Kartini semestinya tidak sendirian

Sesungguhnya Kartini tidak sendirian, bila ia dianggap sebagai pejuang emansipasi wanita. Setelah kita tahu bahwa sesungguhnya banyak sekali pejuang wanita yang pantas pula kita peringati sebagai pahlawan nasional. Sebut saja para pahlawan wanita abad ke-19 seperti : Christina Marta Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dachlan, Rangjayo Rasuna Said, dan lain-lain. Mereka berjuang baik secara sendiri sendiri maupun secara berkelompok. Bahkan wanita Indonesia pernah berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum wanita. Melalui Konggres Wanita Indonesia I pada 2225 Desember 1928 di Yogyakarta, yang dihadiri sekitar 30 organisasi wanita di Jawa dan Sumatera, mereka telah mengangkat berbagai isu penting saat itu, yaitu ;

Keterlibatan wanita dalam perjuangan melawan penjajah

Keterlibatan wanita dalam berbagai aspek pembangunan bangsa;

perdagangan anak-anak dan kaum wanita;

perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita;

pernikahan usia dini bagi wanita, dan sebagainya.

Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, kaum wanita waktu itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. Dari hasil dari kongres itulah terbentuk Kongres Wanita Indonesia yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli tak pernah diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Kartini hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang di-angkat namanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, kemudian menjadi tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut. Namun bila kita amati, sesungguhnya dia telah berjuang untuk kepentingan perempuan Jawa semata, dimana adat dan budayanya, tidak memposisikan wanita dapat kesetaraan gender.

Pertanyaan kita masih relevankah hanya Kartini semata yang kita peringati sebagai pahlawan nasional wanita? Sementara banyak wanita pejuang lainnya yang berkiprah nyata di saat pra dan pasca kemerdekaan. Jawaban terpulang pada bagaimana pendapat Saudara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: