Batik Tanah liat (liek)

Selama ini kita hanya mengenal bahwa batik berasal dari tanah Jawa. Batik dipakai untuk acara resmi atau non resmi. Selain batik yang berasal dari tanah Jawa, kita akan menemukan pula batik-batik dari daerah lain, antara lain ;batik Jambi, batik Bengkulu, batik Sasirangan, dll. Tidak ada yang percaya di Ranah Minang terdapat pula batik, yang dikenal dengan sebutan batik tanah liat (tanah liek). Seperti yang aku lihat dari pakaian yang dipakai oleh para bundo kandung, dalam upacara penerimaan tamu resmi di Ustano Silindung Bulan di Batusangkar – Sumbar pada beberapa waktu yang lalu. Uniknya, batik tersebut digunakan bersama kain “balapak” (songket) dengan penutup kepala seperti tanduk kerbau atau “talakuak” . Pemakaian selendang batiknya, juga khas, karena seledang itu diselempangkan antar bahu ke bahu, seperti tampak pada gambar wanita yang sedangan menyambut tamu ini..
Batik tanah liat ini sangat khas, sesuai dengan tema yang diambil dari alam terkembang. Disebut tanah liat, karena warna dasar batik itu adalah coklat seperti warna tanah. Adapun motif lukisan pada kain batik itu, antara lain; tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dll. Yang jelas lukisan yang tampil sebagai motif batik tanah liat bersifat lukisan non figuratif, tidak bermotifkan lambang-lambang atau simbol-simbol. Apa yang membedakan batik tanah liat itu dengan batik-batik yang diproduksi di tanah Jawa?. Di Jawa kita mengenal nama batik ; sidomukti, parang rusak, trumtum, dan nama-nama lainnya.
Ketika aku menelusuri lebih lanjut tentang batik tanah liat ini, ternyata pemakaian batik tanah liat ini telah berlangsung puluhan tahun yang lalu.
Saat ini di kota Padang, terdapat seorang pengusaha wanita yang memproduksi batik-batik tanah liat itu. Namun sayangnya, ia telah bertekad untuk membatasi produksi batik itu yang tidak seimbang dengan omzet yang ia terima. Menurutnya para ibu-ibu dari Jawa dan kota-kota diluar Sumbar sering berdatangan ke gerainya yang terletak di daerah Sawahan Padang. Merek ternyata berburu batik tanah liat itu dan dibawanya kembali ke daerah asalnya. Harganya ? diatas 500 ribu rupiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: