Pada suatu ketika, sebuah keluarga mendapat kunjungan 3 orang tamu dirumahnya. Keluarga itu tidak mengenal para tamunya. Raut wajah atau profil mereka pun berbeda-beda, sesuai dengan peran yang dijalaninya. Meskipun keluarga itu tidak mengenal secara mendalam siapakah tamunya, namun mereka mencoba menyambut ramah para tamunya itu.
Berkatalah wanita didalam keluarga itu kepada tamunya. Ia adalah seorang isteri dan ibu dari anak-anaknya.
“ Mohon maaf sebelumnya…para tamuku yang terhormat. Aku tidak mengenal Anda. Apa yang bisa saya lakukan terhadap Anda ?. Marilah masuk kedalam rumah kami.
Dengan tawaran sang nyonya rumah yang bergitu santunnya, maka masukkah ketiga orang tamy itu kedalam rumah itu. Kemudian nyonya rumah itu menyapa kembali para tamunya.
” Dari wajah kalian, terlihat bahwa kalian telah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Sehingga kalian perlu saya suguhi sesuatu yang dapat melepaskan haus dan dahaga kalian.
Dengan takzim para tamu menyambut ajakan wanita yang baik itu, kemudian salah seorang tamu itu bertanya ;
“ Bisakah kami bertemu dengan suami Ibu ?.
“ Tidak … Ia belum pulang, jawab wanita itu.
“Baiklah,.. kalau begitu, kami menunda pertemuan ini pada kesempatan berikutnya.
Selang beberapa waktu kemudian, pulanglah suami atau ayah di keluarga itu. Sesaat itu pula Wanita itu menceritakan ikhwal kunjungan para tamu itu kepada Suaminya. Suaminya memberikan respon yang baik atas kunjungan tamu di sore hari itu.
Berkatalah ia kepada isterinya : “ Sebaiknya kita atur saja pertemuan dengan para tamu itu, agar kita mengetahui maksud kunjungannya. Kalau perlu kita hidangkan mereka dengan hidangan makan malam yang lezat-lezat. Saya menduga ia akan memberikan keberuntungan terhadap kehidupan kita.
Demikianlah disepakati bersama, sebuah pertemuan menurut jadwal yang direncanakan antara Tuan rumah dan para tamunya.
Pada hari yang dijadwalkan datanglah para tamu itu. Salah seorang mereka memperkenalkan teman-temannya, Mereka bernama : Kekayaan, Kesuksesan, dan Cinta.
“ Hemmmm.. aneh juga nama-nama para tamuku ini, gumam pasangan suami isteri.
“ Baiklah, kalau begitu, siapakah diantara kalian yang mesti kukenal lebih dahulu..?, kata sang nyonya mengawali perbicangan. Ternyata suaminya menginginkan KEKAYAAN – yang lebih dahulu untuk diajak berkenalan dengan mereka,
“ KEKAYAAN.. Silahkan engkau memperkenalkan dirimu. Mungkin engkat bisa membantu aku untuk mendapatkan harta yang berlimpah. Keluarkalah kiat-kiatmu…!!, demikian seru sang Suami dengan bersemangat.
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu, namun sesaat kemduian Ia berkata :
“Tunggu dulu sayangku, mengapa kita tak mempersilahkan KESUKSESAN saja untuk berkenalan dengan kita lebih dahulu? Kita tak memerlukan KEKAYAAN lagi. Sebab kita memerlukan dia untuk membantu keberhasilan apa yang sudah kita raih selama ini.
Ternyata, anak-anak mereka mendengarkan percakapan itu.Mereka telah mengamati semua tamu-tamu orang tuanya itu. Mereka menilai tamu yang bernama CINTA memiliki profil wajah yang lembut dan menyejukkan. Berbeda dengan wajah Si KEKAYAAN yang sangar dan temperamental. Demikian pula si KESUKSESAN yang sombong dan angkuh. Akhirnya mereka mencoba mengusulkan kepada ayah dan bundanya – siapakah diantara mereka yang lebih dahulu diajak bicara.
Kata mereka : “ Ayah dan Bunda….Alangkah baiknya, jika kita mengenail CINTA lebih dahulu. Bukankah Ayah dan Bunda akan lebih nyaman dan hangat jika berbicara dengan CINTA. Kita semua akan mendapatkan kunci keharmonisan, kebahagian dari padanya di keluarga kita.
Suami-istri itu terkesima dengan pernyataan buah hati mereka yang ternyata sangat cerdas itu.
“Baiklah anak-anaku, marilah kita berbicara dengan CINTA . Dengan CINTA kita bersantap malam bersama.”, kata sang ayah.
“ Dengan CINTA kita bercengkrama dan bersenda gurau “, kata sang Bunda
“ Dengan CINTA kami berdampingan dengan ayah dan bunda” , kata anak – anak mereka.
Setelah keluarga itu menemukan kesepakatan, maka berbicaralah Wanita/isteri itu dengan para tamunya.
“Siapa diantara kalian yang bernama CINTA? Ayo, silahkan bicara. Anda menjadi tamu terhormat kami pada malam ini.”
CINTA pun bangkit. Dan…… seketika itu pula tamu yang bernama KEKAYAAN dan KESUKSESAN serta merta bangkit pula.
Ayah – Bunda serta anak-anak mereka terheran-heran melihat gelagat tamu mereka itu. Apa gerangan yang terjadi ?. Salahkah mereka dengan menjatuhkan pilihan terhadap CINTA ?.
Karenamelihat ada sesuatu reaksi diluar perkiraan mereka, maka bertanyalah Nyonya Rumah itu itu kepada si KEKAYAAN dan si KESUKSESAN.
“Aku hanya ingin mengenal lebih banyak tentang CINTA, sesuai dengan harapan anak-anak ku. Mengapa kalian berupaya pula untuk menyamai CINTA ?.
Kedua orang tamu yang bernama KEKAYAAN DAN KESUKSESAN itu menyahut secara bersamaan.
“ Ibu .. sesuangguhnya Anda adalah seorang isteri dan sekaligus Bunda dari anak-anakmu. Anda telah menjalankan tugas selaku tiang utama dalam rumah ini. Kami berdua ( sambil menunjuk dirinya dan temannya) yaitu KEKAYAN DAN KESUKSESAN berkunjung kerumah Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda saat ini. Ternyata Anda memilih CINTA, dari pada KEKAYAAN dan KESUKSESAN. Kami berdua akan selalu mengiringi sampai dimana dan kemanapun CINTA berada. Dimana ada CINTA, disana ada KEKAYAAN dan KESUKSESAN.
Kemudian Keduanya KEKAYAAN dan KESUKSESAN) melanjutkan perbicangannya lagi.
“ Ketahuilah… sesungguhnya kami berdua ini buta – mata dan buta hati. KEKAYAAN tidak bisa berjalan sendiri tanpa diiringi CINTA. Demikian pula KESUKSESAN akan berjalan meraba-raba jika tidak didampingi CINTA. Dengan CINTA lah, kami bisa melihat. Hanya CINTA yang bisa memberi petunjuk arah kebenaran. CINTA – adalah mata untuk kekayaan dan kesuksesan secara benar. CINTA lah yang menjadi Inspirasi bagi kehidupan kami . CINTA berjanji membimbing kami saat kami menapaki perjalanan panjang kehidupan kami.
Seketika itu pula, puaslah keluarga itu mendengar penjelasan para tamunya. Didalam keluarga itu, mereka bersepakat bahwa mereka akan selalu mendahulukan CINTA dalam silaturahmi mereka. Bahkan bila perlu – mereka akan mewariskan kepada keturunan mereka sebagai warisan hati nurani yang tak ternilai harganya. (anonymous – hh).

Lidah, mulut dan bibir adalah tiga serangkai yang ber sinergi untuk bekerja sama sebagai indera manusia, yaitu indera wicara dan indera pengecap. Kerjasama anggota tubuh ini juga saya lakukan ketika saya menghisap Asi eksklusif ibu saya, ketika pertama lahir kedunia ini. Kemudian secara berturut – turut saya makan dan minum dari mulut. Berbicara dan berkomunikasi melalui lidah. Terkenal dan diperbincangkan karena bibir, yang disebut buah bibir. Berkata yang baik atau bermanis – manis dalam berkomunikasi disebut manis mulut. Meskipun manis mulut artinya ; “ lain dimulut lain dihati. Mengandung makna kepalsuan. Saya pun bisa terfitnah karena lidah atau tanpa sengaja mengfitnah orang lain karena lidah. Bahkan saya bisa adu mulut dengan orang lain, bilamana ada perbedaan tajam diantara saya dengan lawan bicara. Hanya saja apa yang Anda harapkan dari keseharian saya tentunya, jika saya merasa bahagia pasti secercah senyum manis akan tersungging dari bibir saya.



Cerita kali ini, saya akan mengkisahkan tentang suasana bathin saya ketika berada di negara rumpun melayu ini, seputar kuliner, body language, kreativitas bangsa serumpun ini. Saya mencermati benar sikap dan prilaku mereka, khusus kaum wanitanya. Saya kagum kepada keanggunan wanitanya yang tetap konsisten berbaju melayu. Saya memandang mereka bagaikan ibu saya, walau mereka masih muda dibanding saya. Kala dulu – ibu saya – sering menggunakan dan membuat baju ini. Masih ingat bagi saya, bagaimana cara memotong pola, kemudian menjahitnya. Ada Siba, yaitu sampiran baju yang bersambung pada lengannya yang lebar. Potongan inilah yang menyebabkan lekuk tubuh kita tidak kelihatan. Akhirnya saya jadi teringat akan baju kurung buatan saya sendiri, kala gadis doeloe.
Semalam di Kuala Lumpur, kami nikmati jalan-jalan dengan bermacet-macet ria. Untuk menuju sentra bisnis bagi kalangan wisatawan di Bukit Bintang, kami harus duduk berjam – jam didalam mobil. Ditingkahi hujan yang luar biasa lebatnya kala itu, membuat kami termangu-mangu tak berdaya di dalam mobil. Wilayah yang satu ini adalah kawasan mal serta plaza. Anak-anak protes jika cari makan malam disana. Mereka ingin makan di kaki lima. Ingin makan pratha, tandhori, karee, nasi lemak, serta jajanan melayu jika itu ada. 
