Anak – anak yang bekerja atau Pekerja anak ?

Ternyata kisah pekerja anak ditemukan pertama kali di New Yersey, Usa, pada tahun 1910. Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja anak dapat memiliki konotasi pengeksploitasian atas tenaga mereka, dengan gaji yang kecil. Yang berdampak pada perkembangan kepribadian sianak, kesehatan, dan prospek masa depan. Di beberapa negara, untuk mempekerjakan anak di bawah umur. Di Indonesia, menurut data tahun 2005 jumlah pekerja anak ada 3 juta orang. Sungguh tidak terbayangkan jika terjadi peningkatan jumlah pekerja anak ini pada akhir-akhir ini. Undang-undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menentukan bahwa setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang sehingga orangtua dilarang menelantarkan anaknya. Kalau dilanggar akan dikenakan sanksi hukuman termasuk perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur. Pada UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa anak-anak boleh dipekerjakan dengan syarat mendapat izin orang tua dan bekerja maksimum tiga jam seharinya.Namun kenyataannya penerapan semua UU itu tidak berjalan semestinya. Tetap saja PA berlangsung dimana-mana.Malah ada yang sangat gawat yakni jual beli anak-anak di bawah umur untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks.

Hal yang lumrah terjadi di Kota besar dalam pekerjaan formal maka mudah terlihat mereka sebagai tukang pensemir sepatu, pengamen,tukang parkir, penyewa payung, kuli, dan penjual koran. Bahkan di beberapa kota-kota besar di Indonesia seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, banyak sekali anak-anak yang seharusnya bersekolah di sekolah dasar dan lanjutan,terpaksa mereka ada di jalanan. Sampai larut malam untuk mengais rupiah dari orang lain. Mereka tak punya pilihan lain, untuk ikut bertanggung jawab atas penghidupannya. Seharusnya mereka menikmati kecerian hidup, bersekolah, dan senang bermain yang terampas oleh keadaan yang sulit dicegah. Semua terjadi karena adalah faktor kemiskinan absolut.

Kita tidak mampu berkata apa-apa terhadap kondisi anak ini, child abuse merajalela, pekerja anak dibawah umur menjamur tanpa kendali, anak menjadi komoditas perdagangan, dan trafficking menjadi siluman di kampung2 pelosok Indonesia.

A. Kondisi dan Masalah yang Terjadi Dengan Anak Dalam Bekerja

Adalagi yang memprihatinkan, ketika dari jumlah anak jalanan yang telah teridentifikasi, 10% di antaranya adalah anak perempuan. Merekapun bekerja dengan berbagai macam profesi. Beberapa pengalaman yang ada menyebutkan bahwa resiko bahaya yang dialami oleh anak-anak perempuan ini ternyata lebih berat dan memerlukan perhatian khusus. Tidak jarang anak jalanan perempuan yang terlanjur hamil harus menyabung nyawa karena mereka memilih menyelesaikannya dengan cara aborsi yang jauh dari kelayakan medis dan cenderung mengabaikan keselamatan jiwa mereka.

B. Keterlibatan Anak Dengan Naza

Drug buat mereka adalah alat pergaualan, dengan pergaulan tersebut anak-anak merasa dilindungi, disayang dan dicintai. Padahal kenyataannya kaum lelaki yang menjadi kelompok supplier sekaligus pengguna ini semakin menjebak mereka untuk tetap hidup di dunia obat dan otomatis untuk mendapatkannya harus bekerja berat dan menghasilkan banyak uang untuk mendapatkan obat yang mereka inginkan, apalagi kalau bukan melacur.

Melihat beberapa persoalan berat yang muncul dari pekerjaan mereka tentu saja kita tidak bisa saling menuding siapa mempekerjakan siapa dan siapa dipekerjakan siapa kalau ini menjadi titik masalah pekerja anak. Di sektor informal lainnya seperti para pemulung dan anak jalanan kita tentu tidak akan menemukan siapa mempekerjakan siapa. Ini bukan berarti terus berhenti ketika kita tidak mampu menemukan siapa mempekerjakan siapa, tetapi harus lebih dalam memahami akar persoalan yang muncul dari sebab usabab kenapa mereka menjadi dilacurkan.
Secara sistemik ini tentu saja menjadi tanggung jawab kita semua. Akan terlalu naif apabila hanya berangkat pada tataran formal tetapi tidak dalam ketika melihat proses “pemelacuran” anak-anak tersebut, baik dalam segi ekonomi, sosial dan budaya sekalipun (kenyataan yang muncul bahwa budaya justru memperkuat stigma buruk terhadap anak-anak tersebut).

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT, semoga dapat memberikan jalan untuk bangsa dari segala keterpurukan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: