Alam Terkembang Jadi Guru (3)

4. Awak Sama Awak :
Tidak ada kehidupan didunia ini yang tidak berkelompok, sebagaimana yang tampak pada makhluk hidup di alam raya. Perhatikan semut beriringan, burung berterbangan dan ikan-ikan berenang, bahkan binatang buas seperti harimau sekalipun akan membentuk kelompoknya. Dengan berguru kepada alam inilah, setiap individu membentuk kelompok sosial maupun dalam usaha.
Awak artinya sama dengan anggota atau kita. Awak dapat digunakan sebagai kata ganti orang pertama, orang kedua dan orang ketiga tunggal atau jamak dan lazim diikuti kata ganti personalnya, yaitu awak (den), awak (ang), awak (kau), awak (nyo). Setelah dikaitkan dengan personalnya, maka asal awak dilukiskan seperti setetes air akan menjadi air beriak, riaknya itu menumbuhkan lingkaran-lingkaran yang kian meluas. Lingkaran itu berbaur dengan lingkaran lain yang dimulai dari asal tetesan air itu.
Tiap individu hingga menjadi kelompok menamakan dirinya awak. Segalanya bermula dari awak, oleh awak, untuk awak, demi awak. Pola ini melahirkan istilah awak sama awak dalam lingkaran komunitas yang menuntut kebersamaan dan menyelesaikan setiap kesulitan. Setiap kesulitan , kepentingan, kejayaan individu, kerabat, kaum, suku kampung, nagari bahkan sealam Minang kabau merupakan kesulitan, kepentingan, kejayaan individu , kerabat, kaum, suku kampung, nagari « awak ».

5. Rasa dan Periksa :
Setelah mengukur ego dengan melawan dunia orang (harga diri), maka individu diharuskan menjaga keseimbangan yang harmonis dengan memakai ukuran, yang disebut rasa dan periksa. Artinya rasa berdasarkan ukuran perasaan yang sama, sedangkan periksa adalah ukuran pemeriksaan yang senilai.
Rasa dapat diukur ketika rasa sakit dan rasa senang. Rasa sakit dapat kita ukur apabila kita kita sakit dicubit – maka orang lain pun akan sakit. Oleh karena itu janganlah menyakiti orang lain. Pepatah menyebutkan soal ini: sakit bagi kita sakit pula bagi orang lain. Senang dapat diukur dengan pepatah : enak bagi, kita suka bagi orang.
Periksa akan memakai nilai : alur dan patut. Istilah sekarang – rasa dan periksa ini, adalah sesuai dengan sistem dan prosedur !. Bila sepanjang memenuhi sistem dan prosedur, maka pertimbangkan pula rasa kepantasan (kepatutan). Kepatutan ini dipertimbakan lagi dengan hati nurani.
Dalam sistem pemilihan pejabat negara menggunakan Uji kelayakan dan kepatutan (Fit and Proper test) tidak lain untuk menerapkan rasa dan periksa seorang pemimpin , sehingga ia dianggap mempunyai kemampuan bila telah melalui pengujian ini.
Bila seandainya raso jo pareso itu, tidak mungkin dilaksanakan, maka dapat memakai cara lain. Pepatah mengungkapkan ;“kita mendapat, orang tidak kehilangan“. Artinya, kita dapat berbuat sesuatu yang kita ingini, tetapi orang lain tidak merasa dirugikan. Tindakan ini bersifat pasif dibanding „ Rasa dan Periksa“ . Apakah itu ? ialah „tenggang rasa“.

Bersambung : ……….. Kesamaan dan Kebersamaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: