Sarang laba-laba

Saya terinspirasi dari catatan Buya Mas’oed Abidin mengenai Dunia ini Fana…. Tidak ada yang kekal  dan abadi. Begini  uraiannya ;

” Dunia ini fana, tidak ada kekekalan di dalamnya, cukuplah kamu mencari apa yang cukup kamu makan dan ( cukup untuk mencari ilmu – pen ),  guna menguatkan,  karena sesungguhnya dunia ini bagaikan rumah di mana kain selendangnya seperti sarang laba-laba — rumit, ruwet, berseliweran — , tetapi kekuatannya  sangat sedikit — lemah dan tidak bertahan lama — maka semuanya pasti akan punah.

إنمـا  الدنيـا فنـاء ليس للدنيـا ثبوت

لقد يكفيـك منها أيها الطـالب قـوت

إنمـا الدنيـا كبيت نسجته العنكبـوت

ليـس إلاَّ في قليـل كل ما فيهـا يمـوت

Lakukan perbuatan amal baik (amalus-shaleh) yang banyak. Di sini kita menanam. Di akhirat Insyaallah kita akan menuainya .

Bagi saya falsafah laba – laba itu sangat bagus untuk aktivitas profesional. Dibidang usaha – jika pengusaha tidak memiliki jaringan atau aliansi dengan pihak lain, maka diyakini bisnisnya akan mengalami stagnasi. Sehingga mungkin di skala produksi lancar namun di skala distribusinya akan terhenti.  Oleh karena itu membangun jaringan bisnis erat kaitannya dengan kerjasama. Orang Marketing sangat memahami benar manfaat jaringan ini.

Kata ‘ nettworking ‘ adalah jejaring dan lebih lekat pada kegiatan bisnis. Cara mengaplikasikan jaringan bisnis ialah melalui kerjasama. Berbagai macam system kerjasama, diantaranya :  bagi hasil, konsinyasi, dan komisi dalam satu titik tengahnya mencari keuntungan.  Model jaringan laba-laba inilah  yang dibangun oleh dunia industri dan pebisnis dunia. Sistem konglemarasi – membuat jaringan diseluruh  lini; produksi – distribusi – transportasi hingga sampai ke pihak konsumen. Apa yang kita ketahui tentang prilaku konglomerat ?.  Indonesia hancur dihantai badai krisis moneter.

Karena saya bukan ekonom, apa yang menjadi kiat tatkala Indonesia lolos dari pengaruh Krisis Globalisasi.

Ekonomi liberal membangun perekonomian dengan sistem laba – laba .  Ini yang membuat perekonomian di negara kita carut marut oleh  penguasa dan pengusaha dunia.  Ekonomi Indonesia belum saat  di liberalkan, karena income per capita nya masih rendah. Erupsi dari ekonomi liberal tidak menyentuh masyarakat bawah,  kecuali segelintir masyarakat. Itupun semu. Tidak ada   Usaha Kecil dan Menengah yang mampu masuk pasar bebas. Mereka tersangkut dan terlindas oleh pebisnis raksasa itu.

Saat kinipun ada yang mengkawatirkan kita semua, disaat pada kalangan usia muda dan produktif – generasi ini memiliki simbol simbol kesuksesan semu dan tidak mendasar. Bukan tidak mungkin akan muncul gelombang krisis moneter kedua yang entah kapan itu terjadi. Tidak usah jauh jauh, Warung warung kecil dengan modal pas pasan terlindas oleh bisnis waralaba yang bertebaran diseluruh pelosok negeri.

Begitu pentingnya membangun jaringan ini, pemerintahpun tidak kurang pula membuat konsep ” Jaringan Pengaman Sosial”  (Social Nett working) untuk menjaga stabilitas keamanan masyarakat dan meredam gejolak sosial dengan konsep ini.  Program ini mendunia tatkala terjadi krisis moneter atau krisis globalisasi.

Sejauh mana kita memahami ‘ jaringan pengamanan social ini ?.

Sederhana saja dapat saya gambarkan. Jika anda memberikan sekedar uang receh kepada pengemis, maka sebenarnya Anda telah melakukan jaringan pengaman sosial kepada mereka dan bermanfaat pula untuk diri Anda . Anda tidak akan diganggu oleh kekecewaannya, bila pengemis itu dilecehkan karena mengemis adalah profesinya.  Tidak sulit memberi pada yang susah, meskipun terkadang kita susah untuk memberi kepada manusia yang bermental pengemis.

Dalam mengadapi itu semua, Allah telah mengetahui  setiap kejadian dan seisi alam semesta ini jika kita mampu berguru kepada alam. Falsafah berguru kepada alam sangat pas mengumpamakan prilaku makhluk Tuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran dengan sempurna  yang terdapat dalam Surah Al Ankabut ayat 41 :

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Saya memaknai firman Allah ini, bahwa bila kita terlalu berlindung kepada  materi  dan kekayaan yang tersedia yang selama ini  kita upayakan, sehingga menganggap materi itulah yang akan melindungi kita, maka sesungguhnya kekayaan dan materi akan menjadi cobaan bagi. Kita tersangkut pada kekayaan materi itu, sehingga  kita lupa dan lalai kepada Pencipta Alam semesta ini.

Allah mengatakan lebih lanjut “ Dan perumpaan – perumpamaan ini,  Kami buat untuk manusia dan tidak ada yang akan memahaminya, kecuali mereka yang berilmu. (QS : 29 ayat 43)

Akhirul kata, tatkala saya memohon izin lebih dahulu kepada Ulama ini atas thema sarang laba laba ini, untuk dituangkan lebih dalam tentang falsafah laba – laba, Buya Masoed berkata kepada saya :

” Rangkayo Evy .. Al Quran yang dikirim Allah untuk kita melalui junjungan kita Nabi Muhammad SAW itu, sangat lengkap untuk membangun Rahmatan lil Alamien.

dan saya menjawabnya : ” Insya Allah ….. saya sadar untuk memahaminya

Puspiptek, Serpong, 19 Mei 2011


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.