ACARA "BAINAI"

Acara bainai adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh seorang calon pengantin wanita (CPW), sebelum ia melangsungkan pernikahan. Pada suku Jawa, mengakhiri masa lajang seorang puteri dilakukan dengan malam “midodareni, sedangkan di Ranah Minang, dilakukan acara pemasangan inai inai pada jari-jari tangan CPW. Selain untuk menambah keindahan tangan sang CPW saat ia bersanding nanti, juga untuk menampilkan fungsi dan peran wanita dalam rumah tangganya. Sebagaimana yang tergambar dari masing-masing jari-jari tangannya, dengan diiringi doa dari para orang tua dan sesepuh keluarga termasuk saudara-saudaranya.
Acara bainai adalah sebuah mustika berharga, karena merupakan ajaran budi pekerti yang luhur. Acara ini bertujuan mendidik CPW dalam segala bentuk dan gerak dan perilaku untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia dengan senantiasa menghayati budi pekerti yang baik.
Makna pemasangan inai pada jari-jari tangan, dapat digambarkan sebagai berikut.
a. Ibu Jari : Lambang Bundo kandung, perekat rumah tangga, sebagaimana pepatah yang
mengatakan :
Bundo kandung limpapeh, rumah gadang
Umbun puro pegangan kunci
Hiasan didalam kampuang, sumarak dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hidup tampek baniat
Ka undung-unduang ka madinah
Ka payungan panji sarugo.
Maksudnya : kebahgian rumah tangga ditentukan peran isteri dalam rumah tangganya ;
sorga dibawah telapak kaki ibu.
b. Jari telunjuk : Sebagai penunjuk atas suatu budi pekerti dalam budaya minang yang
mentradisikan kepada keluarganya” Tahu nan diampek.
Yaitu : tahu rasa, periksa, malu dan sopan santun
c. Jari tengah : CPW diharap sebagai penengah dalam rumah tangganya dan
sebagai tiang penyangga.
Maksudnya sama dengan Sabda Nabi Muhammad SAW :
Wanita adalah tiang rumah tangga. Kalau wanitanya baik maka baiklah rumah tangganya.
Dalam budaya minang berlaku falsafah :
“ Kuat rumah karena sendi
Rusak sendi rumah binasa
Kuat bangsa karena budi
Rusak budi hancurlah bangsa
d. Jari manis : CPW diharap bersikap manis didalam prilaku, tutur kata terhadap
pasangannya, sebagaimana cincin yang terpasang di jari manis. Kesempurnaan wanita
akan tergambar dari sikap si jari manis, yaitu : Wanita mempunyai kekuatan bathin,
getaran dan daya tarik yang kuat dan menentukan terhadap suami sebagai nikmat yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ada pendapat yang mengatakan : “jangan dilihat
kesuksesan seorang pria, akan tetapi lihat siapa yang membuat sukses seorang pria itu.
e. Kelingking : Gambaran betapa wanita mempunyai qodrat dan kemampuan yang
lemah dibanding qodrat kaum laki-laki. , sehingga gerak dan kebebasan wanita tidak sama
dengan kaum laki-laki. Dalam rumah tangganya CPW hendaknya bersama suami membina
rumah tangga sebagimana pepatah berikut :
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,
Kebukit sama-sama mendaki, ke lurah sama menuruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: