Evi dan dunia menulis

Tidak disangka, ketika aku mengandung anak pertama ” Ulil Amri”, saat itu usia kehamilan mencapai empat bulan, aku memenangkan acara Lomba Mengarang yang diadakan oleh Dharma wanita BPPT. Piala Juara Pertama telah berada dalam pelukanku. Sebenarnya menulis sebuah artikel yang berjudul Peranan Wanita dalam Pembangunan itu sangat sederhana saja. Kebetulan saja pesertanya tidak banyak yang memahami bagaimana peran seorang wanita dalam pembangun, bahwa peran sebagai ibu rumah tangga juga adalah bagian dari pembangunan itu sendiri. Penyampaian yang sederhana dan sangat manusiawi itulah, yang menyebabkan Ibu Habibie merekomendasikan ‘ Ibu Evi Nizhamul “ sebagai juara pertamanya.


Hemmm .. sepertinya karyaku ini adalah buah hasil dari kegiatan mahasiswa dulu. Aku lebih menyenangi sebagai notulis dalam rapat – rapat senat atau yang sebagai moderator ketimbang ditunjuk sebagai seksi konsumsilah atau seksi-seksi lain yang semakin seksi itu. Kebanyakan mahasiswi adalah pelengkap penderita dalam suatu kepengurusan. Aku menolah melakukan itu. Menjadi pemandu acara atau sebagai moderator .. merupakan tugas yang paling enak dan lagi pula bisa mejeng didepan forum.
Rupanya kebiasaan tulis menulis sebagai raporter berlanjut hingga menjalani karir sebagai PNS. Padahal dalam pengembangan karir aku hanyalah sebagai seorang tukang konsep. Jika menggunakan bahasa hukum.. sudah jelas bahasa bakunya yang selalu diawali dengan kalimat ancaman :

“ Apabila…..

” Dalam hal PIHAK KEDUA melakukan wan prestasi….dst….

” Apabila terdapat hal-hal……

Duh…. itu bahasa negosiasi, namun berisi ancaman… Nah.. paling asyik jika menyusun system dan prosedur yang mottonya adalah ~tulis yang apa yang anda lakukan dan lakukan yang anda tulis …!

Akibatnya prosedur harus dilaksanakan oleh para pelaksana.

Ketika usia menjelang setengah abad… entah kenapa aku ingin berbuat kebaikan kepada banyak orang. Ingin menyampaikan sesuatu falsafah kehidupan dengan bahasa yang santun. Agar si pembaca senang menikmati.

Jujur saja aku tertegun dengan seorang perempuan Malaysia yang bernama Dinima Fatimah yang memiliki nickname “ Melati Malam”. Ia bertubi tubi membuat puisi disebuah portal “ kampong halamanku “. Puisinya itu memberi inspirasi padaku – bahwa aku juga bisa…..!!!! Puisi pertama yang aku posting dalam portal itu berjudul “ perjalanan hidup manusia “. Puisi ini adalah kandungan hatiku betapa getirnya antara sebuah cita-cita dan ambisi yang dihadang oleh realitas kehidupan bahwa tidak selamanya takdir baik dalam berkarir berpihak kepada diriku. Tak perlu aku menyalahkan orang lain – mengapa aku gagal dalam merealisasikan ambisi-ambisi ku sebagai seorang wanita karir. Angan-anganku tinggi sekali…!!!

Ketika aku menulis, aku tidak pernah menggunakan kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar.. Akan tetapi setelah memiliki blog yang bersifat humanis, maka tulisan itu semakin garing dan enak dibaca. Aku menganggap audience adalah murid- muridku dan semestinya mereka paham dengan apa yang aku maksudkan. Terkadang para audience kuanggap sebagai teman-temanku. Kepada merekalah aku ingin mengungkapkan rasa humorku yang selalu garing dan membuat lingkunganku tertawa terbahak-bahak. Terkadang aku juga mentertawakan diriku sendiri dan jujur saja aku manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, sehingga kita bisa mentertawakan orang lain seperti kita mentertawakan diri sendiri. Begitulah rahasia aku menulis. Itu saja……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: