Engku Sep – Pensiun

Liburan kenaikan kelas
– berlibur ke Jakarta
– Naik kapal dilamun ombak

Setelah peristiwa Gestapu 1965, sepertinya tata pemerintahan berlangsung kacau. Kabinet 100 menteri bubar. Bagi dunia pendidikan akan terasa dengan adanya perubahan tahun pelajaran. Tahun pelajaran 1965/1966 semula berakhir pada bulan Juni 1966 diperpanjang pada akhir bulan Desember 1966. Saat itulah
Kakak Bungsu yang dipanggil Uniang Mas, telah menikah selama dua tahun – melalui perkawinannya yang penuh liku belum juga hamil. Ia dan suaminya ingin mengajak adik-adiknya berlibur ke Kota Jakarta. Biaya tiket perjalanan pergi pulang disediakan oleh pasangan itu. Untuk menghemat biaya tiket kapal, rombongan harus berangkat dengan menggunakan kapal barang.
Mengapa kapal barang..?? Tidak lain, karena jumlah rombongan yang akan berangkat sejumlah 7 orang, sedangkan tiket kapal PELNI sudah habis terjual.
” bagaimana kalau kalian menggunakan pelayaran NV Sriwijaya saja, demikian Nanak mengusulkan kepada anak-anaknya. Seingatnya, Kepala cabang perusahaan pelayaran itu dikomandani oleh Nurman Amir – saudara sepupunya – atau anak Mamak/Oomnya. Tanpa pikir panjang semua menyetujui rencana itu,
Kapal ini milik NV Sriwijaya, biasanya mengangkut hasil alam dari derah Sumbar termasuk produksi semen Padang. Kapal ini tidak memiliki kamar-kamar untuk penumpang, namun bagi penumpang yang ingin tidur dikamar, silahkan bernegosiasi dengan anak buah kapalnya (ABK) untuk menempati kamar para ABK itu. Perjalanan Padang – Jakarta ditempuh selama 3 hari 2 malam.
Kapal barang ini tergolong kecil, sehingga ketika mengarungi samudera Hindia tak sedikit penumpang yang mengalami mabok laut. Susana hati penuh diliputi rasa takut.t Bau cat kapal, bercampur anyir bekas muntah penumpang, menebarkan aroma yang sangat memabokkan. Terasa benar perbedaan antara sebuah kapal penumpang dibanding kapal barang ini.
Bagi Bungsu, ini adalah perjalanan pertama yang ia alami tanpa kehadiran Nanaknya. Bagaimana tidak, Bungsu adalah Kampieh Sirih bagi seorang perempuan setengah baya. Hati Bungsu sepi dan luar biasa takut menghadapi perjalanan ini. Baginya dengan keikut sertaan Uni Erma, mendampingi perjalanan empat orang bersaudara kekota impian, cukup memberi ketentraman hati. Uni Erma yang selalu dekat dengan keluarga Engku Sep – jauh sebelumnya ketika keluarga Engku Sep masih berada di Lubuk Alung dulu dalam kisah romatikanya dengan Oom Suwono, dengan telaten menjaga para adik-adiknya itu. Walaupun dalam perjalan yang mendebarkan itu, Ia pun juga mengalami mabok laut.

Perjalanan itu lebih berkesan lagi, ketika tidak disangka kapal kecil itu menghadang laut Tanjung Cina pada tengah hari bolong. Seingat Bungsu ketika itu – matahari tepat berada diatas kepalanya. Cuaca terang benderang. Inilah Tanjung yang selalu dihindari oleh kapal-kapal penumpang yang melayari perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Periuk Jakarta – Teluk Bayur Padang, pergi dan pulang. Tinggi gelombang bagaikan gunung – sangat menyeramkan dan membuat penumpang panik dan takut. Hal ini akan berbeda bila kapal melewati Tanjung ini pada malam hari. Pada malam hari, umumnya penumpang kapal sudah lelap dalam tidur.

Mereka pasti tidak akan merasakan goncangan kapal yang sedemikian hebatnya itu.
Tidur diatas palka beralaskan tikar bercampur bau khas kapal, maka membuat perut penumpang yang manja akan dikocok-menjadi muntahan yang menyengatkan hidung. Selagi kita menjadi anak kecil – bagi Bungsu hal ini dapat dilaluinya dalama keadaan baik-baik saja meski hanya bisa berdiam diri. Membayangkan perjumpaan dengan Kakaknya serta rencana rencana mengisi liburan nanti di Kota Jakarta, jauh lebih menyenangkan bukan ?

Inilah adalah foto-foto rekreasi selama liburan yang sudah tercetak dalam foto berwarna.

Ketika masa transisi pemerintahan dari rezim ORDE LAMA menjadi rezim ORDE BARU , sebagai murid SD, Bungsu harus menyelesaikan kelas II di SD Indera Cahya selama 1,5 tahun lamanya. Setelah mengisi liburan sekolah di Kota Jakarta, pada tahun ajaran baru 1967, Bungsu dipindahkan ke kelas III SD ADABIAHn. Tujuanya agar iabisa bergabung dengan kakak dan saudaranya yang lain yang semuanya alumni Yayasan Pendidikan Adabiah.
Ketika Bungsu pindah dari SD INDERA CAHAYA ke sekolahnya yang baru itu, berarti dalam jangka waktu tiga tahun lamanya ia telah menjalani sosialisasi sebagai murid SD sejumlah empat kali.
Teringat olehnya bagaimana rasa kekecewaan Bu Mariana Kepala SD Indera Cahaya, terhadap perpindahannya itu.
“ Evi …, mengapa tinggalkan sekolah ini.
“ Murid disini hanya sedikit. Nanti tidak ada lagi yang meramaikan sekolah ini, demikian ucapan Bu Mariana yang masih terngiang-ngiang di telinga Bungsu ketika ia pindah dari sekolah itu.
Ibu Betri Harun, dipanggil Bungsu ”Uni Bet” – yang berteman akrab dengan bu Mariana, menjelaskan bahwa semua kakak-kakak Bungsu yang lain bersekolah di Adabiah. Ibu Betri Harun ini, selanjutnya akan dikenal sebagai seorang Guru pada SMA Negeri 2 Kota Padang. Masalah perpindahan sekolah Bungsu keempat kalinya itu, selain jarak tempuh antara rumah Bungsu yang terletak di Jalan Hos Cokroaminoto , Kampung Sebelah dengan sekolahnya sangat jauh. Menempuh perjalanan sejauh 6 km merupakan perjuangan tersendiri bagi seorang anak yang berusia 8 tahun itu. Apakah ada bendi – sepeda atau mobil angkutan sekolah yang menjemput dan antar dirinya..??? Ooo… sudah tentu tidak ada. Inilah alasan yang menjadikan Bungsi dipindahkan dari SD Indera Cahaya itu.
Bagi kalangan keluarga besar Bungsu – meliputi Oom dan Tante-tantenya, umumnya mereka telah mengenal Sekolah Adabiah ini, sebagai lembaga pendidikan pribumi yang hadir di Kota Padang sejak mereka masih muda. Disekolah inilah, anak-anak mereka – saudara sepupunya Bungsu – bersekolah di Yayasan Adabiah itu. Yayasan ini didirikan oleh……………., yang entah siapa namanya, namun nama Ibu Sumatri yang sebaya dengan Ibu Hajar – eteknya Bungsu, adalah wanita Kepala SMA Adabiah yang memiliki karisma yang mendudukkan sekolah di lingkungan Yayasan Adabiah itu sebagai sekolah favorit di Kota itu. Terdapat lagi seorang guru yang terkesan angker dimata anak-anak SD Adabiah pada masa itu ialah Ibu Zubaidah. Ia dipanggil Bu Jup.
Hemmm..rasakan.., jantung Bungsu akan berdebar-debar, jika ia berkeliling masuk kedalam kelas, ketika ia kadang kala bertindak sebagai Guru pengganti . Ketika datang saat pelajaran berhitung, wajah murid-murid pucat pasi. Padahal hanya satu kalimat mendadak , yang dilontarkan kepada seorang murid yang kurang beruntung, ketika ia bertanya dengan suara yang tegas ;
Nah.. kamu, berapa enam kali sembilan..??? Pletak jantung… anak yang kurang beruntung dijamin berdegup keras.. dan dengan bibir gemetar ia akan menjawab : enam puluh tiga…. buu…!!!!
Yayasan Adabiah menyelenggarakan pendidikan dasar hingga menengah terdiri dari SD, SMP, SMA berlokasi didepan Bioskop Raya – Padang. Sekolah ini bersebelahan dengan Pasar Jawa yang terletak di Pusat Kota Padang. Disebelah Yayasan pendidikan Adabiah itu ada sebuah SD negeri yang bangunan sekolahnya berupa rumah panggung. Rumah panggung ini seperti layaknya kandang kambing dan apalagi sebutan sekolah ini disebut Sekolah Simpang Kandang.
Saat ini, Sekolah-sekolah itu sudah tiada, dan telah berubah wujudnya, yaitu Sekolah SD Adabiah telah menjadi rumah toko bagian dari perluasan Pasar Jawa, sedangkan Sekolah Simpang Kandang telah berdiri kantor Bank Mandiri – Cabang Padang. Entah kapan bangunan ini berubah wujud, dibanding pada tahun 1968 yang lalu

Pada usia 10 tahun, Banyak pengalaman masa kecil yang berkesan dihati Bungsu. Dunia tanpa beban dan penuh dinamika serta waktu yang tak habisnya-habisnya dengan bermain dan bermain.

Tinggal dirumah gadang Nenek
Rumah nenek Bungsu – yang dipanggilnay Mak Ala, adalah sebuah rumah besar yang bercitra moderen. Namun ketiadaan dana, rumah itu memiliki plafond yang bolong melompong. Lantainya licin, hanya berpoleskan semen halus. Untuk menghasilkan semen halus itu, konon katanya si empunya rumah, setiap hari, di gosok dengan ampas kelapa bercampur olie. Rumah Mak Ala, memiliki jumlah kamar tidur sesuai dengan jumlah anak perempuannya ditambah satu kamar tamu.
Nanak sebagai putri kelima Mak Ala, menempati kamar tamu. Kamar itu tidak terlalu besar dibanding kamar lainnya. Mengapa demikian… Tidak lain keberadaan ibunya Bungsu yang berpindah pindah dari stasiun ke stasiun mengikuti suaminya yang berprofesi sebagai Engku Sep itu.

Rumah diatas pohon jambu air
Dihalaman rumah terdapat beberapa pohon buah, yaitu Jambul bol, jambu keling, jambu air, jambu batu. Kanak-kanak, cucu-cucu Mak ala, dimasa Bungsu tinggal di rumah itu, paling suku bermain rumah-rumahan di atas pohon jambu air. Pada tiap cabang besar pohon jambu anak-anak menjadikan seolah-olah pohon itu sebagai rumah mereka. Ada ruang tamu, ada kamar tidur. Sungguh mengasyikkan permainan rumah diatas pohon itu. Semilir angin, berhembus menerpa pohon. Buah jambu air bergantungan kemerah-merahan ditangkainya yang merunduk dikala buahnya banyak. Akibat terlalu banyak makan jambu itu, anak-anak setiap sebentar kekamar mandi.
Suatu ketika, Entah siapa yang punya ide, ketika musim jambu tiba, Bungsu dan kakaknya mencoba mencari tambahan uang jajan dari masa panen jambu itu.
,, Upiek bara harago jambu sa onggok, seorang pria China bertanya kepadanya
,, lima rupiah saja, Ngkoh, jawabnya pada China separuh baya itu.
,, seringgit saja.. ya piek…. tawar si Nkoh itu.
,, ya… boleh. Onggokan jambu itu diambil langsung oleh si engkoh sebanyak 4 onggok. Kakaknya dan Bungsu, tersenyum senang karena ia akan mendapat uang sepuluh rupiah. Setelah menunggu sedemikian lama, ternyata tidak ada lagi pembeli yang membeli jambu-jambu. Lelaki China setengah baya itulah. Pembeli pertama dan terakhir barang dagangan anak-anak usia 10 – 12 tahun itu.
Ya.. pastilah tidak akan ada lagi yang datang membeli jambu itu, karena jambu itu walaupun ia berwarna merah, namun memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Sementara dijalan seputar wilayah Simpang Anam dari Pondok hingga tepi laut Kota Padang, banyak pula yang berjualan jambu.
Anak-anak yang ber-ayun-ayun diatas pohon jambu, sambil bermain rumah-rumah diatas pohon itu, akhirnya bubar, ketika abangnya Bungsu yang bernama Munzil, memerintahkan anak untuk turun dari pohon. Ooh… rupanya sang kakak begitu mengkawatirkan sang adiknya yang bermain seperti orang hutan. Cobalah, dibayangkan, anak perempuan usia 9 – 11 tahun bermain main dengan rok yang tersingkap tidak keruan. Barangkali itulah alasan yang tidak tercetus dari si kakak untuk melarang adiknya bermain diatas pohon jambu itu.
Bagi Bungsu dan Kakak perempuannya, yang bernama If , memanjat pohon bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Pohon salam yang terletak dihalaman belakang rumah Neneknya itu, suatu ketika berbuah sangat lebat. Lagi-lagi anak-anak mencoba memanjat sampai ketinggian 10 meter. Sebenarnya,bagi If untuk memanjat pohon salam ini, ia betul betul punya keberanian yang luar biasa. Apalagi pohon itu tidak memiliki banyak cabang. Hal ini terjadi karena orang sering memotong dahannya untuk dijadikan pengharum masakan.
Bagi bungsu bukan rasa buah yang sepat itu yang dinikmatinya, namun adalah dunia bermain yang penuh tantangan menjadikan hidupnya berdinamika.

Pada suatu liburan panjang, Bungsu diajak oleh saudara sekaligus teman-temannya bermainnya untuk mengumpulkan biji ketaping, yang letaknya dipinggir pantai Padang. Pantai itu terletaknya k.l setengah km dari rumahnya yang terletak di Kampung Sebelah atau tepatnya jalan Hos Cokroaminoto no 89. Bila musim buah pohon ketaping tiba, biasanya begitu banyak buah ketaping yang bertebaran jatuh diseputar lapangan yang ada di pinggir pantai itu. Tidak ada orang yang berminat untuk memungutnya, karena mungkin saja mereka tidak tahu manfaat dari biji ketaping. Pada hari itu mereka berhasil memungut setengah karung buah ketapang. Anak-anak bergotong royong membelah buah ketapang itu, yang buahnya berserabut serta berlapis dengan kulit yang cukup keras seperti batok kelapa. Nah… didalam buahnya itu tersembunyi sebuah biji ketaping yang besarnya sebesar kelingking anak bayi.
Anak anak bersemangat. Pletak… pletok.. bunyi alat pemecah buah ketapang. Hasil yang diperolah dari setengah karung buah ketapang itu, ternyata hanya menghasilkan sepiring makan biji ketapang. Tante nya Bungsu yang dipanggilnya ” Ibuk Hajar”, mengolah bijian itu menjadi lebih bernilai karena Ibuk mencampurinya dengan gula merah. Duh…… lezatnya dan anak-anakpun dalam sekejap menghabisi bjian ketapang itu.
Seingatnya, dikala ia bermain dipinggir pantai itu, ombak yang datang bergelora itu menghujam pantai dengan sangat kencangnya. Anak-anak bersorak gembira lari terbang menghambur dan berupaya menghindari ombak. Dunia yang cukup mengasyikkan memang, ketika anak-anak yang bermain air laut di pantai Padang yang deras. Mereka belum mengerti bahwa gelompang air laut dapat menyeret anak-anak kecil itu sewaktu-waktu.

Permainan anak rakyat
Adrial adalah peserta yang paling kecil dalam permainan antok-antokan saat itu. Ia disebut anak bawang. Tidak mengapa kakaknya si Rina akan lebih muda menjaganya. Dalam perminan ini seorang anak bawang akan bersembunyi secara icak-icak. Semua anak tidak peduli ia seorang lelaki atau perempuan akan berupaya memenangkan permainan. Selain itu suasanya permainan akan lebih seru bila serangan dilakukan dengan menempatkan onggokan kaleng sebagai sentra dan benteng permainan yang mesti direbut dan dipertahankan antara anak yang berkedudukan sebagai penjaga gawang dengan pihak yang bersembunyi. Itulah permainan bungsu dengan kawan-kawannya satu saudara, antara lain meliputi If, Rina, Rul, Raihan, Ad, Rahima, Peri. Mereka melakukan permainan rakyat tekong, potok lele. Kekompakan mereka dapat memperearat tali persaudaraan diantara mereka dalam satu generasi pula.

Nenek Bungsu punya beberapa tumpak sawah yang lokasinya terletak di Simpang Aru, Lakuak kota Padang. Sawah ini tidaklah menjadi perhatian Bungsu – karena yang lebih menarik baginya adalah bermain ke daerah ini. Dekat sawah milik Neneknya itu, ada galian air disebut ” Bandar Bakali”. Sungainya jernih dan sangat nikmat untuk berenang disana. Saking nikmatnya, mereka berenang hingga menjelang waktu senja. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota, sungai yang jernih itu saat ini telah dangkal dan tidak menarik lagi sebagai tempat rekreasi anak-anak.
Hal yang menarik, adalah jika berkunjung ke wilayah ini, jika terjadi musim panen. Sawah yang tidak seberapa tumpak itu, akan menghasilkan beberapa karung padi. Biasanya karung padi itu, disimpan digudang dirumah Neneknya sesuai dengan peruntukkan bagi anak dan keturunan Nenek.
Disinilah Bungsu mengenal arti harta pusaka. Keluarga besar Nenek akan menjual padi, ketika diperlukan pada saat kematian, perhelatan bako dan anak pisang.

Kutu rambut :
Nenek Bungsu berumur 85 tahun. Rambutnya sudah beruban semua. Badannya bongkok. Masih punya kemauan keras untuk berjalan kerumah anak-anaknya yang lain. Karena takut jatuh, para cucu-cucunya berusaha mengiringinya dari jauh. Di pinggang Nenek – Mak Ala itu, selalu tersedia uncang – tempat ia menyimpan uang. Pada suatu hari kepala Maka A (nenek- la itu sangat gatal. Ia menduga ada kutu bersarang di kepalanya. Bungsu dan saudara sepupunya yang bernama ”Rina ” disuruh mencari sang kutu. Yang terlihat oleh Bungsu, kepala neneknya sangat putih dan bersih. Tidak ada kutu atau pun telurnya yang bersarang. Untuk menyenangkan hati sang nenek – maka ia akan berlagak menindik kepala sang nenek – seakan ada kutu yang dibasminya. Atas jerih payahnya mencari si kutu langka ini, akhirnyaBungsu mendapat upah dari uncang si nenek sebesar 1 ringgit alias dua setengah rupiah.
Soal binatang langka ini, tidak luput dari pengamatan Bungsu. Bungsu badannya ceking, tapi mempunyai rambut panjang tebal. Sejalan dengan rendahnya tingkat perekonomian negara Indonesia waktu itu, jenis hama dikepala ini sangat subur pertumbuhan penduduknya. Demikianlah disebagaian masyarakat termasuk anak-anak dan Bungsu. Di kepala Bungsu bersarang pula si kutu –kutu berikut telurnya. Bagaimana tidak … waktu itu tidak ada shampo berkualitas seperti sekarang ini. Nah.. sangat membosankan baginya, bila tiba waktu bermain – Bungsu akan terganggu dengan keharusannya menjalani pembasmian kutu-kutu dikepala Bungsu itu.

Madrasah Ibtidaiyah dan Didikan Subuh :
Mula pertama Bungsu mengaji adalah Lubuk Alung. Setelah menetap di kota Padang, Bungsu bersama kakaknya If, didaftarkan Nanak ke Surau Haji Syarif di daerah Pondok – Padang. Engku Guru telah berusia 70 tahun. Orangnya kecil, sedikit bongkok dan trambut beruban karena dimakan usia.
Engku Guru punya kebiasaan dalam mengajar mengaji dengan ” mancikui” – menjitak kepala muridnya, bila sang murid tidak faham, tidak lancar dalam membaca huruf hijayyah. Bungsu sangat kaget, ketika kakaknya dijitak, ketika ia tidak lancara membaca jus Amma itu. Seorang anak kecil tidak akan bereaksi melihat ulah sang Guru, melainkan ia akan berekspresi yang paling minim sambil berusaha tidak akan mengalangi perbuatannya. Jitak menjitak kepala ini dilakukan sang guru ketika murid-muridnya tidak lancar membaca huruf-huruf hijayyah.
Bungsu secara spontan melaporkan kejadian yang dialami kakaknya If kepada Nanak. Nanak sangat kecewa, mendengar laporan itu dan memindahkan Bungsu dan Kakaknya ke sebuah madrasah yang baru berdiri di Mesjid Muhammadyah Padang. Ternyata setelah proses berjalannya waktu –apa yang dialami oleh kakak bungsu yang bernama If itu, adalah menjadikan kakaknya sebagai wanita yang sholehah kelak dikemudian hari.

Surau Haji Syarif, terletak di Kampung Pondok. Disurau ini banyak anak orang keling yang belajar. Tradisi surau ini – mencerminkan – tradisi kaum tua. Setiap Maulud nabi dan Isra’ Mi’raj, diselenggarakan acara ” barzanji ” selama 1 bulan penuh. Papanya Bungsu – pensiun pegawai DKA itu, sangat menikmati acara ini, karena pada setiap akhir acara, diiringi dengan menikmati hidangan yang disediakan oleh para dermawan dengan makanan yang enak-enak; kolak pisang, bubur ketan hitam, bubur kampiun. Selain itu tradisi yang ada surau ini ialah, ketika penyelenggaraan Isyra’ Mikradj atau Maulud Nabi itu, terdapat beberapa orang yang bertugas menghampiri jemaah sambil berkeliling- keliling menyemprotkan wangian cendana kepada tubuh para jemaah. Wangian cendana itu memciptakan keharuman yang khas untuk dibawa para jemaah pulang kerumah.

Nanak – ibunya Bungsu, memasukkannya ke Madrasah Ibtidaiyah di Mesjid Muhammadyah – di Simpang ….. di dekat pasar Kampung Jawa – Padang, setelah kecewa dengan perlakuan yang dialami murid di surau pondok itu . Disini aku berkesempatan sekolah di madrasah sampai kelas 3, yang mendapat pelajaran, fikih, tauhid, akhlaq, pelajaran bahasa Arab. Aku ingat Saudara sepupuku – teman sepermainanku – Syafrul – berminat pula untuk bersekolah disini. Padahal ia masih kelas 2 SD. Berkat usaha Papa meyakinkan guru atas minat dan kemauannya – Syafrul – diterima sebagai murid di Madrasah ini sejak ia kelas 2 SD. Demikian pula saudara sepupuku – Syafrul – yang menjadi pria yang sholeh – pengetahuan agamanya luas – orang mengenalnya dengan sebutan ” Pak Haji. …….
Aku tinggal di Jl. Hos Cokroaminoto, Kampung Sebelah – dekat Simpang 6 – yang merupakan daerah menengah kota Padang – ketika itu. Daerah ini tempat bermukimnya orang-orang Tionghoa. Rumah-rumah mereka umumnya bagus-bagus. Kebanyakan mereka menyewa tanah dari tuan tanah di Simpang Enam – yang memungut sewa tanah secara bulanan atau tahunan. Bila sore tiba – mulailah remaja tionghoa itu dengan bersepeda singer berdatangan dari daerah Pondok, Kampung Cina, Kampung Nias menuju tepi laut menikmati sunset – terbenamnya matahari.
Didepan rumahku – ada keluarga Tionghoa – yang sederhana. Mereka memproduksi kripik balado. Anaknya yang seusiaku bernama ” Tjoa Gim Hoa” bersekolah di Santa Ursula. Sejak aku menetap di Kampung sebelah ini, aku tak pernah bertegur sapa dengannya. Gengsi untuk memulai berteman dengannya. Apalagi setelah G30S/PKI ini,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: