” bidikan konggaha’a di Bumi Mekongga “
Suku Mekongga dan suku Tolaki itu ternyata berbeda, sebab suku Mekongga merupakan orang asli Kolaka dan suku Tolaki merupakan orang asli Kendari. Perbedaan kedua suku itu dari bahasa dan maknanya. Dari segi makna yaitu kata to mekongga berarti orang yang membunuh burung elang raksasa yang disebut Burung Konggaha’a. Demikian yang saya baca dari sebuah blog milik pemuda Mekongga.
Melihat paras muka mereka yang cantik, putih bersih – halus – bermata sipit – namun rambutnya hitam legam, kita sudah dapat mendunduga bahwa mereka berasal dari ” Vietnam – hulu atau hilir sungai Mekong ( kalee lho … ya karena aku bukan ahli sejarah).
Namun berkunjung ke negeri SUKU MEKONGGA DAN TOLAKI, kita mendapat pengalaman tentang kultur mereka yang juga memiliki kedekatan dengan penciptanya, melalui ritual adat pada umumnya. Elit masyarakatnya berasal dari garis keturunan ” Wasasi Wesabenggali atau kerabat Raja dari golongan To’Manuru yang ditugasi untuk melakukan segala ritual adat suku Mekongga yang disebut Mbusehe atau Mbuakoy. Keelebihan yang dimiliki kalangan ini ialah mereka akan membaca mantra-mantra sebagai prasyarat dalam sebuah prosesi Mosehe Wuta atau Mobeli Wuta.
Sementara itu, kelengkapan prosesi adat ritual yakni disediakan seekor kerbau yang akan dikorbankan, kain kaci, daun-daunan seperti daun doule, sirih, towoa dan ulondoro, kapur sirih, serta buah pinang.
Yang menjadi pertanyaanku ialah mengapa semua masyarakat tradisonal di Indonesia selalu mengandalkan sirih dan pinang dalam setiap ritual adatnya ? Ayoo coba dijawab…
Barangkali itulah informasi yang saya dapatkan, dikala berkesempatan berkunjung ke “ Negeri Tanah Merah ‘ – Pomalaa - dimana saya doeloe pernah menjalani masa remaja saya di kawasan ini.
Saya tiba di kota Kendari pada jam 18.00, setelah menaiki penerbangan si Raja Ngaret. Saya berseru gembira, ketika dalam perjalanan malam selama 4 jam Kendari – Pomalaa, menyaksikan rakyat sedang menari “ lulo “ – tarian khas suku Tolaki. Tarian ini sangat digemari orang Jepang (vendor, nakhoda kapal tangker, Buyer PT ANTAM ) – bila mereka datang menghadiri acara yang diselenggarakan UPN – ANTAM Pomalaa dulu. Entah ya.. apakah tradisi ini masih ada… ? saya ndak tau.
Terseret seret si Jepang itu – jika langkahnya tak sesuai dengan irama musik. Demikianpun saya pernah ikut mencoba ikut acara orang dewasa itu (maklum kala itu – belum banyak remajanya dibdaning sekarang). Kami ikut menari LULO tidak dengan menggunakan gendang – melainkan dengan musik irama Latin LA PALOMA.
Kendari – Kolaka, jalannya mulus – beraspal dan berliku liku. Sungguh berbeda dengan 40 tahun yang lalu. Saya gembira menikmati perjalanan dimalam sunyi melewati hutan Bumi Tolaki dan Mekongga.. Mestinya demikianlah hendaknya jalan diseluruh Sultra agar sama dengan di Jawa dan di Sumatera. Akan tetapi ketika melewati Kolaka menuju Pomalaa, hati saya terenyuh. “ Kok jalannya tidak jauh berbeda dengan 40 tahun yang lalu ya… masih kecil dan sempit meski sudah beraspal.
Melewati Wundulako – Baula – Peusoa.. badan saya nan gaek ini – mulai terombang ambing ba’ dihantam gelombang. Apalgi masuk Dawi dawi….. aspal sudah tak tampak karena jalan itu memang buruk.. bergelombang. Bathin saya berkata ;..Duh.. bagaimana calon penghuni kawasan ini ..? bisa betah gak ya…. Heemmmm … ternyata kawasan ini belum banyak perubahan. Kemudian sayapun termangu-mangu “ Sekarang kok ada dumptruck milik perusahaan Swasta ya… Wah…. inilah buah reformasi dinegara kita. Tidak ada lagi bunyi pasal dalam UUD 45, bahwa bumi, laut, kekayaan Indonesia dikuasai negara dan dimanfaatkan…dstnya
Saya tiba di Pomalaa, mendekati jam 00.00. Suasana hening.. para penghuni rumah dinas sedang tidur lelap – beristirahat selepas rutinitas kerjanya. Dari kejauhan terdengar deru turbin pabrik dan melintasi kawasan pabrik terbaca lah “ proyek vital .. yang tentunya pengamanannya menjadi urusan negara….
Apa yang terpikir dipagi hari pertama saya di POMALAA itu…? Saya ingin ke desa TAMBEA. Saya ingin bernapak tilas ke desa ini, ketika 37 tahun yang lalu saya meninggalkannya – saya menyimpulkan adanya kehidupan yang unik dari suatu etnis yang hidup di Laut yang bernama SUKU BAJO.
Masyarakat setempat menyebutnya demikian karena Suku ini dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup matinya berada diatas lautan. Bahkan perkampungan merekapun dibangun jauh menjorok kearah lautan bebas, tempat mereka mencari penghidupan. Sebenarnya mereka tersebar diseluruh pesisir pantai di wilayah timur Indonesia. Suku Bajo, identik dengan air laut, perahu, dan permukiman dia atas air laut. Laut bagi mereka adalah satu-satunya tempat yang dapat diandalkan. Julukan bagi mereka sudah barang tentu ” sea nomads “.
Satu lagi yang saya rindukan, suara ibu – ibu menjajakan ikannya. Dulu saya ikut berucap kepadanya :
ta siaga balle ta….
Selain itu saya ingin menunjukkan pada puteri saya bahwa ciri khas anak – anak Bajo adalah rambutnya kering dan pirang…
Itulah hari hari saya di Pomalaa – setiap hari beli ‘ ikang “ – lama lama karena kebanyak – dibuat ikan asin – dan akhirnya jadi oleh oleh pulang ke Jakarta.
Ketika berkesempatan berdialog dengan mereka di Tambea ” mengapa mereka tinggal diatas laut ?
Mereka berkata : bahwa laut hanyalah dimiliki ALLAH, sedangkan tanah pantai dimiliki oleh penduduk setempat. Agar tidak menciptakan konflik, maka biarlah kami menetap dipinggir laut saja… Karena itulah dengan bidikan kamera – saya bernapak tilas ke perkampuangan nelayan dan menemui masyarakat SUKU BAJO ” di desa TAMBEA itu …
Didesa itu saya menyaksikan kepedulian UB – ANTAM dalam pembinaan masyarakat setempat, yaitu Pembangunan rumah penduduk sehingga kualitasnya melebihi layak huni. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial PT ANTAM terhadap masyarakat sekitar. Penebaran batu “ sleg” sebagai upaya reklamasi bagi perahu nelayan yang merapat di pantai. Nah.. dari pantai Tambea pula – kita menikmati kumpulan pulau – pulau ; pulau padamarang, pulau maniang, pulau santigi – yang kayunya – dulu digemari oleh para awak kapal tangker jepang karena kayu itu halus dan indah,
Dari tepi pantai Tambea ini, saya menyaksikan kapal tangker – pengangkut nikel KP Swasta ke China (?). Seorang alumni yang berdomisili di Balikpapan memperhitungkan bahwa :
“ jika setidaknya ada 7 kapal yang lagi ngantri untuk loading…jika satu kapal cap 60.000 Ton, maka untuk 7 kapal = 420.000 Ton. Hampir tidak mungkin kan kapal2 itu ngantri sebulan lamanya hanya untuk loading…bandar kapal pasti rugi dong kalo nunggu lama. Bisa jadi nilai di atas untuk 2 minggu operasi, trus sebulan berapa banyak…setahun??…Lama2 Pomalaa dan sekitarnya hilang dari peta sulawesi… ( maaf Yudhi – saya mengutip komen mu secara utuh ).
Nah.. inilah yang saya pikirkan saat itu… perbukitan bumi mekongga bisa – bisa abis terkikis – kandungan bijih nikelnya pun belum tentu memenuhi syarat. Tapi sudahlah … saya kan.. hanya ingin bernapak tilas – menikmati masa masa remaja di Pomalaa saja kok… Biarlah ada pihak lain yang membaca suasana perusakan lingkungan ini…..
Dikala senja hari – matahari di pantai Tambea seakan akan malu malu karena tertutup awan. Sebenarnya saya ingin mencicipi keindahan matahari seperti jeruk di pantai Tambea ini. Demikian judul album foto saya … Akan tetapi niat menikmati sunset tidak kesampaian.. mudah-mudahan saya dapat menikamati dihari lain dan ditempat lain….. Aamiin….
Bagi saya kisah ini ingin menggambarkan suasana Pomalaa terkini. Barangkali ada diantara kita yang sudah tidak ada berkesempatan kesana lagi. Saya memang penyuka budaya dan travelling… jadi inilah yang ingin saya sampaikan…
-
-
Yudy Hendri Eko Purwanto” Tres Bien” kata orang Prancis mbak..Komplit banget, belasan tahun saya domisili disana bahkan tidak pernah saya memahami sedalam ini budaya Tolaki dan Mekongga….Anyway, thanks inserting my comment inside. It is nothing compare to your essay.31 Maret jam 22:41 · Suka -
Yuni Dwi Budisantosokak evy katax org tolaki dan mekongga “Tarimakasi hae sabeanggu”..membaca essay kak evy RASAx sy ikut serta dlm perjlnan kakak sangat membekas dihati dan dipikiranku sambil menerawang jauh mengingat masa kecil sy di POMALAA TANAH MERAH…@kak evy : sy lahir dan bsar di TANAH MERAH itu saya asli perpaduan antara Mekongga dan Tolaki..saya terakhir di Ppomalaa thn 1996 dan melalang buana (merantau) ke tanah jawa sampe skarang klupun pulkam hanya sampe kendari sj tp perna sy kepomala… -
Yudy Hendri Eko Purwantobanyak hal yang bisa di ceritakan perihal Pomalaa, misalnya bagaimana multi etnis bisa hidup berdampingan bak sebuah keluarga besar. Kemudian bagaimana anak2 pomalaa, berjuang mencapai cita2 mereka, sementara semua informasi pendidikan san…Lihat Selengkapnya02 April jam 18:54 · Suka · 1 orang
Desember 13, 2011 pada 4:18 pm
Mbak evy dan kawan-kawan lannya, Mekongga dan Tolaki tidak berbeda. Tolaki adalah Etnis asli mayoritas yang mendiami daratan jazirah Sulawesi Tenggara yang tersebar di dua ex-kerajaan yaitu Kerajaan Konawe dan Kerajaan Mekongga. Seperti etnis lainnya, orang Tolaki yang tinggal di eks Kerajaan Konawe disebut orang konawe dan orang tolaki yang tinggal di eks Kerajaan Mekongga disebut orang Mekongga. dikotomi Mekongga dan Tolaki dimunculkan disekitar tahun 2000-an oleh kelompok elit yang tidak bertanggung jawab ingin mengaburkan sejarah orang Tolaki karena terkait dengan berbagai kepentingan misalnya ; politik, arogansi etnosentris dll. Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan kebijakan pemerintahan, terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam strategi pengolahan sumber daya alam di Kolaka terutama potensi pertambangan nikelnya. Dimana Pemerintah Daerah merasa perlu memberikan peluang investasi kepada pihak swasta lain selain BUMN. Namun kebijakan tersebut tidak dibarengi dengan ketatnya pelaksnaan peraturan maupun ketentuan lain yang mengatur tentang kaidah-kaidah pengelolaan industri pertambangan yang benar. Disana-sini dapat kita temui kerusakan lingkungan akibat banyaknya bukaan lahan yang tidak terkendali disekitar jalur hijau (Pesisir pantai teluk mekongga) yang disulap menjadi stock file serta pelabuhan/outlet para “pedagang ore”. Pertanyaan kritisnya adalah siapa yang akan bertanggung jawab ???? jika para aparat pemerintah, legislatif, aparat lainnya juga ikut bermain dalam kancah “perdagangan tanah” di Pomalaa yang bertameng “orang lokal” (Pihak Imigrasi Perlu ketegasan terhadap keberadaan orang2 asing di Pomalaa). Masyaallah !!!!! Pomalaa di ambang kehancuran tidak hanya lingkungan, tatanan sosial juga cepat atau lambat juga akan ikut rusak dan yang akan paling berisiko menanggung efeknya adalah Perusahaan yang akan beroperasi dalam waktu yang lama sebut saja Antam……
Januari 3, 2012 pada 8:27 pm
itu orang mekongga sama ji orang tolaki.. tapi orang orang dulu bilang mereka itu “o ata” atau bisa di bilang kaum bawah kalau tidak percaya tanya orang tua yg sudah ubanan.
pisss nenek yg bilang.. dia keturunan mokole jadi tau banyak.
Januari 14, 2012 pada 1:37 pm
wah salah tuh…yang digelari “o ata” itu orang Moronene dik….jadi salah besar kamu mungkin nenekmu keturunan mokole palsu yang gak tau sejarah orang Tolaki. Saya ponakan Prof. DR. Abd. Rauf Tarimana (antropolog Tolaki asal Mekongga) jadi tau tapi bukan om saya yang bilang tapi sejarah….