Alam Terkembang Jadi Guru (1)

1. Manusia dan Individu :

“ Alam terkembang jadi guru”, demikian falsafah yang dianut oleh suatu etnis dari beberapa etnis besar yang ada di Indonesia. Falsafah ini “unique”, karena sebagai panutan dan pelajaran hidup manusia dan individu, memetik dari suatu kejadian, peristiwa dan proses alam. Manusia adalah subyek hukum yang memiliki fungsi dan peran yang berbeda menurut kodrat dan dan harkat yang diberikan alam kepadanya. Secara sosio psikologi, kemampuan munusia dalam berbuat sesuatu tidaklah sama. Seperti halnya contoh yang diberikan alam, ada bermacam-macam buah yang berbeda bentuk dan rasanya. Begitu pula bagi makhluk hewan, ada yang jinak dan ada yang buas.

Secara berkelompok atau sendiri-sendiri, manusia memerlukan sandang, pangan dan papan untuk memenuhi kebutuhan lahir dan bathin. Bagi manusia pembedaan pandangan terhadap setiap individu, ditentukan oleh prestasi dalam berusaha dan berikhtiar, agar ia menjadi mulia, ternama, pintar dan kaya. Namun dari sisi budi daya, setiap manusia atau orang dipandang dalam status yang sama. Dalam falsafah berguru kepada alam, maka setiap manusia menempati posisi tegak sama tinggi dan duduk sama rendah, begitu kata petuah mereka. Lebih lanjut petuah itu memberi arahan kepada individu,bahwa sebagai makhluk sosial agar masing-masing individu dapat mencapai kemuliaan dengan petuah yang terurai sebagai berikut :
“ Jika hendak mulia – harus suka memberi, jika ingin ternama (terkenal) dirikan kemenangan, jika mau pandai rajin berguru, jika ingin kaya harus kuat berusaha.”

Bila kita kembalikan kepada falsafah alam, apakah pencapaian prestasi ini semata-mata usaha dan upaya manusia ? Contoh yang diberikan, menunjukkan dari pohon yang jenisnya sama akan dihasilkan buah yang sama. Namun ternyata kualitas yang dihasilkan tidak selalu sama. Mengapa ? Karena dibutuhkan pupuk dan cara pengolahannya. Demikian pula dengan manusia yang menjadi “besar” karena “dibesarkan”. Maksudnya seseorang yang mencapai prestasi karena dibantu dan ditopang orang lain.
Menurut strukturnya, seseorang adalah individu. Semua individu adalah anggota masyarakat etnis dan lingkungan sosial. Setiap individu pada masyarakat yang komunal seperti di Ranah Minang, misalnya, maka setiap individu adalah milik masyarakatnya dan masyarakat itu adalah milik bersama bagi setiap individu. Oleh karena saling memiliki, maka kedua belah pihak tidak dapat saling menguasai. Hal ini dapat ditunjukkan pada pemilikan harta yang berada dalam aturan dan ketentuan yang unik. Untuk menghindari disharmoni yang tidak sesuai dengan ajaran alam, maka secara unik dibentuk sistem kekerabatan dan ekonomi komunal berdasarkan paham etnis yang menganut stelsel matrilinial serta sistem perkawinan antar etnis dengan cara eksogami.

2. Harga Diri – pada Individu yang berguru kepada Alam :

Sifat ego manusia timbul manakala meletakkan seseorang, agar menjadi berarti dan penting atau setidak-tidaknya sama dengan orang lain, ketika timbul amanat agar hidup bersaing terus menerus dalam mencapai kemuliaan, kepintaran, dan kekayaan seperti yang dimiliki oleh orang lain. Petua alam itu menyatakan :
“Ingin mulia bertabur urai. Ingin ternama dirikan kemenangan. Ingin pintar rajin berguru. Ingin kaya kuat berusaha.”
Akibatnya nilai yang dicapai pada persaingan itu adalah melawan dunia orang. Yaitu bila orang mampu tentu kita mampu pula. Sebaliknya bila kita mampu tentu orang lain mampu pula. Melawan dunia orang – adalah suatu sikap yang menanamkan bawa persaingan hidup itu penting, akan tetapi banyak petuah yang mengingatka agar setiap individu menjaga keseimbangan yaitu ; kurang adalah ke sia-sian dan berlebih adalah kegialaan. Artinya kesia-siaan bila merasa kurang dari orang lain. Ini yang disebut rendah diri. Akan tetapi juga adalah suatu kegilaan bila menganggap diri lebih dari orang lain. Sebab manusia mempunyai keterbatasan, yaitu :

Bila menjangkau hanya serentang tangan,
Memikul sekuat badan,
Melompat seayun langkah,
Berkata sepanjang akal

Maksudnya; dalam hidup persaingan diperlukan pengetahuan atas kemampuan diri, yang lazim disebut “tahu diri” (mawas diri).
Oleh karena itu ada petuah memberi peringatan : “yang besar jangan melanda, yang maksudnya mentang-mentang orang besar atau kuat jangan meremehkan orang yang kecil dan lemah, karena orang kecil itupun tahu harga dirinya.
Jadi harga diri pada setiap individu yang berguru kepada alam adalah sifat individu yang senantiasa menjaga keserasian antara keinginan (ego) dan kedudukannya serta mengukur antara kemampuan yang dimiliki dengan keinginan melakukan persaingan dengan pihak lain.

Bersambung ke : Malu yang tidak dapat dibagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: