Alam Terkembang Jadi Guru (4)

6. Kesamaan dan Kebersamaan :
Manusia dan individu membetuk masyarakat komunal, namun demikian tetap mempertahankan eksistensi pribadi dalam kelompoknya. Kesamaan antara kaum laki dan kaum wanita menurut falsafah alam ditunjukkan bahwa : Laki-laki memiliki kekuatan dan kekeuasaan, akan tetapi kaum laki-laki tidak mempunyai hak atas harta dan keturunan.Eksistensi pribadi akan terlihat masyarakat hidup berkampung-kampung dan bernagari-nagari, akan tetapi sebagai manusia dan inividu mereka hidup dalam bersuku-suku.
Manusia dan individu hidup dalam „ rumah gadang“, namun dalam kehidupan rumah gadang terdapat tata cara yang mengatur penempatan anggota keluarga. Masing-masing pasangan perkawinan hidup dalam bilik-bilik yang dibatasi oleh „lanjar’ yang ada dirumah gadang itu.
Pola kebersamaan dituangkan dalam pepatah yang berbunyi : „Duduk seorang bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang. Apa maksudnya ? Ternyata falsafah ini mengandung makna yang dalam, yaitu ketiku kita hidup menyendiri terasa dunia ini sempit, karena tidak ada orang yang datang menolong atau orang yang diajak berunding, bekerjasama, atau datang membantu. Lain halnya jika hidup bersama-sama, maka tiada kesulitan yang tidak dapat diatasi, sehingga dunia teras lapang.
Arti kebersamaan berbeda dengan arti persatuan, karena sama dan bersama dihimpun dalam suatu ikatan bulat untuk mejadi satu. Dalam menetapkan kesepakatan dalam hal perbedaan, maka diperlukanlah suatu kesesuaian yang dikenal dengan „seiya sekata

7. Seiya Sekata :

Arti seiya adalah ber .. ya..ya.. Pasangannya adalah bertidak – tidak atau ber bukan- bukan. Arti sekata adalah kebulatan kata. Seiya dan sekata mengandung arti, bahwa apabila semua individu telah menentukan kesepakatan dan kebulatan kata, maka secara sungguh-sungguh harus melaksanakannya. Bukan asal mufakat, bukan meng –iya-iya saja atau mengikuti hirarkhi dalam pengambilan keputusan. Petuah alam telah menguraikan bahwa dalam suatu kelompok hirarkhi dalam pengambilan keputusan ditetapkan sebagai berikut : „ kemenakan beraja ke mamak. Mamak beraja ke penghulu. Penghulu beraja ke mufakat. Mufakat ber raja ke alur dan patut“. Mufakat merupakan kebulatan pendapat yang diperoleh dari hasil seiya sekata tadi, sebagaimana pepatah yang berbunyi ; „ Bulat air karena buluh (bambu). Bulat kata karena mufakat“.
Dalam pengertian sosial, maka seiya sekata menunjukkan kesejajaran manusia dan individu dalam menetapkan suatu masalah. Dengan dilandasi kesamaan dan kebersamaan, maka seiya dan sekata merupakan kebultan kata yang melahirkan mufakat. Dari pandangan demokratisasi, tidak selamanya mufakat adalah hasil dari kebulatan kata. Dapat juga berasal dari perbedaan pendapat, yang dinyatakan seperti dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ; „bersilang kayu dalam tungku, disana nasi akan masak“. Maksudnya ? Api barulah akan berkobar dalam tungku, apabila kayu diletakkan saling bersilangan. Nasi yang dimasakpun akan cepat matang.
Dengan demikian suatu permusyawaratan dan permufakat yang berasal dari kebulatan kata itu
diperlukan pula pikiran yang berbeda, agar masalah dapat diselesaikan secara bersama-sama.
TamaT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: