Mengenang “Mertuaku”

Tidak terasa hampir sepuluh  tahun almarhum/almarhumah, meninggalkan kami semua, yaitu tanggal 8 januari 1993 dan 7 Januari tahun 2002. Beliau adalah St. Nazarudin Latif dan “ Putri Nirma binti Sutan Usman”. Putri Nirma – Seorang ibu yang sangat mengasihi anak-anaknya. Terlahir dikota Surabaya dan ditinggalkan sang bunda ketika ia belum tahu apa-apa tentang dunia, selagi ia berusia delapan bulan. Setelah itu ia berada dalam pengasuhan neneknya yang bernama Putri Hafsah. Demikianlah hari-hari dijalaninya sendiri tanpa saudara kandungnya. Ia menjadi mandiri dan berusaha untuk selalu bersabar ditengah-tengah keluarga besarnya yang hidup dalam kemapanan.
Berusaha untuk selalu dicintai dan dikasihi keluarga besarnya, dengan cara rajin bekerja, membantu apa saja termasuk suka mengasuh anak-anak saudara sepupu jauhnya. Akhirnya ia menjadi wanita yang selalu sabar, berusaha baik pada semua orang dan menjauhkan diri dari perasaan kecewa, lebih-lebih bila ia diperlakukan tidak adil didalam keluarga besarnya itu.
Melahirkan sepuluh orang anak, terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Disaat ia berusia ¾ abad, alhamdulillah ia masih dapat menyaksikan keluarga besarnya serta anak-anaknya yang semakin mapan. Subhanallah.
Untuk masa sekarang, bukanlah perkara gampang mengasuh sepuluh orang anak. Sepuluh orang anak terbagi dalam tiga kelompok karakter, yaitu : Kalem + pendiam, homoris + lucu, heboh + suka bergaya. Untung semuanya tidak memiliki satu karakter. Nah .. bagi yang merasa, silahkan masuk dalam tiga kelompok itu.
Disinilah letak harmoni dikeluarga ini.
Kenanganku padanya luar biasa. Aku telah masuk dalam kehidupannya enam tahun sebelum aku menjadi menantunya. Ia pernah berkata padaku ketika aku menderita penyakit :
“Evi harus tegar dan ingat pada anak-anak. Berjuanglah untuk kesembuhan Evi”.Selain itu ??
Ia pernah berkata padaku : ” Mama .. tidak akan pernah melukai hati para mantu .. Mama.
Dan ternyata memang demikianlah keramahannya, kebaikannya dan semua sapaan lembutnya selalu di berikan kepada kami para menantunya.
Ketika menjelang akhirnya hayatnya, ia memandang kami semua anak dan menantunya.
Ia berkata :  “Nanti setelah Mama tiada, kalian hendaknya akur-akur saja ya. Jangan berantem ya…
Itu wasiat terakhirnya. Entahlah .., apakah anak-anak dan cucu-cunya akan mengingat kata terkahirnya ini..?
Demikian pulan sang ayah. Tidak terasa sudah berpuluh tahun pula ia meninggalkan anak-anaknya yaitu pada tanggal 8 Januari 1993. Tidak banyak yang dapat kuketahui tentang ayah mertuaku yang bernama “ Sutan Nazarudin Latif. Ia seorang ayah yang pendiam. Taat beribadah dan sering mengaji. Dengan doanya ia mengantarkan anaknya agar menapaki kehidupannya dengan baik. Untuk keduanya aku berdoa semoga ia mendapat tempat disisiNya. Diterima segala amal ibadahnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: