4 – Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

PERPISAHAN KEPULANGAN – (Mengumpulkan Kopor)
Makkah 25 Januari 2006 / 25 Dzulhijah 1426 h –

Abi – hari ini kembali melakukan umroh yang ke-7. Saat kepulangan sudah semakin dekat. Barang-barang sudah mulai di packing. Air zamzam tambahan semula sudah dimasukan ke koper harus dikeluarkan lagi, karena jerigen air kita akan dibolongi petugas garuda. Demikian informasi yang menyesatkan kita agar tidak membawa air zam zam melebihi batas. Menurut informasi, juga tidak boleh ada tambahan tas tentengan, karena dikawatirkan akan memperlambat kepulangan. Sementara ada barang bawaan kami sudah beranak karena diisi oleh-oleh untuk anak-anak /keponakan/ kakak / adik.

Dua (2) hari sebelum pulang kopor-kopor para jemaah dikumpulkan dibawa secara kolektif oleh petugas Maktab ke bandara. Dengan demikian diharapkan akan melancarkan kepulangan kami ke Indonesia. Banyak diantara kopor jemaah termasuk koporku telah berbadan dua. Hal ini disebabkan adanya bungkusan tambahan yang disisipkan didalam kopor terhadap barang-barang yang kurang berharga dibanding oleh-oleh pembelanjaan kami di Makkah. Dengan demikian para jemaah tidak terlalu berat mengangkat tas jinjingannya apalagi rata-rata berat kopor kami belum mencapai 35 kg. Kopor itu diikat dan diberi tali rajut dan dikumpulkan pada hari ini oleh petugas Maktab dan dikirim ke bandara King Abdul Aziz di-Jeddah.


TAWAF WADhA DAN
MENINGGALKAN KOTA MEKKAH
Makkah 26 Januari /dzulhijah 1426 H

Tawaf wadha adalah tawaf perpisahan. Pertemuan atau berada di Ka`bah memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang yang mengerjakan haji atau umroh. Baitullah menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jemaah haji.

Setiap jemaah yang meninggalkan ka`bah rindu untuk kembali kesana, bahkan tidak sedikit jemaah yang meneteskan air mata karenananya.
Jam 02.00 dini hari aku membangunkan Abi, agar dia dapat menunaikan sholat malam dan sholat shubuh pada hari-hari terakhir kami di Makkah ini di Masidil Haram. Aku sudah tidak dapat mengikuti amalan ini, berhubung sudah mendapat halangan. Nanti pada saat dhuha para jemaah haji kloter 27 harus melakukan tawaf Wada sebagai tawaf yang terakhir meninggalkan ka`bah.
Karena aku tak bisa melakukan tawaf karena berhalangan, maka aku berkesempatan untuk melakukan amalan terakhir dari suatu perjalanan haji dengan membaca doa di pelataran Sai. Aku berdua dengan temanku “Asminar” mengupayakan berdiri tetap pada posisi tetap membaca doa di Mulatazam.
Simaklah doa yang dibaca sebagai berikut :


“Ya Allah rumah ini adalah rumahMu, aku ini adalah hambaMu. Dst. Engkau telah membawa aku dimana engkau sendiri yang memudahkan aku mengunjugi Baitullah ini. Engkau jalankan aku kenegriMu dan engkau telah memberiku  dengan nikmatMu sehingga engkau telah menolong aku dalam menunaikan ibadah haji ini. Kalau engkau rela, maka tambahkanlah keridhoanMu padaku, jika tidak maka tuntaskan sebelum aku jauh dari rumahMu ini. Sekarang sudah saatnya aku pulang…….. dst. Ya Allah bekali aku ini dengan kesehatan pada tubuhk, serta tetap menjaga agamaku……dst
“Ya Allah janganlah engaku jadikan waktu ini masa yang terakhir bagiku dengan rumahMu. Sekiranya engakau jadian mas terakhir, maka gantilah surga untukku, dengan RahmatMu , Wahai tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang Pengasih, wahai Tuhan pemelihara seru sekalian Alam”.

Ini panduan doa yang kubaca dengan penuh keharuan, yang dapat mewakili hasrat dan keinginan kita untuk berjelas-jelas dengan Allah.

Tidak tahan akan perpisahan ini, aku meneteskan airmata. Demikianllah ketika kau berbalik meninggalkan Ka`bah aku berdoa dengan setengah memaksa.
“Ya allah berikan aku kesempatan untuk mengunjungi Baitullah ini berulang-ulang kali Ya Allah. Sehatkan diriku. Berikan aku kemampuan dan limpahkan aku dengan rezekimu untuk mengulanginya.
Setelah melaksanakan tawaf wadha, aku dan suami serta temanku ” Aminar ” menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah Nabi yang sangat sederhana sekali. Disini kami berjumpa dengan rombongan wanita wanita Turkey yang memandang kami dengan takjubnya. Entah apa yang dikagumi namun sambil tertawa aku berkata dalam bahasa ibuku : Memang kelihatannya kami ini kecil kecil dan mungil dimata mereka. Dengan ramah aku bertanya padanya… Kamu badannya kok bonsor sih… Entah dia mengerti atau tidak ia tertawa tawa dan bangga sekali berpose dengan kami.

Hari terakhir di kota Mekkah ini, suasan pelataran mesjidil Haram sudah mulai lengang. Mesin pembersih sudah semakin leluasa melakukan aktivitas pembersihan mesjid.

Pada jam 14.00, hari Kamis Tanggal 26 Januari 2006 atau 2 dzulhijah 1426 H, setelah dilakukan pengecekan satu persatu atas diri jemaah sesuai dengan paspor masing-masing, maka kami meningalkan kota Mekkah dengan lambaian tangan pengelola maktab Yang Arabic. Sampai jumpa……………………..

Dengan uraian panjang catatan perjalanan menuju kesempuranaan Islam, sesungguhnya aku dapat memetik hikmahnya, bahwa :
a. Haji merupakan perjalanan wisata suci, karena semua rangkaian kegiatannya merupakan ibadah
Rasulullah dalam Sabdanya : Tidak ditekankan berpergian, kecuali pada 3 Mesjid, yaitu:

– Mesjidil Haram, Mesjidku ini (Nabawi di Madinah) dan Masjidil Aqso.

b. Haji laksana Mutamar tahunan : diaman kita saling berkenalan, saling tolong – menolong, dan tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin.
c. Haji sebagai cara membaesarkan syiar Allah, karena terasa disaat kita melaksanakan amalan haji semua terpusat pada satu-satu pusat tertentuuntuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
d. Haji sebagai penyerahan diri total kepada Allah SWT, karena pengorbanan jiwa raga dan harta kita.
e. Ibadah ini membutuhkan ketahanan, kemampuan, fisik selama perjalanan, wukuf, mabit melempar Jumroh, tawaf, dan sa`i.

Dengan kehadiran jutaan manusia, maka ketahanan fisik inilah yang lebih dominan. Bersyukurlah aku bahwa kesehatan serta keselamatan yang diharapkan dalam perjalanan haji dapat aku diperoleh dengan tiada henti-hentinya aku mengucap syukur pada ilahi. Ini tidak lain berkat doa anak-anaku/ kakak-kakakku/ adik-adikku / kerabat handai tolan. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan nikmatnya kepda mereka atas doanya kepada kami berdua. Amin.

Demikian pula kerja dari Tim kesehatan haji pada kloter kami yang secara serius menangani kesehatan para jemaah atut kami syukuri pula… nikmatnya kepada 2 orang ibu ini. Amiin ya rabbal alamiin.

Yang perlu diperhatikan
ETIKA BERPERGIAN DALAM HAJI
1. niat yang benar
2. istikharah (minta dipilihkan)
3. bermusyawarah (meminta pendapat)
4. meminta maaf dan membebaskan diri dari orang lain
5. meminta izin keada orang tua atau kerabat dekat
6. menulis wasiat
7. menugasi seseorang untuk melindungi dan menjaga keluarga yang ditinggalkan
8. mempelajari manasik haji dan umroh
9. taubat yang tulus
10. membawa bekal (biaya hidup) secukupnya
11. memilih teman yang baik
12. jumlah anggota dalam satu regu hendaknya tidak kurang dari 3 orang
13. wanita yang sudah lanjut usia sebaiknya berpergian dengan mahromnya
14. berpamitan kepada keluarga dan handai tolan, tidak perlu dengan acara yang besar-besaran.
15. berpagi-pagi ketika keluar rumah (berangkat)
16. memilih pemimpin reu yang berilmu, walaupun belum pernah berhaji
17. senantiasa berzikrullah dan memperbanyak doa
18. saling menyayangi,dan tolong menolong antara para jemaah
19. selalu komit pada sunnah pada ssaat istirahat.
20. memelihara anggota badan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah
21. amar ma`ruf nahi mungkar
22. menahan diri dari menyakiti orang lain
23. menjauhi kata-kata kotor, perbuatan fsik, dan perdebatan atau pertengkaran saat haji dan umroh.
24. memperbanyak tafakur
25. bersungguh-sungguh untuk komit sunah dalam manasik
26. membantu dan melayani ornag lain
27. senantiasa bertaqwa kepada Allah
28. memelihara sholat pada waktunya
29. memperbanyak sedekah.
30. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
31. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
32. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
33. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang manasik
34. membantu dan melayani ornag lain
35. senantiasa bertaqwa kepada Allah
36. memelihara sholat pada waktunya
37. memperbanyak sedekah.
38. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
39. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
40. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
41. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang manasik
42. membantu dan melayani ornag lain
43. senantiasa bertaqwa kepada Allah
44. memelihara sholat pada waktunya
45. memperbanyak sedekah.
46. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
47. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
48. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
49. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang

Catatan :
Group kami : Rombongan 5, Regu 19 dan 20 – Kloter 27 Embarkasi Jakarta.

1. Safrul Adlin, ST
2. Dra. Halimah, MS
3. Ir. Siddiq Suroso, MT
4. Ir. Nizhamul Latif, M.Sc
5. Hifni Hafida, SH
6. Enggay Sugati
7. Drs. Sri Widayati
8. Mundariah
9. Asminar
10. Nursamsu
11. Ir. Nur Triharjanto
12. Dra. Rosika
13. Dr. Zainal Arifin
14. Nur Helena
15. Masnelli Lubis
16. Ahmad Sarbini
17. Ir. Uni Heriati
18. Armida
19. Dr. Ir. Haris Yadda
20. Dra. Andi Rachmadian, MS
21. Taufiq
22. Dewi Nastiti
23. Ir. Bambang
24.Dra. Rety Rahayu

Satu Tanggapan to “4 – Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam”

  1. Jajang Juharsa Says:

    Saya berharap besar,Alloh swt memanggil untuk hadir ke rumah Nya.
    Tolong artikel di atas kirim ke email saya,saya sangat berterima kasih sekali atas kirimannya.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: