Aku dan dunia menjahit

Mula pertama aku mengenall jahitan, ketika ibuku yang kupanggil dengan sebutan ” Nanak” mejahitkan setiap baju kami dikala masih kecil dulu. Cara menjahitnya sangat ” sumier”, yaitu dengan cara menjipalk pola baju yang sudah jadi kemudian dibuat pola dari selembar kertas koran, kemudian dicocokkan ke tubuh kami. Kemudian baju itu dijahit dengan mesin jahit zaman doeloe yang diputar melalui sebuah engkel. Asyik aku mengamati pekerjaan Nanak ku itu. Kemudian ketika mesin jahirnya digoyang dengan kaki – aku membiasakan diri menjahit setiap baju yang robek dengan mesin merk Singer  itu.
Ketika dibawa peruntungan – dimana aku tinggal disebuah desa terpencil yang bernama ” POMALAA – KOLAKA, dimasa usia ABG – yang lagi centil, baju-baju sudah tidak ada, mulailah aku berpikir itu membuat dan menambah baju baru. Hal ini ketika di pasar tradisonal di desa itu dijual bahan poplin bermotif cantik. Kala itu Aku sendiri – tidak ada orang tua . Yang ada hanyalah seorang Pembantu yang menemaniku. Memang aku mengikuti  Kakak, namun saat itu ia  yang tengah mengandung sedang pulang ke Jakarta untuk tujuan melahirkan. Baju sudah lusuh dan kusam.  ABG yang centil itu – punya banyak kawan – dan ingin selalu tampil beda.

Akhirnya sambil memutar otak, aku memberanikan diri untuk membeli bahan baju dan menjahitnya. Caranya ? Persis mengikuti cara Nanak – dikala aku masih kecil. Walaupun tal punya mesin jahit, baju itu kujahit dengan tanganku. Akhirnya jadilah sebuah baju yang rancangannya sangat sederhana berupa ” sackdress”, katanya. Gampang kan….???
Begitu Kakakku kembali ke desa terpencil, betapa ia kaget – tak menyangka ulahku yang positi ini. Ia sangat mendukung dan menyediakan sebuah mesin jahit untuk lebih memacu semangatku dalam menjahit. Ia memberiku bahan-bahan bagus. Tidak tanggung tanggung … bahan bahan baju dari Jepang… Ya.. kakakku yang suaminya menjadi orang nomor 2 didesa terpencil itu – UNIT PERTAMBANGAN NIKEL POMALAA – sering menghadiahi kakakku bahan bahan baju. Akibatnya, ketika bahan baju itu diberikan kepadaku, aku berusaha untuk meminimal kesalahan dalam memotong dan menjahit.

ampu Akhirnya diriku – sibijak yang centil itu – tetap bergaya dengan rancangannya.

Demikian seterusnya hingga remaja, aku tidak pernah pusing dengan masalah baju. Hingga ketika mempersiapkan diri akan menikah, manakal ditinggal pergi oleh Sang Ibu – NANAK – aku tetap mampu mempersiapkan diri baju-baju pengantinku, bad cover, dll. Baik yang bersulam emas, bersulam benang halus dan jahit menjahit.. No.. Problem. Semua itu adalah hasil pengajaran yang kuperoleh dari kemandirian dan tantangan hidup. Guru yang paling utama dalam hidupku adalah Nanakku – memiliki karya nyata didunia jahit menjahit. Sedangkan aku hanyak mengikuti jejaknya.

Aku memang dididik sebagai wanita Minangkabau tulen oleh ibuku.. itu yang membuat aku menjadi sempurna. Alhamdulillah.

4 Tanggapan to “Aku dan dunia menjahit”

  1. wow mengagumkan …. sosok seorang wanita minang kabau, tentunya juga seperti Bundaku Ni, sampai saat ini meskipun umur beliau sudah 82 thn namun untuk menjahit baju beliau sendiri masih bisa, dan sekarang beliau menurunkan ilmu jahit menjahit kpd tetangga dengan bayaran GRATIS !!!!! Beliau kebanggaan kami sebagai BUNDO KANDUANG yg satu2nya msh ada di GUCHI RUMAH TINGGI BATU HAMPAR PAYAKUMBUH, Smoga wanita2 minang kabau pada zaman modern ini akan bisa bercermin pada wanita minang masa doeloe …. Amin

  2. wah mengagumkan sekali…….

  3. bisa buat pelajaran berharga buat qu khususnya.memang aqu jg bisa jahit tp belum percaya diri.

  4. kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
    eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
    rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
    eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
    nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: