Engku Sep – Wakil Kepala Stasiun Lubuk Alung

(1964 – 1965)

Lubuk Alung termasuk stasiun besar. Stasiun ini merupakan tempat persilangan kereta (cross) dari dua arah perjalanan, yaitu jurusan Padang – Pariaman dan Padang ke kota-kota pedalaman di Sumatera Barat. Kota pedalaman yang dilalui kereta api masa itu adalah : Kota Padang Panjang, Bukit Tinggi, Payah Kumbuh, Solok hingga stasiun yang terakhir di daerah Silungkang. Pemandangan yang dilalui kereta sangat indah.

Menjelang 1 tahun Engku Sep memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP), ia ditugaskan sebagai wakil Kepala Stasiun Lubuk Alung. Pekerjaan Engku Sep sedikit longgar, karena tanggung jawab terhadap lalu lintas kereta api berada pada Kepala Stasiun setempat.

Di Lubuk Alung, jumlah rumah dinas agak lebih banyak dibanding dengan rumah dinas di stasiun kecil lainnya. Disini ada rumah untuk : kepala dan wakil kepala, tenaga administrasi, kondektur, masinis, dan mandor.

Beberapa hari setelah menempati rumah dinas, Nanak berkenalan dengan keluarga Pak Syofyan. Pak Syofyan adalah tenaga administrasi keuangan di Stasiun Lubuk Alung. Pak Syofyan memiliki 4 orang anak yang bernama; Zul, Maryam, dan 2 orang anak yang masih balita. Kerumah Pak Syofyan inilah Bungsu sering bermain-main. Pak Syofyan mengajari anak-anaknya bermain musik. Bungsu kagum dengan Zul yang sudah mampu memainkan “Gitar okulele”. Keterampilan musik ini memberiinspirasi bagi Bungsu bahwa suatu saat kelak, Bungsu harus mampu memainkan musik itu. Bungsu merasa, sepertinya mudah saja memainkan alat itu. Gesekan tangan ke dawai gitar, menghasilkan irama musik yang khas country.

Ketika di Tabing dulu, Bungsu pernah dibelikan ibunya sebuah talempong mini yang menyuarakan nada do rendah sampai do tinggi. Nanak mengajarinya memainkan musik itu dengan lagu seperti ini :

Tak tong tong galamai jaguang

Tagundah-tagundah ka cambuang basi

Da ulu balaki anjuang ……..

Kini balaki tukang padati.

Ketika nanak tahu, bahwa Bungsu menyukai permainan musik kebih dari sekedar talempong mini itu, nanak membelikan Bungsu sebuah gitar akolele itu. Bungsu menerima alat itu dengan gembira.

” Tarimo kasih, Nanak……..jreng….jreng..

Sayangnya alat ini tidak dapat diberdayakan, karena tidak ada yang mengajari Bungsu scara serius. Bunyi dawaipun kacau ….

(( oo ))

Dari stasiun Lubuk Alung, Engku Sep sekeluarga berekreasi ke Kota Padang Panjang dan Kota Bukit Tinggi menaiki Kereta api. Sebelum sampai di Kota Panjang, kereta akan melintasi suatu lembah yang indah dengan hutan yang masih lebat dan aliran sungai yang jernih. Udara diseputar lembah sangat dingin.

Di Lembah Anai kereta akan melintasi sisi sisi bukit. Dari ujung ke ujung bukit itu, rel kereta direntangkan, yang ditopang oleh besi-besi yang sangat kokoh. Bila kereta melalui tanjakan yang sangat tinggi, Kereta berjalan dengan menggunakan roda gigi. Penggunaan roda gigi pada rel, agar kereta memiliki keseimbangan yang kuat disaat melintasi tanjakan yang sangat tinggi itu. Teknologi ini merupakan satu-satunya sistem keselamatan kereta yang dibangun penjajah di Indonesia. Sangat unik namun berteknologi.

Setelah menaiki tanjakan yang menegangkan itu, kereta api memasuki sebuah ” Goa”. Goa panjang itu disebut ” Lubang Kalam”. (lobang gelap). ” Lubang Kalam”, dbuat untuk menembus bukit terjal yang ada di Kawasan itu. Setelah itu, kereta kemudian menyisiri kaki bukit demi bukit yang terjal, menuju Stasiun Besar Kota Padang Panjang. Sebenarnya, perjalanan kereta api itu, cukup rumit dan menegangkan bagi penumpang yang menaikinya. Karena, terkadang dibawah lintasan kereta, terdapat pula aliran sungai yang deras dan jernih.

Setelah melewati Stasiun Kota Padang Panjang, perjalanan dilanjutkan ke Kota Bukit Tinggi. Disini Bungsu, menemukan pemandangan yang sangat indah. Disisi kanan dan kiri terdapat Gunung singgalang dan Gunung merapi, yang diselimuti awan. Terdapat hamparan sawah yang menghijau. Amboi.. sangat indahnya.

Kereta api yang dinaiki Bungsu, setengahnya berdinding papan. Jendela terbuka lebar. Angin kencang mendera penumpang. Rambut penumpang akan tergerai dihembus angin kencang. Wajah berselimut dingin. Bagi orang tua, mungkin badannya akan menggigil karena kedinginan yang merasuk hingga kesumsum tulang.

jangan mengeluarkan kepala, nanti kena percikan batu bara”, demikian tegur Papa pada anak-anaknya saat perjalanan itu. Papa melarang anak-anaknya mengeluarkan kepala, untuk menghindari bahaya yang sewaktu-waktu dapat menerjang mata penumpang. Apakah itu …,

Pada masa ini, kereta ditarik oleh lokomotif berbahan bakar batu bara. Lokomotif itu disebut Mak Itam, oleh para penumpangnya. Hasil pembakaran batu bara yang membara, menimbulkan uap panas. Uap panas menjadi tenaga penggerak roda lokomotif. Roda lokomotif berputar dan melaju diatas rel besi.

Kadang kala, hasil pembakaran batu bara ini, mengeluarkan percikan batu api sebesar ujung korek api. Percikan api diterbangkan angin, melesat ke gerbong penumpang. Tanpa disengaja percikan api itu mengenai mata penumpang. Sangat perih dan pedih. Untuk menghindari kejadian ini, sebaiknya jendela gerbong tidak dibuka lebar-lebar. Hembusan angin kencang dapat dihindari. Inilah suka duka yang dialami ketika menempuh perjalanan yang cukup jauh ke Bukit Tinggi.

Seingat Bungsu, Papanya sangat terampil menyembuhkan mata penumpang, yang terkena percikan batu bara. Cara melakukannya adalah… dengan jalan menghembuskan angin dari mulut sedalam-dalam kepada mata penumpang itu. Percikan batu itu, dapat keluar selain karena hembusan angin mulut, juga karena mata si korban mengeluarkan air matanya, dengan sendirinya.

”Eiiit… hati-hati Pa…., kata anak-anaknya. Ya… ya.. Maklum saja, agar si Papa tidak melebihi dari sekedar memberi bantuan. Apalagi kalau ada gadis-gadis yang menderita korban percikan api batu bara itu.

Sejak dahulu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) selalu mengalami kerugian. Biaya eksplorasinya tinggi. Penumpang sering mengabaikan untuk membeli karcis di Stasiun. Kebiasaan buruk membeli karcis diatas gerbong sudah berlangsung sejak zaman dulu. Engku Sep selalu diperintahkan kantor jawatan untuk mengingatkan penumpang membeli karcis di Stasiun. Namun kesadaran penumpang sangat rendah. Kondisi ini menyebabkan pendapatan dari karcis penumpang semakin menurun. Secara perlahan perusahaan menutup jalur-jalur yang panjang, kecuali kereta angkutan batu bara dari pertambangan di Sawah Lunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.

Cari duuuuiiitttttt… syusyah paya… syusyah payah…..syusyah payah..

Pasukan TNI :

Keadaan politik dalam negeri tampaknya semakin tidak menentu. TNI ABRI entah dalam rangka apa – tidak Bungsu pahami – ditempatkan didaerah strategis. Stasiun Lubuk Alung adalah stasiun strategis. Tempat pertemuan 3 lintasan arah kreta. Beberapa pleton tentara dari Jawa ditempatkan di Lubuk ALung. Para tentara itu tampaknya dicadangkan untuk mengantisipasi keadaan darurat.

Pada masa itu tengah terjadi perseteruan antara Indonesia – Malaysia dengan slogan “ganyang Malaysia”. Gantung Tengku Abdulrahman…., dll. Tengku Abdul Rrahman adalah Perdana Menteri Malaysia.

Untuk menghadapi situasi yang genting, Para tentara-tentara itu diasramakan atau diinapkan di ruang-ruang tamu rumah dinas PJKA di Lubuk Alung ini. Sebetulnya keluarga pegawai PJKA (DKA) merasa agak terganggu atas penempatan tentara itu di rumah-rumah dinas mereka, namun mreka tak berdaya menolaknya. Ruang tamu yang dihuni tentara, akan menyebabkan ruang gerak keluarga menjadi terhalang. Dengan kondisi ini, tentunya para keluarga hanya bisa menerima tamu melalui pintu belakang. Hanya rumah Pak Kepala saja yang tidak ditempati para tentara itu.


Tentara itu masih muda-muda. Banyak yang masih bujangan. Diantara mereka yang cukup akrab dengan kami adalah Om Suwono dan Om Jalin. Om Suwono, paling ganteng diantara tentara-tentara itu. Bertubuh atletis, putih dan baik hati. Pintar bermain gitar. Om Jalin berkulit hitam dan perokok berat. Asap mengepul-ngepul dari mulutnya.

Tidak banyak yang dilakukan tentara itu, selain hanya duduk-duduk sambil main kartu remi atau bermain gitar. Mereka kadang menyanyikan lagu-lagu dari daerah asalnya. Entah apa isi lagu itu. Mungkin senandung kerinduan akan kampung halaman nya di tanah Jawa. Sesekali kegiatan mereka, mencuci bajunya yang itu-itu saja. Uniform warna hijau Tidak pernah mereka memakai pakaian bebas. Kadang kala terlihat diantaranya, membersihkan senjata-senjata laras pajang. Bungsu miris hatinya melihat senjata itu. Ia sangat trauma dengan latihan peperangan saat ia bertempat tinggal di desa Tabing, Koto Tangah.

Para personil tentara mendapat jatah ransum makanan tiga kali sehari dari Dapur Besar mereka. Yang kulihat makanannya hanyalah sepotong ikan dan semangkuk sayur. Dibagi-bagi melalui rantang-rantang kecil. Mereka diberi jatah minum susu, kopi dan teh setiap jam 6 pagi. Setelah itu mereka melakukan olah raga pagi bersama. Kadang mereka berbaris keluar kompek PJKA sambil berjalan setengah berlari, dan bernyanyi-nyanyi laguperjuangan. Itulah rutinitas kegiatan personil ABRI itu mengisi waktu senggangnya.

Bila sore tiba, kami semua anak-anak dikompleks perumahan PJKA – Lubuk Alung, bermain apa saja yang cukup menyenangkan hati dengan para tentara itu.

Banyak kerabat kami yang berkunjung Ke Lubuk Alung, Diantara anak perempuan yang paling akrab dan sering berkunjung ke Lubuk Alung, adalah Uni Erma. Uni Erma sangat ramah dan lincah. Ia sangat sayang terhadap kami bersaudara. Keakraban antara Uni Erma dengan para anggota TNI itu cukup membuat hati Bungsu sedikit jelouse. Om Suwono sangat akrab dengan Uni Erma. Mereka asyik bercerita entah apa yang dibicarakan. Maklum yang satu bujang dan yang satu gadis. Mereka mengobrol hingga larut malam. Bungsu selalu mnemaninya.

Disuatu malam, mata Bungsu mulai mengantuk. Uni Erma yang selalu peduli dengan keluh kesahnya, saat ini mengacuhkannya. Hati Bungsu panas. Bungsu kesal. Bungsu beberapa kali mencubit Uni Erma, agar ia memberikan perhatian pada Bungsu. Ia mengabaikan Bungsu. Akhirnya Bungsu mencubit tangan saudaranya itu dengan sangat keras dan keras tidak terlepas lagi. Uni Erma itu menoleh pada Bungsu dengan muka meringis.

”Ada apa… Evi ????, katanya. Bungsu diam. Cubitan itu tetap tidak dilepaskannya. Mata Uni Erma mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit. Bungsu masih belum mau melepas.

”Ayo..lah, katanya, sambil mengajakku pergi. Ia meninggalkan Om Suwono. Bungsu dipeluknya. Ia bertanya lagi. Ada apa… Evi ????, katanya. Bungsu diam saja. Bungsu juga tidak tahu mengapa Bungsu mencubit dia. Yang jelas Bungsu kesal. Hari sudah larut malam. Kok masih saja mengobrol tidak karuan.

Keesokan harinya, Bungsu minta maaf pada Uni yang baik hati. Uni Erma itu, sangat sayang kepada Bungsu beradik kakak. Perhatiannya luar biasa. Ia membantu Nanak membersihkan rumah. Sebagai remaja banyak hal-hal yang diceritakannya kepada kami.

(( 00 ))

Rekreasi ke Tepian Putih dan radio ajaib

Semasa papanya bertugas di Stasiun Lubuk Alung itu, anak-anak Engku Sep melakukan rekreasi bersama dengan para personil ABRI. Bungsu tidak tahu siapa yang memprakasainya. Demikianlah anak-anak Engku Sep itu, melakukkan piknik bersama ke Tapian Putih yang letaknya dipedalaman Lubuk Alung. Rombongan membawa nasi bungkus yang telah dipersiapkan Nanak. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Masuk kampung keluar kampung. Cukup jauh rombongan menenmpuh perjalanannya. Walaupun perjalan itu cukup jauh, namun rombongan itu berjalan beriringan, dengan disertai alunan lagu-lagu dari sebuah radio transistor dua band.

Radio transistor masih sangat baru. Hadaiah dari kakaknya Bungsu – Uning Mas – yang dikirimkannya dari Jepang. Bungsu dan kakak-kakaknya cukup bangga dengan radio kecil itu. Portable dan bisa dibawa-bawa kemana-mana tanpa menggunakan listrik.

Pada masa ini, masyarakat masih belum terbiasa mengenal suatu radio tanpa menggunakan listrik. Mereka terheran-heran dengan benda ini. Bagi mereka ini benda ajaib. Maklum saja pada tahun 1964, belum ada di Sumbar yang memiliki radio ajaib.

Isteri Engku Sep pernah ditawari sepetak sawah oleh petani di Lubuk Alung, dengan radio trasistor yang dimilikinya. Akan tetapi tawaran ini, ditolak Nanak bahwa radio itu pemberian anaknya.

Tapian putih merupakan aliran sungai yang berasal dari pegunungan Bukit Barisan. Sungai mengalir deras melewati bebatuan dengan kedangkalan selutut kaki Bungsu. Sungai seakan menyerupai anak-anak tangga yang lebar. Makin jauh kita melewati sungai ini semakin tinggi rasanya kita berada. Dari anak- anak tangga sungai ini menimbulkan lidah air yang mengalir jernih serta memiliki tepian yang berwarna putih.

Dalam perjalanan ini Om Suwono bercerita; bahwa ketika batalionnya mengikuti Latgab setahun yang lalu – sebagaimana yang pernah Bungsu alami semasa di Tabing dulu – batalionnya terperangkap ditengah hutan belantara dan terpencar ke pelbagai penjuru. Hampir satu bulan ia dan pletonnya tidak menemukan jalan pulang. Ia dan teman-teman terpaksa makan daun-daun yang ada dihutan, hingga pasukannya ditemukan oleh regu penyelamat.

” Hutan Sumatra Barat sangat lebat ”, katanya.

” Kami sangat menyukai alam ini. Mudahan tidak ada tangan jahil yang merusaknya.

” Ditengah hutan kami bertemu dengan seorang kakek, katanya. Kami mendekati kakek itu, namun ia melarikan diri. Kami mengikutinya dan saat itulah kami kehilangan jejak. Kami tidak tahu kemana arah balik menuju kampung. Kami berteriak-teriak. Akan tetapi balasan yang kami peroleh adalah suara saling bersahut-sahutan yang berasal dari gema pantulan suara. Letusan senjata kami bunyikan. Sang kakek tidak jua kami temukan. Burung-burung berterbangan. Tupai, musang dan semua binatang menjadi heboh, karena ulah kami” lanjutnya.

” tahu tidak kalian….?, lanjutnya. Ternyata kakek yang kami temukan dihutan itu, tidak lain ”orang bunian” . Menurut kepercayaan orang dikampung, ia manusia jadi-jadian. Ia bisa menyerupai orang tua – baik nenek maupun kakek. Boleh jadi ia adalah ” inyiek”. Inyiek adalah sebutan bagi harimau yang banyak berkeliaran di hutan, katanya menutup cerita.

Saat ia bercerita – mulat kami ternganga-nganga. Rasa tBungsut menyelemuti diri. Karena saat itu, kami juga berada dipinggir hutan yang lebat. Radio kami semakin redup. Baterainya lemah. Bungsu bersuara, memecah keheningan kami.

” Bungsu tahu kejadian itu, Om, kata Bungsu. Bungsu lihat di Bandara Tabing banyak helicopter yang landas dari Bandara Tabing,

” ya.. begitulah. Heli terbang menuju pedalaman didaerah Solok. Tim penyelamat berupaya menemukan kami. Kami tahu ada heli yang melintasi kawasan hutan. Kami tak berdaya, katanya. Letusan senjata tidak mampu, didengar oleh Tim penyelamat”

”Akhir penderitaan kami, saat kami ditemukan oleh sekelompok orang desa – yang ditugaskan menemukan pleton kami. Kelompok ini adalah pemburu babi hutan, yang sudah biasa berburu dengan menggunakan anjing-anjing. Diantara orang desa ini ada yang bertindak sebagai pawang hutan.”

” Kami bersyukur, bahwa diantara kami tidak ada yang cidera atau sakit yang membuat kami labih menderita ” katanya menutup cerita.

Bungsu termangu-mangu. Bungsu tidak menyangka bahwa Om Suwono dan kawan-kawannya adalah korban dari tentara-tentara yang tersesat waktu itu.

Selama tentara ini berdomisili di Lubuk Alung – diantara mereka ada yang menjalin kasih dengan gadis setempat. Ini adalah kisah dari hasil rekreasi bersama itu. Om Jalin teman akrabnya Om Suwono yang kebetulan berdarah Minang terpikat dengan tetangga kami. Setelah menemukan kecocokan dan memenuhi prosedur dari pihak ABRI, Om Jalin melangsung pernikahan dengan tetangga kami. Pesta perkawinan berlangsung dengan acara yang sangat meriah. Tetangga kami ini boleh berbangga hati, karena memiliki menantu dari kalangan ABRI.

Yang kuamati dari perhelatan ini adalah, bagaimana berlangsung nya tata cara perkawinan menurut adat di Pariaman. Gurauan yang kuperoleh dan ditujukan pada seoranag anak daro adalah seperti ini;

Lai…. putieh kuliknyo , jawabannya kapua…….. (maksudnya kapur sirih)

”Lai….. rancak anak daronyo, dijawab Ganyie….(maksudnya cantik).

Didaerah Lubuk Alung ini ada yang terasa unik bagiku. Anak daro dan marapulai diarak berkeliling kampung naik Bendi. Sepanjang perjalanan masyarakat menge-elu-elukan pasangan pengantin bak pasangan raja. Keduanya menggunakan kaca mata hitam. Yach. Tentu saja mereka diberi kacamata, selain untuk bergaya – juga untuk menghindari debu jalanan.

Ibu pengantin wanita menyambut kedatangan tamu, sambil menyandang sebuah tas tangan yang cukup besar untuk merima uluran uang dari para tamunya.Bagiku tingkah nanak pengantin ini terasa aneh dan lucu. Akan tetapi di Lubuk Alung hal ini sudah biasa. Maklum ketika itu belum ada kebiasaan memasukkan uang ke dalam kotak ampau. Para tamu dijamu dengan makanan enak-enak khas masakan Pariaman; anyang, sala udang, gulai basantan, gulai asam padeh, gulai paku, gulai nangka, aneka kalio, sangatmenerbitkan selera. Tamu wanita dijamu, dengan cara makan barapak sedangkan tamu pria dijamu dengan hidangan di meja panjang.

Pulang baralek ( pesta besar), para tamu dibekali sebungkus nasi kuning. Malam resepsi diisi dengan alunan musik saluang, barabab, dan gamat. Semua serba meriah. Hiruk pikuk pesta 7 hari 7 malam, sangat menyenangkan hatiku.

Rekan-rekan Om Jalin – ada sedikit rasa iri melihat penyelenggaraan pesta pernikahan yang sedemikan meriah. Lagi pula karena mereka berasal dari tanah Jawa, belum tentu ada yang berminat memilihnya menjadi menantu. Prosedur dan persetujuan Markas komando tidak segampang yang diperoleh Om Jalin – yang kebetulan berada di daerah asalnya.

Setelah 6 bulan personil ABRI itu ditempatkan di Lubuk Alung, mereka kemudian berpindah tempat kedaerah lain. Om Jalin yang baru menikah, meninggalkan isteri tercintanya untuk sementara Waktu. Tak terkira keharuan perpisahan penganten baru ini. Om Jalin harus tetap menunaikan tugasnya dan siap menjalankan perintah dari Markasnya. Warga di Kompleks perumahan PJKA, melepas keberangkatan tentara itu penuh keharuan. Selamat menjalan tugas …. om,….demikian lambaian tangan kami para kanak-kanak melepas keberangkatan tentara itu dari Kompleks kami.

(( oo ))

Perayaan Tabut Di Pariaman :

Dalam mengisi waktu luangnya. Engku Sep mengajak anak-anaknya melihat Tabut di Pariaman yang diselenggarakan pada hari kesepuluh bulan Muharam. Kota Pariaman yang kecil dipadati oleh masyarakat yang berbondong-bondong datang dari nagari – nagari disekitar kota Pariaman. Masyarakat ingin menyaksikan Tabut dibuang ke pantai.

Suasana hiruk dan pikuk. Masing-masing berusaha menyaksikan lebih dekat agar secara langsung dapat melihat tabut dibuang ke pantai Pariaman. Tabut berbentuk burung bouraq raksasa. Dihiasi dengan kertas-kertas warna-warni. Masing-masing nagari disekitar Pariaman saling unjuk diri untuk membuat Tabut itu seindah mungkin. Tabut dipertonton ke pada masyarakat. Masyarakat akan menilai Tabut mana yang paling bagus. Diantara pendukung Tabut atau penduduk yang berasal dari Nagari pembuat Tabut saling mengejek Tabut lainnya. Kepala

Tabut itu saling diadu – adu oleh penggotongnya seakan terjadi perkelahian. Entah bagaimana penentuan pemenangnya. Yang jelas suasana hiruk pikuk. Masyarakat menjadi senang dan bergembira ria.

Menjelang senja Tabut diarak ke pantai Pariaman. Tabut diusung kelaut dan dilarungkan dengan disertai jeritan histeris dari para pendukung dan pengusung tabut. Bungsu tak mengerti makna dari peristiwa. Mengapa barang yang telah dihias bagus dan indah, tiba-tiba diusung kelaut bahkan dilembar begitu saja.

Senja berlalu, masyarakat yang mememuhi kota Pariaman yang kecil pulang kerumah masing-masing. Kamipun pulang kerumah selepas magris menaiki kereta jurusan Pariaman – Padang. Kereta sangat padat. Penumpang banyak yang tidur.

SD Negeri Lubuk Alung :

Engku Sep memasukkan anaknya kekelas 1 SD di Lubuk Alung, pada catur wulan kedua. Sebelum Engku dimutasikan Ke Lubuk Alung, Bungsu baru menerima rapor catur wulan 1 dari SD Angkasa di Tabing. Sekolah ku ini berlantai semen bercampur tanah. Setengah dinding sekolah menggunakan anyaman bambu.

Letak sekolah k.l 2 km jaraknya dari rumah. Bungsu tidak banyak memiliki teman-teman disekolah ini,Mereka umumnya berasal dari anak-anak disekitar sekolah itu. Yang Bungsu ingat bahwa terdapat seorang teman laki-laki yang tinggalnya didekat rumah Bungsu. Entahs siapa namanya. Namun Bungsu tidak suka berteman dengannya.

Yang menjadi guru dikelasku adalah Pak Aznam. Sepertinya banyak tugas yang harus diselesaikannya, sehingga ia sering meninggalkan kelas dengan memberi tugas di papan tulis. Ada beberapa anak laki-laki yang berbuat jahil kepada diriku.

” Bakawanlah se lah waang jo inyo, ( Silahkan kamu berkenalan dengannya). kata satu diantara mereka kepada temannya.

Bungsu kesal dengan mereka. Mereka tidak ada yang berani bertegur sapa denganku, selain membuat tingkah lBungsu iseng kepada diriku. Dari belakang ia menarik helaian rambutku yang panjang.

” Iiih….. seruku kesal. Aaa…… nio waaang. Den agia tau ka guru yo….jawabku. (apa maumu. Nanti saya kasih tahu ke guru)

Pak…… baa anak ko paak…….. jahek bana nyo… ma… KatBungsu. (pak…. bagaimana ini Pak…. nakal betul dia…)

Eh.. guruku malah tertawa dan menasehati si Udin agar tidak menggangguku. Udin……. jaan baitu waang, kata guru. (Udin jangan begiti kamu….

Wajah guru tidak melihat kgaduhan kami. Ia asyik dengan tugasnya. Sementara anak-anak perempuan kelihatannya berbisik entah apa yang dibicarakan.

Tempat bermainku :

Tidak jauh dari rumah-rumah dinas PJKA, terdapat aliran kali kecil. Disanalah Bungsu dan teman-teman bermain sambil mandi-mandi. Kalinya sangat dangkal dilapisi pasir.

Kegiatan yang mengasikkan bagiku, ialah mencari ikan-ikan kecil yang sembunyi dibalik batu.Air kali sedikit keruh dengan kedatangan kami. Ikan-ikan itu akhirnya hilang dari perairan itu.

Saat itu, mungkin karena slogan anti Malaysia semakin deras dan gejala peperangan semakin dekat antar 2 negara. Indonesia sudah menyatakan anti imperialisme dan menyatakan diri keluar dari keanggotaan PBB. Kekawatiran yang mendalam atas serangan yang tiba-tiba, menyebabkan rakyat diperintahkan Aparat, untuk membangun lubang-lubang perlindungan. Lubang perlindungan itu berukuran kedalaman satu meter, panjang dan lebar 3 x 1,5. Disetiap rumah terdapat lubang-lubang perlindungan yang didesain sedemikain rupa. Ada masyarakat yang telah membuat lobang perlindungan beserta atapnya. Anak-anak sangat menikmati permainan dengan kawan- kawannya di lubang perlindungan itu. Dilubang perlindungan ini, anak-anak perempuan bermain rumah-rumahan dan bermain masak-masakan, sedangkan anak laki-laki bermain perang-perangan. Senjata yang dipergunakan anak-anak sangat sederhana. Terbuat dari pelepah pisang, yang diambil dari kebun-kebun pisang dekat rumah. Inilah suasana anak desa bermain dan bergembira ria.

Tempat Mengajiku :

Bungsu belajar mengaji di Mesjid Raya Lubuk ALung. Murid-murid belajar mengaji sesuai dengan pengelompokan usia dan tingkatan kemahiran. Mengaji dimulai ba’da magrib dan diakhiri sholat isya berjemaah. Bungsu, Zul dan Maryam berjalan kaki melewati pasar dan kedai-kedai menuju Mesjid, demikian pula demikian pula sebaliknya, bilakami pulang kerumah. Selesai mengaji, kedai-kedai yang kami lewati banyak yang sudah tutup. Namun suasana jalan yang kami lalui tidak sepi, karena masih banyak bapak-bapak bergerombol yang bermain domino.

Pletak…bunyi dentingan kartu domino yang ditaruh oleh pemainnya pada susunan kartu yang terbuat dari plastik.

**

Disekolah ini Bungsu sering bolos mengikuti kepergian ibuku untuk menyelesaikan urusannya di Padang. Bukankah Engku Sep tidak berapa lama lagi akan pensiun. Engku Sep dan isterinya mulai mempersiapkan diri, mencari peruntungan untuk membiayai anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Engku Sep dan isteri mencari lahan usaha yang dapat menghasilkan setelah mereka pensiun.

Dalam mengisi usia pensiun nanti, Engku Sep dan isteri berencana akan bertani. Hampir setiap minggu Bungsu mengikuti perjalanan keduanya ke pedalaman hutan didaerah Tunggul Hitam – Tabing. Daerah ini memang tengah dikembangkan menjadi areal persawahan. Hutan yang akan digarap, berupa rawa yang sangat dalam. Tak terkira kakiku pegal berjalan melewati alanan setapak menuju lokasi. Kurang lebih 5 kilometer dari jalan raya Tabing – Padang. Tidak ada angkutan desa yang melewati daerah ini. Sesekali Bungsu merengek kepada Nanak.

” Evi litak (lelah) .. Nanak.. , kata Bungsu

” Sabarlah … sebentar lagi kita akan sampai …. , kata Nanak. Nanak berjalan dengan menggunakan payung.

Saat ini, Engku Sep menjelang usia 56 tahun. Isterinya Nanak menjelang 52 tahun. Bungsu berusia 7 tahun. Bungsu mulai menyadari akankah jiwa keduanya masih berdaya untuk membesarkan anak-anaknya kelak. Mungkin ini pula yang tidak terucap dari mulut kedua orang tua ini.

”Singgahlah … dulu, Rang kayo…. sapa wanita-wanita di kampung-kampung yang kami lalui.

Wah orang kaya… bathin Bungsu berucap.

” Tarimo kasih ….. sahut Isteri Engku Sep beramah tamah.

Bungsu bertanya kepada Nanak ; ”mengapa kita disebut Rang kayo”.

Ternyata begitulah cara orang desa masa dulu menghormati pendatang yang berkunjung ke desanya. Jadi tidak ada kekayaan seseorang kepada kami.

Sampailah kami diujung desa. Di Desa ini, Engku Sep dan isteri menemui Kepala Kampung. Kepala Kampung telah mencadangkan lahan yang dapat diolah oleh calon petani. Lahan yang akan diolah seluas 1 Ha. Lahan tani berupa rawa yang cukup dalam. Ada pepohonan yang yang sudah ditebang dan dibakar. Sungguh berat lahan yang akan diolah itu. Mungkinkah kedua orang tuBungsu mampu mengolah lahan ini ?

Dirumah kepala kampung ini disuguhi pisang goreng dan teh manis. Bungsu tidur-tiduran dibalai bambu yang ada dirumah kepala Kampung itu.

” Sia… namo kau piek, sapa kepala kampung itu. Ia ingin mengetahui namanya. ” Evi…., kata Bungsu. Ooh …. si epi ….., katanya dengar dialek kampungnya.

” Evi….. kata Bungsu lagi, dijawabnya pula. Ya……. ya…. si epi……

Bungsu menahan perasaan .. kok si epi….. Ya sudahlah, kata Bungsu bergumam. Ternyata nama Bungsu ini…. sudah pasaran dikampung-kampung di Sumatra Barat. Mengapa demikian…..?

Alkisah… di Argentina, ada Presiden Wanita yang sangat cantik. Ia bernama Evita Peron. Nama ” Evi ” dilekatkankan oleh saudara perempuan sepupunya yang bernama Uni Asri. Ia kami panggil ” Nanih” . Semula nama Bungsu itu ”Ida”, kemudian digantinya Evi. Nama ” Ida” sudah pasaran, katanya pada Nanak Bungsu.

Setiap kali Engku Sep dan isteri berkunjung ke Tunggul Hitam ini, rumah Kepala Kampung inilah menjadi tempat kami beristirahat.

Di Tunggul Hitam, banyak pensiunan Abri dan Sipil yang akan mengadu peruntungan untuk membuka lahan persawahan. Disini kami bertemu dengan kakak seayahku bernama Uni Kasimah. Ia menyapa Engku Sep.

” Ada urusan apa, babak kesini ? (babak = papa –pen)

” Tahun depan Babak pensiun. Adik-adik kalian masih kecil. Babak mau menggarap sawah disini. Ada sedikit tabungan yang akan Babak tanamkan”. Demikian Engku Sep menjelaskan kepada wanita ini. Bungsu terheran-heran dengan perempuan ini.

” Siapa etek ini, pa…, Bungsu bertanya pada Papa.

” hey… jangan dibilang etek. Ini kakakmu. Ia anak perempuan papa yang tertua. Bungsu terkesima. Benarkah ? Wanita yang seumur dengan ibu teman-temanku adalah kakaknya ?

Bungsu diperkenalkannya dengan seluruh anak-anaknya. Usia anak-anaknya sudah besar-besar semua. Hampir sama dengan Bungsu beradik kakak.

Secara bertahap Bungsu mengenal kakak-kakaknya selain, kakaknya yang bernama Munzil Ardhi, Ashur Wasif, Masrifah dan Bungsu Hifni Hafida.

Radjo Tanemeh – suami Uni Kasimah, kakak Bungsu, mencarikan Engku Sep beberapa penggarap sawah. Engku Sep diperkenalkan dengan 2 orang jawa yang sudah perstatus prajurid purnawirawan. Rajo Tanemeh sangat disegani oleh Kepala kampung dan masyarakatnya. Kepala Kampung juga segan dengan Engku Sep, karena beliau adalah mertua si perwira itu bukan ?

Ditangan penggarap ini Engku Sep berharap, agar mereka dapat mengolah setumpak dua tumpak sawah miliknya. Keduanya menjanjikan bahwa kurang lebih 6 bulan mendatang Engku Sep akan memanen hasilnya dengan sistem bagi hasil.

Beberapa bulan kemudian itu, terjadilah peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965. Sawah yang diidamkan akan panen beberapa bulan kemudian, ternyata menjadi kenangan belaka.

Dari Uni Kasimah dan suaminya Engku Sep kami dapat berita bahwa petani penggarap sawah Engku Sep telah melarikan diri. Ia terlibat sebagai anggota partai terlarang PKI, yang mewakili kaum tani.

Sesudah peristiwa Gestapu tahun 1965, tidak satupun ada pemilik lahan yang berani memasuki wilayah pedalaman Tunggul Hitam. Engku Sep dan isteri juga takut datang kesana itu untuk mengetahui kondisi sawah yang sudah siap panen.

Pindah ke Kota Padang :

Bersamaan dengan kenaikan kelasku dari SD di Lubuk Alung – sebelum Engku Sep menyelesaikan MPP, Engku Sep memilih pindah ke Kota Padang.

Peralatan rumah tangga dikemas untuk dibawa pulang ke kota Padang, Keluarga Engku Sep memilih menetap dirumah nenek Bungsu yang dipanggilnya

”Mak Alah”.

Sebelum kepindahan kami kerumah ini, anak-anak Engku Sep yang bernama: Zil, Was, dan If, telah tinggal bersama dengan Adik – Nanak yang dipanggil ”One”. One mengasuh anak-anak Engku Sep yang telah bersekolah lebih dahulu di Padang. Rumah nenekku berada di di di Jl. Hos Cokroaminoto, No 89, Kampung Sebelah, Padang.

Rumah Nenek seperti rumah gadang di Minang kabau pada umumnya. Rumah ini terbuat dari batu. Dibangun secara bergotong royong oleh nenek bernama “ Ramalah”, bersama anak- anaknya. Jumlah kamarnya ada 5 kamar. Masing-masing diperuntukkan untuk anak perempuannya – sesuai dengan adat yang berlaku di Minangkabau.

Nanak menempati kamar tamu yang letaknya paling depan dari rumah itu. Mungkin saja Neneknya menganggap Ibunya Bungsu – berkedudukan sebagai tamu, karena ia masih berpindah tempat dari Rumad dinas ke rumah dinas DKA.

SD INDERA CAHYA – Padang:

Bungsu dipindahkan sekolahnya untuk ketiga kalinya ke SD Indera Cahaya – Padang. Sekolah ini berjarak k.l 6 km dari daerah kampung sebelah – tempat Bungsu tinggal. Semula Bungsu akan dimasukkan ke Sekolah ” Adabiah”. Ternyata sekolah ini belum dapat menerima murid baru.

Bungsu bersekolah SD Indera Cahaya, karena direkomendasikan oleh Uni “ Betri Harun”. Menurutnya sekolah ini cukup bagus. Disekolah ini juga terdapat SMP. Uni Bet sebagai kepala sekolahnya. Sekolah ini adalah sebuah gedung tua bekas peninggalan Belanda dan baru memiliki dua kelas.

Bu Mariana – berasal dari Medan, menjadi kepala sekolah SD Indera Cahya. Mungkin karena muridnya sedikit – Bu Mariana sangat sayang pada murid-muridnya yang hanya berjumlah 20 orang anak, termasuk diriku.

Perjalanan dari rumah ke sekolah berjarak 6 km, sebenarnya cukup melelahkan bagiku yang berusia 8 tahun. Berjalan kaki sendirian menapaki perjalanan panjang dari Kampung Sebelah, Simpang Enam, Kampong Dobi, Sinema, melintasi Pasar Kampong Jawa, hingga masuk ke Jalan Sudirman. Akan tetapi hal ini, tidak mengurangi keceriaanku sebagai seorang anak. Bungsu biasa dipanggil si “ bijak” oleh kakak-kakakku atau kerabat yang dekat denganku.

Bungsu sadar betul keadaan orang tua Bungsu, Engku Sep dan Isteri – – orang tua Bungsu – sudah tua, bila dibandingkan dengan usia para orang tua teman-temanku Sesekali Engku Sep mengantarkan anaknya dengan sepedanya. Sepedanya disebut ” sepeda batang”.

Dalam perjalanan mengantarkan anaknya ke sekolah, nafas Engku Sep terengah-engah. Bungsu bergurau dengan Engku Sep, ketika nafasnya mendengus seperti lokomotif.

” Litak…. Pa…, sapBungsu. (litak = penat/ capek)

”Suara papa kok sarupo kapalo kareta (lokomotif- pen), katBungsu.

Di sadel belakang Bungsu duduk dibonceng Engku Sep sambil bergumam :

” Syussah … payaah…. Syussah … payaah….

Engku Sep terkekeh-kekeh mendengar gumamanku, sambil berkata:

” Evi…. evi.. jaan bagarah juo lai… ( Evi… jangan bercanda juga lagi).

Sampailah kami di Sekolah. Keringat Engku Sep bercucuran. Kelihatannya beliau memang lelah. Ketika itu usianya menjelang 56 tahun. Namun karena kasih dan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya, membuat ia mampu mengayuh sepeda sepanjang 6 km.

Ke Jakarta :

Baru beberapa bulan duduk dikelas 2 SD Indera Cahya, Engku Sep dan isteri diundang ke Jakarta. Uning Mas – kakakku yang tertua telah kembali dari Tokyo, Jepang. Bungsu dianggap paling mudah meninggalkan sekolah, dibandingkan kakak-kakakku yang lain. Oleh karena itu Bungsulah yang diajak Nanak mengikuti perjalanannya ke Jakarta. Kami naik kapal Kwan maru – berbendera Jepang. Ini adalah yang ketiga kalinya bagiku menaiki kapal laut pergi–pulang Teluk Bayur –Tanjung Periuk. Kami sebagai penumpang ekonomi ditempatkan di ruang Dek. Bau mesin kapal, membuat kami mabuk laut. Isteri Engku Sep hanya bisa tidur dan tidur selama perjalanan. Untuk mencegah mabuk laut, penumpang dianjur makan rujak. Selain obat anti mabuk, buah yang dapat menahan mual adalah Ubi jalar dan ketimun.

Penumpang kapal mendapat jatah makan dari tempat yang disediakan koki kapal. Rasanya sungguh tidak enak. Hanya semangkuk sayur dan sepotong daging semur. Bungsu jadi ingat jatah ransum Om suwono – tentara yang bermarkas di Lubuk Alung dulu.

Kapal penumpang ini, juga diisi oleh barang dagangan penumpang antar pulau. Setelah berlayar semalam, kapal singgah di Bengkulu. Bengkulu tidak punya pelabuhan alam seperti Teluk Bayur yang indah. Kapala berlabuh kurang 2 mil dari pantai. Penumpang yang akan turun dan naik kekapal, menggunakan sebuah tangga yang terjulur pada dinding kapal. Kapal sedikit oleng dihempas ombak. Tangga dikapal bergoyang-goyang. Tongkang yang menyambut penumpang juga bergoyang-goyang. Perlu kehati-hatian menuruni anak-anak tangga itu. Termasuk ketika berpindah ke tongkang.

Bungsu melihat seorang ibu yang menggendong bayinya berjalan pelan menuruni anak tangga kapal. Ada juga perempuan tua dengan perasaan gamang menuruni tangga. Agar tidak menimbulkan goncangan pada anak tangga kapal itu, penumpang harus turun satu persatu Suasana sangat menegangkan hati. Mana kala Ombak lautan Hindia mengguncang kapal. Dengan menggunakan tongkang, kemudian penumpang dilabuhkan ke darat.

Beberapa jam kemudian, setelah menurunkan dan menaikkan penumpang di Bngkulu, kapal pun kembali berlayar menuju Tanjung Periuk, yang diawali dengan pluit Kapal yang berbunyi serak… ngook…….ngook…………………….

Kami berlabuh di Tanjung Priuk keesokan harinya. Kapal merapat dipandu oleh petugas pelabuhan dengan menggunakan motor boat.

Di Pelabuhan, telah menunggu Uda Pundek – suami Uning Mas. Ia menjemput kami dengan mobil impala barunya, yang dibawa dari Jepang. Bungsu naik mobil sedan yang cukup mewah pada masa itu. Dalam perjalanan dari pelabuhan Tanjung Priuk ke rumah Uning Mas, masih terasa olengan kapal menyelimuti tubuh.

Bungsu meencermati kota Jakarta masih sebuah kampung besar, seperti 3 tahun yang lalu. Banyak rakyat tinggal di gubuk-gubuk. Mandi di kali Ciliwung yang kotor. Banyak pengemis. Kita akan menjawab salam permintaan mereka dengan kalimat ” sabaaan’ Uning Mas tinggal di Jakarta di jalan Kalibaru Timur V dikenal dengan nama belakang tangsi penggorengan “ atau gang Bantam di daerah Senen. Uning Mas dan Uda Pudek menempati rumah dinas PT Aneka Tambang (d/h Pertambun). Rumahnya baru, bersih dan tertata rapi. Terasa mewah bagiku, karena rumahnya telah diisi dengan perabotan yang berasal dari Jepang. TV dan radio dan peralatan elektronik telah terpajang rapih. Cukup banyak barang yang dibawa Uning dari Jepang. Ada yang masih di kemas rapi. Isinya barang pecah belah yang halus ber merk ” noritake” atau sango.

Bungsu turut merasakan kebahagian Uning Mas dan Uda Pundek yang berjuang untuk mewujudkan pernikahannya. Tidak kurang hantaman badai yang mendera mereka ketika ada pihak yang menghalangi pernikahan mereka sebelumnya. Berkat doa restu dari Engku Sep dan isterinya – selBungsu orang tuanya- serta dukungan dari PERTAMBUN – kantor tempat Uda Pundek bekerja, akhirnya pernikahan ini dapat berlangsung.

Ada beberapa foto-foto kenangan Engku Sep dan diriku yang tidak terlupakan – ketika melakuan perjalanan ini. Gambar-gambar yang diabadikan oleh Uda Pundek melalui camera yang menampilkan foto-foto berwarna.

Pada malam diakhir bulan-bulan September 1965, melalui media TVRI Bungsu melihat Pempimpin Besar Revolusi Ir. Sukarno – Presiden RI, mengumandangkan NASAKOM – Nasionalis – Sosialis – Agama – Komunis dalam pidatonya. Betapa hebat Bung Karno ktka itu. Suaranya menggelegar. Hadirin gegap gempita menyambut isi pidatonya.

Ku melihat ada sedikit kegaduhan yang terjadi pada pojok deretan kursi hadirin. Bung Karno langsung menyindirnya bahwa masih ada antek-antek imperialis yang tidak senang dengan semangat Nasakom.

Ia juga mencanangkan Berdikari – berdiri diatas kaki sendiri. Bungsu hanya termangu-mangu, ketika Bung Karno menyebutkan hidup AMPERA …….. amanat penderitaan rakyat. Hidup Nasakom…….. merdeka. Seruannya membahana yang disambut massa yang hadir di Istora itu …. Merdeka…….

Selang berapa hari kemudian terjadi tragedi Nasional yang menewaskan 7 Jenderal. Inilah tragdi yang terkenal dengan sebutan ”Gerakan 30 September /PKI”.

Kebetukan saat kejadian itu, kami menunggu kedatangan Engku Sep dari Surabaya, tak jua tiba. Kereta yang ditunggu menurut jadwal telah sampai tadi pagi. Engku Sep saat itu berkunjung ke Surabaya, diajak Darmawai – Uda Mawi – yang berdinas sebagai prajurut marinir di Kodal Surabaya. Uda Mawi. Ia – kakak seayah denganku.

Sesampai dirumah, Engku Sep bercerita bahwa pada malam kejadian itu, ia mengalami situasi yang membingungkan dan mencekam. Ada dua kelompok tentara yang saling bersiaga. Kereta berhenti disetiap stasiun kecil untuk turun dan menaikkan tentara. Mana yang lawan dan aparat pengaman sulit membedakan. Akhirnya kereta yang dinaiki Engku Sep, seharusnya tiba di stasiun Senen pada pagi hari, mengalami keterlambatan selama 6 jam di siang hari. Suasana Kota Jakarta sangat mencekam. Jam malam diberlBungsukan dari jam 21.00. Kota Jakarta Raya dinayatakan dalam keadaan darurat sipil. Bungsu mengikuti berita upaya penanganan keadaan darurat dari penguasa darurat melalui media tv, radio dan koran scara cermat.

Dari media TV masyarakat menyaksikan, para jenderal revolusi itu ditimbun pada suatu lobang ditengah kebun karet di pinggir Kota Jakarta. Ternyata lokasi penimbunan, tidak jauh dari Lapangan terbang ” Halim Perdana Kusumah” Sekarang replika kejadian dapat kita saksikan di Lobang Buaya.

Keadaan negara yang tidak menentu menyebabkan administrasi pemerintahanpun terganggu. Situasi mencekam dapat dirasakan masyarakat. Harga barang dan kebutuhan pokok yang sebelumnya sudah membumbung tinggi menjadi semakin meninggi. Anggota masyarakat yang semula tidak mengerti dengan politik yang dijalankan PKI merasakan duka yang mendalam. Yang menjadi simpatisan PKI ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses pengadilan.

Tidak kurang kaum inlektual ikut terjaring dalam penangkapan peristiwa Gestapu ini, seperti para akademisi, PNS, Anggota TNI/ABRI termasuk pegawai PJKA yang bernaung dibawah SBKA.

Engku Sep dan isterinya sangat bersyukur, teringat beberapa tahun sebelumnya, dikala Engku Sep – Kepala Stasiun Tabing – dipaksa untuk masuk keanggotaan SBKA (Serikat Buruh Kereta Api). Berkat kecerdasan dan pemahaman yang mendalam akan situasi politik, Engku Sep dilarang oleh isterinya menjadi anggota SBKA. Akibatnya Engku Sep dimutasi ke stasiun Naras karena dianggap melanggar perintah atasan. Bahkan Engku Sep yang menunggu beberapa tahun lagi pensiun di pindahkan ke Stasiun Lubuk Alung dari stasiun Tabing.

<>

Setelah sebulan berada di Kota Jakarta, kami kembali pulang ke kota Padang. Tidak terkira banyaknya barang bawaan yang diangkut pulang. Segala peralatan rumah tangga yang diperoleh dari Uniang, dikemas dalam keranjang rotan besar. Peralatan rumah tangga, seperti Dinner set, peralatan makan, peralatan dapur ” made in Japan” dibawa pulang. Baju-baju dan bahan-bahan yang bagus telah dipersiapkan Uning untuk kami. Kerabat kami yang memberikan dukungan moril bagi Nanak dan merestui perkawinan uning juga mendapat oleh-oleh.

Kebahagian yang diperoleh Uning dan Da Pundek, berimbas kepada adik-adiknya. Keduanya berusaha untuk membahagiakan kami. Kami menyambutnya, dengan perasaan bahagia yang mendalam. Disaat kedua orang tua sudah tak berdaya, Allah SWT memberi kami pasangan pengasuh yang memiliki kepedulian kepada kebutuhan jasmani dan rohani kami.

Cari duuuuiiitttttt… syusyah paya… syusyah payah…..syusyah payah..
Roda kehidupanpun berjalan bak Mak Itam yang tekun berjalan pada relnya..
Puspiptek, Serpong, Tangerang 17 Maret 2006

3 Tanggapan to “Engku Sep – Wakil Kepala Stasiun Lubuk Alung”

  1. nah ini yang saya minta fotonya pakkkkk………!!!!!!! kapan kereta api dari padang ,tour ke sawa lunto pak…………………………….!!!!!!!!!!!!! kalo dah tau keputusannya beri tahu saya ya pak>>>>>>>>!!!!!!!!!!!!!!

  2. nah ini yang saya minta ,tour ke sawah lunto kapan tour lagi pak ke sawah lunto………….?????!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: