KAMPIEH SIRIH

Bagi wanita zaman dahulu, baik suku manapun ia, budaya makan sirih adalah sesuatu yang lumrah. Konon katanya sirih bertambah nikmat, apabila disertai dengan sejumput tembakau dan dilumat bersama sirih tadi. Sirih pinang selalu dibawanya kemana-kemana, semata dengan maksud untuk bekal dalam mengisi perbicangan dengan sesama wanita. Kadang Sirih itu diperlukan sebagai obat, seperti : obat gigi, obat batuk, sebagai pemoles kecantikan, dll. Kampieh sirih dalam bahasa Minang artinya, tempat sirih. Didaerah kami, pabila hendak mencari jodoh maka seseorang yang bertindak sebagai mak comblang akan membawa sirih pinang dalam dompet kecil ini, yang disebut kampieh sirih. Sirih sebagai asesoris dalam melamar. Kampieh sirih terbuat dari daun pandan hutan yang dirajut seperti dompet dan mudah dibawa kemana-mana. Lain dalam kisah ini, si bungsu digelari dengan kampieh sirih, oleh ibunya yang dipanggilnya Nanak.
Kemana sang ibu, si bungsu selalu dalam genggamannya. Sadar tidak sadar ia telah menjadi kampieh sirih ibunya. Terlalu dini ia mengerti dunia orang dewasa. Ia mendengar, ia melihat, ia mengenal dan akhirnya ia menjadi reportase dari kegiatan orang tua. Baik dalam adat dan budaya. Sebagai reportase ia digelari “ si bijak”. Itulah nama panggilan yang paling tidak ia sukai ketika masa kanak-kanak dulu…
Sebenarnya tidak adil bagi saudaranya yang lain. Namun inilah namanya takdir. Takdir bagi seorang anak yang dilahirkan ketika kedua orang tuanya telah berusia 44 tahun dan 48 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: