Saatnya kita bicara tentang “ lidah, mulut dan bibir “

Posted in AGAMA DAN ROHANI dengan kaitan (tags) on September 17, 2009 by ~padusi~

Copy of 100_0038Lidah, mulut dan bibir adalah tiga serangkai yang ber sinergi untuk bekerja sama sebagai indera manusia, yaitu indera wicara dan indera pengecap. Kerjasama anggota tubuh  ini juga saya lakukan ketika saya menghisap Asi eksklusif ibu saya, ketika pertama lahir kedunia ini. Kemudian secara berturut – turut saya makan dan minum dari mulut. Berbicara dan berkomunikasi melalui  lidah.  Terkenal dan diperbincangkan karena bibir, yang disebut buah bibir. Berkata yang baik atau bermanis – manis dalam berkomunikasi disebut manis mulut. Meskipun manis mulut artinya ; “ lain dimulut lain dihati. Mengandung makna kepalsuan.  Saya pun bisa terfitnah karena lidah atau tanpa sengaja mengfitnah orang lain karena lidah. Bahkan saya bisa adu mulut dengan orang lain, bilamana ada perbedaan tajam diantara saya dengan lawan bicara. Hanya saja apa yang Anda harapkan dari keseharian saya tentunya, jika saya merasa bahagia pasti secercah senyum manis akan tersungging dari bibir saya.

Kita berkomunikasi dan bergurau dalam kosa kata yang jelas diterima oleh lawan bicara kita, melalui tiga komponen ini. Dalam penekanan suara tertentu melahirkan percakapan yang enak didengar dan kadang mampu memancing emosi lawan bicara. Silahkan Anda interpretasikan wujud komunikasi itu…

Sebuah komunikasi, mengeluarkan kata-kata yang bermakna – sebagai olahan pikiran atau pendapat. Ia juga bisa berasal dari hasil rekaman mata – kemudian direspon otak yang melahirkan suatu percakapan.  Hanya bahasa kalbu yang tidak bisa diketahui oleh siapapun,  kecuali Allah SWT.

Baca selebihnya »

Saatnya kita bicara tentang ” telinga “

Posted in AGAMA DAN ROHANI dengan kaitan (tags) on September 8, 2009 by ~padusi~

http://www.topnews.in/gene-discovery-sheds-light-critical-proteins-function-hearing-2205046

Pada artikel yang lalu, saya telah mengupas tentang Mata, baik mata sebagai indera penglihatan maupun mata sebagai jendela jiwa. Ternyata didalam kehidupan kita ini, ada 8 jenis mata yang masing-masing memiliki arti kiasan yang berbeda-beda. Mata lah yang paling menguasai diri kita. Lebih – lebih disaat mengantuk. Sebagus apapun keinginan kita melihat sesuatu, jika ia meminta dilelapkan, maka mau tak mau kita dibuatnya tertidur.

Dari tinjauan kalbu, maka untuk memperoleh kecerdasan hati kita harus mengasah mata hati. Kecerdasan hati adalah wujud dari tingkat keimanan seseorang. Allah SWT, berfirman dalam surah Al Isra’, ayat 72 ; Barang siapa buta (hatinya) didunia ini, maka diakhiratkan dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).

Baca selebihnya »

Saatnya kita bicara tentang “ Mata”

Posted in AGAMA DAN ROHANI dengan kaitan (tags) on Agustus 12, 2009 by ~padusi~

180px-Menschliches_auge

Mata

Mata adalah bagian dari panca indera –  penglihatan yang mampu  mendeteksi cahaya. Tugas mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual. Secara metafora, mata manusia sering dianggap sebagai “jendela jiwa“. Sebagai jendela jiwa, saya bisa merasakan sesuatu ketika memandang mata seseorang.

Doeloe saya sangat mengerti sekali, ketika ada sesuatu yang tidak disukai Ibu saya . Ini diketahui dari cara pandang matanya kepada saya. Dengan kedipan matanya– heemm ..mungkin agak sedikit membelalak – saya sudah paham bahwa ia tidak suka. Menyuruh sesuatu atau yang bersifat laranganpun cukup dengan mata. Begitu pula ketika matanya yang bersinar – menunjukkan rasa senang dan kebanggaannya. Sangat efektif sekali rasanya. Bagaimana dengan saya…?, Sambil angkat bahu – dan berkata ..” entahlah”, saya tidak tahu, apakah anak – anak saya paham akan sikap seperti yang dilakukan ibu saya….???  Yang jelas untuk mengiringi pandangan mata saya atas prilaku mereka yang tidak saya sukai, saya benar benar mendelik dulu. Eh… bukannya mereka menjadi takut, malahan mereka tersenyum geli – melihat tingkah saya itu. Akhirnya terpaksa juga keluar semua perbendaharaan bahasa saya. Bukankah kemampuan bicara kaum wanita adalah tiga kali lipat dari kaum pria. Atau vocab kaum pria hanya 7000, sementara wanita memiliki 21.000.

Baca selebihnya »

Mengudaralah layang layangku….

Posted in PUISI dengan kaitan (tags) on Agustus 10, 2009 by ~padusi~

layang 2

Wahai layang – layangku..

Mengudaralah engkau ke angkasa semampumu
Ada penganjungmu yang kokoh menegakkanmu
Ada naluri dan bathinmu yang akan menjadi terajumu

Akan ada matahari bersinar yang memberimu cahaya
Akan ada angin yang berhembus yang membuatmu terbang elok
Bukankah dirimu dibuat elok karena adanya kasih sayang
Bukankah dirimu menjadi perkasa berkat siapapun yang mendoakanmu

Jika ada angin sepoi sepoi tersenyumlah
Ajaklah layang layang lain menikmati kegembiraanmu
Jika ada angin kencang, pintar – pintarlah engkau bertahan
Pelayarilah arah angin agar engkau tidak jatuh menukik ke bumi

Seumpama engkau mesti turun suatu waktu nanti
Janganlah ada penyesalan pada dirimu
Karena engkau berjalan karena suratan nasib yang engkau upayakan
Dan ada takdir yang benar benar menjadi kekuasaan Allah

Penganjungmu berkata : Berdoalah dan selalulah berikhtiar
Agar engkau bisa menjadi manusia yang bernilai………
Doa akan senantiasa mengiringimu layang layangku…

Puspiptek, Serpong, 9 Agustus 2009

catatan : luahan hati seorang ibu disaat melepas anaknya pergi merantau …

Pada Sebuah Kapal….

Posted in AGAMA DAN ROHANI, MY STORY dengan kaitan (tags) on Agustus 4, 2009 by ~padusi~

0bb066b4Lili_Aini_ViewofSitiNurbaya

Angka itu belum mencapai angka tahun perak. Angka yang dicita-citakan oleh pasangan yang ingin meraihkan kebahagian dalam rumah tangganya. Kami baru menapaki bahtera rumah tangga selama 24 tahun. Setara angka dua lusin. Belum apa apa dibanding dengan handai tolan yang telah menapaki bahtera rumah tangga melebihi angka ini.

Duapuluh empat tahun yang lalu pula, nakhoda kapal kami mengucapkan lafaz ijab kabul, didepan penghulu yang disaksikan para kerabat dan handai taulan. Sang Nakhoda dan Mualim berjanji untuk melayarkan kapalnya menjadi keluarga sakinah ma waddhah wa rahmah. Nakhoda dan Mualim sadar bahwa lautan yang akan dilayari tidak selamanya tenang. Ada angin yang membuat arus dan gelombang. Terkadang laju bersama gelombang dan terkadang oleng karenanya. Alhamdulilah kapal yang kami lalui

tetap seimbang dalam pelayarannya, berkat keahlian nakhoda mengatur pelayaran. Nakhoda harus tegas dan kalau perlu bersikap otoriter demi menyelematkan penumpangnya. Ini adalah kewajiban agama yang diperintahkan Allah kepada nakhoda nakhoda kapal.

Didalam kapal itu telah ada 4 orang penumpang, yang akan diseberangkan sang nakhoda dan mualim. Sungguh tugas yang berat dan mulia. Ini amanah di mata Allah. Satu persatu penumpang itu akan kami turunkan pada tempat tujuannya. Yaitu pada pelabuhan kehidupan yang sudah pasti.

walau kami tidak mampu menciptakan teladan yang dilakukan oleh keluarga Imran, namun kami senantiasa berharap agar segala nasehat Imran kepada anak-anaknya dapat kami lakukan.

Berkatalah Nakhoda pada penumpangnya. “ Berjalanlah engkau Nak… Papa telah mengiringimu hingga tujuan yang engkau cita-citakan. Awalilah langkahmu dengan mata menatap kedepan. Sesungguhnya ribuan langkah yang engkau lalui – selalu berasal dari satu langkah. Berpesan Mualim kepada penumpang. “ jika engkau tersandung – tetaplah engkau berdiri dengan hati yang tegar. Masih panjang perjalanan yang akan engkau lalui. Kasih Ibumu akan selamanya mengiringi perjalanan hidupmu hingga maut datang memisahkan dirimu dan ibumu.”

Dua puluh empat tahun yang lalu, pula kami memakai pakaian kebesaran. Menjadi raja sehari. Yang disanjung. Yang diiringi doa dari segenap sanak family. Walau ada riak dan gelombang, namun kami meyakini itulah namanya dinamika kehidupan. Terasa manis bila kita sadar bahwa ujian dan cobaan selalu diberikan pada hambanya yang beriman.
Doa kami semoga Allah SWT, senantiasa melindungi keluarga kami dari ketidak mampuan kami menjaga janji janji Allah yang telah memberikan kami keberkahan, rezeki yang bermanfaat serta limpahan rahmat dan nikmat lainnya.

“ Fabiayyi ala hirabbikumaa tukazdzibaan…. Nikmat mana lagi kah yang engkau dustakan… Demikian salah satu bunyi firman Tuhan.

“Ya Allah… jika mengingat nikmat yang telah Engkau berikan itu, ternyata kami sia-siakan – rasanya kami

termasuk orang yang tidak bersyukur dan merugi. Karenanya…. ampunilah dosa kami. Berkahilah selamanya kehidupan rumah tangga kami. Jauhkan kami dari segala fitnah dan godaan yang datanganya tanpa kami sadari. Karena mungkin berasal dari diri kami. Tetapkanlah diri kami menjadi suri tauladan bagi anak-anak kami dan handai taulan yang telah terjalin silaturahminya dengan kami. Amiin .. Amiin ya Rabbal al

amiin.


Puspiptek, Tangerang Selatan, 4 agustus 2009

Semalam di Kuala Lumpur dan dipagi hari

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING dengan kaitan (tags) on Juli 16, 2009 by ~padusi~

1Cerita kali ini, saya akan mengkisahkan tentang suasana bathin saya ketika berada di negara rumpun melayu ini, seputar kuliner, body language, kreativitas bangsa serumpun ini. Saya mencermati benar sikap dan prilaku mereka, khusus kaum wanitanya. Saya kagum kepada keanggunan wanitanya yang tetap konsisten berbaju melayu. Saya memandang mereka bagaikan ibu saya, walau mereka masih muda dibanding saya. Kala dulu – ibu saya – sering menggunakan dan membuat baju ini. Masih ingat bagi saya, bagaimana cara memotong pola, kemudian menjahitnya. Ada Siba, yaitu sampiran baju yang bersambung pada lengannya yang lebar. Potongan inilah yang menyebabkan lekuk tubuh kita tidak kelihatan. Akhirnya saya jadi teringat akan baju kurung buatan saya sendiri, kala gadis doeloe.

Saya membuatnya untuk keperluan menyambut hari yang terindah dalam kehidupan saya seperti baju kurung untuk wisuda, bahkan  saya membuatnya menjadi pakaian pengantin yang bersulam benang emas.  Inilah yang saya banggakan sebagai gadis minang 25 tahun yang lalu – walau saya tetap menjadi remaja ibukota kala itu. Kemudian saya berkesimpulan dalam hati – bahwa ibu saya berhasil membangun  jati diri putri-putrinya menjadi gadis minang sejati di rantau orang, sementara saya sekarang ini belum tentu mampu membangun jati diri minang, terhadap puteri saya sekarang ini. Itulah obsesi sebuah baju kurung dimata saya.

1Semalam di Kuala Lumpur, kami nikmati jalan-jalan dengan bermacet-macet ria. Untuk menuju sentra bisnis bagi kalangan wisatawan di Bukit Bintang, kami harus duduk berjam – jam didalam mobil. Ditingkahi hujan yang luar biasa lebatnya kala itu, membuat kami termangu-mangu tak berdaya di dalam mobil. Wilayah yang satu ini adalah kawasan mal serta plaza. Anak-anak protes jika cari makan malam disana. Mereka ingin makan di kaki lima. Ingin makan pratha, tandhori, karee, nasi lemak, serta jajanan melayu jika itu ada.

Akhirnya kami mencari Restoran Nasi Kandar Penang, yang lokasinya didepan Hotel Niko, entah dimana alamatnya. Anak-anak sangat puas sekali, lebih-lebih “ AULIA “ anak kami yang lebih suka kepada suasana yang avonturir. Malam itu kami menanyakan nasi lemak. Ternyata baru tersedia nanti pada jam 11 malam. Konon katanya, pejabat Indonesia sering berkunjung ke restoran ini dan direkomendasikan oleh KBRI – KL, sebagai tempat yang representative sebagai tempat makan pinggiran. Murah meriah… Eheemmm… ternyata banyak juga pejabat kita yang berupaya ngirit kalau lagi diluar negeri. Suasananya seperti pusat jajanan malam di Jakarta. Entah salah pesan, yang jelas saya tidak menikmati masakan yang enak kala itu. Mie gorengnya “ bakalintin “ yang membuat poros tengah mejadi ‘ liok’n”nek, rasanya. Ada tandhori – pakai kuah dalca, rasanya kok beda dengan buatan dirumah saya. Saya mencoba – kuliner “ orang keling” ini. Saya ingat dengan seorang perantau minang di milis RantauNet, Jamaludin Mochyidin dan Idris Talu, yang menjelaskan bahwa di KL – ada masakan dalca. Inilah yang akan saya coba malam itu. Padahal waktu tahun lalu – kakak saya pernah menemukan “ gulai bagar rasa minang asli ‘, ketika kami menginap di Hotel Dorrsett, yang loMkasi bersebarangan dengan Menara Petronas. Entahlah.., memang kalau terlalu disigi benar – belum tentu pas dengan harapan kita. Yang penting, semua suasana makan malam ini – saya bidik dalam video dan camera saya. Akan menjadi kenangan bagi saya.

Setelah kenyang makan malam, semula kami bermaksud ke ke Petaling. “ Petaling adalah China Townnya KL. Disini pusat perbelanjaan souvenir Malaysia, dan banyak menjual barang branded “ palsu”.  Namun karena pada tahun sebelumnya sudah mengenal wilayah ini – yang tidak jauh beda dengan “ Paddish market di Sydney – Australia atau China Town – Bugis Street di Singapore, ya … sudah balik ke Rumah Tumpangan. Istirahat hari sudah menunjukkan jam 21.30.

Keesokan harinya, saya dan kakak perempuan saya ( yang mengantarkan saya ke KL ini), berkolusi dengan saya “ Evy.. anak-anak dan papanya biar makan di Restoran Hotel, kita cari makan diluar. Okay… okey.. saya sambut tawaran jitunya ini. Bukankah kaki kami sama-sama bacilalek, kata rang minang. Alias suka keluyuran.

Kata kakak saya itu; “ Aku masih penasaran dengan daerah ini. Katanya disini pusat perbelanjaan kaum hawa.. tapi dimana..??? dan ada apa saja…???. Pastilah ia mempertanyakan hal ini, karena “ hotel Quality “ tempat kami menginap juga berdasarkan rekomendasi temannya. Begitulah kami berdua remaja kolot itu, ngacir dipagi hari itu keluar Hotel. Hasilnya ada tiga moment penting yang yang saya rekam dipagi hari ini.

Kami berdua menemukan menu-menu kuliner dipagi hari itu. Gulai kawah dan Nasi lemak. Soal nasi lemak ini tadi malam kami berburu hingga ke restoran nasi kandar Penang, didepan Hotel Niko. Ternyata kuliner ini adalah menu sarapan pagi. Dibungkus bulat dengan daun pisang. Soal bagaimana rasanya – biarlah saya simpan dulu,   karena saya lebih tertarik terhadap menu yang dihidangkan secara prasmanan. Saya meniru menu seorang pria muda yang berada disamping saya,  meracik menu “ Gulai Kawah”. Lagi pula udara dingin dipagi itu, ada masakan yang mengepul – ngepul, seketika  itu “ poros tengah “ mangariyuak minta diisi. Saya ikuti apa yang diambilnya. Saya akan rekam bagaimana rasanya.

“ Wow… ternyata menu yang eksotik – yang sangat saya sukai – karena tidak jauh beda dengan soto “ Widodo “ yang terkenal di Klaten – Jawa Tengah sana. Saya bilang sama kakak saya : “ my beautyful sister ..food is very tasty indeed. it’s the same as soto Widodo. Tapi kenapa mereka menyebut gulai Kawah. Antahlah….!!!

Yang jelas dipagi ini, kami berdua sangat menikmati kuliner melayu dalam suasana melayu pula di kampong melayu negeri jiran itu.

Langka kedua remaja kolot itu berlanjut hingga menyisir wilayah pusat perbelanjaan kaum wanita melayu. Persis sama seperti suasana di Pasar Baru – Jakarta. Tekstil dan baju kurung begitu banyak ragamnya. Kerudung, baju kurung, selendang. Harga stelan baju kurung berkisar  RM 40 – RM 100. Hampir sama kan ..? dengan harga di Indonesia. Bahan kain dengan aneka motif bunga banyak tersedia. Tampaknya bahan – bahan ini sudah diekspor ke Pasar Bawah kota Pekan Baru. Kami sudahi urusan yang satu ini. Bagi saya bukan ini – makna perjalanan yang akan saya raih.

Saya penasaran dengan banyaknya amai –amai malaysia ini yang berlalu lalang digedung yang berseberangan dengan Hotel kami. Ternyata diseberang Hotel itu sedang diadakan “ Ekspo Sulaman Warisan Sepanjang Zaman”. Saya melihat isi counter atau stand – yang dipamerkan dan produk yang dijual dalam rangka Ekspo itu. Ooh… para wanitanya – secara berkelompok menjual  buah karya tangan wanita melayu itu. Berupa sulaman bordir.

Maaf ya ..kepada dusanak  saya yang berasal dari negeri Jiran ini. Bukannya saya ingin lebih menonjolkan hasil ketrampilan wanita Indonesia – khususnya wanita minangkabau, maka hasil karya yang dipamerkan pada Ekspo itu, sungguh masih berada dibawah rata rata. Saya memberi penilaian begini ; Ibarat meracik sebuah masakan, ada  tiga rasa untuk menghasilkan masakan yang enak dan gurih. Yaitu terasa asamnya  – terasa asinnya dan terasa manis atau gurihnya. Untuk menghasilkan masakan itu,  tidak saja memenuhi unsur rasa seperti tersebut diatas, namun ada lagi yang lebih khas, yaitu yang disebut “ lakek tangan “ , istilah Minangnya. Bukan “ malakek tangan “ lho. Yang terakhir ini sangat jauh artinya karena menyangkut KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu – kita juga mengenal “ raso manenggang “. Jujur masakan “ raso manenggang “ ini mungkin dapat diumpamakan pada hasil masakan saya. Atau jualan kuliner yang serba tanggung – karena tidak tercipta antara “ rasa ‘ dan Citera”. Rasa itu tiga – sedangkan citera  adalah performance masakan itu.

Inilah penilaian yang saya berikan – ketika membandingkan hasil karya tangan perempuan Minangkabau yang berpusat di kota Bukitinggi dibanding hasil karya tangan perempuan Malay di Majelis Amanah Rakyat itu. Mengapa saya mengumpamakan demikian ?

Tidak lain karena, hasil karyanya belum menciptakan seni menjahit yang tinggi, yang mempersyaratkan kehalusan, keindahan, adanya gradasi warna dari ornamen ditampilkan. Bukankah semua itu memerlukan “ ketrampilan membordir “  yang lakek tangan bukan..????. Bukan hasil raso manenggang. Akhirnya penilaian yang dapat saya berikan adalah PDI – “ pado indak, kecek urang di Padang. Sekali lagi, untuk penilaian ini – saya menghaturkan maaf pada dusanak serumpun kita.

Rencana kami untuk menaiki Menara Petronas, kembali gagal. Tiket “ percuma “ (percuma = gratis..!?) untuk naik  ke Menara lagi –lagi habis, Saya merasakan kekecewaan hati seorang anak saya yang ingin mencoba suasana KL pada siang hari,  di ketinggian lantai 41 Menara itu. Padahal saya ingin menunjukkan ke unikan  Menara Kembar itu kepadanya, yaitu jembatan penghubungnya yang dibuat lentur – walau memiliki struktur yang kokoh. Saya pernah merasakan goncangan dan goyangan ba’ ayunan, dikala dulu saya berada disana sambil tidak puasnya berpose dengan bermacam gaya. Akhirnya untuk memuaskan hati, saya beralih membidikkan camera saya pada gaya wanita – wanita pekerja dengan baju kurungnya. Mereka adalah para karyawati yang sedang berativitas di perkantoran di Menara itu. Saya membidikkan camera kepada salah satu diantaranya. Walau senyum manis – tidak tersungging dari bibirnya perempuan Malay itu – saya mencoba untuk beramah tamah padanya bahwa saya akan mengambil gambarnya. Dan jadilah beberapa pose wanita Malay di camera saya. Suatu saat saya akan mencari tahu – mengapa ada kesamaan baju Malay itu dengan baju kurung kita. Siapa desainer awalnya ?. Ini yang menjadikan tanda tanya bagi kita, disaat tidak ada lagi batasan ruang, maka masing – masing negara akan berlomba menghimpun kekayaan intelektual. Kadang bangsa Malay ini – seakan menjarah semua hasil kreasi anak bangsa kita dalam bentuk nyata, seperti yang saya saksikan di TV 2 Malysia ketika saya masih di Hotel kala itu. Secara utuh saya ungkapkan apa yang saya saksikan kala itu : “ seorang  presenter sedangkan mempertunjukan 2 buah wayang – yang rupanya persis sama dengan wayang kulit di negeri kita. Ia menyatakan sebagai : Wayang is a creative art that is often encountered in our market Negeri Kelantan.  Wayang made of cattle skin, but We do not know the original from……. .

“ Hhaaahhhh………!!!!! Saya terperanjat dan bercampur marah. Benarkah – sebuah wayang – yang dengan bangganya orang Jawa sering mementaskan wayang semalam suntuk, perempuan malay – yang menjadi presenter TV2 – tidak mengenal asal dari Wayang ….???  Sayang ketika itu, saya  belum cekatan mengabadikan omongan perempuan Malay itu dalam bidikan video saya. Akhirnya tinggalah saya ngomel –ngomel tidak karuan mengingat peristiwa itu. Sudahlah ini memang saudara saya – yang mungkin kurang beretikan. Siapa tahuu…??? . Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita sambil mencari tahu bagimana – suasan negara bagian lain untuk menjadi kenangan saya dan menjadi kisah saya selanjutnya (bersambung).

Melancong ke negeri Jiran : Singapore – KL

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING dengan kaitan (tags) on Juli 7, 2009 by ~padusi~

“ Nikmat mana lagi yang engkau dustakan…, demikian antara lain firman Allah SWT, yang disampaikan secara berulang ulang dalam Surah Ar – Rahman, untuk kita pahami agar kita selalu bersyukur kepadaNya. Saya termangu – mangu duduk diatas mobil yang kami tumpangi di jalan tol yang menghubungkan Singapore – Kuala Lumpur kala itu. Saya hanyalah rakyat biasa, namun saya mensyukuri betapa nikmat Allah yang diberikan kepada saya – akan saya nukilkan dalam kisah perjalanan, yang tidak saja bermanfaat bagi diri sendiri akan tetapi juga bari orang lain hendaknya.

Jam menunjukkan pukul 10.00, ketika kami meninggalkan rumah di Singapore menuju Malaysia. Di Center point, Singapore, cukup lama petugas administrasi memeriksa semua paspor penumpang yang berjumlah 7 orang termasuk seorang sopir. Perbatasan S’pore dengan Johor – Malaysia dilakukan dengan melintasi laut sepanjang k.l 1 km. Dan tanda perbatasannyapun cukup rumah kecil yang tak ada istimewanya. Terdapat perubahan yang cukup pesat pada ujung Semenanjung Malaysia ini. Center point, Johor – untuk pemeriksaan paspor lebih besar. Jembatan layang yang menghubungkan hingga jalan lingkar luar Negeri Johor – sudah sangat rapih. Lalu lalang pelintas batas antar kedua negara cukup padat. Mereka adalah para pekerja yang bekerja di Sinagpore dan berdomisili di Negeri Johor ini. Mereka menggunakan “ motorsikal “ sahaja.

Terasa ada perbedaan mencolok antara Malaysia dan S’pore. Memasuki Malaysia terasa kita masuk wilayah Sumatera. Bahasa Melalyu “ yang cukup aneh bagi kita membuat suasana di mobil kami mejadi gaduh.

“ Woww.. ada kedai gigi”, salah satu anak kami memulai pembicaraan. Saat itu diperjalanan banyak sekali kedai gigi. Maksudnya adalah di Indonesia disebut “ tukang gigi”.

“ Wah ada “pengurup uang berlesyen”. Geli juga kami mengartikan istilah itu. Kami menanfsirkan pengurup uang itu adalah “pengeruk uang”. Dalam bahasa kita berarti mengeruk uang secara tidak halal. Sehingga diartikan sebagai koruptor.

Banyak yang aneh dikuping kita , seperti :

Ind – English Malaysia Ind – English Malaysia
custom Clearence Kastam Petugas tol juru tol.
highway lebuh raya Kasir juru wang
show room untuk penjualan mobil Toko kereta baru hotel Rumah tumpangan
bengkel motor servis motorsikal Money changer Pengurup uang berlesyen
Salon kecantikan Salun gunting rambut dan persolekan staff Kaki tangan
Jual mobil bekas Jual mobil terpakai distributor pengedar

Di Malaysia ini banyak sekali “ pengedar”, yang di Indonesia selalui ditafsirkan sebagai penjual barang haram. Ternyata pengedar itu adalah distributor

“ kok kita tidak menemukan rumah sakit korban laki-laki ya…….kata saya.  Ternyata istilah ini sudah tidak kita temukan lagi. Istilahnya telah berganti menjadi “ klenik kesuburan”.

Mulailah mobil kami melaju dengan kecepatan tertentu  menuju KL, sejauh 385 km. Dikiri kanan jalan sejauh mata memandang yang terlihat adalah pepohonan kelapa sawit. Aku hanya tercenung … ini kah negara yang diam-diam telah membangun negaranya dari hasil perkebunan kelapa sawit melalui ekspor CPO terbesar didunia. Mereka banyak menggunakan  pendatang haram dari Indonesia sebagai buruhnya.

Konon kabarnya, banyaknya “pendatang haram” istilah Malay, bekerja di Malaysia ini tidak lain dari kecerdikan para cukong dengan aparatnya. Sewaktu mereka datang tidak berlesyen, aparat menutup mata. Setelah proyek/pekerjaan  selesai, barulah mereka memulangkan dengan istilah “ pendatang haram.”

Memasuki jam makan siang kala itu, kami beristirahat di pinggiran Lebuh Raya (tol), pada  kawasan Medan Selera (food court) dengan manikmati masakan khas melayu di wilayah Seremban Negeri Sembilan. Medan Selera ditandai dengan bangunan atap bagonjong – bangunan ba‘ rumah gadang di Ranah Minang. Lebih lebih suasana Minangkabau – akan terasa, manakala kita berjumpa dengan wanita berbaju kurung – ba‘ amai amai kita serta Datuk yang kita jumpai di kota Bukittinggi. Yang terasa dihati saya kala itu : „ ondeh lai basobok jo dusanak awak mah…“. Di Kedai – kedai selera itu, ada masakan balado dan ada yang bersantan. Semua menerbitkan air liur, kamai yang tengah dilanda rasa lapar, seperti : sayur pucuk Perancis, gulai rebung, terong balado, gulai basantan. Alah mak… batitiak salero… Murah meriah dengan hitungan RM, yang jika dirupiah sama Rp 30.000,- per kepala. Nah.. lagi – lagi teringat saya akan negara kita, mengapa ditempat peristirahan di  Lebuh Raya, semisal Jakarta – Cikampek –  Cipularang, Bandung, justru yang menonjol adalah hasil makanan bangsa bule. Seperti Pizza Hurt, AW, KFC, M’donald. Tolonglah dikoreksi oleh Penguasa baru nantinya, demikian saya berharap.

Ketika kami sampai di KL, semula kami merencanakan naik Menara Petronas yang menjadi kebanggaan bangsa ini. Ternyata kesempatan kami untuk naik ke Menara Petronas – kali ini gagal, tidak seperti sebelumnya. Tiket „ percuma“ yang ingin kami peroleh keburu habis. Kami berharap besok hari dapat memasuki Menara itu, seperti tahun lalu. Oleh karena itu, waktu luang yang ada kami gunakan untuk berkunjung ke Genting Highland sekarang. (bersambung)


Republik Catur

Posted in ULASAN DAN SIGI dengan kaitan (tags) on Juli 6, 2009 by ~padusi~

Dari kiri ke kanan, raja putih, benteng dan menteri hitam, pion putih, kuda hitam, dan gajah putih.

Kata catur diambil dari bahasa sanskerta yang berarti “empat”. Namun kata ini sebenarnya merupakan singkatan dari caturangga yang berarti empat sudut. Di India kuno permainan catur memang dimainkan oleh empat peserta yang berada di empat sudut yang berbeda. Hal ini lain dari permain catur modern di mana pesertanya hanya dua orang saja.

Kemudian kata caturangga ini diserap dalam bahasa Persia menjadi shatranj. Kata chess dalam bahasa Inggris diambil dari bahasa Persia shah. Dalam artikel ini bukan teknisnya yang akan kita perbincangkan, namun adalah filosofi kerja catur dalam percaturan politik

Dikeluarga kami – aku bersaudara tidak ada yang hobby bermain catur. Berbeda dikeluarga suami – para ipar, pambayan (suami sang ipar) semua memilik hobby bermain catur. Dimataku – para anggota kerabat itu – menjadi orang yang tidak peduli dengan lingkungannya. Saking tidak pedulinya – tinggalah para isteri-isteri mereka mengomel tidak karuan melihat polah dan tingkah laku yang agak egois ini.   Entah apa yang menyebabkan mereka mencintai catur, karena catur menawarkan tantangan yang berbeda di setiap pionnya.. bukan ??? segan bertanya dengan para ipar lebih baik aku bertanya pada teman-teman dikantor. Apa sih yang menjadikan pecatur itu penasaran dan memiliki tingkat egoisme yang agak lumayan?

Yang kuamati dari bermain catur adalah, permainan ini bersifat teka-teki, seperti bermain scrabble dan mengisi teka-teki silang. Kebanyakan pria yang statis – tidak memiliki kosa kata yang cukup banyak untuk berbagi cerita,  sangat mengagandrungi permaian catur ini, karena mendorong rasa penasarannya Meski sudah bisa, rasa penasaran dan ingin terus bermain selalu muncul. Lagipula ini dapat menstimulus daya pikir otak. Hal ini tentu berbeda dengan pria yang atraktif – dinamis, sehingga tidak akan mengkin ia mampu berlama-lama menatap sepenuh hatinya pada buah – buah catur itu. Padahal bermain catur memiliki strategi tertentu yang tak kalah dengan peran yang dimainkannya dalam kehidupannya.

Untuk mengikis rasa penasaranku, aku bertanya pada sahabatku – Saud Maruli Siregar orang Tapanuli.  Hal yang lumrah bila kita bertanya pada ahlinya.. bukan ??

Didalam negara Republik Catur – begitu istilahku, ternyata permainan ini didukung oleh masing-masing para anggotanya yang terdiri, pion 8 buah, benteng 2 buah, kuda 2 buah, gajah 2,  menteri1 buah, raja 1 buah. Untuk keberhasilan dan pencapaian kemenangan berarti dibutuhkan 32 buah kekuatan.

Etika politik yang berlaku didalam republic ini adalah mencari ; peluang – kesempatan dan kelengahan lawan. Siapakah yang diharapkan dapat mendukung kemenangan dalam Republik catur ? Semua anggota – anggota yang tersebut diatas. Boleh jadi kedudukan pion memiliki kemampuan yang cemerlang manakala ia berjalan terus tanpa penghalang kecuali dia dijegal. Bagi anggota – anggota republic catur , masing-masing memiliki tugas dan fungsi seperti halnya dalam kehidupan bernegara. Ada sispro (system dan prosedur) yang wajib ditaati. Juga memiliki visi yaitu maju kedepan menuju satu tujuan untuk memenangkan pertandingan. Bagaimana merealisasikan visi tersebut ? Ialah melakukan kiat – kiat tertentu. Disinilah peran dari para pemain. Memang menimbulkan perang urat syaraf untuk memenangkan suatu pertandingan.

Pesta demokrasi Pemilu 2009 sudah di depan mata. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyelesaikan sebagian tahapan-tahapan kerjanya dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Pemilu tersebut. Tahapan-tahapan kerja dimaksud ditetapkan di dalam Peraturan KPU No. 09 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Program dan Jadual Penyelenggaraan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tahun 2009 .

Strategi politik Capres  – seperti  “permainan catur yaitu, memutar-mutar langkah dengan maksud membingungkan lawan. Ada yang  mencoba memberi kesan “siap“ dan meyakini public atau arah  lawan bermainnya.

Apakah ia berposisi sebagai pemain atau ia beperan seperti kuda hitam atau kuda putih ? Rakyat adalah pion dalam percaturan politik. Ia mampu mempromosikan Kuda, Gajah, Benteng dan Menteri. Sebaliknya pion pun akan dilindungi oleh para pembesar di Republik Catur itu. Bahkan ia mampu mengambil posisi yang menentukan dalam percaturan politik. Sebagaimana orang bersorak menyaksikan percaturan ketika sebuah pion melakukan Skaakk Ster…….

Jika Capres bertindak sebagai pemain catur dia harus mampu membaca apa yang akan ia lakukan. Ia memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir. Percaturan politik sekarang ini berbeda dengan masa dahulu.  Pada Pilpres tahun 2009 ini, terdapat 3 pasangan capres dan cawapres untuk kita pilih dengan strategi yang sulit diduga dan mungkin hasilnya tidak disangka sangka. Ketiganya memiliki kesempatan untuk memenangkan pertandingan urat syaraf ini. Boleh saja yang bertindak sebagai “ pro rakyat “ atau ingin melanjutkan semua program yang masih terbengkalai. “ Lanjutkan – walau dengan rasa Indomie – ehhh.. rasa Indonesia dong…. Atau “ lebih cepat lebih baik “ – walaupun dalam urusan menaiki kendaraan – kalimat ini membuat hati deg degan – karena takut tabrakan atau tersungkur sebelum mencapai tujuan – dan tentu ada rem nya yaitu : “ biar lambat asal selamat”. Jika alon – alon asal kelakon – tentu menjadi tanda Tanya kita pula “ mau dibawa kemana negara ini…?????

Demikianlah Baik kuda maupun  ”raja” harus bisa mengelak dan melangkah bahkan apabila ada menteri dan pion-pion yang ingin menghambat maka menteri-meteri dan pion-pion tidak mampu menghambatnya. Keboleh jadian seorang tokoh bisa diskak oleh seorang kuda hitam. Siapakah yang berperan sebagai si Kuda Hitam/Putih dalam percaturan politik kali ini ? Ternyata banyak sekali. Ia bisa mencomot siapa saja. Bila seseorang kena skak kuda .. Jadi urusan pengadilan tampaknya. Begitulah yang kita lihat pada perselisihan antar Tim Sukses para Capres dan Cawapres itu.

Kadang – kadang saya berpikir… Hemmmm sebenarnya Tim Sukses itu – kan ibarat “ kudo palajang bukik “ kata bundaku dulu. Sering benar ku dengar kalimat ini. Dan baru sekarang kusadari maknanya ;, bahwa seekor kuda – tidak lain adalah bagai kuda beban – yang kemudian ditinggalkan oleh penunggangnya.

Mudah – mudahan pemilihan Presiden tahun 2009 ini dapat berjalan aman dan damai. Lebih lebih kepada kuda pelajang bukik itu tidak mengalami kekecewaan, andaikan ia ditinggal oleh penunggangnya. Begitu pula sang pemain catur yang telah menoreh urat syaraf pemain dan penonton hingga titik penghabisan dapat kendor hingga akhirnya kita menemukan “ pemimpin Indonesia yang memang layak untuk memimpin bangsa ini. Semoga saja. Amiin.

‘ Travelling to Camberra ‘

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING dengan kaitan (tags) on Juni 10, 2009 by ~padusi~

Parlemen House, National Museum, Museum War, Rumah liliput :

1Perjalan dari Sydney ke kota Canberra ditempuh selama 3 jam melalui jalan tol yang harga cukup murah y.i Aust $ 3.-. Udara sangat cerah dan matahari bersinar terang. Sejauh mata memandang kelihatan pada savanna yang sangat luas. Dari kejauhan kelihatan domba dan sapi yang terpeliharan dan berkeliaran bebas. Perjalanan ini terasa lambat karena speedo meter mobil menunjukka angka 60 – 110 m.

container truck 1Pada km tertentu tertulis “ Speed Camera ahead” Selain itu truck container tampak beristirahat. Suasana yang aman ini menimbulkan pertanyaan ku pada sopir kami yang disewa untuk mengantarkan kami.        Pak. Bay – demikian namanya menjelaskan panjang lebar tentang kedisiplinan pengemudi. Ia menjelaskan bahwa pengemudi harus patuh pada rambu-rambu lalu lintas.

Karena tingkah laku pengemudi diawasi oleh Camera. Sopir truck harus melakukan istirahat dalam perjalanan setiap dalam 2 jam perjalanan. Konon katanya setiap truck memiliki stack monitor yang akan diperiksa oleh petugas yang dapat mendeteksi setiap peristiwa pelanggaran ketentuan ini. Jarak Sidney – Canberra seperti Jakarta – Bandung  melalui tol Cipularang. Apakah hal ini bisa diterapkan pada tol Cipularang yang rawan kecelakaan karena batasan kecepatan tidak dipatuhi oleh pengemudi.

Copy of DSCN2578Copy of DSCN2582Caberra adalah kota yang diciptakan  untuk kepentingan pusat pemerintahan Australia   dan parlemen. Kota ini jauh dari gedung-gedung tinggi. Tidak banyak pejalan kaki yang berlalu lalang. Sangat sepi dan sepi. Kami menyempatkan diri memasuki gedung parlemen yang terbuka untuk umum. Akankah gedung MPR kita bisa dimasuki oleh pengunjung sebebas kami dapat memasuki auditorium yang ternyata tidak teralu besar.

Copy of DSCN2591Disini kami mendapat penjelasan bahwa dalam system parlemen mereka; kedudukan Head oppotition sejajar dengan Perdana Menteri. Ketua partai oposisi tetap mendapat penghasilan selayaknya Perdana Menteri yang berkuasa. Dalam persidangan mereka dapat berseberangan  pendapat, namun tidak seenaknya mereka menyampaikan kritikan secara langsung kepada Perdana Menteri. Semuanya diatur melalui mekanisme moderator.

Demikian pula di parlemen disediakan wakil perempuan yang akan selalu memperjuangkan hak-hak perempuan. Foto-foto mereka terpampang dengan jelas semenjak parlemen house ini dibentuk pada tahun 1800-anPara pelajar banyak yang berkunjung ke Camberra. Dalam kurikulum mereka setiap pelajaran diselingi dengan kunjungan studi lapangan dan disaat itu memasukkan ilmu yang menjadi mata ajarannya.

Kota Canberra sangat cantik dan dibangun dengan perencanaan yang sangat matang tanpa merusak lingkungannya. Masyarakat hidup tanpa beban dan ditengah siang bolong aku menyak sikan masyarakat santai berolah raga. Kemakmuran tertampang jelas disini.Selain Museum War – disini juga terdapat museum National Geography – yang akan menceritakan tentang sumber daya alam yang terdapat dibenua ini. Bagi kami museum ini tidak begitu berarti mengingat waktu kunjungan kami yang terbatas. Selain itu kami harus pula membayar pemandu yang tarifnya adalah Aust $ 20,- setara Rp 140.000,-

Kami sempat menemukan Duta Besar Aborogin yang mendirikan tenda dilapangan Gedung Parlemen lama. Menurut sopir yang mengantarkan kami Pak Bay, mereka telah mendirikan tenda ini berbulan-bulan. . Konon mereka menuntut pengembalian wilayah dari penguasaan orang kulit putih yang entah dimana lokasinya di Australia itu. Ternyata Australia menyimpan sesuatu masalah dengan penduduk asli benua itu….

‘ City Tour in Sydney (2) ‘

Posted in RAUN RAUN & TRAVELLING dengan kaitan (tags) on Juni 9, 2009 by ~padusi~

The Padish Market, Darling Harbour, China Town, and Circle Quay

Hari ini kami menjelajahi kota Sydney dengan naik kendaraan umum. Mulailah perjalanan diawali dengan naik bus kota yang harga Aus $ 2.4.

Sampai di pusat kota “ City” kami mampir ke toko coklat yang katanya murah. Ternyata rupiah kita tak terkejar dengan dengan nilai dollar Australia $ 1.- setara Rp 7800,-. (kurs Rp di Aussie).

Terbayang sanak saudara yang akan dioleh-oleh coklat begitu banyak, Akhirnya aku menghitung jumlah kepala keluarga yang ada di keluarga besar  kami. Alhasil aku membelanjakan uang sejumlah Aust $ 36.-.

Hayoo hitung berapa rupiahnya……………….

Dari padish market kami mencoba menaiki monorel yang route cukup pendek yaitu China town, darling harbour, circulair quay. Tidak ada yang istimewa pada Darling Harbour. Daerah ini adalah pelabuhan Sydney – seperti Tanjung Periuk Jakarta. Pelabuhannya bersih.

Aku terheran-heran mengapa airnya bening dan tidak tercemar olie seperti di Indonesia. Setelah shooting camera, perjalanan dilanjutkan ke kearah circulair Quay. Cukup jauh kami berjalan namun tetap terasa nyaman karena udara bersih dan dingin. Tidak terlalu berkeringat.

Di circulair Quay kami bertemu dengan “Capten Cook”, manusia pertama yang menginjakkan kaki di kota Sydney dari Inggris. Gak salahnya jika aku berfoto sejenak dengannya.

Yang aku rasakan kenikmatan dalam berjalan kaki di Sydney  ialah ketika kita sering menyaksikan di TV bagaimana suasana kota di luar negeri – orang berjalan berbondong-bondong,  melangkah tegap dan dipersimpangan jalan mereka menunggu dengan tertib hingga saat lampu hijau menyala – barulah mereka menyeberang beramai-ramai. Tertib sekali tampaknya. Walaupun kita tidak boleh membandingkan dengan Negara kita, namun bolehlah  aku menceritakan bahwa ini kembali kepada kedisiplinan yang ditegakkan oleh aparat serta perangkatnya yang sangat memadai.

Para pengemudi kendaraan cukup santun menghargai pejalan kaki. Apabila lampu hijau menyala, pengemudi dengan tetap memberikan kesempatan kepada pejalan kaki.

Aku mempunyai obesesi tentang pengaturan lalu lintas, bila diterapkan di Indonesia,khususnya Jakarta. Bahwa setiap pengendara mobil harus mendahului pengendara mobil yang berada di sebelah kanannya. Mata pengemudi cukup melirik mobil sebelah kanan sehingga dijamin tidak adakan terjadi kecelakaan, apabila dipersimpangan tidak terdapat lampu merah.

Di Sydney ini, aku mempunyai pengalaman buruk – ketika aku dan Dewi tidak mengerti bagaimana cara menyebrang jalan. Kami pernah menunggu selama bermenit-menit, di penyebarangan jalan. Lampu hijau bagi penyebrang jalan, tidak kunjung menyala. Kami panic. Gimana nih.. lampu pejalan kaki tetap berwarna merah.  Kami baru sadar bahwa dipenyeberangan jalan itu, terdapat tombol untuk ditekan – agar dapat menyalakan lampu hijau bagi penyebrang pejalan kaki.  Kami tertawa ngakak.. inilah si melayu..jalan-jalan ke Manca nagara.

Ketika di “Opera House – kami semua sadar bahwa hari sudah menunjukkan jam 14.30. Belum sholat dzuhur. Ada bu haji yang tidak boleh melalaikan waktu sholatnya. Terus terang diNegara non muslim – tentu tidak punya tempat untuk melaksanakan sholat. Akhirnya dengan dalih kedaruratan, maka kami semua tetap melaksanakan sholat dengan cara bertayamum. Aku menepukkan tanganku pada badan omzil yang jaketnya sedikit berdebu dan mengambil wuduk dengan cara bertayamum.

Menyadari waktu dzuhur menjelang habis sementara kewajiban sholat harus ditegak kan, maka kami melaksaknakan sholat sesuai dengan tuntunan agama kita, yaitu ; dengan cara ber tayamun.

Hal ini kami lakukan bahwa tempat sholat tidak kami temukan, air untuk berwudhukpun juga tidak ada, termasuk arah kiblat tidak diketahui. Aku sholat di bangku taman, demikian pula yang lain. Masyarakat yang beralalu lalang menyaksikan kami dengan rasa heran. Mungkin ini muslim atau adakah penganut agama lain yang melakukan sholat sambil duduk.

Alhamdulillah tidak ada hutang sholat saat itu, karena kami melakukan sholat jamak takdim  qoshar 2 – 2 rakaat dzhuhur dan asyar.

City tour kami kali ini, memang sengaja dilakukan menjelang senja, karena kami akan melakukan shooting camera dengan focus membidik burung camar yang sangat banyak berkeliaran di sekitar lokasi teluk dan pantai.

Binatang ini sangat jinak dan mereka akan menghamburan menghampiri kita, apabila melempari mereka dengan makanan.

Shooting yang penting lainnya adalah ingin mengabadikan suasana sunset dengan latar belakang harbour bridge dari atas ferry yang routenya Circulair Quay – Rose Bay tempat kami tinggal.

Perilaku kami persis seperti anak-anak. Ferry yang kami naik melaju kencang bahkan sedikit “ngepot” jalannya. Kami sibuk pula berebut agar dapat diabadikan posenya. Entah apa komentar para bule – yang menyaksikan tingkah dan polah kami. Para Bule itu, umumnya para pekerja yang akan pulang kerumah disepanjang tepian teluk kota Syd.

Hari sudah jam 7 malam. Kaki sudah sangat pegal. Besok jam 7 pagi kami harus siap lagi untuk melanjutkan tour ke ibu kota Negara Aussie  ”Canberra”