Hari kelima :Hari raya idhul Fitri – 12 oktober 2007


Ternyata masayarakat yang memilih lebaran pada hari ini, tidak terkira jumlahnya. Penduduk kota yang akan berlebaran hari ini, dipusatkan di Lapangan Iman Bonjol – Padang. Hampir setiap tahun terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal. Dan dari sejak semula perbedaan itu terjadi, pada tahun 2000 an, aku sudah menyatakan bahwa aku menjadi jemaah “ Muhammadyah”. Alasan yang dikemukan oleh para ulama dan ahlinya, cukup meyakinkan diriku mengikuti jadwal yang ditetapkan Muhammadyah itu. Menu lebaran yang kami hidangkan adalah Lontong sayur dengan gulai nangka, gulai paku, rendang, kalio ayam, pindang telur. Kami tidak bersilaturahmi ke seluruh keluarga, mengingat perbedaan 1 Syawal. Karena itu pada siang harinya guna mengisi lebaran pertama di kota Padang, kami berdarmawsata ke Danau Maninjau melalui Padang Panjang, Bukit Tinggi. Waktu sholat Jum’at tiba, maka Di Lembah Anai, anggota rombongan mande-mande dan anak cewek menunggu Bapak-bapak dan anak-anak cowok melakukan sholat Jumat di sebuah Mesjid yang tidak jauh dariair terjun itu. Kami bermain-main di air terjun yang indah itu.

Untuk menghidupkan suasana, aku berkata pada anak dan keponakanku yang terdiri para gadis remaja :

“Hayooo…, siapa yang ingin sering pulang kampung, cucilah mukanya dengan air terjun ini”. Mereka berebut mencuci mukanya dengan air yang jernih itu mengikuti saranku. (hemmm ..mereka berharap dapat sering pulang kampung, rupanya..).

Bahkan aku berkata pada mereka : „Hayooo…siapa yang ingin cantik seperti Tarmara Blezinski…” Mereka pun segera mencuci mukanya dengan aliran air terjun… Aku dan anak-anak serta para keponakan cewek-cewek itu , menjadi ramai… suasana menjadi suka cita disertai gelak dan tawa. Mereka tahu bahwa “Mama Evi” itu memang suka bercanda dan bahkan membohongi mereka. Kami makan siang di Sate “ Mak Syukur”. Ternyata restoran ini juga merayakan hari rayanya pada hari Jum’at itu. Sate Mak Syukur berwarna kuning cukup menerbitkan selera. 1 Porsi sate membuat perut sangat kenyang. Bagi pemudik dimanapun, ia pergi merantau tentu terasa kurang afdhol bila tidak mampir makan sete “ Mak Syukur ‘ Ini.
Jalan menuju Maninjau dari Padang panjang, kita belok kiri di daerah “Padang Luar”. Jalannya menuju Maninjau itu, sempit dan sangat indah dengan hamparan padi menguning disepanjang jalan. Memasuki Maninjau, hari hujan dan udara dingin. Kami berhenti di puncak “Embun pagi” untuk melihat suasana danau Maninjau dari puncak bukit. Namun karena hujan, danau maninjau tidak dapat terlihat dari puncak Bukit.
Ulil Amri, anakku sedikit kecewa, karena ia gagal membidik keindahan alam minangkabau, dengan camera digitalnya. Anggota rombongan kami sebesar 25 orang beristirahat di kaki bukit itu sambil minum teh susu, indomie rebus dan goreng kacang yang disediakan warung tempat kami nongkong . Entah apa yang menyebabkan perut anggota rombongan serasa lapar terus. Mungkin karena suasana dingin alam maninjau yang indah itu. Menuruni jalan berbelok patah, mobil harus hati-hati dikemudikan. Jalanan ramai.
Biasanya disepanjang kelok 44, banyak monyet- monyet berkeliaran. Namun karena hujan, kali ini tidak ada monyet-monyet kecil yang menyambut para pelalu lintas di kelok 44 itu. Biasanya monyet-monyet akan saling berebut menerima lemparan kacang goreng dari mobil pelalu lintas.
Lantas aku bergurau pada anggota rombongan. Hei .. tau gak… karena gak ada monyet-monyet…yang menyambut kita, maka …sekarang kacangnya dimakan baruak-baruak...deh. Semua jadi geli tertawa karena.. tidak menyangka bahwa kacang yang semual untuk para monyet itu kami makan dengan gencarnya. Tampaknya para monyet itu takut bertemu dengan baruak – baruak dari Jakarta…. Ha… ha….
Ha… Walaupun sedikit kecewa, aku menghibur anak-anakku… bahwa dengan kita tidak dapat menyaksikan danau maninjau saat ini, berarti kita harus berkunjung lagi .. dilain kesempatan. Anak-anak menyambutnya dengan… Amin………… Dari danau maninjau kami meneruskan perjalanan pulang kekota Padang melalui Tiku, Nareh, Pariaman dan terus Padang. Disini aku mencemookan kerabat kami yang rang Piaman asli. Aku bilang sama mereka : Sekarang gak ada lagi “ Piaman Laweh”. Mengapa ?? karena wilayah “ Tiku” yang kami lalui itu, semula termasuk wilayah kabupaten Pariaman. Akan tetapi sekarang telah menjadi wilayah Kabupaten Agam – Bukit Tinggi. Dalam perjalanan keliling itu, akhirnya kami sampai di Kota Padang jam 21.00.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: