Engku Sep – Kepala Stasiun Duku

Evy Djamaludin

Cerita Engku Sep ini, diambil dari  memori seorang anak tehadap papanya yang saat itu, menjabat sebagai “Kepala Stasiun Kereta Api”. Sebagai pejabat sipil, jabatan Engku Sep, dikategorikan sebagai “ perakit lalu lintas kereta api “. Bungsu teringat bagaimana ketekunan Engku Sep saat dirinya bekerja mengatur perjalanan kereta api di Sumatera Tengah kala itu. Engku Sep bekerja penuh waktu demi menjaga keselamatan dan kenyaman penumpang kereta api. Engku Sep ini adalah generasi terakhir yang menerima pendidikan dari pemerintah Kolonial Belanda.

Bungsu selaku anaknya Engku Sep, selalu terkenang kenang masa beliau memangku jabatan sebagai perakit lalu lintas kereta api ini. Bahkan sering mengulang ulang kalimat yang vocal suaranya menyerupai bunyi lokomotif kereta api .

” Cari.. duiiit… Syussyaah payah… syussah payah…..”… seirama dengan raungan lokomotif itu di sepanjang rel  kereta api dari jurusan Padang – Pariaman atau Padang – Padang Panjang hingga Bukittinggi dan Sawahlunto.

Kalimat candaan atau ledekan  seperti itu, dikumandangkan Bungsu, karena sebagai aparat Negara, Engku Sep hanya diakui sebagai pegawai negeri golongan I d dengan beban dan tanggung jawab penuh. Entah kapan masa gemilang perkereta apian Sumbar bisa hidup kembali.  Bungsu berharap, semoga jasa angkutan perkereta apian di Indonesia tetap maju. Aamiin….

Stasiun “Duku” terletak dipinggir jajaran Bukit Barisan – Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatra Barat. Pada masa itu, berdampingan disebelah barat dengan hamparan kebun tebu dan hutan karet. Ditengah kebun tebu terdapat aliran sungai Batang Anai yang dangkal dan jernih. Didekat Stasiun terdapat rumah jabatan Kepala Stasiun. Sebuah rumah panggung berwarna hijau. Dihalaman rumah terdapat pohon labu raksasa yang tingginya k.l 5 meter. Penduduk desa ada yang memasak dan menjadikannya sayur. Ada pohon buah seri berbuah lebat. Didepan rumah ada pohon rambutan. Ketika pohon rambutan berbuah lebat dan merah, bisa menerbitkan air liur bagi yang melihatnya. Bila saat liburan tiba, anak-anak Engku Sep yang bersekolah di Kota Padang, pulang kerumah termasuk beberapa kerabat yang datang berlibur. Mereka bermain sambil menikmati buah-buahan yang terdapat di halaman rumah itu.

Pada suatu hari, satu rangkaian kereta api telah berlalu meninggalkan stasiun Duku. Dari kejauhan terlihat lokomotif kereta api itu mengeluarkan asap dari cerobong nya. Lama lama deru suara lokomotif semakin menipis suaranya. Pluit lokomotif sesekali terdengar yang menandakan kereta semakin menjauh. Di stasiun, para pedagang kecil yang usai menjajakan dagangannya mulai beristirahat sambil menghitung sisa dagangannya. Mereka berjualan; tebu, pisang rebus, kacang rebus, bengkuang dan lainnya kepada penumpang kereta. Nanti pada 2 jam berikutnya akan tiba kereta api dari asal dan tujuan yang  berbeda yang menyinggahi stasiun kecil itu.

Sekarang Engku Sep berkemas pulang kerumahnya yang berjarak hanya 200 m dari Stasiun untuk beritirahat sejenak. Bungsu yang kala itu berusia 4 tahun menunggu Engku Sep dengan sabar. Yang teringat dalam memori si anak, Papanya mengangkat dan menggendong dirinya, seraya berkata :  ”Mari kita pulang, Nak…”. Yaa.. saat itu, mata puteri bungsunya sudah mulai mengantuk sehingga ia harus membawanya pulang kerumah. Sungguh bungsu menikmati gendongan papanya. Dengan merebahkan kepalanya pada pundak Papanya, maka kepalanya terangguk- angguk  seirama dengan detak sandal dari telapak kaki papanya. Inilah irama kasih antara sang anak dengan Papanya, berbekas menjadi kenangan sepanjang masa.

Tugas berat yang dihadapi Engku Sep ketika menjadi Kepala Stasiun “Duku” ialah ;

Ia harus mampu menjalankan tugas sebagai aparat Negara. Harus mampu  mengamankan asset negara yang ada stasiun itu. Seperti peralatan komunikasi dan peralatan-peralatan yang terkait dengan keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api.

Sebagai contoh. Di akhir tahun 50-an, terjadi pemberontakan PRRI terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat itu diwilayah Duku, sedang berkecamuk pertempuran antara TNI dengan pemberontak PRRI. Daerah ini sangat strategis sebagai lokasi pertempuran. Wilayahnya terbuka dan jauh dari perumahan peduduk. Komando Daerah Militer di Propinsi ini berupaya memadamkan pemberontakan. Komunikasi Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, Jakarta – Padang terputus. Kehidupan Masyarakat diliputi ketegangan. Pihak manakah yang benar.  Didaerah krisis, biasanya mayoritas penduduk berpihak kepada kaum pemberontak. Bila kelompok separatis ini tidak dipenuhi keinginannya, maka kelompok ini mengumandangkan genderang untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa pada masa ini sebenarnya adalah bagian dari peristiwa sejarah nasional yang disebabkan adanya ketidak adilan ekonomi dan ketidak stabilan politik nasional ketika itu. Pemberontakan serupa juga terjadi diwilayah Indonesia lain, seperti PERMESTA di Sulawesi Selatan.

Pertempuran semakin menjadi-jadi ketika tentara dari KODAM 17 Agustus mendapat bantuan tentara Pusat. Masyarakat menjadi panic. ”Tentara dari Pusek alah mandarat di Lubuk Buaya”, begitu warga berteriak panic ketika info dari mulut kemulut, sampai pula ke penduduk di Duku. Penduduk segera mengungsi kedaerah yang aman. Rumah-rumah penduduk kosong. Kegiatan masyarakat, baik berjualan di Stasiun maupun di Pasar Duku nyaris mati .

Dalam keadaan genting itu, Engku Sep berunding dengan isterinya. Bagaimana sebaiknya, apakah Engku Sep dan keluarganya akan bertahan didesa Duku itu ? Engku Sep dan isterinya merasa sangat cemas. Ibunya bungsu yang disapa Nanak, menyampaikan kekawatirannya pada Engku Sep. “ Pa…orang orang di Duku sudah mengungsi apakah kita tetap bertahan ?. Jika kita mengungsi ke kota Padang, kota ini juga terancam gempuran tentara dari Pusat “.

” Ya ….kita harus bertahan.., kata Engku Sep. ” Perintah dari kantor jawatan, kita harus bertahan dan tetap menjalankan tugas”, jelasnya pada sang isteri.

Dikala malam tiba, suasana mencekam itu sangat terasa. Rumah-rumah penduduk gelap gulita. Dalam kegelapan malam, ketika suasana kampung semakin sunyi, dari jauh kadang kala terdengar letusan senjata api. Bahkan kedua belah pihak pernah bertikai tidak jauh dihalaman rumah. Dalam suasana demikian, semua anggota keluarga dirumah itu berhamburan turun ke gudang yang terletak dibawah rumah itu. Bahkan sebelum larut malam, kami anak anak sudah diungsikan lebih dahulu di Gudang itu.  Gudang itu berada disamping dapur rumah, yang dindingnya terbuat dari batu bata. Jika mengungsi ke gudang ini, keluarga Engku Sep akan aman. Mengapa ? Karena tidak perlu takut bila ada peluru nyasar. Selain itu keluarga Engku Sep akan aman dari para penyelinap malam, yang suka mengintip dari dinding rumah dinas Kepala Stasiun, yang terbuat dari papan. Entah mereka itu anggota pemberontak atau tentara yang selalu mengawasi gerak gerik Engku Sep. Isteri Engku Sep termasuk orang yang berpihak kepada tentara PRRI, akan tetapi Engku Sep sebagai aparat Negara tidak diperbolehkan berpihak kepada pemberontak.

Pada suatu malam, pintu rumah kami diketuk orang. Hati isteri Engku Sep berdebar-debar. “Siapa… ? , serunya dengan perasaan kawatir. Ternyata ada seorang pemuda yang menjadi anggota tentara pemberontak. Ia datang kerumah Engku Sep, meminta makanan untuk dibawa ke hutan. Ia kemenakan Isteri Engku Sep yang bernama Haswil Harun.

“ Sudah lama In.. (demikian namanya) tidak datang, kata istri Engku Sep.

“Iya Nanak….., persembunyian kami semakin jauh dari Duku, katanya. Istri Engku Sep dikenal dengan panggilan ” Nanak”. Baik oleh anak-anaknya, juga termasuk para kerabat terdekatnya.

”In… hati-hati ya. Sekarang tentara Pusat mulai mencurigai kami”, Kata isteri Engku kepada Haswil Harun. Sebetulnya Haswil Harun ini, masih bersekolah di SMA, namun Ia ikut menjadi anggota pemberontak demi idealisme seorang pemuda. Sekolahpun ditinggalkannya.

Seperti biasanya, setiap kedatangan Haswil Harun. Nanak sangat mengerti dengan keinginannya. Nanak segera menyiapkan makan untuknya termasuk membekalinya dengan bungkusan makanan yang mentah. Isteri Engku Sep sering  berdebar-debar, ketika rumah Engku Sep berada dalam pantauan dan pengawasan tentara. Beberapa rumah penduduk, memang sering didatangi tentara Pusat ini. Tentara Pusat mencurigai Engku Sep dan isteri tentang keberpihakan mereka pada PRRI. Demikian pula sebaliknya.

Kadang kala beberapa tentara mendatangi Isteri Engku Sep. Mereka bermaksud menggali informasi, seberapa jauh peran keluarga ini membantu pemberontak.  

“ Kami tidak berpihak kepada siapapun” . Akan tetapi bila ada famili kami yang datang meminta makanan, kami harus bantu mereka ”, demikian kilah isteri Engku Sep kepada kelompok tentara itu.  

Stasiun Duku, termasuk bangunan dan sarana yang dijadikan markas tentara Pusat. Orang desa menyebut pasukan TNI Pusat itu dengan sebutan “tentara pusek”. Pada hal kata ”Pusek” = pusat, sama artinya kata pusar. Bila dimaknai lagi dengan kultur Minangness adalah tentara bawahan. Demikianlah sedikit olok olok penduduk tentang tentara Pusat ini.

Pertikaian semakin gencar. Desa Duku, – sudah tidak aman lagi. Para Kepala Stasiun lainnya yang berlokasi dekat dengan pertempuran, banyak yang sudah mengungsi. Engku Sep masih bertahan. Kereta yang singgah distasiun Duku pun sering dalam keadaan kosong. Tidak ada berpenumpang. Hanya kereta batu bara yang sesekali melintasi Stasiun Duku. Engku Sep merasa menjadi sosok yang selalu dicurigai, baik oleh kelompok pemberontak (PRRI) maupun Tentara Pusat. Akhirnya atas desakan isterinya, Engku Sep memohon kepada Kantor Jawatan Kereta Api di Padang, agar ia dan keluarganya diperkenankan mengungsi ke wilayah aman. Stasiun Duku ditutup untuk sementara waktu dan kereta yang lalu lalangpun dihentikan.

Keluarga Engku Sep mempersiapkan semua kebutuhan pengungsian. Yaitu; peralatan memasak, baju-baju, kasur, bantal dan selimut. Semua barang kebutuhan dikemas dan dinaikkan kedalam gerbong kereta. Keluarga Engku Sep diungsikan oleh Kantor Jawatan Kereta Api ke stasiun Padang Panjang. Gerbong khusus dan lokomotif didatangkan dari Padang untuk mengangkut semua barang keluarga Engku Sep. Gerbong keluarga Engku Sep  ditarik ke Padang Panjang. Disaat genting itu, keluarga Engku Sep adalah pengungsi yang terakhir tiba di Kota Padang Panjang. Gerbong keluarga Engku Sep diparkir di Stasiun Padang Panjang bersama dengan keluarga karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api yang lain. Untuk sementara mereka menetap dikota ini. Jika para pengungsi ingin mandi dan mencuci, mereka turun ke kampung-kampung yang ada disekitar Stasiun.

Para pengungsi kembali kewilayah tugas masing masing, ketika wilayah kerja mereka dinyatakan aman, seiring terciptanya perdamaian antara Pemerintah Pusat dengan kelompok PRRI.

Masih teringat dalam ingatan saya, ketika sebuah dendang lagu pengantar tidur yang acap kali dilantunkan Nanak, dalam lirik yang menyentuh hati sebagai berikut :

Hari baransua pagi

Murai alah bakicau

Rusuahnyo malam hari

Tuan kandung manga duduak bamanuang

Jiko’ tuan mandanga

Bunyi latusan sayuik sayuik sampai

Itulah katando jiko ..

Kami menyampaikan salam rindu

Syair sebenarnya tidak demikian bunyinya, Namun menurut isteri Engku Sep lagu ini adalah lagu ratapan tentara PRRI, dimalam hari saat mengisi waktu luangnya di persembunyiannya. Lagu itu adalah ciptaan seniman Yusaf Rahman, seorang seniman angkatan tahun 1950 an.

Menjelang berakhirnya pertempuran menuju rekonsiliasi, Tentara Pusat masih sering berkeliaran dirumah kami. Seenaknya mereka merambah pohon rambutan, yang saat itu berbuah lebat. Kakak bungsuMunzil Ardhi – yang dipanggil Zil , puteranya Engku Sep, menegur tentara-tentara itu.

“ Oom, Jangan seenaknya mengambil rambutan kami,  seru Zil, menegur tentara itu.

Tentara tidak senang ditegur seorang anak yang berusia 10 tahun itu.

“Apa katamu …? Beraninya kamu melarang kami…”Siapa namamu … ? dengan cara hampir menampar anak Engku Sep itu,

“ Jangan….!! teriak Nanak, sambil menarik Zil menjauhi rombongan tentara itu.

“ Maafkan dia Pak….. Apalah arti perkataan seorang anak kecil…. , kata Nanak.

Isteri Engku Sep sangat kesal dengan gelagat tentara Pusat yang tidak santun itu. Selain dari kejadian ini, entah disebabkan hal yang lain, setelah peristiwa itu, semua pohon-pohon disepanjang jalan raya didesa Duku itu, ditebangi oleh para tentara.

Ada lagi, pengalaman lucu dan candaan yang ada di Stasiun Duku kala itu  dan masih terngiang dibenak si bungsu hingga sekarang. Yaitu, Para penumpang kereta yang melintasi Duku dan berhenti di stasiun ini, pasti akan terbiasa mendengar :

“ pisang… pisang .. oii.. tabu ……..tabu…tabuai…

“ kacang abuih….. kacang abuih

“ Pisang…. pisang …….tabu….ai…..

Mereka berlomba-lomba menjajakan makanan itu. Bila disimak, kata-kata itu sangat menggelikan…. Namun disaat itu, bungsu tidak pernah mengerti mengapa para penumpang, amai-amai, .ande-ande, uni-uni jo si ajo-ajo,  semua tersenyum masam mendengar tawaran sang pedagang.

Suatu ketika, bungsu mendengar orang – orang ribut distasiun. Suasana ramai itu lihatnya dari jendela rumah dinas Engku Sep.

” Ada apa …???  bungsu berlari ke stasiun. Disini bungsu melihat 2 orang wanita saling bercakar-cakaran, saling menjambak rambut. Semua perkataan yang menyakitkan keluar dari mulut para wanita itu. Saking serunya mereka berkelahi, hampir saja kain – yang dipakai oleh masing-masing wanita itu melorot dari tubuhnya. Orang yang mencoba melerai tak mampu mencegah perkelahian ini.

Usut punya usut, rupanya mereka berencana akan mengadukan persolannya kepada Engku Sep. Pertama, soal persaingan dagang di Stasiun. Kedua, soal kecemburuan dari 2 perempuan yang bertikai itu. Anak-anak tidak mengerti akibat kecemburuan. Yang dia tahu adalah mereka berduel ditengah keramaian Stasiun Duku itu. Emosi kedua meledak sebelum dilerai Engku Sep. Semula mereka berharap Engku Sep mampu mengatasi persoalan diantara mereka. Ternyata adu fisik memuaskan hati kedua.

Demikianlah, kejadian serupa ini, tidak sekali dua kali terjadi. Kadang kala orang lain desa, datang meminta nasehat Engku Sep. Engku Sep kita ini, sering pula dipanggil ” Mak Ciek ”. Setiap ada persoalan mereka mencari Mak Ciak. Apa penyebab Engku Sep dipanggil demikian bungsu kurang tahu.  Sebagai aparat Negara didesa kecil itu, Engku Sep selalu siap memberikan saran setelah berkonsultasi kepada isterinya terlebih dahulu. Ada orang yang bermain dibalik layar. Isteri Engku Sep akan selalu bertindak “acting on behalf for her husband”. Sebagai penasehat pribadi. Itulah pribadi isteri Engku Sep yang dikenali bungsu semenjak bungsu tinggal dari stasiun ke stasiun itu hingga maut yang memisahkan ibunya dengan bungsu.

Di awal tahun 1960an itu, dalam daya ingat seorang anak balita, bungsu ingin menceritakan apa yang terjadi diseputarnya pada masa itu. Doeloe itu, hampir semua desa di wilayah di Propinsi Sumatera Barat terjangkit cacar. Indonesia mendapat bantuan WHO (Organisasi Kesehatan dunia) dengan program vaksinasi cacar. Rumah Engku Sep dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan vaksinasi penduduk. Bungsu sangat takut, melihat torehan pena menyerupai angka 11 pada pangkal lengan kirinya. Torehan itu menimbulkan luka yang agak lama. Jarum yang digunakan para medis itu bukan jarum yang biasa kita kenal, tetapi sebuah alat seperti pena tinta dawat. Semua balita menjerit ketakutan. Seberapapun suara tangis dan elakan dari keadaan ini, yang jelas suara tangisan memenuhi ruangan teras rumah panggung dinas Kepala Stasiun. Suka tidak suka,  wajah meringis karena takut mewarnai pelaksanaan kegiatan vaksinasi.

Selain itu, ada pengalaman yang tak pernah bungsu lupakan. Bungsu merasa  ada sesuatu yang menggelitik pada duburnya. Keluhan ini bungsu sampaikan pada ibunya. Lalu karena berulang tejadi, maka sang Ibu meminta beberapa butir pil cacing pada mantri di desa Duku itu. Reaksi apa yang terjadi selang beberapa hari kemudian, bungsu merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari duburnya.

”Nanak ” teriaknya. Ada yang mengelitik dibawah pantatku, seru bungsu kepada ibunya. Isteri Engku Sep baru menyadari bahwa ada sesuatu yang akan keluar dari dubur bungsu.  Ia menyuruh bungsu untuk mengeluarkan sesuatu itu pada aliran air limbah didekat dapur rumah itu. Bungsu duduk mencangkung untuk mengeluarkan hajatnya.  Ya ampun…seonggok demi seonggok cacing keluar dari duburnya. Cacing itu berwarna putih. Benar-benar sangat menjijikkan dan sangat jorok.…. Pantaslah bungsu badannya kurus, perutnya buncit karena gizinya habis dimakan oleh binatang peliharaan dalam perutnya.

Dirumah Eangku Sep tersedia berkarung-karung padi. Padi diolah menjadi beras – lalu dikirim ke kota Padang. Sebenarnya beras itu berasal dari pedagang yang ada distasiun atau orang yang memberi Eng Sep sebagai rasa terima kasih mereka kepada Engku Sep yang yang telah membantunya. Ketika masa pergolakan PRRI, Engku Sep pernah dicurigai sebagai orang yang menumpuk beras untuk keperluan pemberontak. Padahal beras itu akan dikirim ke kota Padang untuk 3 orang anak Engku Sep yang bersekolah di Padang, yaitu Munzil, Wasif, dan If.

Wilayah Duku kaya akan hasil pertanian dan buah-buah. Keluarga Engku Sep sering menerima panen pisang, kedondong, jeruk nipis, durian, kuweni, ambacang, jambu bol dll. Jika musin durian tiba, sanak famili berdatangan dari Kota Padang. Mereka berlomba-lomba menghabis buah durian hasil panen atau yang dibeli dengan harga yang sangat murah.

Ditengah jabatannya sebagai perakit lalul lintas kereta api Stasiun Duku, Engku Sep juga bertindak sebagai petani dan peternak. Engku Sep memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Ada beberapa tumpak sawah. Sapi didapat dari perkembang biakan ternak-ternak. Bila ada kelonggaran waktu, ia rajin meng-angonkan sapi untuk mencari rumput tidak jauh dari dekat rumah. Setiap pagi bungsu menyaksikan Engku Sep mengeluarkan itik serati (itik sawah) dari kandang. Itik itik itu melenggok-lengok bagaikan gadis ayu berkeliaran dihalaman rumah. Suara Engku juga heboh, ketika  binatang ternak dihalau kekandang. Jika senja datang menjelang, akan terdengar suara heboh dari mulutnya Engku Sep. ” Sssuaaah.. sssuaaah… !!! kuuur rrruk kuurrr rukkkk….teriak Engku Sep, hingga akhirnya sang hewan yang punya kedisiplinan tinggi masuk kandangnya. Bungsu menyebut disiplin karena ia taat berjalan dalam antriannya. Bisa kita manusia meniru disiplin “ itik pulang petang “.

Ketika memasuki tahun kesembilan masa pengabdian Engku Sep di Stasiun Duku, Engku Sep pindah tugas ke Stasiun Tabing. Stasiun ini terletak k.l 8 km dari kota Padang. Saat Engku Sep pindah tugas ke Stasiun Tabing, semua sapi peliharaannya, dititipkan Engku Sep pada kenalannya seorang petani yang bernama “ Pak Hamid “. Pak Hamid tinggal di Pasar Usang. Sistem pemeliharaan sapi dilakukan dengan cara bagi hasil. Sawah digarap oleh orang desa dengan pengawasan Pak Hamid dan anaknya yang bernama ‘’Erna’’. Semua kambing dibawa Engku Sep ke Tabing – ketempat tugas yang baru.

Keluarga Engku Sep berpamitan pada segenap orang desa, para pedagang asongan yang berdagang di stasiun Duku itu. Engku Sep dan keluarga meninggalkan Duku, dengan rasa haru. Barang-barang pindahan Engku Sep sudah dinaikkan ke dalam gerbong. Beberapa gerbong barang pindahan digabungkan dengan gerbong kereta penumpang yang datang dari Padang Panjang. Lalu gerbong barang Engku Sep ditarik menuju stasiun Tabing, meninggalkan desa Duku yang asri dan nyaman. Engku Sep dan keluarga meninggalkan desa ini diiringi lambaian tangan penduduk yang melepas kepindahannya ke Stasiun Tabing – yang lokasinya tidak jauh dari kota Padang.

Puspiptek Serpong 2008

 

Foto kami saat bernapak tilas di Stasiun Duku.

 

 

Hasil gambar untuk Engku Sep Kepala Stasiun DukuGambar terkait

Catatan :

Stasiun Duku (DUK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kasang, Batang Anai, Padang PariamanSumatera Barat. Nama “Duku” diambil dari korong tempat stasiun itu berada. Stasiun yang terletak pada ketinggian +10 m ini berada di Divisi Regional II Sumatera Barat. Kini Stasiun ini disinggahi oleh kereta api Sibinuang yang melayani jurusan PadangPariaman.

Di stasiun ini terdapat percabangan baru menuju Bandar Udara Internasional Minangkabau sepanjang 3 km yang rencananya akan beroperasi pada tahun 2016.[1] Selain itu, saat ini Stasiun Duku sedang dibangun bangunan yang lebih besar dan megah. Jalur ini akan dilayani oleh kereta api dari bandara tujuan Stasiun Simpang Haru yang berjarak 23 km dari bandara

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: