdas dan berpendidikan Master of Art. Namanya Aisyah. Untuk selalu berjumpa dengannya, kami menetapkan pilar Mesjid No 145 untukberjumpa dengannya. Kami berdiskusi mengenai masalah social, budaya termasuk agama dengannya, termasuk kritikannya bahwa umumnya wanita Indonesia, apabila tertidur di Mesjid Nabawi, tidak mengulangi Wudhunya. Hemmm.. malu juga hati ini.

Ketika aku bercakap-cakap dengannya, aku mempertanyakan mengapa wanita Pakistan, selalu ada permata dan emas yang ditindik pada hidungnnya, termasuk pertanyaanku – mengapa mereka selalu menghiasi tangan dan kakinya dengan inai. Juga mengapa mereka cenderung berpostur tubuh besar alias gemuk. ( Soal postur tubuh yang besar ini…. Malu aku menceritakannya)

Aisyah berkata : “inai dan anting di hidung adalah culture dinegaranya. Masalah kegemukan menurut dia sebagai akibat dari tidak ada kegiatan diluar rumah yang dilakukan wanita Pakistan, selain masak, tidur dan tidur. Perempuan tidak boleh bekerja dan beraktivitas diluar rumah. Akibatnya terjadi penumpukan lemak pada badan, demikian dia menjelaskan. That is no problem by her…, katanya sambil melirik wanita senegaranya. But I am so sad….

Dia menyatakan, hal yang menyedihkan ialah, umumnya wanita Pakistan tidak mempunyai kesempatan berkarir dan menempuh pendidikan.

“Bagaimana dengan Benazir Bhutto”, kata kami. Bukankah dia wanita karir. Seketika terjadi perubahan raut wajahnya. Tampak ketidak senangan nya pada Wanita yang pernah memimpin Pakistan itu. Akhirnya, Dia menyatakan kekesalannya bahwa Benazir Bhutto tidak lebih dari boneka politik yang menghabiskan uang Negara.

Ternyata Aisyah termasuk pihak yang tidak sejalan dengan pemerintahan Benazir Bhutto. Menurutnya pemerintahan Benazir Bhutto itu korup.

“ Wah …… hati-hati anda, nanti ada yang mendengar hujatan anda, kataku mengingatkannya,

” Ha…… Ha……ha.., tanpa sadar kami tergelak-gelak dan tertawa-tawa.

Ketika itulah pinggangku disikut oleh wanita Pakistan yang lain yang duduk disebelah kami. Ia marah pada kelompok kami karena tertawa kami yang cukup keras.

“Hey … ini mesjid …… dilarang ketawa keras-keras”. Kami saling mengingatkan. So…… mari kita beristigfar…… dan sholat toubat. Akhirnya pembicaraan kami akhiri, dan masing-masing kami bersegera melakukan sholat 2 rakaat.

Ada yang kuamati dari cara dan gaya, baik wanita Pakistan maupun India. Mereka membaca al quran sangat cepat dengan badannya bergoyang – goyang mengikuti irama kajiannya. Demikian pula Aisyah, apabila membaca al quran. Mereka sangat fasih dalam membaca alquran. Ternyata Aisyah adalah seorang guru Ibtidaiyah. Dia menerangkan, bahwa surah yang tinggi nilainya dan sering dibaca dalam sholat sholat hajat atau sholat mutlak lainnya adalah; al Kafirun, al ikhlas, al alaq, An nas.

Bagi orang Pakistan, surat yang tinggi nilainya dan setiap saat dibaca oleh muslim Pakistan selain ayat diatas, adalah Al Zalzalah. “That is important by us. Ia menjelaskan secara panjang lebar, kafiyat surat tersebut. Aku dan juga teman-temanku, cuma manggut-maggut karena tidak mengerti sekaligus bingung. Muslim Pakistan menganut Sunny seperti halnya Indonesia. Pantaslah sama tata cara ibadahnya dengan kita orang Indonesia.

Aisyah menyelesaikan sholat arbainnya lebih dahulu dari kami. Sebagai kenang-kenangan, aku menghadiahkan 1 gelang tasbih kepadanya. Entah……… hingga kapan kami akan berjumpa dengannya, walaupun kami mencatat alamatnya di Pakistan.

Untuk menghemat tenaga selama kita melaksanakan sholat arbain ini, kita dapat mengefektifkan perjalanan antara penginapan dan Mesjid dengan cara melakukan i`ttikaf di Mesjid sejak waktu dzuhur hingga isya tiba. Kadang kala seperti hal inilah yang sering kami lakukan, selama kami melaksanakan sholat arbain.

Bersyukur aku memiliki teman seperjalan yang menyenangkan, kompak menjadikan kami bersaudar.tolong – menolong dan keinginan yang sama untuk menjadi haji mabrur. Amin………………


Di mesjid Nabawi ini, tidak satupun dari kami menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan sholat arbain, sebgaimana sabda nabi Muhammad SAW:

“Sholat di Mesjidku (Mesjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding sholat dimesjid lainnya kecuali di Masjidil haram, dan Sholat dimasjidil haram lebih utama 100.000 kali dari pada sholat dimasjid lainnya” (HR. Ahmad, Ibnu Huzaimah dan Ahkim)

Bahkan Rasulullah SAW menambahkan, bahwa siapa yang sholat di Masjid beliau ini selama empat puluh sholat dan tidak tinggal satupun (beraturan), maka akan bersih (terlepas) dari siksa neraka, lepas dari azab dan bersih dari kemunafikan.. Wallahu Alam……

ROUDHAH :

Apa yang dimaksud dan bagaimana itu Roudhah ?.

Roudhah adalah suatu tempat didalam Mesjid Nabawi luasnya kira-kira 144 m2. Letaknya ditandai Qubah Hijau, bila dilihat dari luar Mesjid serta tiang-tiang putih yang berada diantara Makam Nabi (d/h rumah nabi) sampai dengan mimbar Nabi.

Tempat ini adalah tempat yang makbul untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah (termasuk 5 orang ahli hadis), Rasulullah bersabda :

“ antara rumahku dan mimbarku adalah roundhah (taman) diantara taman-taman surga”.

Allah SWT akan menurunkan rahmatnya untuk mencapai suatu maksud dan doanya akan dijabah. Ditempat itu dilakukan sholat mutlak disertai dzikir dan doa kepada Allah.

Dari para jemaah wanita yang sudah lebih dahulu memasuki roudhah, aku dapat mengetahui bahwa terdapat suatu perjuangan untuk mencapai Roudhah. Sedangkan bagi jemaah pria tidak terlalu sulit untuk masuk ke Roudhah. Hal ini disebabkan lokasi Rhoudah, masih dalam lingkungan shaf pria. Bagi kami para jemaah wanita, ditentukan jam berkunjungnya, yaitu ba`da shubuh dan zuhur.

Pada hari kedua di Madinah, tanggal 21 Desember 2005, rombongan kami diantar seorang pemandu bangsa Arab, yang membawa kami kedekat kubah Hijau diluar mesjid. Semula kami mengira, kami akan mendapatkan prioritas masuk ke Roudhah. ternyata dugaan tersebut keliru, karena kami tetap melakukan antrian panjang di pintu Ali bin Abi thalib.

Banyak nian, jemaah wanita yang berhasrat ke Rhoudah disiang hari seusai ba.da zhuhur itu. Aku mencoba antri ditengah – tengah desakan wanita-wanita yang menanti dengan penuh harap. Hati para jemaah wanita dibuat berdebar-debar. Pintu masuk manakah yang akan dibuka lebih dahulu oleh para Asykar putri itu.

Ditengah desakan antrian yang padat itu, aku sempat terusik ketika seorang wanita “Malaysia” membaca surat Yasin persis ditelingaku. Bacaannya cukup memekakkan telingaku. Aku mencoba beristigfar…………Asytagfirullah al adziim…. Mungkin aku yang salah. Sesungguhnya iapun tentu juga berharap agar memperoleh kemudahan dalam memasuki areal Roudhah itu.

Punggung dan dadaku terjepit diantara desakan ratusan wanita yang antri. Ketika itu, jarakku dengan calon pintu masuk hanya 2 m. Aku benar-benar berharap ingin masuk. Aku bertahan. Keringat mengucur karena desakan kumpulan wanita yang ingin masuk ke areal Rhoudah. Aku mencoba berdoa sebagaimana Nabi Yunus As, berdoa dalam perut ikan.

“Bimillahiladzi laa ilaha illa anta subhanaka ini quntu minazzolimin…….

Didalam regu kami, semula kami mengantri secara berombongan. Akhirnya, satu persatu diantara kami meninggalkan antrian. Mungkin mereka sadar, bahwa tidak akan mungkin bisa masuk dalam antrian yang sedemikian padat itu. Ditengah hiruk pikuknya ratusan wanita yang saling berdesakan, itulah aku masih bertahan. Aku kaget karena terdorong, ketika ada seorang wanita gemuk dan bertubuh gempal datang membawa rombongan teman-temannya dari KBIH di Jawa Timur. Ia berupaya menembus barikade barisan hingga terdepan dari antrian itu. Akibat ulahnya itu, rombongan ini sangat menjepit dan memojokan diriku. Dadaku sesak karena ditekan. Akhirnya dengan kesabaran, aku bertanya kepadanya.

“Ibu, sabar …… ya Bu… dan apakah baru pertama kali ini Ibu ke Roudhah ini ?

dengan tertawa ia berkata: “ saya sudah dua kali ke Roudhah dan saya belum merasa puas” katanya.

“Astagfirullah…………… ucapku dalam hati

“Ibu beri kami kesempatan untuk antri,karena kami belum pernah kesana…, kataku kepadanya. Dia hanya tertawa dan sama sekali tidak mendengar saranku.

Jumlah rombongan kami yang semula banyak, sekarang tinggal aku dan ibu Haris Yadda yang tersisa. “Kita bertahan saja ya Bu……”, kata ibu Haris kepadaku. Mana tahu Allah berhati kasih kepada kita dan memberi kesempatan kita bisa masuk…… itulah tekad kami ketika itu.

Tiba-tiba pintu arah sebelah kiriku terbuka. Bagaikan suara lebah aku mendengar suara wanita berhamburan lari masuk menuju arah makam Rasul itu. Aku berdiri terbengong-bengong tidak berdaya dalam posisi terjepit. Padahal setahuku pintu itu hanya di peruntukan untuk wanita India, Pakistan dan Negara sekitarnya.

Entah siapa yang memulai, barisan ditempat kami, semua berteriak dengan serempak; Allahu Akbar………. Allahu……… Akbar……..

Para Askar menjadi berang dan berteriak: “Hajjah……… Haram…… Haram.. ! Mereka melarang perbuatan yang mengatas namakan Allah demi suatu ketidak sabaran. Ketika itu aku masih berfikir lugu “……… Ah …… masa iya sih, pintu kami ini tidak dibuka. Bila tidak dibuka tentunya Askar itu akan memberitahu kami.

Tiba-tiba antrian sebelah kananku terbuka lagi dan sesekali lagi kudengar gemuruh suara wanita yang berlari masuk menuju Roudhah. Barisan kami kembali berteiak Allahu Akbar – Allahu Akbar.

Betapa kecewanya hati ini, ternyata jam menunjukan pukul 10.00, berarti berakhirnya kunjungan jemaah wanita ke Roudhah itu.

Alhasil dari rombongan kami yang berjumlah k.l 30 orang yang berhasil memasuki Roudhah saat itu hanyalah Ibu Halimah Syafrul dan Ibu Nursamsu yang usia sudah 68 tahun. Dua perempuan ini ditakdirkan dapat masuk ke roudhah karena beliau berada pada posisi antrian paling belakang yang sebenarnya kecil kemungkinan dapat masuk. Namun ternyata berpeluang untuk lari masuk tanpa berdesakan diantara dua calon pintu yang akan dibuka. Alhamdulillah……

Dua teman sekamarku ibu Uni Herlati dan ibu Armida pada siang hari ba`da zuhur, berhasil memasuki Roudhah. Keduanya memberikan kiat untukmasuk ke Roudhah dengan strategi yang harus diperhatikan, yaitu :

– Berdoalah kepada pemilik masjid ini, yaitu Allah SWT tentang keinginan kita mengunjungi makam Rasul.

– Perhatikan pintu yang ada cameranya. Berdirilah diantara 2 pintu tersebut pada posisi belakang saja, sehingga lebih aman dan lancar untuk masuk.

– Perhatikan kepadatan pintu yang akan dibuka.

Biasanya, Askar demi keselamatan para jemaah wanita dari akibat desakan , untuk mengurangi tingkat kepadatan manusia, akan memilih pintu yang sedikit antrian dan jumlah kepadatannya. Keesokan harinya,kamis 22 Desember 2005 pada ba`da dzuhur, aku mencoba lagi untuk masuk ke Roudhah. Pada siang hari itu, aku mengalami kegagalan lagi masuk, karena hanya satu pintu yang dibuka dan akupun terlambat untuk masuk.

Pagi ini jumat 23 Desember 2005, sebenarnya aku mempunyai firasat bahwa, Roudhah akan dibuka pada pagi hari ini dan aku berharap benar agar aku dapat masuk pagi ini. Namun teman – temanku sekamarku tidak ada yang berkesempatan menemaniku. Mereka telah punya rencana berbelanja dengan kenalan kami, ibu Maya seorang TKW yang bekerja disebuah salon di kota madinah ini. Ternyata firasatku benar, bahwa pada hari Jum`at pintu Roudhah dibuka seleruhnya dan hamper 90% para wanita berpeluang masuk ke Roudhah tesebut.

Aku sangat kecewa sekali saat itu apakah aku ini termasuk orang yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT untuk berkunjung ke makam Rasul ini. ” Ada apa dengan diriku ya Allah ?


HARI KE EMPAT DI MADINAH : SHOLAT JUM`AT (Tanggal 23 Desember 2005) :

Pada waktu sholat jum`at 23-12-2005, aku mengalami suatu hal yang menakjubkan hati. kebetulan kami hanya memperoleh tempat dipelataran mesjid Nabawi, mengingat begitu padatnya jemaah yang melakukan sholat jum`at. Aku masih sempat mencandai temanku Ibu Rety bahwa mungkin inilah baru pertama kali baginya melaksanakan sholat bagaikan orang pergi tamasya. Betapa tidak, si ibu ini melaksanakan sholat dengan menggunakan topi tamasya.

Aku merasakan sesuatu yang lain pada siang hari ini. Cuaca disekeliling kota Madinah kelihatan terang dan terik, namun masih ada hembusan angina dingin. Aku mengamati bahwa diatas Mesjid Nabawi terdapat awan yang memayungi masjid ini. Aku merasa merinding, seakan didekat kami berdiri Rasulullah SAW. Aku teringat bahwa Rasulullah pernah di payungi awan ketika dalam perjalan beliau pad masa kanak-kanaknya ke negri Syam(Syiria-sekarang).

Aku menceritakan hal ini kepada bu Maya kenalan kami, yang telah bermukim di Madinah selama 7 tahun, perihal masjid Nabawi yang berpayung awan. Menurut bu Maya hal seperti ini sering terjadi ketika musim Haji. Penduduk Madinah menamakan para penziarah pada musim haji ini disebut haji Nabi. Sebetulnya apa arti Haji/Hajjah ? sebutan haji/hajjah ternyata panggilan kepada muslim yang artinya saudara/saudari.


HARI KE LIMA DI MADINAH :

Pada sabtu dini hari aku maelaksanakan sholat Toubah, sholat Hajad, sholat Witir dan berdoa untuk bermunajat kepada Allah aku ingin memasuki roundah.

“Dengan izinMu ya Allah, aku mohon Engkau merido`I dan memberiku kesempatan agar dapat mengunjungi makan Rasulmu. Namun bila Engkau tak merido`I tak mengapa bagiku.

Sesungguhnya Masjid Nabawi ini area Roudhah yang dapat dijadikan tempat untuk berdoa.

Disinilah ujian kesabaran benar-benar aku alami. Selepas shubuh dengan dada gemuruh berharap cemas, aku mencoba sabar duduk menunggu. Kadang aku duduk dan kadang aku berdiri, beristigfar dan segala doa dan harapan trerucap dalamhati. Strategi yang dibuat askar,menyebabkan tidak ada satupun bisa menduga pintu manakah yang akan dibuka ?

Kadang kala askar membuat pagar/pemisah diantara 3 antrian. Ada kecenderungan untuk menghimpun kami para wanita dalam suatu jebakan bahwa pintu kami akan dibuka. Disini aku membuat ketetapan hati dan pernyataaan sikap, seperti yang aku utarakn pada ibu Armida temanku. Nahwa bila mana sampai jam 10.00 akumasih gagal masuk ke Roudhah ini, maka akusudah berketetapan tidak akanmengikuti antrian lagi. Aku mempunyai tekad mengunjungi Roudhah pada kesempatan umroh/haji berikutnya ,inipun bila di izinkan Allah SWT…… (…… seketika sadar bahwa semuanya atas izin Allah).

Ketika para jemaah wanita mulai diarahkan para askar menuju pintu tertentu. Aku hampir terpengaruh. Aku mengajak bu Armida ke pintu tertentu itu. Tiba-tiba didekatku berdiri seorang wanita yang berasal dari Medan. Ia berkata padaku : “Ibu,…… tidak perlu berpindah-pindah tempat.

Saya sudah tiga kali ke Roudhah dalam suasana yang longgar dan tidak berdesak – desakan, persis suasana seperti ini”, katanya.

Suasana tempat aku berdiri memang mulai sepi,karena ditinggal oleh para wanita-wanita yang berpindah tempat untuk antri ketempat yang diarahkan askar. “Ah masa iya…………, bisikku.

Wanita Medan itu bercerita bahwa ia berserah diripada Allah SWt, agar ia diberi kesempatan sholat di roudhah. “Saya merasa biaya kesini sangat mahal dan tidak tidak akan mungkin saya dapat mengunjunginya lagi.”, katanya. Aku senyum dan berkata padanya : “ Bu saya juga telah bermunajat pada Allah, agar saya dapat mengunjungi makam Rasul”.

Antara keraguan mengikuti nasehat tersebut dan keinginanku untuk berpindah tempat, ketika itulah pintu dibelakang kanan kami berdiri terbuka. Aku berteriak histeris dan berlari seperti memiliki kaki sempurna masuk ke pintu itu. Ibu Armida mengingatkanku agar tidak usah berlari. Aku menangis dan terus menangis menuju makam Rasul.

Wanita Turki, Iran, Pakistan, India, Afrika dan Negara – Negara lainya juga teriak histeris. Ternyata untuk masuk makam Rasul dibatasi lagi oleh sebuah pintu, dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan areal makam. Disini berbagai cara dan ragam, para jemaah menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. Namun dalam tuntunannya, kami mengucapkan : “Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah Nya untuk mu, selamat sejahtera atas mu wahai nabiullah …… Dst.

Ketika didepan pintu masuk Roudhah, kembali para wanita berdeskan. Disini aku menyaksikan betapa tertibnya wanita Indonesia yang kebetulan saat itu berasal dari suatu rombongan ibu-ibu dari suatu KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Mereka duduk dengan tertib dan menyampaikan salam ke Rasulullah dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Aku mengikuti perbuatan yang baik ini.

Didepan pintu masuk Roudhah, kami harus antri lagi untuk memberi kesempatan wanita yang masih didalam makam untuk melakukan sholat mutlak dan berdoa. Dipintu masuk Roudhah ini, aku bertegur sapa dengan seorang wanita Iran. Dia menanyakan buku doa yang ku baca. Aku menunjukkan buku paduan doa kepadanya serta mengajaknya membaca bersama. Kami bertiga, seorang wanita Iran yang berfaham Syiah dan seorang wanita Sudan, membaca doa dipintu Roudhah tersebut. Subhanallah … , bertapa bersatunya islam dalam suasana seperti ini. Ternyata melalui pertemuan ini dapat menghilangkan perbedaan mahzab diantara kita umat islam.

Ketika didalam Roudhah, aku hanya mampu sholat berdiri, terayun – ayun oleh desakan manusia. Aku hanya bisa berkonsentrasi dan membayangkan wajah anak- anakku, kakak2/ saudara/kerabat dan handai tolan untuk menyampaikan hajat atas permintaan mereka kepada Yang Maha Kuasa, yang semuanya tidak mampu aku sebutkan satu persatu namanya. Pada intinya, aku memohon ampunan atas diriku, dosa kedua orang tuaku, anak-anakku, nenek dan semua kaum kerabatku, kakak2 termasuk guruku serta sekalian orang mukmin dan muslim. Aku menyampaikan harapan, agar mereka diberikan rezeki. Agar pada suatu saat nanti, mereka juga memperoleh kesempatan memenuhi panggilan Allah SWT serta mengunjungi tanah haram ini. Aku menyampaikan hajat dari kerabat/handai tolan yang secara khusus menitipkan pesan kepadaku. Termasuk menyampaikan salam untuk Rasul, dari orang yang pernah berhaji dan pernah mengunjungi makam Rasul ini.

Menurutku, doa yang kita sampaikan ini akan diijabah (diterima), apabila harapan dan doa ini juga diniatkan pula oleh si yang ber hajat.

Aku memetik 2 hikmah dari kunjungan ke Masjid Nabawi ini serta ziarah ke Makam Nabi. Bahwa pernyataan keislaman kita diucapkan dalam ikrar yang tersebut dalam 2 kalimah Syahadat,

– Syahadat pertama, yaitu “Ashadu alla ila ha illallah. adalah kita mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini menjadi sempurna ketika kita menunaikan ibadah haji serta beribadat di Baitullah – Tanah Haram Makah. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

– Sedangkan syahadat yang kedua, yaitu “ Wa Ashadu Anna Muhamma Rasulullah”, adalah ikrar kita atas kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Dengan mengunjungi Masjid Nabawi serta menziarahi makam nabi Muhammad SAW, merupakan kesempurnaan iman islam kita terhadap pelaksanaan ikrar kita yang kedua.

Bagiku, ini adalah pengalaman batin dan tentunya diantara kita tidak sama pemahaman dan pemaknaannya. Mudah – mudahan tidak hanya orang yang melakukan perjalanan ini saja, yang menemukan hikmah-hikmah seperti ini.

Dalam menunaikan ibadah haji ini, kita beribadah dan berwukuf di Arafah. Tidak sah haji seseorang, bila mana ia tidak melakukan wukuf di Arafah ini. Bila dimaknai lebih mendalam, maka ibadah haji mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Mengapa? Karena aku merasakan bahwa ibadah haji ini, menjadi ibadah perjalanan rohani dan persaudaraan muslim sedunia.

Berziarah di Kota Madinah :

Perlu dicatat, berziarah ke Madinah Al Munawarah adalah untuk menziarahi makam Rasul dan sahabatnya serta menziarahi kaum Muhajirin yang menjadi syuhada bagi penyebaran Islam. Ziarah ini sunah hukumnya, karena bukan bagian dari ibadah haji.

Sudah menjadi paket perjalanan bagi jemaah haji dari Indonesia, termasuk para jemaah haji dari seluruh dunia. Para jemaah diberikan kesempatan untuk menziarahi Mesjid Quba, Mesjid Qiblatain, kebun kurma nabi, Jabal Uhud, tempat para syuhada gugur pada perang Uhud. Mesjid Quba adalah mesjid yang terletak di daerah Quba – sebelah barat daya Madinah. Mesjid ini pertama kali di bangun oleh Nabi Muhammad SAW ketika berhijrah ke Madinah dari Mekkah, dalam usia 53 tahun.

Didalam mesjid ini pula, pertama kali dilakukan solat berjamaah secara terang – terangan. Dalam kunjungan ini, kami berkesempatan melakukan sholat 2 rakaat.

Menurut Hadis riwayat Ahmad Nasa`I, Ibnu Majah,Hakim, dan ia berkata sanadnya sahih :

“Setiap hari RAsulullah mendatangi Masjid Quba berkendaraan atau berjalan kaki dan beliau sholat 2 rakaat didalamnya. Rasulullah memberikan dorongan / menganjurkan datang ke Mesjid Quba seraya berkata:

Setiap saja bersuci (membersihkan diri dari Najis dan Hadast) di rumahnya, kemudian datang ke Mesjid Quba dan sholat didalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala umroh.

Pantaslah ketika kami akan berziarah ke mesjid ini, pemandu kami menganjurkan agar berwudlu terlebih dahulu, sehingga kita tidak berdesak-desakan dengan ratusan jemaah yang mengunjungi mesjid ini. Subhanallah……………………………

Mesjid Qiblatain,adalah mesjid berkiblat 2, yaitu semula kiblatnya ke Baitulmaqdis. Namun setelah turunya wahyu, sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqaroh 144, kiblat mesjid diubah menghadap Ka`bah di Makkah. Aku mengurungkan niat untuk sholat di sini mengingat waktu yang sangat terbatas.

Semua acara ziarah ini kami upayakan agar dapat berakhir, sebelum sholat dzuhur tiba. Tidak ada satupun diantara kami, anggota rombongan, mau meninggalkan waktu sholat dzuhur (arbain) di Mesjid Nabawi saat itu.



HARI KEDELAPAN DI MADINAH – Tanggal 27 Desember 2005


Hari ini adalah hari kedelapan kami di Madinah. Dihari terakhir ini aku ingin aku ingin mengunjungi Roudhah lagi.

Setelah sholat subuh, kami bertiga, aku bersama Ibu Armida dan ibu Dewi mencoba mencuri kesempatan untuk ikut antrian didepan pintu roudhah tersebut. Ketika pintu yang tidak jauh didekat kami terbuka cukup lama k.l 20 m, kami masih berharap pintu yang lebih dekat dengan kami terbuka pula. Sungguh kami tidak menyadari betapa pintu yang sudah terbuka tersebut dan sudah dimasuki oleh puluhan wanita akhir itu, akhirnya ditutup. Ternyata ini adalah satu-satunya pintu yang dibuka petugas di pagi hari ini. Kami tidak mendengar jerit suara histeris dan hiruk pikuk wanita yang berhamburan masuk sebagaimana biasanya mengiringi pintu yang terbuka. Kami baru sadar, ketika spanduk pengumuman dipasang oleh askar, yang menandakan bahwa waktu kunjungan ke Roudhah telah berakhir. Kami jadi heran. Kok jadi begini..?

Mengisi waktu diMadinah selama 8 hari sungguh teras tidak lama,yang kami isi dengan rutinitas bangun dini hari 02.30. Sebelum menuju mesjid kelompok kami selalu mampir terlebih dahulu menikmati teh “cucu” pada suatu restoran dipojok dekat rumah kami. Teh cucu merupakan campuran susu kambing dengan “ lipton tea”. Teh cucu diminum hangat-hangat, ketika menembus udara malam menuju mesjid Nabawi, yang jaraknya 1,5 km dari tempat pengingapan kami.

Ketika hitungan sholat arbain telah mencukup 40 waktu, maka setelah sholat isya aku dan teman-temanku melakukan sholat hajad. Hajad kami sampaikan, untuk menyampaikan keinginan kami untuk berziarah kembali ke kota Madinah Al Munawah dengan mesjid Nabawi yang indah, megah dan cantik yang digelari dengan 94 nama.

HARI KESEMBILAN DI MADINAH – Sholat subuh di Mesjid Ijabah – Madinah

Tanggal 28 Desember 2005,

Pagi ini, sebelum keberangkatan kami ke Kota Mekkah Al Mukaromah, aku dan teman-temaku melakukan sholat subuh di Mesjid Ijabah tidak jauh dari penginapan kami. Mesjid Ijabah salah satu mesjid yang dikunjungi Nabi pada saat ke Rasulannya. Bahkan nabi pernah menyampaikan hajatnyakepada Allah SWT di dalam Mesjid ini.

Dari Shahih Muslim : Rasul memohon kepada Allah SWT atas 3 hal/permohonan. Allah Swt mengabulkan 2 permohonan Rasul dan menolak satu permohonannya.

Nabi berkata :

Aku memohon kepada Allah agar tidak membinasakan umatku dengan kekeringan dan kelaparan dan Allah mengabulkannya.

Aku memohon agar tidak membinasakan umatku dan menenggelamkanya dalam bencana dan Allah mengabulkannya.

Aku memohon agar tidak ada fitnah dan perbedaan diantara umatku, tetapi Allah tidak mengabulkannya.

Fitnah antar sesama umat muslim sangat dikawatirkan Rasulullah SAW, menjelang beliau meninggalkan dunia yang fana ini. Bila ditafsirkan makna dari permohonan Rasulullah tersebut, maka permohonan Rasulullah yang ketiga terasa berat bagi Allah untuk mengabulkan.

Manusia memiliki akal dan budi, yang dapat mengatasi adanya perbedaan dan fitnah diantara sesama.Adanya perbedaan ini, maka terdapat lebih dari 70 mazhab yang berasal dari berbagai faham dan aliran didunia ini.

Di Mesjid ini aku dan teman-teman seperjalanan, melakukan sholat Safar, karena beberapa jam lagi kmi akan melanjutkan perjalanan ketanah suci Mekkah.

KEBERANGKATAN MENUJU -Tanggal 28 Desember 2005,

Pukul 08.00 kloter 27 yang terbagi dalam 10 rombongan/bus, meninggalkan kota AMdinah kota yang berjuluk 94 nama ini menuju Bir Ali-sebagai tempat untuk Miqot, bagi para calon jemaah haji yang datang dari kota Madinah. Setiap jemaah yang memasuki kota Mekkah, di wajibkan menggunakan pakaian ihram di tempat miqot. Saat ini, rombongan yang akan memasuki kota Mekkah, sekaligus melakukan umroh sebagai bagian dari tata cara pelaksanaan – Haji Tamattu.

Bir Ali atau Zuhulaifah, dan bisa disebut Abar Ali ditetapkan sebagai daerah miqot, tempat start dimulainya ibadah pelaksanaan ibadah umroh. Dari tempat inilah dulu Rasulullah mulai miqot ketika melaksanakan ibadah haji pertama kali beberapa abad silam.

Semua jemaah pria memakai pakaian ihrom yang terdiri dari 2 lembar idaar ( diselendangkan dipundak) dan izaar (dipakai melilit bagian perut ke bawah), dan sandaltidak menutup mata kaki. Pakain putih-putih tak terjahit yang akan menjadi “kain kafan” pembungkus mayat kelak.

Siang itu resmi dipakai oleh para jemaah dan hanya itu yang boleh menempeldi badan. Tidak boleh pakai “cd” alias celana dalam,dan kepala harus bebas tanpa peci atau kopiah.kecuali jemaah wanita boleh menutup kepala dengan kain sholat, kecuali muka harus terbuka.

Di Mesjid Bir Ali terlebih dahulu kami melakukan solat tahiyatul mesjid dan dilanjutkan solat sunah umroh.

Bagian dari rukun umroh adalah memakai pakain ihrom disertai dengan niat umroh yaitu:

“Labbaiku Allahumma umratan”

Artinya aku sambut panggilanmu Ya Allah untuk berumroh atau

Nawaitul umrotan wa ahromtu biha lillahi ta ala.

Dalam perjalan perjalanan Madinah – Mekkah, kami bersama – sama membaca:

“LABBAIKU ALLAHUMMA LABBAIK”

LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK

INNAL HAMDA WANNI`MATA LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK

Aku datang memenuhi panggilamu ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu.

Tidak ada sekutu bagiMu, ya Allah aku penuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran hanyalah untukMu semata. Segenapa kerajaan untuk Mu. Tidak ada sekutu bagimu.

Bagi kaum pria hendaknya membaca talbiyah ini dengan keras, sedangkan bagi wanita hendaknya mengucapkan dengan suara pelan. Kemudian perbanyaklah membaca talbiyah, dzikir dan istigfar serta menganjurkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Para jemaah kembali menaiki kendaraan, bus mulai bergerak menembus padang pasir menuju Maekkah. Dalam perjalana ini, betapa kagetnya aku menyaksikan padang pasir yang benar – benar tandus dan gunung-gunung/bukit-bukit yang tidak ditumbuhi tanaman sehelaipun.

Seperti diketahui jarak Madinah –Makkah 496 km, melalui jalan mulus bebas hambatan. Dalam kondisi normal Madinah-Makkah biasa ditempuh dengan lima jam saja. Kiri-kanan tak ada pepohonan. Dikejauhan tampak gugusan bukit batu dan padang pasir yang masih diselimuti kabut. Tak ada music kaset seperti yang diputar bus-bus ditanah air.


Bus kami melaju tenang. Sepanjang jalan Karom – Kepala Rombongan, kami “Haji Djunaidi”sekali-kali membimbing,jemaah mengumandangkan bacaan talbiyah dan salawat. Labbaik Allahumma labbaik (aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah). Disuatu tempat yang sangat sederhana di padang pasir, kami melaksanakan sholat Qasar dzuhur dan ashar dengan kondisi MCk yang sangat minim. Entah apa penyebabnya, setelah melanjutkan perjalanan dari tempat pemberhentian sholat tadi, bus kami mengalami gangguan mesin.

Bus yang kami tumpangi, dari Perusahaan bus “Farroug Jamil Khooger”, bertanggung jawab atas perjalanan kami, sehingga perusahaan ini segera melakukan pergantian bus.

Padang pasir ini sangat luas sejauh mata memandang, terlihat pasir-dan pasir batu dan batu, Serta gunung batu tidak ada ada satupun pemandangan hijau.

Dari dalam bus di kejauhan,aku melihat beberapa ekor unta tegak berdiri. Disini aku berfikir, apakah yang dimakan seekor unta yang berdiri itu ditengah gurun tandus ini.

Allah SWT berkehendak bahwa negri yang tandus ini akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT

sebagai mana permintaan doa Nabi Ibrahim AS pada Allah SWT.

“Ya allah jadikanlah negri ini negri yang aman dan berikanlah rizki dari buah –buahan kepada penduduk yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Sampai sekarang doa Nabi Ibrahim AS ribuan tahun lalu itu, masih tetap dikabulkan. Makkah yang gersang adalah sarang buah-buahan apa saja, seperti ; apel, pisang, jeruk, delima, anggur, pir dapat kita temukan di hampir semua sudut Mekkah.

Menjelang memasuki Kota Mekkah, pukul 17.00 waktu S.A, bus kami berhenti di pintu pemeriksaan (check-point) menjelang memasuki kota Mekkah. Disana tertulis dalam sebuah spanduk besar Makkah for Muslim Only. Di kantor Chek Point itu, paspor haji di periksa ulang. Pemeriksaan berlangsung sekitar 1 jam. Sambil menunggu, para jemaah diberi minum air zam-zam serta 1 bingkisan yang berisi roti, juice buah, buah. Alhamdulillah diriku ini serasa tersanjung dan sangat dimuliakan oleh pemerintah S.A, disertai sambutan spanduk Allahumma Hajjan Mabruron. Semoga menjadi haji yang mabrur yang tersedia dalam 6 bahasa.


2 Tanggapan to “1 – Catatan perjalananku menuju kesempurnaan ISLAM :Persiapan – Pemberangkatan – Ziarah Madinah”

  1. Jayanto Sabir Says:

    Terima Kasih sebesar-besarnya bagi semua pihak yg telah menyusun pengalaman berhaji ini, semoga ini dapat menjadi tuntunan buat saya dan keluarga dalam mempersiapkan diri nanti menuju tanah suci, semoga yg saudara sekalin tuliskan dapat menjadi amal jariyah disisi ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala… Amiennn……

  2. Terima kasih atas sharing pengalamannya haji-nya Ibu, semoga dengan izin Allah saya, istri dan orang tua saya bisa berangkat melaksanakan haji bersama – sama, Ya Allah Kabulkan permohonan saya ini… Syukron jazakumullah. afwan mingkum, wassalamu’alaikum Wr. Wb. Abi Faried – Salima Aqiqah, blog.http://salimahaqiqah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: