Uang Kupluk

Kupluk… istilah yang kukenal… di tanah Betawi… yang ternyata bersal dari bahasa Jawa. Yaitu sebuah ” kopiah “, yang dipakai oleh kaum pria. Boleh dipakai sebagai pelengkap busana resmi, dan boleh dipakai untuk keperluan sehari-hari. Bagi kaum pria tertentu, kopiah ini bagaikan sebuah kerudung yang tak pernah lepas dari kepala. Perhatikan pada sisi kepalanya ada celah sempit yang berwujud bagaikan sebuah kantong. … Ya… memang demikianlah model sebuah kopiah.
Bagi seorang pekerja kantoran – umumnya kaum pria lho…, memperoleh penghasilan tambahan diluar penghasilan resmi, seperti : insentif, honorarium, tunjangan belas kasihan, merupakan sesuatu yang tidak perlu masuk kedalam setoran isteri.

Ini penting,, untuk dijadikan dana taktis dalam hal keperluan mendadak. Bagi kami karyawati cukuplah menyebut penghasilan tambahan yang tidak seberapa itu sebagai ” uang kupluk. Yang manakah yang disebut ” uang kupluk “, yaitu uang recehan yang tidak masuk dalam daftar gaji resmi dan bukan pula uang komis (yang satu ini haram…pak..!). Terus terang kami karyawati berteriak dan protes pada sesama karyawan, apabila rapel dari penghasilan resmi dianggap sebagai uang kupluk pula.. Kasian… dong… mana pula untuk uncang istri..tull ndak……???
Kalau dua orang bapak ini sebagai model kita … uang yang diperoleh dari jualan ternak disebut ..uang kupluk.. semua…namanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: