Oleh : Evy Nizhamul

Kisah yang unik, saya petikkan dari pengalaman pribadi – saat saya menikahkan putera saya. Kala itu kami disediakan sebuah mobil mewah – menurut ukuran saya – dari besan kami. Duh… hebat benarlah si besan ini .. menyambut kedatangan CPP dan orang tua, hingga berupaya menyediakan mobil segala..…. itulah komentar kecil saya tatkala sebuah mobil sudah parkir di depan teras. Saat turun mengantarkan CPP, Seorang sopir dengan ramahnya mempersilahkan saya, suami dan CPP menaiki mobil itu. Rasanya hati ini bagai tersanjung – merasakan diri sebagai orang tua “ Raja Sehari “. Sayapun naik dan mencoba duduk dengan anggunnya berdampingan dengan suami.
Hemmm… benarkah saya yang harus menaiki mobil ini ?..
Mobil Raja Sehari beserta Ibu Surinya pun berjalan perlahan – dengan diiringi para kerabat menuju tempat acara akad nikah. Dalam perjalanan – pak sopir menyapa kami dengan ramahnya. Ia bercerita panjang lebar tentang kesalahannya, sebelum ia tiba di Hotel kami. Dari ceritanya ia telah menunggu sejak jam 05.30, sesuai dengan arahan panitia CPW.
Setelah sekian lama menunggu hingga tiba waktu keberangkatan, barulah ia menyadari bahwa ia berada bukan di hotel tempat kami menginap. Bagi saya kala itu, peduli apa dengan alasan keterlambatannya. Bukankah, hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh para sopir, agar mereka tidak ditegur oleh calon penumpangnya. Saya asyik masuk dalam kebanggaan saya sebagai se orang Ibu Suri, menjelang detik – detik anak nya menjadi raja sehari.
Tiap sebentar dia mengutak utik perangkat mobil yang ada didepannya. Menyalakan radio. Mencari rasa agar kenyamanan Ace benar benar dirasakan oleh perumpang terhormatnya. Dalam hati, saya berucap : “ Jika seperti ini pelayanan seorang sopir mobil sewaan - dijamin ia akan mendapat acungan jempol dari pelanggannya.
Ia benar benar tengah melaksanakan prinsip “ kepuasan pelanggan adalah segala galanya. Waduh .. jangan – jangan ia juga paham dengan customer satisfaction..nih, ucapku dalam hati.
Saya merenung. Dari mana ya .. besan saya ,.. mendapatkan mobil sewaan dengan sopir seperti ini. Apakah kota Gresik yang kecil ini – juga menyedikan pelayanan mobil penganten ..? hebat..hebat…. tak kalah dengan orang Jakarta nih…
Jujur saya memang merasa surprise dengan kondisi ini – ketika kita tak pernah membayangkan sedemikian detail – persiapan yang dilaksanakan oleh keluarga besan saya.
Dalam perjalanan itu, dengan ramahnya – sambil memegang knop Ac mobil, sang sopir bertanya kepada kami
“ Maaf lho Pak – Bu. Apakah AC nya cukup dingin…?. Kota Gresik ini luar biasa panasnya.
“ Hemmmm… saya manggut mangut tanggung . Tanpa berniat beramah tamah, saya pun berkata : “ Ya kota ini memang panas. Tapi Lumayan kok .. AC nya dingin.
“ Alhamdulillah…., katanya menunjukkan kepuasannya.
Lebih lanjut ia bercerita – bahwa saat ini Indonesia pada umunya , sedang mengalami cuaca ekstrim. ..kadang ada hujan dan kadang panas. Ia melanjutkan pertanyaannya pada kami : “ Bagaimana kota Jakarta..Bu… Apakah juga sama.
Sedikit acuh, saya menjawab : “ Ya sama saja. Tidak ada bedanya….
Bagi saya kala itu, dari pada beramah tamah dengan seorang sopir, tentu lebih penting memantau kelancaran iringan rombongan kerabat saya yang berada dibelakang kami. Itu pulalah yang dilakukan oleh suami saya dalam perjalanan itu, Tiap sebenta ia menelpon dan memantau posisi rombongan…..
“ pak Sopir, jangan kencang kencang ya.. bawa mobilnya. Nanti rombongan kami tidak bisa beriringan, kata saya padanya.
Oh ya.. baik… bu, Mohon maaf ya bu…. Kalo pelayanan saya ndak baik…. Maklum saya belum biasa melayani tamu…. Dengan takzim sambil membungkukkan badannya berulang ulang – dengan bahasa tubuhnya ia meyakinkan saya bahwa ia adalah sopir yang kurang sempurna.
Heemmmm ya…. Imbuh saya. Saya saat itu, bagaikan seekor jerapah yang sedang berada di singgasana. Tak siap merunduk kepada seekor semut yang sedang menghadap pada jerapah.
Ketika iringan mobil penganten memasuki halaman acara, saya mengatur sang sopir – maksudnya agar posisi parkir mobil kami sempurna. Orang orang yang menyambut si Raja sehari bersama Ibu Surinya juga akan lebih tertata rapih. Demikianlah sang sopir itu melaksanakan arahan saya secara baik. Berkali – kali ia menunjukkan kepatuhannya sebagai sopir atas perintah majikannya. Baik ..bu. baik..bu…..
Nah.. setelah semua sempurna dimata saya, maka saya bersiap siap turun dari mobil itu. Ketika itulah sang sopir menyampaikan rasa takzim dan rasa hormatnya kepada kami, serta permohonan atas ketidak sempurnaannya.
Maaf lho…. Bu. Kalo pelayanan saya ndak sempurna…. Saya belum biasa melayani penumpang bu…, katanya. Seperti ada saja kesalahan pada dirinya.
Oh..ya… ndak apa apa pak. Saya juga mengucapkan terima kasih… Akhirnya saya berpisah dengan pak sopir itu.
Selang seminggu kemudian, putera saya yang sudah jadi penganten itu, berkata : “ Ma…. Pak Bambang……. Baik sekali ya…ma.
“ Pak Bambang yang mana …???, kata saya.
“ Itu..tuh…. Pemilik mobil penganten – yang menjemput saat acara Akad nikah..!!
“ Haah…. Yang menyopiri mobil penganten itu…. pemiliknya .????
“ Dia yang berkali – kali minta maaf atas keterlambatannya,.. ??
“ Dia yang selalu merasa kurang sempurna – disaat memberi pelayanannya …. ??
“ Dia yang memberikan perhatian secara detail … agar penumpang puas saat menaiki mobil itu….?????
“ Dia adalah Pemilik mobil….????
Demikian pertanyaan bertubi – tubi saya sampaikan kepada anak saya.
Iya benar…. Dialah pemilik mobilnya. Masih ada mobil camry .. dan berbagai merek yang lain di garasinya. Dia itu orang yang sangat baik. Tidak pernah perhitungan. Dia yang selalu merespon permintaan bantuan. Dia lah mensponsori pendukung Persebaya dengan bonek bonek Surabaya melalui bus yang dia sediakan secara gratis….Dia disebut Pak Suporter
Ya… Allah.. betapa malunya diri ini, tatkala membayangkan kepongahan saya saat menaiki mobilnya.
Barangkali dengan sedikit keangkuhan saya – yang tak sadar saya lakukan kala itu, mungkin diapun berkata dalam hatinya :
“ Hemmmm… betapa angkuhnya dirimu Bu…. Nih .. seangkuh-angkuhnya dirimu – sebenarnya akupun bisa lebih angkuh – bilamana mana aku tak memiliki kekayaan hati …
Barangkali itulah yang disampaikan dalam hatinya – ketika saya tak ramah kepadanya.
Itulah dalam prilaku kita, terkadang secara tak sadar – kita sering salah menafsirkan orang lain dalam kebersahajaannya – kesederhanaannya. Padahal ketika kita merasa diatas puncak kebanggaan kita atau mungkin kesombongan kita , ternyata diatas langit masih ada langit. …