Sikap dan Kesabaran Seorang Ibu

Hati ini menjadi miris, ketika kekerasan terhadap anak menjadi terbiasa terdengar ditelinga kita, sebagaimana yang kita peroleh dari berita media elektronik dan media massa. Semenjak insan manusia berada pada rahim seorang ibu, dari sisi geneokolog, ia telah memiliki kemampuan untuk dilahirkan kedunia pada usia 7 bulan kandungan. Ketika ia lahir sampai ia berusia 1 tahun, ia disebut sebagai Bayi. Pada masa ini manusia ini sangat lucu dan menggemaskan. Kasih sayang seorang ibu akan dicurahkannya pada sang bayi melebihi kasih terhadap siapapun didunia ini. Secara kodratnya, sang ibu akan memberikan asupan pertama melalui air susu ibu (penetekan) atau dengan susu industri khusus. Bayi memiliki insting menyedot, yang membuat mereka dapat mengambil susu dari buah dada ibunya. Bila sang ibu tidak bisa menyusuinya, atau tidak mau, formula bayi biasa digunakan. Didalam agama islam seorang wanita dibolehkan melakukan tugas sebagai ” perawat basah” (wet nurse) untuk menyusui bayi tersebut. Sehingga seorang bayi yang telah disusui oleh ibu susunya, maka akan menjadi anak susu dan juga menjadi saudara sesuan dengan anak-anak ibu susunya. Akibatnya secara hukum saudara sesusuan dilarang menikah. Contoh; Nabi Muhammad SAW disusui oleh Ummu Halimahtussya`diah. Ternyata hal inipun dilakukan pula oleh para wanita di beberapa negara barat.

Anak adalah bagaikan kuncup bunga dan akan menjadi rangkaian yang indah bila kita berhasil menatanya.Segala sesuatu yang indah bermula dari ketekunan dan kesabaran. Demikian pula untuk membentuk pribadi anak kita. Ia akan menjadi pribadi yang indah apabila kita menekuni pertumbuhannya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Bagaimanakah sikap seorang Ibu terhadap anaknya…????

Stop Memukul!

Sadarilah, memukul atau menampar mengajarkan kepada anak-anak untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu masalah. Anak-anak yang dipukul cenderung memiliki kepercayaan diri rendah, depresi dan tidak keberatan untuk digaji rendah. Nah, apa yang harus dilakukan agar dapat menghindari menampar anak?

TENANGKAN DIRI :

Bila Anda merasa marah, dan ingin menampar atau memukul anak Anda, sedapat mungkin tinggalkan situasi tersebut. Tenangkan diri Anda dan diam. Jika tidak bisa, sebaiknya melangkah mundur dan hitung sampai sepuluh.

WAKTU UNTUK SENDIRI :

Orangtua cenderung menampar bila mereka tak pernah punya waktu untuk diri sendiri, merasa sangat lelah dan diburu-buru. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menyisihkan waktu untuk dirinya sendiri.

TEGAS TAPI BAIK :

Jika anak Anda tidak mengikuti perintah yang Anda lontarkan berulangkali, jangan menamparnya. Lebih baik, posisikan tubuh sejajar dengan anak Anda, lalu tatap matanya, berikan sentuhan yang lembut dan katakan kepadanya, secara baik-baik tetapi tegas, bahwa Anda meminta dia untuk bersikap manis.

BERIKAN PILIHAN :

Memberikan pilihan pada anak merupakan alternatif yang efektif. Bila anak emoh makan dan malah memainkan makanannya, tanyakan padanya apakah dia ingin terus memainkan makanannya atau meninggalkan meja makan. Jika dia terus memainkan makanannya, secara baik-baik angkat anak dari kursi makan lalu katakan padanya bahwa dia dapat kembali ke meja makan bila sudah siap untuk memakan makanannya dengan benar.

KONSEKUENSI LOGIS :

Jika anak Anda melakukan kesalahan, tawarkan konsekuensi logis yang harus dikerjakan agar dia belajar bertanggung jawab. Misalnya, anak memecahkan kaca jendela tetangga. Tawarkan apa yang dapat ia lakukan untuk menebus kesalahanya. Mencuci mobil tetangga tersebut beberapa kali sesuai dengan harga perbaikan kaca jendela, misalnya.

MENGGANTI HUKUMAN :

Jika ingin mengganti bentuk hukuman pada anak, Anda tetap harus memberi penegasan padanya alasan yang tepat mengapa Anda mengganti bentuk hukuman.

MENINGGALKAN KONFLIK :

Anak yang lancang, berani memukul balik orangtuanya. Pada situasi seperti ini, segeralah tinggalkan situasi tersebut. Dengan tenang, katakan kepada anak Anda, “Mama ada di kamar kalau kamu mau bicara dengan Mama dengan lebih hormat”.

ALIHKAN PERHATIAN :

Pada saat dia memegang atau menyentuh sesuatu yang tidak pantas, tarik tangannya secara baik-baik tetapi tegas dan bawa dia ke ruangan yang lain. Tawarkan dia mainan atau sesuatu benda untuk mengalihkan perhatiannya.

BERITAHU SEJAK DINI :

Tanamkan sedini mungkin pada anak-anak pengertian kerja sama yang baik dan penyelesaian masalah secara kreatif tanpa menggunakan kekerasan.

2 Tanggapan to “Sikap dan Kesabaran Seorang Ibu”

  1. Suatu kali saya naik angkot dan berjumpa dengan seorang ibu bersama anak perempuannya. Sepanjang perjalanan si ibu membentak-bentak anaknya. Setiap anaknya berbuat sesuatu, si ibu selalu membentak yang diselingi dengan cubitan atau pukulan. “Itu nggak boleh…” “Jangan begitu..” atau “Diam kenapa sih!” Bahkan ia mulai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas dengan membodoh-bodohi anak.

    Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seorang anak bisa tumbuh dalam kondisi seperti itu? Bukankah setiap ucapan orang tua adalah doa untuk anaknya?

    Jengah rasanya melihat itu semua. Seandainya saya punya keberanian lebih untuk menegur ibu itu. Saya bimbang untuk terlibat dalam persoalan domestik.

  2. Wahyudi Supriyono Says:

    Uni, tips-nya amat sangat berguna. Ketika kita benar-benar tengah menghadapi anak sendiri yang nakal, nggak mau mendengarkan, itu jauuh lebih sulit daripada memahami tips-tips yang Uni berikan. Akan saya coba mengingat-ingat. :-) Makasih, Uni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: