Aku dan lukisan

Kebanggaanku sebagai murid ketika memenangkan lomba gambar kualami ketika aku duduk dikelas I SMP Aneka Tambang Pomalaa – Kolaka. Apa yang kugoreskan dalam lomba itu hanyalah sebuah gambar pemandangan sawah dan gunung. Aneh memang .. jika kita perhatikan dari dulu hingga sekarang anak-anak Indonnesia pasti akan menggambar obyek ini.
Sedikit sentuhan lain yang kugores dalam gambar itu hanyalah gambaran pemandangan itu diubah menjadi suatu ” View dari sebuah kaca bulat”. Entah guru yang menilai yang tidak paham arti sebuah lukisan entah gradasi warna yang membuat ia begitu tertarik dengan gambar yang kubuat. ALhasil seorang ” Evi si tukang protes semasa SMP itu – berhasil meraih juara III lombah gambar di SMP daerah terpencil itu.
Kisah berikutnya, aku pernah distraf oleh Guru – Civics alias PPkn untuk mata pelajaran sekarang gara-gara untuk menghilangkan kantuk yang bersarang pada diri ini, terpaksa aku menyimak wajah yang sangat javaness.
Kepala botak mengkilat menimbulkan sinar bulan ditengah siang bolong dari atas kepalanya. Guru itu bernama Bapak Sardjono. Detail wajahnya kugores dengan pencil B2. Matanya. Hidungnya dan bibirnya. Fokus utama dalam melukis wajah ternyata ada pada sepasang mata. Setiap detik dan menit aku melihat wajah pak Sardjono. Barangkali Pak sardjono itu menganggap aku bergitu begitu tekun menyimak pelajarannya.. Alhasil aku tersenyum-senyum ketika aku berhasil menggoreskan wajahnya bak sebuah karikatur. Rupanya senyum simpulkanku disambut oleh teman sebangku ku yang bernama ” Nina yang mungil dan cantik”. Entah dimana dia sekarang. Bukan sekedar senyum simpul dari seorang Nina, melainkan sebuah ketawa ngakak. Ketawa ngakak itu berantai pada teman di bangku belakang kami. Keributan kecilpun terjadi. Semua ingin melihat gambar itu. Gradak gruduk …. yang berbuah kegaduhan itu mengundang keingin tahuan sang Guru tercinta. Beliau menghampiriku – tanpa sedikitpun aku mencoba menyembunyikannya. Bapak Sardjono – seorang guru yang selalu berapi-api menjelaskan Pancasila itu, akhirnya dengan muka bersemu merah menegurku. Yang kuingat dia tidak marah – namun sambil memberikan nasehat ia mengatakan bahwa kegemaran menggambar itu hendaknya dilakukan dengan serius dan menjadi hal yang positif. Akhirnya teknik melukis  kuperoleh secara tidak sengaja. Ketika anak-anakku masih kecil – aku mencari-cari hobby dan bakatnya. Aku membawa anakku kesebuah sanggar jalanan di Emperan Gedung Sarinah Thamrin. Disini aku belajar secara tidak langsung – bagaimana cara melukis. Ilmu yang diberikan kepada anak-anak – kuserap dengan sepenuh hati. Kucoba dan kucoba sampai memperoleh suatu falsafah yang dianut oleh pelukis terkenal yang bernama ” PABLO PICASSO”.  Buatlah suatu bayangan menjadi nyata, demikian dia berkata.  Dan ketika aku mendapat themanya – Wanita dan Dunia Kerjanya, jadilah lukisan-lukisan itu terpampang seperti dalam blog ini.
Apa komentar anak-anak ? Ah….. lukisan Mama tidak punya roh…..!! Ah … masaaa. Ya begitulah… namanya juga amatir bukan…? Ndak apa lah… yang penting aku memiliki berbagai macam lukisan. Dan tidak semua wanita yang berhati baja seperti diriku mampu membuat lukisan itu…. Ya … lagi-lagi Alhamdulillah atas keberkahan yang didatangkan Allah SWT pada dri manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: