Ketika Allah berkehendak…

Posted in MY STORY dengan kaitan (tags) on Januari 10, 2012 by ~padusi~

Saya larut dalam kisah sahabat saya sesama karyawati dipagi hari itu. ketika Ia bercerita tentang wafatnya seorang ibu dalam jihadnya melahirkan seorang bayi. Ibu Hilma sahabat saya itu telah berhasil menentramkan hati Alm. Mimi ketika menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sahabat saya itu wukuf dan berbicara melalui roh masing-masing, Deteksi jantung yang ada di ruang ICU itu hampir mendekati normal, ketika ia berkata dalam doanya :

“ Mimi… ikhlaskan hatimu untuk menuju Tuhanmu. Percayakanlah anak-anak dan suamimu berada dalam perlindungan Allah. Yakinlah.. bahwa Allah yang menetapkan ini semua. Sesungguhnya semuanya Allah yang merencanakan  dan Allah pula yang memutuskan. Subhanallah.. ketika bertemu roh masing-masing didalam doanya kepadaNya, seketika itulah alm. Mimi menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul ww.ww .

Baca selebihnya »

Polisi juga manusia….

Posted in Tak terkategori on Juni 17, 2011 by ~padusi~

By Evy Nizhamul

 

Meskipun saya tak pernah suka dengan lagu dan film India, namun tatkala Briptu Norman kamaru dengan terampil mengikuti dendang lagu India, sebagai yang saya lihat di media TV, memang membuat hati ini terpingkal-pingkal. . Saya coba cari tau – apa sih yang dinyanyikannya. Ternyata Lagu pilihannya ‘Chaiyya, Chaiyya’ yang dinyanyikan Shahrukh Khan di film ‘Dil Se’ tahun 1998.  Video kemungkinan direkam dari sebuah ponsel dengan suasana sebuah pos jaga. Wah.. Pak  Kamaru ..Anda seperti ane aja nih… apa apa di bidik dengan ponsel…

Lain lagi cerita teman saya Abu Abrar. Ia bukan menyaksikan  polisi berdendang ria mengisi waktu luangnya sekaligus menghibur teman-temannya, melainkan  menyaksikan Polisi yang mengalami depresi dalam menjalankan tugasnya. Bahkan selalu berteriak kepada sopir sopir  angkot yang nakal. Dalam suasana yang semakin larut dalam tugasnya – sekarang pak polisi itu mengalami stress – berteriak-teriak terus kepada semua orang, hingga khalayak ramai menduga ia sudah menjadi orang setengah gila.

Bagi Wakil Ketua DPR Pramono Anung ; “Polisi juga manusia, sepanjang dia tidak melakukan pelanggaran ya tidak perlu diberi sanksi. Kalau dia mau joget dangdut, India, Jepang, ya monggo-monggo saja,”

Apa yang Anda pikirkan tentang performance Pak Polisi sekarang. Di ranah politik mereka berkiprah, ketika terjadi tarik ulur dalam kasus – kasus hukum. Tentunya dalam rangka sidik menyidik. Sampai dimana sih tugas kepolisian ini dalam pelayanan masyarakat ?. Wah banyak sekali. Polisi berkedudukan sebagai penegak hukum. Memiliki kewenangan kewenangan dalam rangka mengayomi masyarakat.

Contoh, Ketika terjadi kemacetan lalu lintas – tudingan langsung ditujukan kepada polisi. Polisi dianggap tidak becus mengatur lalu lintas. Ketika terjadi pelanggaran rambu rambu lalu lintas – kita segera menuding bahwa ada unsur kesengajaan. Jika ada unsur kesengajaan –  maka pak polisi akan berkata : saya ndak minta lho…, ketika kita memilih bernegosiasi untuk melakukan tindakan tak terpuji, semisal proses tilang di jalanan.  Ketika terjadi tindak kriminal – polisi harus segera bertindak. Apapun resiko yang akan terjadi – harus dijalankan. Inilah wujud pengabdian seoarang alat negara. Pokoknya seorang polisi harus menunjukkan prilaku yang  baik. Kalau bisa ba’ seorang malaikat

Instansi pemerintah yang bertanggung jawab dibidang perhubungan darat tentunya Kementerian Perhubungan. Dinas lalu lintas jalan raya (DLLAJR), adalah izin pemberi izin bagi angkutan jalan raya. Izin trayek, pemasangan rambu-rambu lalulintas, tonase, KIR,  merupakan items pemasukan bagi negara yang sering disalah gunakan aparat. Tat kala  melihat dua aparat instansi yang berbeda ini  melaksanakan tugas di jalan raya, apa yang Anda pikirkan tentang kinerja mereka..?  Semestinya pengabdian seorang aparat negara….bukan ??   Artinya menghindari penyalah gunaan jalanan umum. Demikian juga dengan polisi lalu lintas. Mengatur per lalu lintasan.

” bidikan konggaha’a di Bumi Mekongga “

Posted in MY ACTIVITY dengan kaitan (tags) on Mei 26, 2011 by ~padusi~

Suku Mekongga dan suku Tolaki itu ternyata berbeda,  sebab suku Mekongga merupakan orang asli Kolaka dan suku Tolaki merupakan orang asli Kendari. Perbedaan kedua suku itu dari bahasa dan maknanya. Dari segi makna yaitu kata to mekongga berarti orang yang membunuh burung elang raksasa yang disebut Burung Konggaha’a. Demikian yang saya baca dari sebuah blog milik pemuda Mekongga.

Melihat paras muka mereka yang cantik, putih bersih – halus – bermata sipit – namun rambutnya hitam legam, kita sudah dapat mendunduga bahwa mereka berasal dari ” Vietnam – hulu atau hilir sungai Mekong ( kalee lho … ya karena aku bukan ahli sejarah).

Namun berkunjung ke negeri SUKU MEKONGGA DAN TOLAKI, kita mendapat pengalaman tentang kultur mereka yang juga memiliki kedekatan dengan penciptanya, melalui ritual adat pada umumnya.  Elit masyarakatnya berasal dari garis keturunan ” Wasasi Wesabenggali atau kerabat Raja dari golongan To’Manuru yang ditugasi untuk melakukan segala ritual adat suku Mekongga yang disebut Mbusehe atau Mbuakoy. Keelebihan yang dimiliki kalangan ini ialah mereka akan membaca mantra-mantra sebagai prasyarat dalam sebuah prosesi Mosehe Wuta atau Mobeli Wuta.

Sementara itu, kelengkapan prosesi adat ritual yakni disediakan seekor kerbau yang akan dikorbankan, kain kaci, daun-daunan seperti daun doule, sirih, towoa dan ulondoro, kapur sirih, serta buah pinang.

Yang menjadi pertanyaanku ialah mengapa semua masyarakat tradisonal di Indonesia selalu mengandalkan sirih dan pinang dalam setiap ritual adatnya ? Ayoo coba dijawab…

Barangkali itulah informasi yang saya dapatkan,  dikala berkesempatan berkunjung ke “ Negeri Tanah Merah ‘ – Pomalaa - dimana saya doeloe pernah menjalani masa remaja saya di kawasan ini.

Saya tiba di kota Kendari pada jam 18.00, setelah menaiki penerbangan si Raja Ngaret.  Saya berseru gembira, ketika dalam perjalanan malam selama 4 jam Kendari – Pomalaa,  menyaksikan rakyat sedang menari “ lulo “ – tarian khas suku Tolaki. Tarian ini sangat digemari orang Jepang (vendor, nakhoda kapal tangker, Buyer PT ANTAM ) – bila mereka datang menghadiri acara yang diselenggarakan UPN – ANTAM Pomalaa dulu. Entah ya.. apakah tradisi ini masih ada… ? saya ndak tau.

Terseret seret si Jepang itu  – jika langkahnya tak sesuai dengan irama musik. Demikianpun saya pernah ikut mencoba ikut acara orang dewasa itu (maklum kala itu – belum banyak remajanya dibdaning sekarang). Kami ikut menari LULO tidak dengan menggunakan gendang – melainkan dengan musik irama Latin LA PALOMA.

Kendari – Kolaka, jalannya mulus – beraspal dan berliku liku. Sungguh berbeda dengan 40 tahun yang lalu. Saya gembira menikmati perjalanan dimalam sunyi melewati hutan Bumi Tolaki dan Mekongga..  Mestinya demikianlah hendaknya jalan diseluruh  Sultra agar  sama dengan di Jawa dan di Sumatera. Akan tetapi ketika melewati Kolaka menuju Pomalaa, hati saya terenyuh. “ Kok jalannya tidak jauh berbeda dengan 40 tahun yang lalu ya… masih kecil dan sempit meski sudah beraspal.

Melewati Wundulako – Baula – Peusoa.. badan saya nan gaek ini – mulai terombang ambing ba’ dihantam gelombang. Apalgi masuk Dawi dawi….. aspal sudah tak tampak karena jalan itu memang buruk.. bergelombang. Bathin saya berkata ;..Duh.. bagaimana calon penghuni kawasan ini ..? bisa betah gak ya….  Heemmmm … ternyata kawasan ini belum banyak perubahan. Kemudian sayapun termangu-mangu “ Sekarang kok ada dumptruck  milik perusahaan Swasta ya…  Wah….  inilah buah reformasi dinegara kita.  Tidak ada lagi bunyi pasal dalam UUD 45, bahwa bumi, laut, kekayaan Indonesia dikuasai negara dan dimanfaatkan…dstnya

Saya tiba di Pomalaa, mendekati jam 00.00. Suasana hening.. para penghuni rumah dinas sedang tidur lelap – beristirahat selepas rutinitas kerjanya. Dari kejauhan terdengar deru turbin pabrik dan melintasi kawasan pabrik terbaca lah “ proyek vital .. yang tentunya pengamanannya menjadi urusan negara….

Apa yang terpikir dipagi hari pertama saya di POMALAA itu…? Saya ingin ke desa TAMBEA. Saya ingin bernapak tilas ke desa ini, ketika 37 tahun yang lalu saya meninggalkannya – saya menyimpulkan adanya kehidupan yang unik dari suatu etnis yang hidup di Laut yang bernama SUKU BAJO.

Masyarakat setempat menyebutnya demikian karena Suku ini dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup matinya berada diatas lautan. Bahkan perkampungan merekapun dibangun jauh menjorok kearah lautan bebas, tempat mereka mencari penghidupan.  Sebenarnya mereka tersebar diseluruh pesisir pantai di wilayah timur Indonesia. Suku Bajo, identik dengan air laut, perahu, dan permukiman dia atas air laut. Laut bagi mereka adalah satu-satunya tempat yang dapat diandalkan. Julukan bagi mereka sudah barang tentu ” sea nomads “.

Satu  lagi yang saya rindukan, suara ibu – ibu menjajakan ikannya. Dulu saya ikut berucap kepadanya :

ta siaga balle ta….

Selain itu saya ingin menunjukkan pada puteri saya bahwa ciri khas anak – anak Bajo adalah rambutnya kering dan pirang…

Itulah hari hari saya di Pomalaa – setiap hari beli ‘ ikang “ – lama lama karena kebanyak – dibuat ikan asin – dan akhirnya jadi oleh oleh pulang ke Jakarta.

Ketika berkesempatan berdialog dengan mereka di Tambea ” mengapa mereka tinggal diatas laut ?

Mereka berkata : bahwa laut hanyalah dimiliki ALLAH, sedangkan tanah pantai dimiliki oleh penduduk setempat. Agar tidak menciptakan konflik, maka biarlah kami menetap dipinggir laut saja… Karena itulah dengan bidikan kamera –  saya bernapak tilas ke perkampuangan nelayan dan menemui masyarakat SUKU BAJO ” di desa TAMBEA itu …

Didesa itu saya menyaksikan kepedulian UB – ANTAM dalam pembinaan masyarakat setempat, yaitu  Pembangunan rumah penduduk sehingga kualitasnya melebihi layak huni. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial PT ANTAM terhadap masyarakat sekitar.  Penebaran batu  “ sleg” sebagai upaya reklamasi bagi perahu nelayan yang merapat di pantai.  Nah.. dari pantai Tambea pula – kita menikmati kumpulan pulau – pulau ; pulau padamarang, pulau maniang, pulau santigi – yang kayunya – dulu digemari oleh para awak kapal tangker jepang karena kayu itu halus dan indah,

Dari tepi pantai Tambea ini, saya menyaksikan kapal tangker – pengangkut nikel KP Swasta ke China (?). Seorang alumni yang berdomisili di Balikpapan memperhitungkan bahwa :

 “  jika setidaknya ada 7 kapal yang lagi ngantri untuk loading…jika satu kapal cap 60.000 Ton, maka untuk 7 kapal = 420.000 Ton. Hampir tidak mungkin kan kapal2 itu ngantri sebulan lamanya hanya untuk loading…bandar kapal pasti rugi dong kalo nunggu lama. Bisa jadi nilai di atas untuk 2 minggu operasi, trus sebulan berapa banyak…setahun??…Lama2 Pomalaa dan sekitarnya hilang dari peta sulawesi… ( maaf Yudhi – saya mengutip komen mu secara utuh ).

Nah.. inilah yang saya pikirkan saat itu… perbukitan bumi mekongga bisa – bisa abis terkikis  – kandungan bijih nikelnya pun belum tentu memenuhi syarat. Tapi sudahlah … saya kan.. hanya ingin bernapak tilas – menikmati masa masa remaja di Pomalaa saja kok…  Biarlah ada pihak lain yang membaca suasana perusakan lingkungan ini…..

Dikala senja hari – matahari di pantai Tambea seakan akan malu malu karena tertutup  awan. Sebenarnya saya ingin mencicipi keindahan matahari seperti jeruk di pantai Tambea  ini. Demikian judul album foto saya … Akan tetapi niat menikmati sunset tidak kesampaian.. mudah-mudahan saya dapat menikamati dihari lain dan ditempat lain….. Aamiin….

Bagi saya kisah ini ingin menggambarkan suasana Pomalaa terkini. Barangkali ada diantara kita yang sudah tidak ada berkesempatan kesana lagi. Saya memang penyuka budaya dan travelling… jadi inilah yang ingin saya sampaikan…

  • Yudy Hendri Eko Purwanto‎” Tres Bien” kata orang Prancis mbak..Komplit banget, belasan tahun saya domisili disana bahkan tidak pernah saya memahami sedalam ini budaya Tolaki dan Mekongga….Anyway, thanks inserting my comment inside. It is nothing compare to your essay.

    31 Maret jam 22:41 · Suka
  • Yuni Dwi Budisantosokak evy katax org tolaki dan mekongga “Tarimakasi hae sabeanggu”..membaca essay kak evy RASAx sy ikut serta dlm perjlnan kakak sangat membekas dihati dan dipikiranku sambil menerawang jauh mengingat masa kecil sy di POMALAA TANAH MERAH…

    ‎@kak evy : sy lahir dan bsar di TANAH MERAH itu saya asli perpaduan antara Mekongga dan Tolaki..saya terakhir di Ppomalaa thn 1996 dan melalang buana (merantau) ke tanah jawa sampe skarang klupun pulkam hanya sampe kendari sj tp perna sy kepomala…
  • Yudy Hendri Eko Purwanto

    banyak hal yang bisa di ceritakan perihal Pomalaa, misalnya bagaimana multi etnis bisa hidup berdampingan bak sebuah keluarga besar. Kemudian bagaimana anak2 pomalaa, berjuang mencapai cita2 mereka, sementara semua informasi pendidikan san…Lihat Selengkapnya
    02 April jam 18:54 · Suka · 1 orang

Sarang laba-laba

Posted in ULASAN DAN SIGI dengan kaitan (tags) on Mei 19, 2011 by ~padusi~

Saya terinspirasi dari catatan Buya Mas’oed Abidin mengenai Dunia ini Fana…. Tidak ada yang kekal  dan abadi. Begini  uraiannya ;

” Dunia ini fana, tidak ada kekekalan di dalamnya, cukuplah kamu mencari apa yang cukup kamu makan dan ( cukup untuk mencari ilmu – pen ),  guna menguatkan,  karena sesungguhnya dunia ini bagaikan rumah di mana kain selendangnya seperti sarang laba-laba — rumit, ruwet, berseliweran — , tetapi kekuatannya  sangat sedikit — lemah dan tidak bertahan lama — maka semuanya pasti akan punah.

إنمـا  الدنيـا فنـاء ليس للدنيـا ثبوت

لقد يكفيـك منها أيها الطـالب قـوت

إنمـا الدنيـا كبيت نسجته العنكبـوت

ليـس إلاَّ في قليـل كل ما فيهـا يمـوت

Lakukan perbuatan amal baik (amalus-shaleh) yang banyak. Di sini kita menanam. Di akhirat Insyaallah kita akan menuainya .

Bagi saya falsafah laba – laba itu sangat bagus untuk aktivitas profesional. Dibidang usaha – jika pengusaha tidak memiliki jaringan atau aliansi dengan pihak lain, maka diyakini bisnisnya akan mengalami stagnasi. Sehingga mungkin di skala produksi lancar namun di skala distribusinya akan terhenti.  Oleh karena itu membangun jaringan bisnis erat kaitannya dengan kerjasama. Orang Marketing sangat memahami benar manfaat jaringan ini. Baca selebihnya »

Restoran Padang di Lebuh Raya

Posted in Tak terkategori on Mei 17, 2011 by ~padusi~

Bukan karena pengiritan, kami membawa ransum. Akan tetapi adalah untuk menikmati perjalanan dari Singapore ke KL. Perjalanan Sing – KL  itu ditempuh selama 6 jam. Di Lebuh Raya – kami singgah untuk menikmati ransum kami. Tempat persinggahannya bersih dan nyaman. Bersantap di perjalanan dengan menu rumahan – membuat perut ini lebih bergairah.  Apa yang terjadi ketika perjalanan menuju pulang. Mungkin makhluk yang ada di poros tengah “mengeriuk”. Inilah yang kami rasakan kala itu.  Apalagi ketika di “rumah tumpangan” (hotel – istilah malaysia) , para tamu tidak disediakan sarapan pagi.
Pagi itu – atas informasi Pak sopir, maka kami merencakan makan di Genting Highland. Menu restoran dan makanan yang tersedia disana – tidak cocok dengan selera dan selain itu moaahall bagi rombongan kami yang jumlah 12 orang. Akhirnya kami bersepakat untuk mencari makanan nanti di Putera Jaya.
Memasuki jalan bebas hambatan antara Genting Highland menuju Putera Jaya, kami menemukan restoran pinggir jalan.  Penemuan ini secara tiba – tiba saja, tatkala Pak Sopir merasa mengantuk. Ia minta izin istirahat pada pimpinan rombongan. Kamipun spontan berduyung -duyun turun . Disaat itulah  kami melihat sebuah restoran yang bernama “ Jun Masakan Minang “ .

“.. Woow… , anak – anak  berteriak senang. Lebih-lebih kakakku yang terlihat dalam gambar ini.

Pemilik restoran ” Jun Masakan Minang ini, bernama Buyung. Ia perantau asal “ Bonjol” – telah berusia 60 tahun. Ia dilahirkan didaerah itu. Hanya 1 kali pernah pulang kampung. Dan tidak mengenal kampung halamannya sesudah itu. Anehnya, hampir semua masakan jenis yang dihidangkan direstoran itu : terung balado, ikan balado, gulai paku, gulai ayam, dll sama jenis – baik yang dibuat oleh perantau minang tadi atau para perantau dari Thailand.
Di restoran itulah – Kami makan sepuas-puasnya serasa makan dikampung halaman sendiri. Betapa tidak, masakan yang dihidangkan itu persis sama rasanya, baik aroma dan cita rasanya. Lakek tangan dalam mengolah  masakan ini – persis seperti masakan orang “ Pariaman”. Santannya kental dan gurih.

Semua anggota rombongan berkomentar :  ‘ Ondeeeh…. Lamaaak banaa…..  tambuah ciek…. membuat si pemilik restoran tersenyum senang…

Setelah Perut kenyang dan hati senang tatkala perjalanan dilanjutkan ke Putera Jaya diselatan kota Kuala Lumpur.

diatas langit masih ada langit…….

Posted in MY STORY dengan kaitan (tags) on April 11, 2011 by ~padusi~

Oleh : Evy Nizhamul

Kisah yang unik,  saya petikkan dari pengalaman pribadi – saat saya menikahkan putera saya. Kala itu kami disediakan sebuah mobil mewah – menurut ukuran saya – dari besan kami. Duh… hebat benarlah si besan ini  .. menyambut kedatangan CPP dan orang tua, hingga berupaya  menyediakan mobil segala..…. itulah komentar kecil saya tatkala sebuah mobil sudah parkir di depan teras.  Saat turun mengantarkan CPP,  Seorang sopir dengan ramahnya mempersilahkan saya,  suami dan CPP menaiki mobil itu. Rasanya hati ini bagai tersanjung – merasakan  diri sebagai orang tua “ Raja Sehari “. Sayapun naik dan mencoba duduk dengan anggunnya berdampingan dengan suami.

Hemmm… benarkah saya yang harus menaiki mobil ini ?..

Mobil Raja Sehari beserta Ibu Surinya pun berjalan perlahan – dengan diiringi para kerabat menuju tempat acara akad nikah. Dalam perjalanan – pak sopir menyapa kami dengan ramahnya. Ia bercerita panjang lebar tentang kesalahannya,  sebelum ia tiba di Hotel kami. Dari ceritanya ia telah menunggu sejak jam 05.30, sesuai dengan arahan panitia CPW.

Setelah sekian lama menunggu hingga tiba waktu keberangkatan, barulah ia menyadari bahwa ia berada bukan di hotel tempat kami menginap.  Bagi saya kala itu,   peduli apa dengan alasan keterlambatannya. Bukankah, hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh para sopir,   agar mereka tidak ditegur oleh calon penumpangnya.   Saya asyik masuk dalam kebanggaan saya sebagai se orang Ibu Suri,  menjelang detik – detik anak nya menjadi raja sehari.

Tiap sebentar dia mengutak utik perangkat mobil yang ada didepannya. Menyalakan radio.  Mencari rasa agar kenyamanan Ace  benar benar dirasakan oleh perumpang terhormatnya. Dalam hati, saya berucap : “ Jika seperti ini pelayanan seorang sopir  mobil sewaan -  dijamin ia akan mendapat acungan jempol dari pelanggannya.

Ia benar benar tengah melaksanakan prinsip “ kepuasan pelanggan adalah  segala galanyaWaduh .. jangan – jangan ia juga paham dengan customer satisfaction..nih, ucapku dalam hati.

Saya merenung. Dari mana ya .. besan saya  ,.. mendapatkan mobil sewaan dengan sopir seperti ini. Apakah kota Gresik yang kecil ini – juga menyedikan pelayanan mobil penganten ..?    hebat..hebat…. tak kalah dengan orang Jakarta nih…

Jujur saya memang merasa surprise dengan kondisi ini – ketika kita tak pernah membayangkan sedemikian detail – persiapan yang dilaksanakan oleh keluarga besan saya.

Dalam perjalanan itu, dengan ramahnya –  sambil memegang knop Ac mobil, sang sopir bertanya kepada kami

“ Maaf lho Pak – Bu. Apakah AC nya cukup dingin…?.  Kota Gresik ini luar biasa panasnya.

“ Hemmmm… saya manggut mangut tanggung .  Tanpa berniat beramah tamah, saya pun berkata : “ Ya kota ini memang panas. Tapi Lumayan kok .. AC nya dingin.

“ Alhamdulillah…., katanya menunjukkan kepuasannya.

Lebih lanjut ia bercerita – bahwa saat ini Indonesia pada umunya , sedang mengalami cuaca ekstrim. ..kadang ada hujan dan kadang panas. Ia melanjutkan pertanyaannya pada kami : “ Bagaimana kota Jakarta..Bu… Apakah juga sama.

Sedikit acuh,  saya menjawab : “ Ya sama saja. Tidak ada bedanya….

Bagi saya kala itu, dari pada beramah tamah dengan seorang sopir, tentu  lebih penting memantau  kelancaran iringan rombongan kerabat saya yang berada dibelakang kami. Itu pulalah yang dilakukan oleh suami saya dalam perjalanan itu,   Tiap sebenta ia menelpon dan  memantau posisi rombongan…..

“ pak Sopir, jangan kencang kencang ya.. bawa mobilnya. Nanti rombongan kami tidak bisa beriringan, kata saya padanya.

Oh ya.. baik… bu,  Mohon maaf ya bu…. Kalo pelayanan saya ndak baik…. Maklum saya belum biasa melayani tamu…. Dengan takzim sambil membungkukkan badannya berulang ulang  – dengan bahasa tubuhnya ia meyakinkan saya bahwa ia adalah sopir yang kurang sempurna.

Heemmmm ya…. Imbuh saya. Saya saat itu, bagaikan seekor jerapah yang sedang berada di singgasana. Tak siap merunduk kepada seekor semut yang sedang menghadap pada jerapah.

Ketika iringan mobil penganten memasuki halaman acara, saya  mengatur  sang sopir – maksudnya agar posisi parkir mobil kami sempurna. Orang orang yang menyambut si Raja sehari bersama Ibu Surinya juga akan lebih tertata rapih. Demikianlah sang sopir itu melaksanakan arahan saya secara baik. Berkali – kali ia menunjukkan kepatuhannya sebagai sopir atas perintah majikannya. Baik ..bu.     baik..bu…..

Nah.. setelah semua sempurna dimata saya, maka saya bersiap siap turun dari mobil itu. Ketika itulah  sang sopir menyampaikan rasa takzim dan rasa hormatnya kepada kami, serta permohonan atas ketidak sempurnaannya.

Maaf lho…. Bu. Kalo pelayanan saya ndak sempurna…. Saya belum biasa melayani penumpang bu…, katanya. Seperti ada saja kesalahan pada dirinya.

Oh..ya… ndak apa apa pak. Saya juga mengucapkan terima kasih… Akhirnya saya berpisah dengan pak sopir itu.

Selang  seminggu kemudian, putera saya yang sudah jadi penganten itu, berkata :  “ Ma…. Pak Bambang……. Baik sekali ya…ma.

“ Pak Bambang yang mana …???, kata saya.

“ Itu..tuh…. Pemilik mobil penganten – yang menjemput saat  acara Akad nikah..!!

“ Haah…. Yang menyopiri mobil penganten itu…. pemiliknya .????

“ Dia  yang berkali – kali minta maaf atas keterlambatannya,.. ??

“ Dia yang selalu merasa kurang sempurna – disaat  memberi pelayanannya …. ??

“ Dia yang   memberikan perhatian secara detail … agar penumpang puas saat menaiki mobil itu….?????

“ Dia adalah Pemilik mobil….????

Demikian pertanyaan bertubi – tubi saya sampaikan kepada anak saya.

Iya benar…. Dialah pemilik mobilnya. Masih ada mobil camry .. dan berbagai merek yang lain di garasinya. Dia itu orang yang sangat baik. Tidak pernah perhitungan. Dia yang selalu merespon permintaan bantuan. Dia lah mensponsori pendukung Persebaya  dengan bonek  bonek  Surabaya  melalui bus yang dia sediakan  secara gratis….Dia disebut Pak Suporter

Ya… Allah.. betapa malunya diri ini,  tatkala membayangkan kepongahan saya saat menaiki mobilnya.

Barangkali dengan sedikit keangkuhan saya – yang tak sadar saya lakukan kala itu, mungkin diapun berkata dalam hatinya :

“ Hemmmm… betapa angkuhnya dirimu Bu….  Nih .. seangkuh-angkuhnya dirimu – sebenarnya akupun bisa lebih angkuh –  bilamana mana aku tak memiliki kekayaan hati …

Barangkali itulah yang disampaikan dalam hatinya – ketika saya  tak ramah kepadanya.

Itulah dalam prilaku kita, terkadang secara tak sadar – kita sering salah menafsirkan orang lain dalam kebersahajaannya – kesederhanaannya.  Padahal ketika kita merasa diatas puncak kebanggaan kita atau mungkin kesombongan kita , ternyata  diatas langit masih ada langit. …

 

” baruak atau karo ”

Posted in Tak terkategori on Maret 31, 2011 by ~padusi~

Si Upiak Bijak hari tuh sadang tamanuang manuang surang diruang karajonyo. Baa lah kini kironyo. Hiduik jadi Pegawai Nagari – iyolah sabana pentang. Lah labieh duo puluah taun jadi anak samang di Instansi pamarentah. Lah tau bana kulikat karajo pejabat dikantuanyo. Kok mambuek program yo sabana santiang. Program nan dibuek tantu sajo nan manganai ka rakyat.

Suatu hari lah ta akuak akuak – si upiek bijak ko mandanga pamaparan kapalo kantua. Ado targetnyo bagai.. Keceknyo harus mandapek 10 MOU dalam sa taun.

Haaaah…sa tauunnnn..???

Apo bana nan dikaja dek si kapalo kantua ko haa…, kecek si Upiek dalam atinyo…. Takana dek inyo, nan sabana nyo target karajo .. bukan MOU ndak….??? Tapi baa merealisasikan MOU itu baguno untuak masyarakat.

Akhienyo… dapek lah carito dari urang piaman. Urang awak eh urang indonesia tantunyo… Kok duduak di seminar – nan jadi nara sumber – hebaik hebaik. Nan jadi peserta capek capek pulo maangguak balam. Antah lai mangarati atau indak, Nan jaleh seminar salasai dapek “ buah tangan makalah – untuak disimpan dikantua. Suasana sarupo nan ko.. samo jo Rapek Karo mah..

Aa..nan dimukasuik  rapek karo tuh Bagindo… tanyo si Upiak jo urang piaman tuh

.. Eh.. uni Upiek.  Maso indak tau… Itu haa……  Siang masak – malam matah.

.. Co itu pulo ndak rapek kabinet nan di pimpin  Pengulu Gadang di Nagara awak ko.. Bagindo ? .. Aa lai  tumah Uni Upiek.. Manga pulo jauah jauh uni mancaliek Rapek kabinet. Caliak selah rapek di Konggres PSSI. Kicuah mangicuah. Anta apo guno mangicuah. Nan jaleh tim “ urang nan balari lari mangaja bola itu indak pernah manang bilo diadu jo negara lain…???

…Jadi….??? kok rapek paripurna DPR… ba a Bagindo …???

.. samo je tunyo…. Rapek karo juo namonyo. Caliek lah wakatu rapek pantuan Anket. Indak tau dima posisi kawan jo lawan. Kawan jadi lawan.. lawan jadi kawan… Kaputusan bisa ba ubah jiko ado kepentingan. Akhienyo lagi ..lagi jadi rapek karo juo..

Tamanuang manuang surang mandanga Bagindo dari Piaman bakato…  Kok baruak lai bisa batiratik . Lai bisa diaja mamanjek karambie… Baruak lai bisa diaja taratik  sahinggo disabuik  taratik monyet, atau taratik baruak.  Karo lai tau pulo jo rapek nan dikenal jo “rapek karo”, Tapi baa tata caro kesopanan monyek – baruak – karo, sabana awak indak tau bagai doh. Nan tau urang pamilik Topeng Monyet. Tapi wakatu si Upiek bijak basirobok jo monyet nan ado di Panorama Bukitinggi – wakatu si Upiek pulang kampuang … Ondeh yo sabana indak tau di sopan bagai si monyet ko doh… Inyo semba se boto aie mineral awak .

Tapi – tarnyato si monyet ko lai punyo sipaik ke ibuan saroman “bunda kandung”.

Caliak lah gambar dibawah ko ….. galak awak dek nyo. Ha…ha…

Ketika menjadi Kepompong (dalam pencarian diri sejati)

Posted in AGAMA DAN ROHANI dengan kaitan (tags) on Maret 24, 2011 by ~padusi~

Bersyukurlah, andaikan Anda punya kesempatan mengamati kehidupan kepompong. Saya pernah melihatnya, ketika diujung daun, ia bergantung, tertiup angin, bergoyang, ke kanan, ke kiri, berayun-ayun seolah sangat lemah, namun tetap kokoh tak tergoyahkan. Kepompong, bergantung dan mencoba bertahan dihantam angin atau hujan.  Kepompong itu kemudian berubah, menjadi seekor kupu-kupu. Kepompong adalah makhluk tak berdaya.

Kita bagaikan kepompong  -  ketika mencari pemahaman diri untuk mengenal Tuhan secara lebih dalam. Kita  sudah melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Kita memiliki Iman sebagai keyakinan atas keesaan Allah. Kita percaya bahwa Allah lah yang menciptakan jagad raya ini. Akan tetapi siapakah kita ?. Apakah tujuan hidup yang mesti kita cari.

Para Guru Agama atau Ustad, telah menceramahi kita bagaimana proses kejadian manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Bahkan dikatakan bahwa syetan memprotes keras keberadaan kita –  yang dipandang rendah karena hanya dibuat dari gumpalan tanah. Anda bisa membaca – protes malaikat dan syetan kepada Allah ini – di dalam surah Albaqarah ayat 30. Namun Allahpun berkata : .. “ sesungguhnya aku tahu apa yang tidak kalian ketahui”.

Dengan kesadaran diri, akhirnya meronta, berusaha melepas berbagai belitan kesenangan dunia, yang disebut nafsu itu. Nafsu itu ada pada di kepala – di perut dan syahwat.

Kita diajarkan ustad berdzikir, berserah diri padaNya dan mengerahkan tenaga, sepenuh kemampuan karena tidak seorangpun mampu membantu perjuangan ini. Karena, hanya diri sendiri yang mampu mengetahui kebutuhan jiwa kita.
Dari hasil ceramah Ustad, beliau menyampaikan bahwa peralihan manusia mencapai diri sejatinya tidak lain karena proses pencarian manusia itu sendiri. Seorang teman diskusi saya : seorang dosen dari IPB, menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada sumur yang mencari ember ..!! Namun ketika saya menyimpulkan sesuatu menurut persepsi saya, kemudian teman-temannya dari Univ. Charite, Berlin dan seorang professor dari Universitas Gunadarma  menyebut saya sebagai ‘ sok tau di tau saya’ . Akhirnya mereka menasehati saya agar “Tidak tahu maka jangan bicara, kalau sudah tahu maka tetap jangan bicara kalau belum ada perintah untuk bicara” . Semula saya bingung menafsirkan kalimat ini. Namun akhirnya memahaminya.

Maksudnya, agar saya dalam pencaharian itu mendapat karunia dan bimbingan Allah SWT, karena kehendak Allah SWT. Manusia secara fitrahnya hanya mengikuti kehendakNya  Tidak ada persepsi manusia, melainkan yang ada persepsi Allah semata.  Tak ada kehendak diri kita, yang ada kehendak Allah. Berserah dirilah sepenuhnya setiap menjalani langkah. Berbuatlah yang terbaik di saat ini Sehingga saat ini harus lebih baik dari tadi – hari ini harus lebih baik dari kemarin -  esok harus lebih baik dari hari ini, dst.

Manusia sebelum lahir bersemayam didalam rahim seorang Ibu. Sebelum roh ditiupkan pada rahim  sang bunda, ia (roh) berjanji dihadapan Allah, bahwa ia akan taat dan patuh sebagai hambaNya. Dia menyerah – dia pasrah sepenuhnya, total atas kehendak Sang Penentu – Allah SWT.

Demikianlah, dikala saya – mengikuti pelatihan shalat khusus di shalat Center – kami diingatkan oleh nara sumber kami “ Ustad Abu Sangkan “, bahwa setiap roh manusia –  telah berjanji di hadapan Allah SWT. Janjinya – menjadi hamba yang taat dan patuh kepada Sang Pencipta. Peringatan beliau itu membuat kami semua meratap dalam tangisan yang tak habis habisnya.

Pak Abu berceramah :

“ Wahai kaum wanita. Engkau adalah makhluk yang diamanahkan dan dimuliakan Allah untuk menampung sebagian cahaya Allah yang disebut RUH didalam rahimmu. Namun kenapa ……??? Engkau tak menjaganya secara baik. Mengapa diantara kaummu, menghinakan dirimu dengan menjajakan diri sebagai pelayan  nafsu syahwat….??

Berdoalah engkau…. Berdoalah engkau untuk ibu yang melahirkanmu. Bukankah Rasulullah SAW, telah memperingatkan kepada umatnya, siapakah manusia yang harus engkau hornati,,,??? Ummi…. Siapa lagi ..??  Ummi… siapa lagi..?? Ummi.

Lantas apa yang telah engkau tunjukkan – bahwa engkau telah berbakti pada ibumu …????? Mana doamu untuk Ibu yang telah melahirkanmu kedunia ini….????

Para jemaah pria tak kurang jeritnya berucap “ Allahu Akbar ? Allahu Akbar …mendengar muhasabah yang disampaikan Pak Abu. Kami para jemaah wanita – semua terperangah dalam tangisan. Ketika sang Usatad menyampaikan lagi – bahwa dirinya ingin benar dimuliakan Allah sebagaimana halnya Allah yang memuliakan wanita, karena ditubuh wanita ada perangkat rahim, tempat berproses embrio ciptaan Allah.

Setelah mengalami proses pencarian itu, maka terasa kedamaian mengalir di dada. Ketenangan menyelimuti seluruh tubuh. Dalam keheningan, dalam tafakur, dalam doa, dalam dzikir, dalam rasa menyembah sepenuhnya, pasrah, rela, ridho, ikhlas, mendadak terasa ditubuh ini.

Jadi nyatalah, wanita adalah orang yang akan melahirkan anak, walau dengan penuh rasa sakit. Orang yang akan mendampingimu seumur hidupmu, semenjak engkau berjanji dengan Tuhanmu. Orang yang akan merawatmu dikala engkau sakit.  Orang yang memberikan hidupnya untukmu. Bahkan ia membuang egonya demi bersamamu. Bahkan saat kau menyakitinya, ia tetap berada sampingmu, serta akan selamanya mendoakanmu.
Ketika manusia berada dalam rahim seorang ibu. Allah telah mengatur pernafasan makhluk hidup dengan sistem pernapasan yang canggih – yang  tidak mungkin mampu berbuat sendiri. Inilah bukti ke-Maha esaan Allah dan kasih sayang-Nya diantara sesama makhluk agar dapat meniupkan nafas kehidupan dengan mudah. Rasakanlah…..!!

Akan tetapi ketika makhluk-makhluk yang yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa ; menggeliat, melesat dan keluar untuk terbang, maka kemudian menjadi makhluk yang egois  dalam kehidupannya. Itulah diri kita…

” falsafah terombang ambing di arus deras (Rafting)

Posted in MY STORY dengan kaitan (tags) on Januari 27, 2011 by ~padusi~

by : Evy Nizhamul

Jika ada yang memilih ” TIDAK ” untuk mengombang ambingkan diri di air deras, adalah wajar. Alasan bukannya takut, tetapi  menganggap  kurang kerjaan. Untuk menguji nyali – rasanya bukan tempatnya pula. Karena sedikit tidaknya  membutuhkan adrenalin yang tinggi. Bagi yang ingin mendalami falsafah kehidupan.  ” ikutilah olah raga arung jeram (rafting) “. Sensasional, penuh tantangan dan menuntut kerjasama “.

Hal inilah yang saya rasakan dikala usia sudah separuh baya, mengikuti olah raga ini bersama teman teman di Kantor. Saking menggebu gebu hasrat untuk mencoba olah raga arung jeram ini, maka saya tak berani bercerita lebih dahulu dengan keluarga  : suami atau anak-anak dirumah. Cukup diam diam saja – meski hati saat itu agak ketarketir. Teman teman sekerja saya mendukung dan mengacungkan jempol kepada saya. ” Mantap bunda..???  atau benaran nih Bunda mau ikut ?, demikian mereka berkatan kepada saya kala itu.

Namun didorong oleh rasa ingin tau yang tinggi – dari pada akhirnya kita menyesal kemudian saya tetap memberanikan diri. Sambil mencari tau – sejauh mana tanggung jawab pemandu bila terjadi hal -hal yang tidak diinginkan. Artinya diri dalam keada WASPADA TINGKAT SATU. Demikianlah akhirnya – pengalaman yang mengasyikkan itu terjadi ketika diusia sudah diatas KEPALA LIMA….

^ -^

Dalam menjalani hidup – sebenarnya seberapa jauh kita menghayati filososfi  ‘ hidup mengalir bagaikan air itu…???  yang bisa dimaknai bahwa hidup ini harus dijalani dalam suasana ‘ enjoy aja ‘. Persis ba’ sebuah iklan…

Nah.. … jika motto itu diikuti , maka Anda akan berhenti mengupayakan sesuatu yang bermanfaat  untuk diri dan apalagi diri orang lain, karena air mengalir menuju tempat yang rendah.

Saya menemukan sebuah artikel yang membuat rumusan non KIMIA tentang H2O, yang artinya HIDUP HARUS OPTIMIS. MOTTO itu harus kita dukung. Namun bila seseorang memiliki ketenangan bagaikan air  – maka ia menjadi seseorang  ” diam diam menghanyutkan “.  Sulit bagi orang lain untuk menolongnya.

Mengambil filosofi Air, dimata saya adalah sebuah symbol tentang bagaimana kita harus menyesuaikan diri dimana pun dan kapanpun kita berada. Ketika berada pada suatu tempat, kita harus melakukan penyesuaian menurut rupa dan ukuran tempat dimana kita berada.

Contohnya : jika air  ditaruh dalam bejana, di ember, gelas, botol, maka air akan menyesuaikan diri serupa dengan wadahnya.

Bagaimana dengan KITA – SAYA dan ANDA ?. Mampukah kita berfalsafah seperti air dalam menjalani hidup di Dunia ini ? Ketika setiap kejadian penuh dengan kejutan dan tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Hal ini terjadi apabila air itu sudah menakutkan manusia dalam peristiwa – peristiwa bencana alam.

Sekali-kali kita perlu bertafakur alam, sambil mengambil hikmah yang bisa kita petik dari falsafah air itu.

Diantaranya antara lain :
* Air mengalirmenuju tempat yang rendah tanpa membedakan situasi kondisi yang dilaluinya. Deraskah ia atau Tenangkah ? . Kita dapat menghayati jiwa atau roh manusia -  semestinya berahlaq tawadhu terhadap pencipta Alam semesta ini seperti falsafah air ini. Mengalis hingga ke suatu tempat yang sesuai.
* Air menjadikan semua yang ada di bumi ini menjadi bersih dan segar. Untuk itu manusia di perintah ber-amar ma’ruf dan nahi munkar diantara sesama, sehingga terwujud suasana kondisi kondusif, aman, tentram, damai dan sejahtera.
Karena sifatnya yang mudah menyesuaikan dengan  lingkungannya, manusia semestinya bisa beradaptasi dengan lingkungan masyarakat

Sebalikinya, tidak selamanya kehidupan ini kita umpamakan bagai  ” mengalir bagaikan air. Bagaimana dengan sekiranya dalam hidup yang terus berputar, ada para pelaku kegiatan yang benar benar tetap berjuang menjalani arus deras kehidupannya. ?

Banyak diantara kita yang terombang ambing di arus deras itu. Apa yang harus kita lakukan dalam bila menghadapi arus itu ?.

Petunjuk yang ampuh ……Kuatkan dayungmu. Dayung kehidupan ini berada pada kekuatan sabarmu serta  keikhlasanmu. Disini tampak sistem kehidupan masyarakat – mampu menyederhanakan persyaratan- persyaratan seseorang untuk dapat merasakan sensasi kehidupan.

Perahu akan mengandalkan arus dan tenaga awak perahu untuk melaju pada jalur yang dinginkan. Mekanisme-mekanisme perjalanan perahu, seperti berbelok, mundur, maupun mengurangi laju perahu – ditentukan dengan cara mengandalkan tenaga awak perahu serta koordinasinya. Disitulah letak salah satu pembelajaran yang dapat saya petik hikmahnya saat mengikuti oralah arung jeram itu.

Setelah saya pelajari dari tugas para awak  perahu untuk olah raga ini, yaitu kerja sama, maka diperlukan pula pola kerjasama diantara sesama kita. Kebanyakan kita tidak mau bekerja sama tetapi mau sama sama bekerja.

Akhirnya, dalam menyimpulkan falsafah terombang – ambing di arus deras dalam thema Rafting, maka Ingatlah….!!??

Betapapun derasnya ujian hidup harus dilalui dengan segala ikhtiar. Dayunglah sekuat mungkin motivasi dan asamu. Dengan teori bisa. Pelajari medan kehidupan itu. Untuk mengail impian – dayunglah menjadi HARAPAN. Caranya, bisa  didayung mundur dan didayung maju. Carilah arus yang lembut jika tak sanggup menghadang yang deras.  Jika engkau terpuruk – jangan sungkan minta bantuan yang lain. Semuanya berlandaskan kerjasama..

Ketika mengantarkan anak menikah…

Posted in MY STORY on Januari 19, 2011 by ~padusi~

By Evy Nizahamul :

Setelah mengantarkan anak melamar gadis pada artikel sebelumnya, maka ketika mengantarkan akan menikah ternyata lebih banyak persiapan yang harus kita lakukan. Persiapan untuk  anak perempuan dan anak laki-laki dalam pernikahannya,  beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain : kesiapan mental calon pengantin, kesiapan materi dan dukungan moril dan materil dari kaum kerabat dan handai taulan.

Artikel ini tidak mengupas sisi psikologis pasangan calon pengantin yang terkait dengan kepribadian pasangan dan keluarga, melainkan sisi lain dari tugas seorang Ibu yang akan mengantarkan anaknya memulai lembaran hidup barunya. Saya tidak akan membahas modal anak -  terkait dengan komitmen anak untuk berumah tangga. Biarlah pihak lain yang akan mengupasnya. Apalagi anak yang akan diantar untuk menikah ini, adalah seorang lelaki – yang kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau.

Lazimnya di Minangkabau – kaum prianya dilamar. Pengertian melamar menurut adat minangkabau adalah berkunjungnya ” Ninik Mamak – anak gadis  minang kerumah calon suaminya. Untuk menyampaikan suatu maksud dan  keinginannya mengambil si lelaki minang sebagai menantunya. Pihak Ninik Mamak si lelaki  minang ini,  akan menunggu kedatangan keluarga / KAUM  gadis minang ini beserta anggota kerabatnya.

Yang menjadi pertanyaan apakah tidak bertentangan dengan  falsafat ” Adat bersendi syara’ – syara’ bersendi kitabullah ( ABS – SBK ) ?.  Saya jawab ” TIDAK “. Mengapa demikian ?

Hal ini dimungkinkan, apabila si Anak telah mempunyai komitmen didalam dirinya bahwa ia akan menikahi seorang gadis. Ia  akan melamar kepada orang tuanya secara langsung. Boleh saja ia ditemani oleh orang lain atau yang dituakannya. Bukankah dalam ijab kabulnya nanti – anak Lelaki kita itu akan mengucapkan ijab kabulnya langsung kepada Ayah/Wali si Gadis.

Ini yang mesti kita pahamkan bersama – bahwa pada saat merealisasikannya komitmen perkawinan – pada beberapa keluarga sering bersitegang untuk menentukan siapa yang mengawali kunjungan dan siapa yang menerima kunjungan. Dalam budaya Indonesia, yang hidup dalam sistem kekerabatan yang kokoh, maka perkawinan diartikan sebagai perkawinan antar keluarga besar.

Dalam sistem keluarga Minangkabau – bahwa praktek lamar melamar  – adalah implementasi dari tradisi adat dalam sistem kekerabatan matrilinial. Dalam rangka adat itulah, pihak keluarga si gadis akan mendahului – melakukan pelamaran secara resmi kepada keluarga lelaki minang ini terlebih dahulu.  Semua proses ini akan berjalan lancar – apabila calon pasangan sudah mengantisipasi terlebih dahulu langkah apa saja yang hendak dilakukan. (bersambung)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.