Engsku Sep – Kepala Stasiun Duku

Cerita ini merupakan kisah masa kecil seorang anak “Kepala Stasiun” – sebagai perakit lalu lintas kereta api di Sumatera Barat. Ia menyaksikan ketekunan seorang pegawai yang berkerja tekun untuk mengatur perjalanan kereta api. Bekerja secara penuh waktu untuk menjaga keselamatan dan kenyaman penumpang. Engku Sep adalah petugas generasi terakhir hasil didikan pemerintah Kolonial Belanda,  dan sejalan dengan tumbuh lajunya pembangunan diakhir tahun 60 – an, perkereta apian di daerah inipun sirna ditengah maraknya transportasi darat yang lain.
Anaknya selalu mentertawakan ayahnya itu dengan candanya ” Cari.. duiiit… Syussyaah payah… syussah payah…..
Ini kenyataan yang tidak dapat dipungkiri karena beliau hanyalah diakui sebagai pegawai negeri golongan I d dengan beban dan tanggung jawab penuh. Semoga perkereta apian di Indonesia tetap maju.

Stasiun “Duku” terletak dipinggir jajaran Bukit Barisan – Kabupaten Padang Parian, Propinsi Sumatra Barat. Berdampingan disebelah barat terdapat hamparan kebun tebu dan hutan karet. Ditengah kebun tebu terdapat aliran sungai Batang Anai yang dangkal dan jernih. Didekat Stasiun terdapat rumah jabatan Kepala Stasiun – yang merupakan rumah panggung berwarna hijau. Dihalaman rumah terdapat pohon labu raksasa yang tingginya k.l 5 meter. Penduduk desa ada yang memasak dan menjadikannya sayur. Ada pohon buah seri yang buahnya lebat. Didepan rumah ada pohon rambutan. Ketika pohon rambutan berbuah lebat dan merah, bisa menerbitkan air liur bagi yang melihatnya. Bila saat liburan tiba, anak-anak Engku Sep yang bersekolah di Kota Padang – pulang kerumah untuk berlibur. Mereka bermain sambil menikmati buah-buahan yang terdapat di halaman rumah itu.Satu rangkaian kereta api telah berlalu meninggalkan stasiun Duku. Dari kejauhan terlihat kereta api itu mengeluarkan asap dari cerobong lokomotif. Deru putaran roda pada rel kereta semakin menipis suaranya. Pluit lokomotif sesekali terdengar yang menandakan kereta semakin menjauh. Di stasiun para pedagang kecil yang usai menjajakan dagangannya mulai beristirahat sambil menghitung sisa dagangannya. Mereka berjualan; tebu, pisang rebus, kacang rebus, bengkuang dan lainnya kepada penumpang kereta. Nanti pada 2 jam berikutnya akan ada kereta lagi yang menyinggahi stasiun kecil itu.

Kepala stasiun Duku itu itu dipanggil oleh masyarakat sekitar dengan sebutan “Engku Sep” (Cheft). Kadang “Engku Sep” dipanggil oleh warga dengan sebutan ” Mak Ciek”. Sekarang Ia bersiap-siap dan berkemas untuk pulang kerumahnya yang berjarak hanya 200 m dari Stasiun untuk beritirahat sejenak. Seorang anaknya yang berusia 4 tahun menunggu Engku Sep dengan sabar – karena memang seharusnya demikian, mengingat tugas Papanya yang perlu kehati-hatian. Hari sudah jam 1 siang. ”Mari kita pulang, Nak”, kata Engku Sep kepada puteri bungsunya yang tengah mengantuk itu. Engku Sep lalu menggendong puterinya itu dan membawanya pulang kerumah. Sang puteri sangat menikmati gendongan papanya. Dengan merebahkan kepalanya pada pundak papanya, kepalanya terangguk- angguk seperti dalam buaian. Terdengar detak sandal dengan telapak kaki papanya. Ini merupakan irama kasih antara sang anak dengan Papanya.

Pada masa penugasan Engku Sep distasiun kecil ini, tugas berat yang dihadapi Engku Sep ketika menjadi Kepala Stasiun “Duku” ialah, Ia harus mampu menjalankan tugas sebagai aparat yang loyal kepada Negara. Ia ditugaskan mengamankan asset negara yang ditempatkan stasiun itu. Seperti peralatan komunikasi dan peralatan-peralatan yang terkait dengan keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api. Pada masa akhir tahun 50-an itu, terjadi pemberontakan PRRI terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di Duku berkecamuk pertempuran antara TNI dengan pemberontak PRRI. Daerah ini sangat strategis sebagai lokasi pertempuran, mengingat wilayahnya yang terbuka dan jauh dari perumhan peduduk. Komando Daerah Militer di Propinsi ini berupaya memadamkan pemberontakan. Komunikasi Perintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, Jakarta – Padang terputus. Kehidupan Masyarakat diliputi ketegangan. Pihak manakah yang benar.  Didaerah krisis, biasanya mayoritas penduduk berpihak kepada kaum pemberontak. Bila kelompok separatis ini tidak dipenuhi keiinginannya, maka kelompok ini mengumandangkan genderang untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa pada masa ini sebenarnya adalah bagian dari peristiwa sejarah nasional yang disebabkan adanya ketidak stabilan ekonomi dan politik nasional ketika itu. Pemberontakan serupa juga terjadi diwilayah Indonesia lain, seperti PERMESTA di Sulawesi Selatan.Pertempuran semakin menjadi-jadi ketika tentara dari KODAM 17 Agustus mendapat bantuan tentara Pusat.

Masyarakat menjadi panik… ,.”Tentara Pusat sudah mendarat di Lubuk Buaya”, demikian informasi yang diterima dari warga. Penduduk mulai mengungsi kedaerah yang aman. Rumah-rumah penduduk kosong. Kegiatan masyarakat, baik berjualan di Stasiun maupun di Pasar Duku nyaris mati .

Engku Sep berunding dengan isterinya bagaimana sebaiknya, Apakah Engku Sep dan keluarganya akan bertahan didesa ini?”Bagaimana rencana kita Pak, apakah kita tetap bertahan? Tanya isteri Engku Sep kepada suaminya. Ia merasa sangat cemas.

”Kita harus bertahan.., kata Engku Sep.”Perintah dari kantor jawatan, saya harus bertahan dan tetap menjalankan tugas”, jelasnya pada sang isteri.Dikala malam tiba, suasana mencekam itu sangat terasa. Rumah-rumah penduduk gelap gulita. Dalam kegelapan malam, ketika suasana kampung semakin sunyi, dari jauh kadang kala terdengar letusan senjata api. Bahkan kedua belah pihak pernah bertikai tidak jauh dihalaman rumah. Dalam suasana demikian, semua anggota keluarga dirumah itu berhamburan turun kegudang yang terletak dibawah rumah. Gudang berada disamping dapur rumah, yang dindingnya terbuat dari batu bata. Mengungsi ke gudang ini, sangat aman bagi keluarga Engku Sep. Tidak akan ada peluru yang nyasar. Selain itu keluarga Engku Sep akan aman dari para penyelinap malam, yang suka mengintip dari dinding rumah yang terbuat dari papan. Entah mereka itu anggota pemberontak atau tentara yang selalu mengawasi gerak gerik Engku Sep.

Isteri Engku Sep termasuk orang yang berpihak kepada tentara PRRI, akan tetapi Engku Sep sebagai aparat Negara tidak diperbolehkan berpihak kepada pemberontak.Malam itu, pintu rumah diketuk orang. Hati isteri Engku berdebar-debar. “Siapa… ? , serunya dengan perasaan kawatir.

Ternyata ada seorang pemuda yang menjadi anggota tentara pemberontak, datang kerumah Engku Sep meminta makanan untuk dibawa ke hutan. Ia kemenakan Isteri Engku Sep yang bernama Haswil Harun.

“ Sudah lama In tidak datang, kata istri Engku.

“Iya Nanak….., persembunyian kami semakin jauh dari Duku, katanya. (istri Engku Sep dipanggil ” Nanak” oleh anak-anaknya termasuk kerabat terdekatnya.

”In. hati-hati, sekarang tentara Pusat mulai mencurigai kami”, Kata isteri Engku kepada Haswil Harun. Sebetulnya Haswil Harun ini, masih bersekolah di SMA, namun Ia ikut menjadi anggota pemberontak demi suatu idealisme pemuda.  Sekolahpun ditinggalkannya. Seperti biasanya, setiap kedatangan Haswil Harun. Nanak cukup mengerti dengan keinginannya dengan menyiapkan makan untuknya serta membekalinya dengan bungkusan makanan yang mentah. Perasaan isteri Engku Sep cukup berdebar-debar, ketika rumah Engku Sep dipantau dan diawasi tentara.Beberapa rumah penduduk, memang sering didatangi tentara Pusat. Tentara mencurigai Engku Sep dan isteri tentang keberpihakan mereka pada PRRI. Suatu hari beberapa tentara mendatangi Isteri Engku Sep.

Mereka bermaksud menggali informasi – seberapa jauh peran keluarga ini membantu pemberontak.  “Kami tidak berpihak kepada siapapun” Akan tetapi bila ada famili kami yang datang meminta makanan, tentunya kami harus bantu”….., demikian kilah isteri Engku Sep kepada kelompok tentara itu.  Stasiun Duku, termasuk bangunan dan sarana yang dijadikan markas tentara Pusat. Orang desa menyebut pasukan TNI dari Pusat itu dengan sebutan “tentara pusek”. ”Pusek” = pusat. Arti pusek didaerah kami = pusar. Pertikaian semakin gencar. Desa Duku, – sudah tidak aman lagiPara Kepala Stasiun lainnya yang berlokasi dekat dengan pertempuran, banyak yang sudah mengungsi. Engku Sep masih bertahan. Kereta yang singgah distasiun Duku pun sering dalam keadaan kosong. Tidak ada berpenumpang. Kereta batu bara hanya sesekali melintasi Stasiun Duku. Engku Sep merasa menjadi sosok yang selalu dicurigai, baik oleh kelompok pemberontak maupun Tentara Pusat, memohon kepada Kantor Jawatan Kereta Api di Padang, agar ia dan keluarganya diperkenankan mengungsi ke wilayah aman. Akhirnya Stasiun Duku ditutup untuk sementara dan kereta yang lalu lalangpun dihentikan. Keluarga Engku Sep mempersiapkan semua kebutuhan untuk mengungsi yaitu; peralatan memasak, baju-baju, kasur, bantal dan selimut. Semua barang kebutuhan dikemas dan dinaikkan kedalam gerbong kereta. Keluarga Engku Sep diungsikan oleh Kantor Jawatan Kereta Api ke stasiun Padang Panjang. Secara khusus gerbong kereta dan lokomotif didatangkan dari Padang untuk mengangkut semua barang keluarga Engku Sep. Gerbong kereta ditarik ke Padang Panjang. Ternyata Keluarga Engku Sep adalah pengungsi yang terakhir tiba di Kota Padang Panjang. Gerbong kereta keluarga Engku Sep diparkirkan di Stasiun Padang Panjang bersama dengan keluarga Engku-Engku Sep yang lain..

Untuk sementara keluarga Engku menetap dikota ini. Jika ingin mandi dan mencuci, keluarga Engku Sep turun ke kampung-kampung yang ada disekitar Stasiun.Keluarga Engku Sep kembali dari pengungsian ketika wilayah Duku dinyatakan aman, seiring terciptanya perdamaian antara Pusat dengan Kaum pemberontak. Masih teringat dalam ingatan bungsu, ketika sebuah dendang lagu pengantar tidur yang acap kali dilantunkan Ibunya, dalam lirik yang menyentuh hati,sebagai berikut :

Hari baransua pagi

Murai alah bakicau

Rusuahnyo malam hari

Tuan kandung manga duduak bamanuang

Jiko’ tuan mandanga

Bunyi latusan sayuik….

Sayuik sampai Itulah katando jiko ..

Kami menyampaikan salam rindu

artinya :

Hari berangsur pagi

Murai sudah berkicau

Rusuhnya malam hari

Tuan .. mengapa duduk bermenung

Jika tuan mendengar

Bunyi letusan sayup sayup sampai

Itulah tandanya, jika kami menyampaikan salam rindu

Syair sebenarnya tidak demikian bunyinya, Namun menurut isteri Engku Sep lagu ini adalah lagu ratapan tentara PRRI, dimalam hari mengisi waktu di persembunyiannya. Lagu itu adalah ciptaan seniman Yusaf Rahman.

Menjelang berakhirnya pertempuran dan mulai terciptanya perdamaian, Tentara Pusat masih sering berkeliaran dirumah kami. Seenaknya mereka merambah pohon rambutan, yang saat itu berbuah lebat. Munzil Ardhi – yang dipanggil Zil , puteranya Engku Sep, menegur tentara-tentara itu.

“ Om, Jangan seenaknya mengambil rambutan kami, seru Zil, menegur tentara itu.

Tentara tidak senang ditegur seorang anak yang berusia 10 tahun itu.

“Apa katamu …? Beraninya kamu melarang kami…”Siapa namamu … ? dengan cara hampir menampar anak Engku Sep itu,

“ Jangan….!! teriak Nanak, sambil menarik Zil menjauhi rombongan tentara itu.

“ Maafkan dia Pak….. Apalah arti perkataan seorang anak kecil…. , kata Nanak.

Isteri Engku Sep kesal dengan gelagat tentara Pusat yang tidak santun itu. Selain dari peristiwa ini dan entah disebabkan hal yang lain, yang terjadi setelah itu, semua pohon-pohon disepanjang jalan raya didesa Duku itu, ditebangi oleh para tentara.

Pengalaman lucu dan canda yang ada didesa ini, masih terngiang oleh si bungsu dalam keluarga masa itu.

Bagi penumpang kereta yang melewati stasiun ini, pasti akan terbiasa mendengar ……… pisang… pisang .. oi…….. tabu ……..tabu……….kacang abui….. kacang abui…… Pisang…. pisang …….tabu….ai….. berlomba-lomba mereka menjajakan makanan ini. Bila disimak, kata-kata itu sangat menggelikan…. Namun ketika itu bungsu tidak pernah mengerti mengapa para penumpang ….. amai- amai….ande-ande…..uni…uni jo si ajo-ajo semua tersenyum masam…. Mendengar tawaran sang pedagang.

Suatu ketika Bungsu mendengar orang – orang ribut distasiun. Suasana ramai terlihat dari jendela rumahnya.

”Ada apa ??? , kata Si bungsu. Si bungsu berlari ke stasiun. Disini Si bungsu melihat 2 orang wanita saling bercakar-cakaran, saling menjambak rambut. Semua perkataan yang menyakitkan keluar dari mulut para wanita itu. Saking serunya mereka berkelahi, hampir saja kain – yang dipakai oleh masing-masing wanita itu melorot dari tubuhnya. Orang yang mencoba melerai tak mampu mencegah perkelahian ini.

Usut punya usut, rupanya mereka berencana akan mengadukan persolannya kepada Engku Sep.- Pertama, soal persaingan dagang distasiun dan- kedua, soal kecemburuan diantara mereka – yang menurut salah satunya mencemburui suami salah satu diantaranya. Emosi rupanya meledak sebelum mereka berhasil menemui Engku Sep. Mereka berharap Engku Sep akan mampu mengatasi persoalan diantara mereka.

Demikian kadang kala orang desa lain datang meminta nasehat Engku Sep. Sebagai aparat Negara didesa kecil itu, Engku Sep selalu siap memberikan saran setelah berkonsultasi kepada isterinya terlebih dahulu. Isteri Engku Sep akan selalu acting behalf for her husband. Suatu saat, hampir semua desa di wilayah di Propinsi Sumatera Barat terjangkit cacar. Indonesia mendapat bantuan WHO ( Organisasi Kesehatan ddunia) dengan program vaksinasi cacar.

Rumah Engku Sep dijadikan sebagai tempat penyelennggaraan acara vaksinasi. Bungsu sangat ketakutan, karena torehan seperti angka 11, yang menimbulkan luka yang agak lama. Jarum yang digunakan seperti sebuah pena tinta dawat yang menoreh pangkal lengan pasien. Semua anak-anak menjerit ketakutan . Ada yang menangis sambil memberontak dari pegangan ibunya. Suka tidak suka …. dengan wajah meringis karena ketakutan, bungsu divaksinasi . Cairan vaksin ditoreh pada pangkal lengan kirinya.

Selain itu pengalaman yang tak terlupakan, adalah ketika bungsu merasa ada sesuatu yang menggelitik pada duburnya. Karena berulang tejadi, maka isteri engku sep meminta beberapa butir pil cacing pada mantri di desa Duku itu.

Selang beberapa hari kemudian, bungsu merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari duburnya.

”Nanak” ada yang mengelitik dibawah pantatku, seru bungsu kepada ibunya.

Nanak meyadari bahwa ada sesuatu yang akan keluar dari dubur bungsu. Ia menyuruh bungsu untuk mengeluarkan sesuatu itu pada aliran air limbah didekat dapur dirumah.

Bungsu duduk mencangkung untuk mengeluarkan hajatny. Seonggok demi seonggok ia keluarkan hajatnya. Onggokan itu tidak lain berupa cacing-cacing yang berwarna putih. Iiih… benar-benar sangat menjijikkan dan sangat jorok.…. Pantaslah bungsu badannya kurus perutnya buncit karena gizinya habis dimakan oleh binatang peliharaannya.

Dirumah Eangku tersedia berkarung-karung padi. Padi diolah menjadi beras – yang kemudian dikirim ke kota Padang. Sebenarnya beras itu berasal dari pedagang yang ada distasiun atau orang yang memberi Eng Sep sebagai rasa terima kasih mereka kepada Engku yang yang telah membantunya. Ketika masa pergolakan PRRI, Engku Sep pernah dicurigai sebagai orang yang menumpuk beras untuk keperluan pemberontak. Sesungguhnya beras itu akan dikirim ke kota Padang bagi 3 orang anak engku Sep yang bersekolah di Padang, yaitu Munzil, Wasif, dan If.

Wilayah Duku kaya akan hasil pertanian dan buah-buah. Keluarga Engku Sep sering menerima panen pisang, kedondong, jeruk nipis, durian, kuweni, ambacang, jambu bol dll. Jika musin durian tiba, sanak famili berdatangan dari Kota Padang. Mereka berlomba-lomba menghabis buah durian hasil panen atau yang dibeli dengan harga yang sangat murah.

Ditengah jabatannya sebagai perakit lalul lintas kreta api Stasiun Duku, Engku Sep juga bertindak sebagai petani dan peternak. Engku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Ada beberapa tumpak sawah. Sapi didapat dari perkembang biakan ternak-ternak. Bila ada kelonggaran waktu, ia rajin meng-angonkan sapi untuk mencari rumput tidak jauh dari dekat rumah. Setiap pagi bungsu menyaksikan Engku Sep mengeluarkan itik serati dari kandang. Itik itu melenggok-lengok bagaikan gadis ayu berkeliaran dihalaman rumah. Suara Engku juga heboh, ketika  binatang ternak dihalau kekandang jika senja datang menjelang.

“Sssuaaah………..sssuaaah………………… krrruk ……kruukkkk….teriak Engku hingga akihirnya sang hewan yang menjadi simbol bagi kedisiplinan dalam “antrian” itu masuk kandangnya.

Memasuki tahun kesembilan dari pengabdiannya di Stasiun Duku, Engku Sep dipindahkan ke Stasiun « Tabing ».

Stasiun ini terletak k.l 10 km dari rumah nenek bungsu yang dipanggil « Mak Alah ». Sapi dititiapkan Engku Sep pada kenalannya seorang petani yang bernama « Pak Hamid ». Ia bertempat tinggal di Pasar Usang. Sistem pemeliharaan sapi dilakukan dengan cara bagi hasil. Sawah digarap oleh orang desa dengan pengawasan Pak Hamid – dan anaknya yang bernama ‘’Erna’’.

Kambing-kambing dibawa Engku Sep ke Tabing – ketempat tugas yang baru Keluarga Engku Sep berpamitan dengan segenap orang desa, pedagang asongan yang berdagang distasiun Duku itu.

Engku Sep meninggalkan desa ini dengan perasaan haru yang mendalam. Barang-barang pindahan Engku Sep sudah dinaikkan ke dalam gerbong. Gerbong ini akan digabungkan dengan gerbong kereta api penumpang yang datang dari Padang Panjang. Kemudian gerong ditarik meninggalkan desa Duku yang asri dan nyaman.

Keluarga Engku Sep meninggalkan desa ini dengan diiringi lambaian tangan penduduk yang melepas kepindahannya ke Stasiun Tabing – yang lokasinya tidak jauh dari kota Padang.

catatan : Sekarang stasiun Duku itu telah tiada dan yang tersisa hanyalah puing-puing tak berharga bersamaan dengan hilangnya transportasi darat didaerah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: